
Pagi ini seharusnya Alice pergi mengunjungi rumah sakit. William telah menghubunginya satu jam lalu mengabari bahwa siang nanti Anson telah diijinkan kembali ke New york. Dia bisa melanjutkan terapi dengan sistem rawat jalan setelah kepulanganya.
Namun Alice masih tak bergerak, terbaring nyalang di tempat tidur. Tubuhnya berteriak protes setiap kali sendinya digunakan. Tenaganya nyaris terkuras habis tak bersisa. Sepertinya kondisi fisiknya telah mengalami anti klimaks.
Setelah sepuluh hari lebih melalui waktu dengan istirahat dan asupan makan yang minim, emosi yang jungkir balik dalam menghadapi Anson dan semua beban perusahaan yang ia kontrol dari sini, akhirnya fisik Alice tak lagi mampu menopang. Kondisi perutnya pun tak lebih baik. Dia merasa semakin tak nyaman. Ternyata asupan cafein yang berlebih bisa sangat menyakitkan. Asam lambungnya pasti meroket naik.
Dengan gerakan tertatih, Alice memaksakan diri turun dari ranjang, membersihkan diri secara kilat dan bersiap pergi menuju rumah sakit.
Perjalanan dua blok dari hotelnya terasa sangat lama dan menyiksa bagi Alice. Dia terpaksa berhenti di beberapa titik untuk menormalkan kembali fungsi tubuhnya. Beberapa orang yang melihat kondisi Alice menawarkan diri untuk membantu, namun segera di tolak olehnya.
Alice meringis kesakitan setelah berhasil tiba di kamar rawat Anson. Dia mendapati Anson tengah duduk seorang diri di sisi ranjang, berbicara memberikan beberapa perintah seputar pekerjaanya kepada orang yang Alice duga sebagai bawahanya melalui ponsel. Dasar penggila kerja. Masih sakit pun nadanya terdengar arogan. Sepertinya dia adalah bos perfeksionis. Alice tergoda untuk merasa simpati kepada setiap orang yang menjadi karyawanya.
"Hai Alice," sapa Anson setelah menyadari kedatangan Alice. Dia memutuskan sambungan dan menempatkan ponsel d isisi kiri.
"Pagi Anson. Apakah kondisimu telah membaik? Kudengar dari William kau telah diijinkan pulang siang ini," kata Alice berjalan perlahan menuju kursi tak jauh dari Anson.
"Ya. Kita bisa pulang hari ini. Aku telah mengatur penerbangan kita siang nanti." Benar-benar lelaki pengatur.
Anson menatap Alice, mengamati wajahnya yang tampak memucat.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Anson khawatir.
Alice sedikit tersentuh dengan perhatian Anson.
"Ya. Hanya sedikit lelah kurasa. Aku memiliki asam lambung yang mudah naik." dan pecinta cafein juga tentunya. Batin Alice sedikit merasa bersalah.
"Periksalah ke IGD. wajahmu tampak seperti mayat. Hubungilah William untuk mendampingimu ke IGD di lantai bawah," saran Anson yang membuat hati Alice semakin mengembang.
"Tidak. Aku benar-benar baik-baik saja," tolak Alice sopan.
Mereka terdiam cukup lama. Selama dua puluh menit disini, hanya pembicaraan itulah yang terjadi. Anson telah kembali disibukkan dengan ponselnya. Alice memandang Anson putus asa. Sepertinya, hubungan mereka memang tak akan pernah berjalan kemana-mana. Tak ada apapun yang membuat mereka sanggup mempertahankan satu sama lain.
"Anson. Aku ingin bicara padamu."
Anson menghentikan aktifitas ponselnya, memfokuskan pandanganya pada wanita tersebut.
"Apa ada masalah?" Anson bertanya datar.
"Tidak. Kita tak ada masalah. Bahkan tak ada apapun lagi diantara kita sekarang."
__ADS_1
Alice menatap Anson, memohon pengertian.
