Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
035 - SEASON 2


__ADS_3

Alice dibangunkan oleh Klayver seperempat jam sebelum waktu makan siang. Wanita itu mengerjap beberapa kali dan merasa lebih baik setelah tidur sebentar di atas ranjang besar.


Dengan sigap, dia mencuci muka dan beganti pakaian mengenakan dress santai berbahan muslin. Warnanya kuning pucat, membuat Alice terlihat lebih segar.


Rambut merahnya ia gerai dan wajahnya ia pulas ringan dengan kosmetik. Sebuah lipstik berwarna peach mewarnai bibir indahnya.


Klayver mengenakan kemeja lengan pendek berwarna gelap dam celana denim senada. Mereka turun ke bawah bersama. Di ruang makan, suasana sedikit ramai. Ada lima orang duduk saling bercengkerama.


Alice membeku sejejap, merasa paranoid. Rumah ini layaknya sarang penyamun. Alice tak tahu seberapa tak normal mereka semua. Sikap Violin saja sudah membuatnya waspada. Apalagi ditambah suami dan anak-anaknya.


Klayver menyadari ketakutan Alice dan menepuk lengannya menenangkan. Alice menarik nafas panjang, mencengkeram erat lengan Klayver menuju ruang makan yang terasa seperti ruang eksekusi.


Suara-suara berhenti secara sekejap saat kehadiran Klayver mulai mereka sadari. Semua pasang mata saling menoleh ke arahnya.


Alice menatap lelaki berusia enam puluhan yang duduk di samping Violin. Garis wajahnya tak berbeda jauh dari Klayver. Alice menduga dia adalah ayahnya.


Dua orang lelaki berusia tak jauh dari Klayver menatap mereka dengan mata emas. Tak butuh waktu lama untuk menyimpulkan mereka berdua adalah saudara suaminya.


Satu lagi, wanita yang terlihat beberapa tahun lebih muda dari Alice. Wanita ini memiliki garis-garis halus yang lebih jelas dari semua orang. Tatapannya bersahabat dan ada kehangatan dari raut mukanya.


Dalam ruangan ini, kehangatan hanya terpancar dari ayah Klayver dan saudarinya. Selain itu, mereka semua terlihat seperti Violin.


Ahli dalam menyembunyikan emosi.


"Selamat datang, Brother," sambut saudara yang paling tua. Meskipun kata-katanya ringan, tetapi Alice menangkap kebahagiaan kecil yang tak sengaja ia perlihatkan.


Kalyver mengangguk kecil. Di antara mereka semua, Klayver adalah orang yang paling dingin dan menjaga jarak. Dia tak membiarkan emosinya terdeteksi sama sekali.


"Kuduga kau pasti istri Klayver. Alice, bukan? aku adalah James, ayahnya." James mengulurkan tangan dengan bersahabat. Alice menerimanya dengan sedikit canggung.


"Ini adalah kakak Klalyver, Wilsen. Dua orang itu adiknya, John dan Angelica." James mengambil posisi sebagai penengah. Dia memperkenalkan mereka semua, mengurangi jarak kecanggungan yang mulai terjadi. Sementara Violin, dia hanya duduk dalam diam, memilih menjadi pengamat.


"Halo, kakak ipar. Selamat datang dalam keluarga kami." Angelica mendekati Alice dan mencium kedua pipinya dengan lembut. Alice sedikit terkejut oleh keramahan yang ditawarkan wanita ini.


Yah, secara umum, keluarga ini terkesan normal. Tidak jauh berbeda dengan keluarga lain.


"Ayo duduk, mari kita mulai menyantap makan siang. Mom sudah memasakkan makanan kesukaanmu, ikan salmon."


Klayver mengambil tempat duduk yang tersisa. Persis di sisi ibunya. Sedangkan Alice, dia duduk di antara Klayver dan Wilsen.


Alice menatap meja makan kayu yang dilapisi kaca tebal. Di atasnya, terdapat banyak jenis hidangan yang siap disantap. Rata-rata adalah ikan laut yang dimasak dengan campuran kacang polong dan saus istimewa. Lainnya, ada steak panggang dan satu paket makanan penutup. Puding, cake cokelat, dan salad buah.


