Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
133 - SEASON 2


__ADS_3

"Hai Daniel, kau datang kapan?" tanya Alice terkejut melihat kedatangan Daniel yang tiba-tiba sudah berada di ruang makan.


Daniel sudah seperti keluarga bagi Alice. Dia bisa masuk dan keluar dari rumah Alice dengan mudah. William juga sudah memaklumi keberadaan Daniel dan setiap penghuni rumah Alice tak lagi terkejut oleh kedatangan Daniel yang tiba-tiba.


Tetapi tetap saja Alice seringkali terkejut karena akhir-akhir ini Daniel sering datang secara mendadak di waktu-waktu yang tidak tepat. Terutama saat malam hari ketika waktu banyak orang terlelap. Violin dan James tak menunjukkan reaksi apa pun, meskipun Alice yakin kedua mertuanya pasti juga terkejut.


"Baru saja. Pekerjaanku akhir-akhir ini banyak, Alice. Sehingga waktu luangku hanya tersisa pada malam hari. Dalam kondisimu saat ini yang masih rentan dijadikan sasaran Balck Hell, aku merasa tak tenang jika tak melihat keadaanmu secara langsung." Daniel tersenyum kecil. Kedua matanya menunjukkan kepedulian dan ketulusan. Alice adalah salah satu orang yang berarti bagi Daniel. Dia tak bisa membiarkan begitu saja masalah yang ada.


"Duduklah, Daniel. Kau menunda makan malam!" Violin berkata tegas. Dia menunjukkan kewibawaannya.


"Kau masih saja terlalu kolot, Violin!" Daniel berdecih kecil. Dia segera duduk di salah satu kursi yang tersedia dan membiarkan Caterine, juru masak baru menyiapkan sajian utama di meja makan.


Daniel menatap seluruh sudut ruang makan, menyapukan pandangan sebanyak dua kali berturut-turut. Sudut matanya mencari keberadaan seseorang. Keningnya berkerut samar, seolah ingin melemparkan pertanyaan pada Violin, tetapi enggan ia lakukan.


"Kau mencari seseorang?" tanya Alice menahan senyum. Dia tahu siapa sosok yang sebenarnya dicari oleh Daniel. Sosok yang pasti tak akan diakuinya.


"Tidak. Tidak mencari siapa pun!" sangkal Daniel menggelengkan kepala.


Alice mengangguk pelan, memilih untuk tidak meyudutkan Daniel dengan pertanyaan yang lebih jauh lagi. Alice yakin sebenarnya lelaki itu menyimpan kepedulian khusus pada Jasmine. Entah dia menyadarinya atau tidak, tetapi yang jelas hubungan mereka berdua tidak sesederhana itu.


Mereka menghabiskan makan malam dengan diselilingi beberapa obrolan ringan. James menceritakan masa kecil Klayver dengan dibumbui beberapa lelucon kecil.


"Klayver adalah anak yang aktif. Sangat aktif. Aku ingat waktu itu perayaan tahun baru. Saat itu usia Klayver sekitar tujuh tahun. Kami semua menata ruang keluarga dengan banyak hiasan dan pernak-pernik. Untuk menunggu detik-detik pergantian tahun, kami semua sibuk di dapur mengadakan pesta babeque. Saat tahun berganti, kami semua membawa makanan ke ruang keluarga untuk menikmati moment bersama. Tebak apa yang teejadi! Ruang keluarga sudah seperti kapal pecah. Semua hiasannya dihancurkan oleh Klayver dan anjing kesayanganya, Moggie. Anak itu mengatakan bahwa ia dan Moggie mendapat misi dari luar angkasa untuk menghancurkan ruang keluarga."


James tertawa saat mengingat peristiwa itu. Klayver adalah anak yang hiperaktif. Dia bisa melakukan banyak hal yang tidak dilakukan oleh anak lain. Berkali-kali James dan Violin mencoba mengendalikannya, tetapi hasilnya nihil.


"Ya Tuhan, apakah ruang keluarga itu benar-benar hancur?"


"Semua koleksi vas kaca terbaikku pecah tak ada yang tersisa." Violin mendengkus kecil, kembali teringat semua momen di mana barang-barang terbaiknya dihancurkan oleh Klayver. Hal-hal seperti itu terjadi berulang kali. Violin masih mengingat setiap detailnya. Dia saat itu selalu marah-marah mengatasi setiap ulah Klayver yang tak ada habisnya.