"Anson. Aku fikir hubungan kita tak akan pernah bisa membaik. Kita hanya akan terjebak satu sama lain jika terus begini. Kufikir, lebih baik kita menghentikan semua ini," pinta Alice lemah. Dia menggerakkan kedua tanganya tanpa daya.
"Alice, maafkan aku. Tapi ingatanku masih belum pulih. Aku hanya membutuhkan sedikit waktu untuk bisa mengenalmu kembali." Ada sedikit rasa bersalah dari Anson.
"Ini bukan hanya tentang ingatanmu Anson. Tapi memang situasi kita telah berubah banyak. Aku tak ingin melanjutkan hubungan yang hambar."
Anson seolah memahami cara berfikir Alice. Dia terdiam lama memikirkan sesuatu.
"Kita tak bisa secepat itu mengakhiri hubungan Alice, kau calon tunanganku, itu artinya hubungan kita cukup serius untuk memasuki jenjang pernikahan. Aku tak bisa gegabah memutuskanya begitu saja."
Alice tertawa getir. Kebohonganya adalah senjata yang menyerangnya sendiri. Seandainya saja Anson tahu siapa Alice sebenarnya, dia pasti akam diusir dari sejak hari pertama Anson membuka mata.
"Tidak, Anson. Aku benar-benar ingin mengakhiri hubungan ini. Jika nanti kita masih memiliki kesempatan, kufikir kita bisa memikirkanya kembali dengan lebih serius," kata Alice tegas. Dia tak ingin memperlama pembicaraan ini.
Jika memang Alice harus kehilangan Anson, setidaknya dia akan melepaskanya dengan penuh harga diri. Sakit, memang. Tetapi banyak hal didunia ini yang tetap akan terenggut dari kita tanpa peduli bagaimana emosi kita dalam mempertahankanya.
Alice berdiri, berniat meninggalkan Anson. Dia telah menyelesaikan urusanya disini. Tak ada apapun lagi yang menahanya. Setelah ini Alice akan memesan penerbangan kembali ke New york melalui pesawat komersil. Dia tak akan mengambil kesempatan pulang bersama dengan Anson.
Pandangan Alice mengabur dengan tiba-tiba. Tubuhnya terasa sangat ringan dan keringat dingin mulai bermunculan. Alice menggapai ke segala arah mencoba mencari pegangan. Dia sempat mendengar Anson berteriak khawatir sebelum akhirnya kegelapan merenggutnya.
...
Alice teringat beberapa kejadian sebelumnya. Sepertinya dia mengalami pingsan. Tubuhnya memilih waktu yang salah untuk menyerah.
Alice menyadari keberadaan Anson di samping ranjangnya. Lelaki itu telah berganti kaos dongker berlengan pendek. Rupanya kondisi pingsan Alice cukup lama sehingga memberi Anson waktu untuk mengurus detail administrasi. Kini mereka bertukar peran. Alice menjadi pesakitan dan Anson menjadi pendamping.
Selain Anson, berdiri juga seorang dokter wanita yang tak jauh mereka dengan stetoskop dikalungkan. Dia membawa sesuatu ditanganya.
"Kau sudah bangun? merasa lebih baik?" tanya Anson.
"Ya. Aku hanya kelelahan dan terlalu banyak cafein kurasa." Alice tersenyum meminta maaf.
Alice mengernyit merasakan gejolak di perutnya. Sial. Asam lambungnya bermasalah. Dia memang tidak memakan apapun selain secangkir besar kopi tadi pagi dalam perjalanan kesini.
"Ms. White, asam lambungmu memang bermasalah. Tetapi yang menyebabkan kondisimu menurun drastis adalah kehamilanmu," jelas seorang dokter wanita yang memperkenalkan diri sebagai Jennie.
"Hamil?" Anson dan Alice bertanya serentak.
__ADS_1
"Ya. Selamat Ms. White, anda telah positif hamil. Kehamilan anda telah memasuki awal minggu ke tujuh," ujarnya menyerahkan sebuah alat kecil sebagai penunjuk kehamilan. Anson menerimanya dengan sangat hati-hati.