"Bagaimana kabarmu selama ini, Klayver?" Angelica memulai percakapan kembali. Mereka telah diberi arahan oleh Violin untuk memanggil Tristan sebagai Klayver. Sesuai kemauan lelaki tersebut.


"Baik. Kudengar kau sekarang berkecimpung dalam bisnis properti."


Angelica mengangguk membenarkan. Setidaknya, kakaknya mau berusaha mencari sedikit infornasi mengenainya. Hal ini membuat hati Angelica menghangat.


"Ya. Aku menyukai bisnis. Wilsen sekarang memilih dunia IT sebagai dunianya," jelas Angelica melirik pada kakak tertuanya.


"Aku suka dengan pemograman dan mengotak-atik sistem komputer." Wilsen menambahkan. Dia menatap Kalyver dengan seksama. Pandangannya beralih pada Alice dan mencoba memberikan senyum.


"Selamat datang di keluarga ini, Alice. Kuharap kau bisa menerima semua kekurangan yang ada dalam keluarga Liecester." Wilsen terdengar berwibawa. Semua orang menoleh ke arahnya, merasa heran. Dia lelaki pertama yang membuka kartu secara terang-terangan.


"Ya. Aku berusaha. Terimakasih, Wilsen," balas Alice kaku. Dia menatap Klayver dengan pandangan penuh tanya. Apa maksud dari kata-kata Wilsen?


"Kudengar kau sudah memiliki putra." Kali ini John yang bertanya.


Alice merasa tak nyaman mendengar pertanyaan ini. Keluarga Liecester benar-benar tanpa tedeng aling-aling. Kehidupan Alice seperti sebuah buku yang terbuka lebar. Tak ada rahasia sama sekali yang tak mereka ketahui.


"Ya. Namanya Axel, dia masih kecil. Lima tahun." Alice sedikit tercekat. Mereka tak bermaksud menggunakan anaknya sebagai ancaman, bukan?


"Kenapa tidak kau ajak kemari, Alice?"


Dan terkontaminasi oleh keanehan keluarga ini? Tidak. Terimakasih. Alice membatin dengan kesal.

__ADS_1


"Dia takut menyeret anaknya dalam bahaya jika bertemu kalian." Dengan santai, Klayver menjawab menggantikan Alice.


Alice membelalak lebar tak percaya. Jadi Klayver tahu ketakutannya? Selama ini dia berpura-pura tidak tahu sama sekali. Bahkan dia dengan gencar mengusulkan Axel untuk ikut. Sialan Klayver. Dia suka mempermainkan emosi orang lain.


"Oh, dia wanita yang cukup cerdas. Keluarga kita memang bobrok luar dalam." John menimpali. Binar matanya menyorotkan sedikit kejenakaan. Sikap dinginnya mulai luntur perlahan-lahan.


"John," tegur James halus.


"Baik, Dad. Aku hanya bercanda. Alice, kami tak akan pernah sanggup menyakiti anak yang tidak berdosa. Apalagi dia anggota keluarga. Kami memiliki kode etik yang cukup kuat mengenai itu." John berkata serius. Dia mencoba meyakinkan Alice yang kini sudah mulai merasa tak nyaman.


"Terimakasih," cicit Alice lirih. Dia benar-benar tak tahu harus menanggapi bagaimana perkataan John.


Mereka kemudian saling membicarakan topik ringan. Alice dan Klayver lebih berperan sebagai pendengar. Violin, di bahkan sama sekali tak berkomentar satu kata pun. Wanita ini terlalu misterius. Lama-lama Alice merasa tak nyaman sendiri.


Setelah makan siang selesai, Wilsen menatap Klayver sejenak sebelum akhirnya berkata, "Aku ingin berbicara sebentar denganmu."


Klayver menoleh ke arah Alice dan menepuk lengannya pelan. "Kembalilah ke kamar. Aku akan berbicara sebentar dengan Wilsen."


Sebuah rasa kehilangan menyergap Alice. Wanita ini menatap Klayver dengan sorot permohonan. Dia seolah ingin mengatakan agar jangan ditinggal pergi.


Melihat keberatan di mata Alice, Klayver mengecup keningnya perlahan dan membisikkan sesuatu, "Kau aman di sini. Tidak apa-apa."