"Oh, itu pasti sangat menyebalkan." Alice tertawa kecil, membayangkan masa kecil Klayver yang tak terkendali. Lelaki itu sudah menunjukkan betapa sikapnya memang berbeda dari semenjak kanak-kanak. Bibit-bibit keras kepala sudah terlihat dari semenjak Klayver kecil.


"Bersyukurlah, Alice. Axel tak senakal Klayver saat kecil." Violin menatap anak tersebut yang duduk diam di sisi Alice.


Akhir-akhir ini semenjak Axel tahu dia akan memiliki adik, anak itu jadi lebih pendiam dan lebih terkontrol. Dia tak terlalu seaktif dulu. William telah membuatnya memahami tentang peranan seorang kakak.


"Aku bukan anak nakal lagi, Grandma!" Axel berkata dengan suara kekanakan. Semua orang yang ada di ruang makan itu mengulúm senyum kecil, melihat sikap Axel yang ingin terlihat sedewasa mungkin.


"Kau bukan anak nakal, Axel." Alice mengusap puncak kepala putranya dengan lembut. Axel mencoba menepis tangan Alice. Dia merasa sudah dewasa untuk diusap kepalanya dengan cara manja seperti ini. Tak seharusnya Alice mendemontrsaikan kasih sayang dengan cara berlebihan.


"Mom, aku sudah besar. Kau tidak boleh mengusap kepalaku sembarangan." Axel menatap tak senang.


"Baiklah. Rupanya kau tumbuh lebih cepat dari pada yang kuduga." Alice tersenyum kecil, menatap anak lelakinya yang berubah sikap.


Mereka kemudian meneruskan perbincangan mengenai topik-topik ringan. Violin lebih memilih menjadi pendengar setia. Dia hanya tersenyum dan menanggapi hal-hal secara singkat.


Pikiran Violin saat ini sedang tak berada di sini. Ia sibuk mengembara menyelami rencananya sendiri. Empat hari ini Violin telah merencanakan misi pembunuhan kepada Luiz dengan segenap cara. Violin menimbang-nimbang setiap kemungkinan dan memilih kesempatan yang paling baik.


James adalah orang yang pandai dalam menjalankan sebuah strategi. Mereka berdua merupakan orang yang kompak. Setelah saling memberikan solusi dan ide masing-masing, mereka sepakat mengambil sebuah keputusan bersama dan membicarakan keputusan tersebut bersama selusin pengawal Violin yang dibawa ke tempat ini.

__ADS_1


Sebuah rencana telah terbentuk dengan sempurna. Violin hanya perlu menunggu waktu saja untuk melihat rencananya berjalan dengan mulus. Dia telah mengantisipasi semuanya. Seharusnya rencananya bisa berjalan dengan baik.


"Kau pasti memikirkan misi kita tentang Luiz Martinez," bisik James lirih ditengah-tengah senda gurau ruang makan.


Violin menoleh dan menatap James dengan senyum cerah. Lelaki ini benar-benar mengetahui setiap hal yang ia pikirkan. James sudah menjadi bagian dari hidup Violin. Bahkan, dia telah berakar dengan sangat kuat di lubuk hatinya sehingga sedikit saja Violin memikirkan sesuatu, James pasti bisa menebaknya dengan mudah.


"Kau salalu mengerti keadaanku, James. Aku pernah berpikir apakah aku bisa menutupi sesuatu dari dirimu. Sepertinya apa saja yang kupikirkan kau selalu tahu." Violin menggeleng lemah.


James adalah nama lain dari selalu tahu. Dia lelaki peneman hidupnya yang bisa membaca setiap kepingan hati yang Violin miliki. Lelaki paling luar biasa yang ia kenal.


"Kau sudah menjadi wanitaku lama, Sayang. Bagaimana bisa kau berpikir aku tak mengetahui detail tentangmu?" James balik bertanya. Dia mengusap lengan istrinya lembut dan menunjukkan ungkapan kasih sayang.


