
"Kau baru saja menemukan Tristan dan tindakan pertamamu adalah mengancamnya melalui istrinya? Bagus, Mom. Kau menghancurkan lagi ikatan yang bahkan belum berhasil kau sambung." Angelica meletakkan sendok di sisi piring dan berdiri tanpa mengatakan apa-apa lagi. Dia pergi begitu saja.
Wilsen dan John menggeleng lemah mendengar penjelasan ibunya. Mereka ikut pergi dari ruang makan.
Tinggal James yang masih duduk di sana menemani istrinya. Violin menatap suaminya dan mulai bertanya sedih. "Kau juga menyalahkanku, bukan?"
James menatap Violin dengan lembut. Dia menepuk bahu istrinya seolah-olah ia tengah menenangkan seorang anak yang masih kecil.
"Sudah kukatakan, aku akan selalu menerima kekuranganmu, meskipun itu tak masuk akal. Tetapi, ada kalanya ketika kau harus belajar dari masa lalu. Kau pernah meretakkan hubunganmu dengan Tristan dulu. Sebisa mungkin, jangan lakukan hal yang sama lagi. Bukankah kehilangannya adalah suatu siksaan besar bagimu?"
James berkata lembut, nadanya penuh pengertian.
Meskipun James adalah kepala keluarga, tetapi selama ini Violin lebih dominan mengatur semua urusan mereka. Egonya lebih besar dari pada James sehingga secara otomatis kendali keluarga terletak padanya.
Hanya saja, karakter Violin terbentuk dengan keras. Dia banyak menerapkan prinsip yang kadang secara tak sengaja melukai orang terdekat mereka.
Delapan tahun yang lalu, Violin pernah menciptakan keretakan dalam keluarga. Kejadian itu telah membawa mereka pada tragedi berupa kehilangan Klayver dari mereka semua.
Putra kedua keluarga memutuskan untuk pergi menjauh. Meletakkan semua identitas dan meninggalkan semua kekayaan keluarga.
Baik Violin maupun James, mereka merasa terluka atas kepergian putranya. Meskipun di permukaan Violin berusaha bersikap keras, tetapi James sangat tahu bahwa istrinya rapuh dan hancur di dalam.
Situasi tersebut berjalan selama bertahun-tahun. Hingga akhirnya, Violin memutuskan mencari putranya secara membabi buta.
Usaha demi usaha ia lakukan tanpa kenal lelah. Harapan demi harapan mereka pupuk satu per satu. Hingga saat impian mereka mulai melemah dan hampir padam, Daniel membawa kabar yang mengejutkan.
Lelaki itu membawa sesosok foto milik Klayver. Tidak butuh waktu lama untuk mengonfirmasi sosok itu adalah putra yang mereka cari. Selayaknya seorang ibu, sekilas pandang sudah mampu menyingkap semua ikatan.
"Tidurlah, Violin. Jika Tristan bersedia untuk datang ke rumah ini lagi, mari kita ciptakan hubungan yang lebih baik."
James menepuk lengan istrinya lembut. Mereka saling berjalan beriringan menuju kamar.
"James, ngomong-ngomong, namanya Klayver. Jangan panggil ia Tristan."
…
Pagi ini, Alice menjemput Axel di rumah Maxen. Anak itu sudah tak sabar untuk kembali pulang. Alice memeluk putranya dengan hangat dan menciumi setiap sudut wajahnya.
Rachel yang melihat kasih sayang Alice hanya tersenyum kecil. Dia ikut tersentuh menyaksikan momen ini.
"Apakah dia berulah selama berada di sini?" tanya Alice khawatir.
__ADS_1
Rachel tertawa kecil dan menggelengkan kepala.
"Dia bertingkah cukup baik. Ngomong-ngomong, sebenarnya apa yang telah terjadi padamu sehingga Axel kau titipkan di sini? Apakah ada masalah?"
Alice menatap Axel cukup lama. Dalam hati, ia menimbang-nimbang apakah lebih baik jujur pada Rachel atau tidak.
Saat Alice sudah hampir membuka suara untuk bercerita, ia teringat bahwa Klayver adalah orang yang tak suka rahasianya diumbar. Akan lebih baik bagi Alice menutupi kejadian kemarin malam.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit paranoid karena Klayver tidak pulang selama dua hari sehingga aku khawatir dia menemui masalah. Karena itulah aku memutuskan untuk membawa Axel padamu. Tapi jangan khawatir, tak terjadi apa-apa, Rachel. Semuanya baik-baik saja."
Alice tersenyum sedikit canggung. Dia tak tahu apakah kebohongannya terlihat meyakinkan atau sebaliknya. Semoga saja Rachel cukup percaya dengan penjelasan ini.
"Baiklah. Aku ikut lega jika kau baik-baik saja."
Rachel menutupi kekecewaan yang sedikit terkuak melalui matanya. Alice adalah orang yang sulit berbohong. Rachel bisa melihat kebohongan kecil yang wanita itu tutupi darinya.
Tak butuh orang pintar untuk mengetahui bahwa Alice tengah berbohong.
Rachel beranggapan mungkin Alice memiliki alasan kuat untuk melakukan semua ini. Dia berusaha tak mengorek lebih dalam tentang kejadian yang menimpa Alice. Jika Alice sudah siap, dia pasti akan berinisiatif untuk membuka diri pada Rachel.
"Ke mana suamimu, Rachel?" tanya Alice mengitari pandangan ke sekitar. Dia tak melihat tanda-tanda keberadaan Maxen sama sekali.
"Kau terlihat seperti kehilangan." Alice menggoda Rachel dengan kekehan kecil. Wajah Rachel semakin memerah, menunjukkan godaan Alice tepat sasaran.