Klayver belalu pergi bersama Wilsen menuju ruangan lain. Alice duduk canggung di ruang makan dan menatap yang lain dengan ragu-ragu.


"Aku akan segera ke kamar. Terimakasih atas makan siang ini." Alice mundur dan menyeret kursi yang ia duduki.


Baru saja Alice akan berdiri, suara Violin menghentikannya. "Berhenti."


Alice membalikkan badan dan terkejut melihat Violin telah menodongkan senjata ke arahnya. Alice mengerjap bingung.


Apakah selama makan siang Violin telah mempersiapkan senjata itu sehingga bisa menggunakannya dengan mudah? Pantas selama makan siang dia terlihat menjaga jarak dari semua orang.


Detak jantung Alice mulai berdegup serampangan. Ditodong senjata kedua kali dari orang yang sama sungguh membuatnya tertekan.


Alice mencoba menatap ekspresi Violin, mencari tahu apakah tindakannya kali ini cukup serius atau sebagai lelucon. Tetapi air mukanya datar. Tak ada reaksi apa pun.


Dia marah. Sangat-sangat marah. Apakah keluarga ini selalu menpermainkan orang lain sesuka hatinya?


James yang duduk di sisi Violin sedikit khawatir. Angelica dan John menatap tak mengerti tindakan ibunya. Mereka hanya membisu di tempat duduk. Tak ada yang berinisiatif menghentikan Violin. Semuanya sibuk mengambil spekulasi.


Alice mendesah panjang, menebak-nebak apakah Klayver mengetahui keadaannya. Ataukah ini memang disengaja? Wilsen bertugas mengalihkan perhatian Klayver sementara ibunya sendiri mencoba … apa? Menghabisinya? Yang benar saja.


"Apa lagi yang kau inginkan dariku, Violin?" suara Alice dipenuhi amarah. Rasa takutnya memang masih ada, tetapi tertutup oleh amarahnya yang kini berkobar luar biasa.


"Tinggalkan Klayver. Kau tak pantas berdiri bersamanya." Violin mengancam dengan serius. Dia berdiri, masih mengarahkan moncong pistol ke arah Alice.


"Siapa kau sehingga kau ingin mengaturku?" Alice menjawab tajam. Dia tak tahu keberanian apa yang telah ia miliki. Tiba-tiba membayangkan ada orang yang berusaha memisahkannya dengan kalyver membuat ia memiliki kekuatan untuk melawan.


"Klayver adalah putraku yang berharga. Aku tak ingin dia dikontaminasi wanita lemah sepertimu. Kau akan menjadi kelemahannya jika tetap menjadi istrinya. Ceraikan dia dan aku akan memberimu banyak kompensasi. Aku orang yang sangat kaya."


James mulai tenang dan menatap Alice dengan sungguh-sungguh. Bagus. Sepertinya kali ini Alice tak memiliki pembela sama sekali.


"Aku tak bisa." Alice telah memiliki perjanjian sendiri dengan Klayver. Jika ia mengakhiri pernikahan mereka, tujuan awalnya akan sia-sia. Pembunuh Anson bahkan belum ditemukan.


Selain itu, ada suatu perasaan asing darinya yang tak rela jika Klayver diambil begitu saja. Meskipun pernikahan mereka hanya sementara, setidaknya Klayver-lah yang berhak mengakhiri perkawinan mereka. Bukan orang lain.


Jujur, Alice terjebak semacam keposesifan terpendam untuk Klayver. Dia tak rela. Sangat tak rela lelaki itu pergi. Mungkin ini aneh. Sesuatu yang tak pernah Alice duga sebelumnya.


"Lepaskan dia dan aku akan memberimu apa pun yang kau butuhkan. Jika tidak, aku tak keberatan menghabisimu saat ini juga."


"Jika kau menghabisiku, hubunganmu dengan Klayver akan memburuk lagi."


"Aku tak peduli. Selama kau mati, tak ada yang membahayakan Klayver. Kau adalah sesuatu yang sangat berharga bagi Klayver. Aku tak ingin Klayver menjadi budak cintamu dan berpikiran dangkal. Kehidupan kalian sangat berbeda. Tetap bersama hanya akan membawa bahaya pada kalian berdua. Klayver tak layak diseret dan jatuh bersama wanita lemah sepertimu."