Daniel berdecih pelan melihat romantisme yang mereka tunjukkan. Matanya seolah-olah berbicara jika sikap mereka sangatlah berlebihan. Saat Daniel membuka mulut untuk mengomentari mereka, dia disenggol oleh Violin.


"Biarkan mereka," ucap Violin lirih melihat sorot mata terganggu dari Daniel.


"Kau memiliki mertua yang sangat unik, Alice. Tetapi sepertinya itu wajar mengingat bagaimana anehnya suamimu." Ganti Klayver yang dikomentari oleh Daniel. Alice yang mendengarnya hanya bisa terkekeh pelan.


Setengah jam kemudian mereka meneruskan perbincangan ringan. Hingga kemudian makan malam berakhir. Violin dan James kembali ke kamar mereka dengan sikap romantis. Sementara Daniel dan Violin masih tetap duduk di ruang makan.


"Kau tak kembali ke kamar?" tanya Daniel.


"Sebentar. Aku masih ingin di sini." Alice kemudian memanggil Caterine yang sedang sibuk membereskan ruang makan. "Cat, bawakan makan malam ke kamar Jasmine!" perintahnya.


"Baik, Nyonya!"


Daniel menatap Alice dengan pandangan penuh tanya. Dia mengerjapkan mata beberapa kali, merasa tak mengerti.


"Tidak apa-apa, Daniel. Jasmine hanya sedikit sakit. Dia demam." Alice berkata penuh kekhawatiran.


Jasmine hamil dan sakit. Itulah kalimat yang sebenarnya ingin Alice sampaikan pada Daniel, tapi ia tak berani. Dia takut mengkhianati kepercayaan Jasmine dengan membongkar rahasia ini.


"Demam? Apakah dia baik-baik saja? Kau sudah memanggikan dokter untuknya?" tanya Daniel semakin cemas.


"Belum."


"Panggilkan sekarang! Caterine! Mana makanannya? Biar aku yang membawakan makanannya kepada Jasmine!"


Alice dan Caterine saling berpandangan heran. Jasmine memang demam, tetapi sepertinya memang tak separah itu sehingga harus memanggil dokter. Apalagi Alice juga masih menyimpan obat penurun panas khusus untuk ibu hamil. Dengan mengonsumsinya, Alice yakin keadaan Jasmine akan segera kembali seperti semula.


Namun, Daniel sama sekali tak peduli. Raut mukanya menunjukkan kecemasan dan kekhawatiran. Dia segera mengambil makanan dari tangan Caterine dan membawanya ke lantai atas menuju kamar Jasmine.



Jasmine sudah setengah tertidur ketika ia mendengar suara ketukan pintu. Jasmine terlalu malas untuk bersuara. Pintu kamar tak ia kunci. Alice berjanji akan membawakan makan malam untuknya. Mungkin itu Alice, atau Caterine.


Jasmine tetap tak bersuara dan berharap Caterine atau Alice berinisiatif untuk masuk ke dalam kamarnya langsung. Entah kenapa, dia merasa terlalu lelah. Tulang-tulangnya seperti tergerogoti oleh sesuatu yang tak kasat mata. Gairah Jasmine hilang, berganti rasa malas yang menjadi-jadi. Apakah ini memang sindrom kehamilan yang terlambat? Atau memang dia terlalu memforsir tenaga dan pikirannya akhir-akhir ini? Entahlah. Jasmine sendiri merasa tak yakin.


Jasmine membuka matanya sedikit untuk melihat keadaan sekeliling. Jasmine melongo tak percaya dengan apa yang ia lihat. Bukan Alice atau pun Caterine yang membawakannya makanan. Tetapi Daniel.

__ADS_1


Jasmine menutup matanya dan membuka kembali untuk memastikan diri. Sosok itu masih tak berubah. Daniel berdiri menjulang, sibuk menata beberapa piring sajian di atas meja ujung ruangan kamar.


"Kenapa kau yang mengantarkan makanan itu ke sini?" tanya Jasmine mencoba bangkit dari tidur. Kepalanya terasa pening dan sedikit berputar saat ia mengangkat tubuhnya tiba-tiba.


"Tidak apa-apa. Hanya ingin memastikan saja wanita sekeras kepala dirimu bisa tiba-tiba demam. Kukira kau wonder woman yang tak bisa terkalahkan oleh keadaan." Daniel duduk di samping Jasmine, menatap lekat-lekat wanita itu.