"Jangan menggodaku." Rachel semakin terlihat salah tingkah. Alice tertawa semakin keras sembari berlalu pergi meninggalkan temannya.
Di belakangnya, Axel membuntuti Alice dengan wajah berbinar. Anak itu terlalu bahagia bisa bertemu ibunya kembali.
"Aku pulang sekarang, Rachel." Alice melambaikan tangan ke arah temannya. Rachel mengangguk kecil dan balas melambai.
"Hati-hati," teriak Rachel tulus.
Jalanan siang hari cukup lengang. Akhir-akhir ini terdengar isu wabah yang memasuki Manhattan. Pemerintah mulai menerapkan kebijakan, larangan, dan membatasi orang untuk bepergian.
Alice membawa Axel berkendara pulang. Dalam hati, dia berharap semoga wabah ini segera teratasi sehingga warga bisa beraktifitas normal. Padahal dua hari lalu jalanan masih ramai. Sekarang hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang.
Setengah jam kemudian Alice tiba di rumah. Dia menggendong Axel turun dan membawanya ke halaman depan. Mereka bermain selama kurang lebih dua jam sebelum akhirnya Axel merasa lelah dan harus tidur siang.
Helena datang menyusul mereka. Alice menyerahkan putranya pada sang pengasuh. Dia mencium puncak kepala Axel dan mengusap punggungnya lembut.
"Biar aku yang mengantarkannya ke kamar untuk tidur, Nyonya," tawar Helena tulus.
__ADS_1
Wajah Helena menampakkan binar-binar bahagia, karena berhasil bertemu kembali dengan anak asuh setelah berpisah berhari-hari. Semenjak Axel menjadi anak asuhnya, Helena mencurahkan semua perhatian dan kasih sayangnya pada Axel. Bocah kecil ini telah menjadi permata hati baginya.
"Baiklah, Helena. Hati-hati," pinta Alice. Dia menatap kepergian putranya yang berada dalam gendongan Helena dengan senyum kecil.
Karena sedikit lelah, Alice berniat untuk merebahkan diri sebentar. Namun belum sempat keinginnanya terpenuhi, dia melihat mobil Klayver memasuki halaman depan. Fokus Alice teralih otomatis pada Klayver, lelaki yang telah menjadi suaminya akhir-akhir ini.
Klayver turun dari mobil dengan pandangan kelam. Tatapan tajamnya seolah siap membunuh siapa saja. Dengan ragu-ragu, Alice mendekatinya dan memeriksa keadaan. Apakah ada masalah lagi?
"Klayver? Kau baik-baik saja?" tanya Alice berdiri menyambut di halaman depan. Dia membuntuti Klayver yang berjalan ringan memasuki rumah.
"Ya," jawabnya singkat. Emosinya tak terbaca. Alice terpaksa meraba-raba sendiri tentang reaksi Kalyver yang sedikit ganjil.
"Klayver, aku mohon, terbukalah padaku jika ada masalah. Aku tak ingin dikejutkan oleh sesuatu lagi secara tiba-tiba."
Ingatan Alice kembali pada peristiwa kemarin malam. Dia tak ingin kejadian serupa terjadi lagi tanpa persiapan.
"Baiklah. Saat ini aku sedang mencari Daniel. Jadi jika kau tahu dia bersembunyi di mana, bisakah kau jujur padaku sekarang?" tanya Klayver mengejutkan.
Jadi sekarang Klayver sedang sibuk memburu temannya. Ya Tuhan. Seharusnya Alice sudah bisa mengantisipasi semua ini. Klayver pasti tak akan pernah memaafkan Daniel karena membocorkan identitasnya pada Violin.
"Klayver, bisakah kau memaafkan Daniel? Alu tahu dia bersalah karena telah membocorkan identitasmu. Tetapi dia hanya melakukannya pada Violin. Jadi kondisi ini sama sekali tak membahayakanmu. Tolong maafkan dia kali ini." Alice berkata dengan suara bergetar.
Air muka Klayver tak berubah. Dia masih saja berjalan dengan anggun bagaikan binatang pemangsa. Alice tak berhenti membuntuti lelaki ini. Dia takut jika sebentar saja melepaskan Klayver, lelaki itu akan membantai Daniel habis-habisan.
"Kalyver," panggil Alice semakin cemas. Pikirannya terpusat pada Daniel. Dia tak sanggup membayangkan jika ada hal buruk yang menimpa temannya.
"Aku mohon, tolong maafkan Daniel." Alice meraih lengan Klayver dan menahannya. Kedua mata Alice membulat memancing rasa iba. Air matanya sudah nyaris meluncur kapan saja.
"Maaf bukanlah salah satu sifatku," Klayver mengulangi kembali apa yang pernah ia katakan beberapa hari yang lalu.
"Kalyver, Bagaimana pun juga, daniel tidak mencelakakanmu secara langsung. Tolong pertimbangkan kenyataan ini." Alice menarik ujung kemeja yang Klayver kenakan. Dia menatap mata emas lelaki itu dengan penuh permohonan.
"Kenapa kau sangat membela lelaki itu, Alice? Hubungan apa yang kalian miliki?" Daniel bertanya dengan nada dingin.
Alice membeku sesaat dan melepaskan ujung kemeja Klayver dari genggaman. Dia tak menduga Klayver akan menyimpulkan hal ini begitu saja. Mungkinkah sekilas Alice dan Daniel terlihat memiliki hubungan istimewa?
"Dia teman terdekatku. Dia sudah terlalu sering membantuku dalam banyak kondisi sulit. Aku hanya mencoba menyelamatkan hidupnya sebagaimana dulu ia melakukan serupa padaku."
"Oh ya? Karena dia adalah teman dekatmu atau karena dia mantan terdekatmu? Yang mana, Alice?"
…
__ADS_1