"Mulai sekarang cobalah memberikan asupan dan vitamin yang baik untuk janin anda. Dan tolong batasi konsumsi cafein. Secara keseluruhan, kondisi anda tidak ada yang bermasalah kecuali asam lambung anda. Dengan meminum obat dan pola makan teratur, pasti semuanya akan membaik," katanya memberi nasihat.
Alice terdiam tak percaya. Fikiranya kalut saling tumpang tindih.
"Dok. Apakah mungkin terjadi kesalahan? Saya selalu rutin meminum pil kb sebelumnya. Hanya sekali saya lupa mengonsumsinya. Tetapi saya sudah menggantinya dengan pil pasca berhubungan. Bukankah seharusnya ini tidak terjadi?" Alice bertanya bingung. Tujuh minggu. Jika ditilik dari usia janin, kemungkinan itu terjadi saat awal hubungan Alice dengan Anson dulu.
"Post coital yang berbentuk pil memang bisa menunda ovulasi dan mencegah kehamilan dengan tingkat keberhasilan sebanyak sembilan puluh lima persen jika dikonsumsi sebelum dua puluh empat jam setelah melakukan aktifitas seksual. Tapi itu tak akan bisa mencegah kehamilan jika memang telah terjadi pembuahan sebelumnya. Selain itu, medis selalu memiliki resiko gagal. Anda menjadi salah satu kasus contohnya," jelasnya memberi pemahaman.
Setelah memberi beberapa nasihat tambahan, Dr. Jennie menganggukkan kepala, meminta diri keluar ruangan meninggalkan mereka. Dia telah memberikan sejumlah vitamin yang diterima Anson untuk dikonsumsi Alice.
Alice tercenung. Keadaan perutnya memang mulai tak nyaman sejak penerbanganya ke tempat ini. Tapi Alice fikir semua itu hanya efek kelelahan dan beban fikiran. Jika memang mau diakui, Alice belum mendapat haid sejak aktifitas seksualnya dengan Anson. Ia tak terlalu memikirkanya karena siklus haidnya selalu kacau jika Alice mengalami tekanan stress. Dia fikir itu semua wajar.
Tak disangka kini telah tumbuh sebuah nyawa dalam rahim miliknya.
"Alice," panggil Anson tajam. Alice merasa tak nyaman dengan cara Anson memanggilnya.
"Itu anakku, bukan? Janin itu milikku?" tanya Anson mencari kebenaran dalam ekspresi Alice.
"Kau fikir anak lelaki mana lagi,Anson? Kau menganggapku wanita murahan yang melemparkan tubuhku ke setiap ranjang lelaki yang kutemui?" Alice menjawab dengan frustasi. Lelaki itu akan selalu berfikir yang terburuk tentang dirinya.
"Maafkan aku. Aku tak bermaksud begitu." Anson mengusap lengan ringkih Alice, seolah menyalurkan kekuatan miliknya.
"Aku bersedia melakukan tes DNA setelah bayi ini lahir agar kau mempercayainya, Anson." Alice menawarkan diri.
"Tidak. Aku mempercayaimu. Maaf," sesal Anson. Dia mengusap lembut perut Alice penuh perasaan, seolah menyapa calon anaknya. Alice merasa tercekat, dia patut bersyukur ingatan Anson belum kembali sepenuhnya. Setidaknya untuk saat ini Anson berfikir bahwa janin ini mereka ciptakan dengan cinta, bukan dengan cara murahan. Mungkin Anson tak akan bereaksi selembut ini seandainya tahu kebenaran seperti apa yang mereka miliki.
"Alice. Kupikir kau tak bisa lagi meminta hubungan kita berakhir setelah kita tahu ada janin yang mulai berkembang sekarang." Anson berkata tegas. Dia tak ingin dibantah.
"Ya. Mungkin kita bisa melakukan kesepatan bersama setelah ini." Alice memahami jalan fikiran Anson. Dia juga tak ingin bersikap egois.
"Kita akan menikah secepatnya," Jawab Anson.
Alice menatap Anson tak percaya. Dia berteriak ketakutan.
"TIDAK!" teriak Alice putus asa.
...
__ADS_1