Wajah Jasmine sedikit pucat. Keringat dingin mulai terlihat seperti titik-titik kecil di kedua pelipisnya. Matanya memerah dan terlihat lebih berair dari pada biasanya. Daniel hanya bisa menelan ludah, menyembunyikan simpati yang mulai menyeruak perlahan dari lubuk hatinya.


"Pergilah! Aku sedang tak tertarik menanggapi olok-olokmu!" usir Jasmine dengan nada bicara yang lemah.


"Kau masih saja tetap angkuh, Jasmine!"


"Memang. Aku memiliki kebalikan sikap-sikap dari wanita idaman sebagian besar lelaki. Apakah ada masalah dengan itu, Daniel?" jawab Alice sarkasme. Dia membenarkan letak selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Mulutmu masih saja pedas!"


Jasmine memilih diam dan tak menanggapi. Dia kembali tertidur dan memejamkan mata dengan lemah. Tubuhnya terasa lebih baik saat dibaringkan.


Meskipun Jasmine memejamkan mata, tetapi ia merasa tak karuan. Berada satu ruangan dengan calon ayah anak yang tengah ia kandung membuat Jasmine merasakan reaksi lain.


Sosok di sampingnya adalah seseorang yang akan menjadi bagian penting dari anak yang ia kandung. Mungkinkah Daniel saat ini merasakan reaksi juga? Mungkinkah lelaki itu memiliki sedikit saja pemikiran dia telah meninggalkan bagian yang terpenting dari dirinya pada Jasmine?


Andai Daniel tahu, apakah lelaki itu akan marah? Dia lelaki baik-baik dengan latar belakang dan kesuksesan besar. Mana mau dia menerima fakta bahwa benihnya akan tumbuh dan berkenbang di rahim wanita bayaran seperti Jasmine.


Kemungkinan yang terbesar jika Daniel tahu, dia akan menyuruh Jasmine menggugurkan janin. Dengan semua paksaan yang ada.


Jasmine menggigit bibirnya dengan keras. Bayangan janinnya diambil paksa, dikeluarkan, dan dibiarkan meregangkan nyawa perlahan-lahan membuat dadanya terasa sesak. Nafas Jasmine terputus-putus, merasakan seolah-olah rasa sakit itu adalah miliknya juga.


"Kau baik-baik saja, Jasmine?" tanya Daniel khawatir melihat wajah wanita itu yang seperti mayat hidup. Benar-benar pucat pasi.


"Keluarlah, Daniel. Aku mohon." Jasmine membuka matanya, menyuarakan dengan nada lirih.


Daniel menarik nafas dengan berat. Wanita ini semakin lama memiliki dinding tak kasat mata yang semakin tinggi saja. Dia sulit tertembus dan tak membiarkan dirinya terekspos.


"Baiklah. Alice sedang memanggilkan dokter untukmu. Ada baiknya kau memakan beberapa suap malam ini sebelum dokter itu tiba!" Daniel bangkit berdiri dan mulai berjalan menuju pintu keluar.


"Daniel …," panggil Jasmine lemah sebelum lelaki itu menghilang dari pandangan.


"Ada apa?" tanya Daniel.


"Pernahkah kamu membunuh seseorang?" tanya Jasmine dengan suara yang samar, tetapi masih cukup bisa didengar oleh Daniel.


Ada jeda di antara mereka. Keheningan mendominasi ruangan ini. Hanya detak jam dinding yang berbunyi menjadi latar belakang.


Mata Daniel berubah menggelap tak senang. Jasmine telah melontarkan pertanyaan yang tak ingin Daniel jawab. Dia tersenyum miris dan memilih jujur.


"Pernah. Ada apa?"


"Tidak apa-apa. Pergilah!" suara Jasmine mulai melemah. Di dalam selimut, Jasmine mencengkeram dadanya dengan lebih kuat.

__ADS_1


Daniel pernah membunuh seseorang. Jika ia tahu kehamilan Jasmine, bukan hal yang mustahil anak ini akan dibunuhnya juga. Sesuatu yang tak bisa dibayangkan oleh Jasmine. Terlalu menyakitkan dan memilukan.



__ADS_2