Violin mulai bersiap menekan ujung pelatuk. Ada keseriusam di matanya. Dia tak main-main kali ini. Bagi Violin, kehadiran Alice hanya batu terjal yang tak ia harapkan. Dia lebih suka menyingkirkan Alice sejauh mungkin dari kehidupan putranya. Cinta akan selalu membuat orang buta. Dia tak siap putranya terjebak perasaan rapuh pada wanita lemah.

__ADS_1


"Sayang," tegur James mulai khawatir. Jujur, dia tak menyangka Violin akan mengambil langkah sedrastis ini.


"Jangan lakukan ini, Mom!" Angelica nyaris berteriak. Dia ingin menghambur ke arah ibunya, tapi takut tindakannya akan membuat kendali Violin runtuh dan justru menembak Alice begitu saja.


Keringat dingin membasahi telapak tangan Alice. Dia merasa kepalanya semakin pusing merasakan dentuman-dentuman baru yang menguras akal sehat.


Alice berdiri seperti hewan yang siap jatuh kapan saja. Dia menyilangkan tangan, mencoba bersikap kuat.


"Tinggalkan Klayver atau kau memilih mati. Apa pun yang akan kau pilih, aku siap membantumu." Violin menatap Alice penuh kebencian.


"Tidak akan." Lubuk hati Alice telah berteriak keras. Dia menyadari satu hal. Kehilangan Klayver adalah sesuatu yang sulit ia terima. Mungkin Alice gila. Tapi itulah kenyataannya.


"Kalau begitu, bersiaplah mati."


"Mom, jangan!" cegah Angelica.


"Sayang, aku tak suka pemandangan berdarah di ruang makan," bujuk James lembut.


"Hentikan semua ini, Mom." John mulai berdiri, ikut tertekan oleh suasana.


"Kukatakan sekali lagi, tinggalkan Klayver!" pinta Violin kesetanan.


"Tidak akan."


"Kau akan terbunuh gara-gara dia."


"Aku tak peduli."


"Baik. Hitung nafas terakhirmu, Alice. Ucapkan permohonanmu yang terdalam."


"Mom!"


"Sayang, jangan!"


"Mom, kau gila."


"Dia istri Tristan, Mom."


Suara perdebatan saling bersahut-sahutan. Alice menatap Violin tanpa berkedip.


"Tiga …." Violin mulai mengitung mundur.


"Dua … kau masih memiliki kesempatan, Alice."


"Aku tak peduli. Kau bisa melakukan apa pun tapi aku tak akan pernah meninggalkannya!" Alice berteriak kesetanan.


Klek. Pelatuk itu ditarik oleh Violin.


Tak ada suara apa pun dalam ruangan ini. Semua pasang mata saling menoleh. Suasana menjadi seperti roll film rusak yang diperlambat ratusan kali.


Alice, yang telah memejamkan mata, mulai membuka mata secara perlahan. Tembakan itu tak terjadi. Rasa sakit itu tak menyapanya sama sekali.


Violin tersenyum kecil. Dia membuka pistol di tangannya secara kilat dan menunjukkan tak ada satu pun peluru yang tersisa.


Alice terbengong tak percaya. Dia menatap Violin dengan pandangan hampa. Apa maksud dari semua ini?


"Seharusnya kau tak perlu melakukan sejauh ini untuk mengujinya, Mom."


Klayver berkata dari belakang Alice. Lelaki itu telag berdiri cukup lama di sana, memandangi mereka dengan tatapan tak terbaca.


Jadi Klayver melihat adegan ini dari tadi? Dan dia memilih untuk diam dan menonton. Sialan memang. Dia benar-benar bajing*n sejati.


Klayver memeluk tubuh ringkih istrinya yang masih gemetar hebat. Dia menaikkan dagu Alice, membuat istrinya mendongak dan menciumnya dengan membabi buta.


Merasakan sentuhan dan ciuman Klayver, amarah Alice yang menggelegak mulai surut perlahan-lahan. Dia merangkulkan tangan ke tengkuk suaminya dan mulai menyambut undangan Klayver.

__ADS_1


"Kau lolos ujianku." Untuk pertama kalinya pada hari ini, tawa Violin yang hangat terdengar keras. Membuat semua orang menoleh ke arahnya.



__ADS_2