
Maxen menatap tubuh polos Rachel dengan penuh rasa puas. Hanya selimut yang membungkus aset indah wanita ini. Bahu dan lehernya yang jenjang, menampakkan jejak kemerahan bekas percintaan mereka.
Maxen menarik pinggang wanita tersebut dan menyeretnya semakin mendekat ke arah tubuhnya sendiri. Maxen tak jauh berbeda dengan Rachel. Mereka hanya berlindung di balik selimut yang terhampar di atas kusutnya ranjang.
"Rachel, kau luar biasa malam ini," sebuah pujian tulus ia berikan untuk istrinya. Senyum Maxen sehangat musim semi. Dia mengusap lembut garis rambut wanitanya dengan sepenuh perasaan.
"Hmh," Rachel menatap Maxen dengan mata bulatnya yang indah. Dia masih merasakan getaran indah penyatuan mereka. Seperti sebuah tarian alam yang sangat eksotis.
Rachel tak pernah mengira malam ini akan menjadi malam pengantin mereka untuk pertama kalinya. Dengan sedikit malu, dia kembali teringat betapa agresifnya dia menanggapi Maxen.
Siapa kira waktu mampu membawa mereka pada kepemilikan satu sama lain. Semua penghalang itu telah lenyap begitu saja. Pikiran mereka hanya terfokus pada satu hal.
Untuk sejenak tadi, Rachel sanggup melupakan Harry. Eksistensi lelaki itu seperti terhapus untuk sesaat. Membuat Rachel menjadi pribadi yang bebas dan tak memiliki beban.
"Bukankah sudah kukatakan aku mampu menemani malammu dengan menyenangkan?" goda Maxen, menyusuri lengan Rachel yang selembut beludru.
Rachel menatap Maxen dan wajahnya sedikit memerah. Dia ingin menyurukkan diri di atas bantal, tetapi segera direngkuh oleh Maxen dengan cepat. Lelaki itu licik. Tidak membiarkan istrinya lepas dari kecanggungan ini.
"Jawab dulu, Rachel. Jangan membisu setelah kau cukup keras membuat kehebohan di kamar ini sebelumnya." Maxen mengecup kening sang wanita dengan penuh arti. Memiliki dan mencecap Rachel seolah adalah sebuah rasa yang sangat mencandukan. Bagai anggur berkadar tinggi.
"Apakah egomu terlalu tinggi sehingga membutuhkan pengakuanku?" Rachel berkata lirih. Dia menatap dada bidang suaminya yang sedikit mengkilat karena keringat.
"Tidak. Sikapmu sudah menunjukkan semuanya. Kau sudah resmi menjadi milikku, Rachel. Hanya aku yang berhak menyentuhmu." Maxen berkata serius. Dia membelai kulit putih Rachel dengan pemujaan.
Malam ini indah. Bulan menggantung di langit seperti sebuah gambar sempurna yang ditempelkan Tuhan. Bintang-bintang bertebaran, memberikan warna lain yang saling menyempurnakan di balik latar belakang langit yang kelam.
Maxen menyusuri tulang rusuk Rachel bagian bawah sembari mendesahkan nama wanita tersebut. Dia mencium keningnya pelan dan bekata membujuk.
"Angkat sedikit tubuhmu."
"Ya, ya, begitu." Maxen menyusupkan sebuah tangan di sela-sela Rachel dan menggodanya kecil.
"Mari kita lakukan lagi. Malam masih panjang,"
Rachel menatap suaminya dengan tatapan bodoh. Hari sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Secara teknis, ini adalah pagi hari. Bukan lagi malam.
Tapi masa bodoh dengan semua itu. Selama Rachel bisa menyempurnakan kisah malam ini, segalanya patut menunggu.
…
Seminggu ini berlalu dengan cepat. Hubungan Rachel dan Maxen mengalami perkembangan. Mereka menghabiskan malam bersama dalam ikatan romantis dan saling menggoda satu sama lain di setiap kesempatan.
Keberadaan Maxen terlalu dominan. Berada di sisinya, membuat Rachel melupakan semua hal. Termasuk Harry.
Perasaan yang dimiliki Rachel untuk lelaki itu kian samar dan melemah. Dia semakin meragukan cinta yang ia miliki sebelumnya.
__ADS_1
Apa yang ia rasakan pada Maxen, jauh melampaui dari apa yang ia rasakan untuk Harry. Di sisi lain, Maxen adalah orang yang sangat posesif dan pintar memanjakan wanita.
Bersamanya, dipuja dan dikagumi membuat Rachel merasa lengkap. Inilah yang ia inginkan. Penyatuan yang melengkapi satu sama lain. Sesuatu yang baru ia dapatkan dari Maxen.
Sudah lama, Rachel merasa hidupnya tak lengkap. Dia adalah orang yang selalu waspada dari usia remaja. Orang tuanya bercerai dan ia ditinggalkan berdua bersama sang adik. Kehidupan telah menempanya dengan keras sehingga ia selalu waspada.
"Jadi, kau sudah lama hidup berdua bersama Anna, adikmu?" tanya Maxen di suatu sore.
Semenjak malam mereka bersama, Maxen seolah berubah menjadi lelaki yang memiliki hasrat tinggi untuk mengorek apa pun tentang kehidupan Rachel.
"Ya. sangat lama.Orang tua kami bercerai. Aku ditinggalkan begitu saja dengan Anna. Kami hidup dari uang kiriman Dad sebelum aku bekerja. Setelah aku lulus sekolah dan mendapat pekerjaan tetap, aku mengurus semua keperluan Anna. Katakanlah, aku adalah ibu pengganti baginya. Usia kami selisih sekitar sepuluh tahun. Jadi cukup wajar bagiku untuk mengurusnya."
Rachel teringat hari demi hari saat ia terpaksa membagi kiriman uang yang sangat minim untuk kehidupan mereka berdua. Ada saat di mana ia terpaksa menanggung lapar dan menahan semua keinginan hanya agar adiknya tetap sekolah.
Rachel sudah pernah mengalami semua itu. Dia tak lagi terkejut dengan banyak arang terjal dari kehidupan.
"Rachel, bisakah mulai saat ini kau berhenti bekerja di restoran? Aku ingin kau mengurus rumah ini secara penuh. Menjadi istri yang menungguku setiap kali pulang ke rumah. Menjadi orang yang aku nafkahi sehingga aku memiliki peran yang cukup nyata dalam keluarga."
Maxen membujuk dengan lembut. Meskipun akhir-akhir ini Rachel sudah sering mengambil cuti dari restoran, tetapi dia masih enggan untuk berhenti secara total dari pekerjaannya.
Rachel memandang netra Maxen dengan banyak emosi. Melepaskan pekerjaan adalah sesuatu yang cukup sulit. Apalagi mengingat mereka masih tidak tahu ke mana arah pernikahan selanjutnya.
Tidak masalah jika pernikahan ini untuk selamanya. Rachel tak keberatan bergantung pada Maxen seperti yang lelaki itu minta.
Pernikahan ini menjadi labih baik dan lebih nyata. Itu jelas. Tetapi masih belum menjadi pernikahan yang selayaknya. Tidak ada emosi yang diungkapkan, tidak ada perasaan yang disampaikan, dan tidak ada kedekatan cinta satu sama lain.
Jika tiba-tiba Maxen jenuh dan mencoba mengakhiri pernikahan, sementara Rachel terlanjur bergantung secara penuh pada kekuatan Maxen, bagaimana nanti dia melanjutkan hidup? Bukankah itu menyakitkan?
Seseorang yang pernah merasakan indahnya surga, akan sulit menerima kasarnya tanah. Itulah yang ia takuti.
"Aku belum bisa melepaskan pekerjaanku secara penuh, Maxen. Maafkan aku. Aku hanya bisa mengurangi jadwal kerjaku sehingga hanya masuk tiga kali dalam seminggu," jelas Rachel apa adanya.
Dia telah membicarakan ini dengan manager restoran yang baru. Namanya Mr. Rino. Orangnya cukup baik dan bersedia mendengar keluh kesah, jauh berbeda dengan manager sebelumnya.
Karena kebaikan Mr. Rino, Rachel diijinkan menjadi karyawan part time yang bekerja setengah dari jam kerja karyawa pada umumnya. Dengan penyesuaian gaji, tentu saja.
"Kau yakin tak ingin berhenti saja?" Maxen merangkul pinggal Rachel dari belakang, mencoba menggoda istrinya. Dia menyurukkan diri di cekungan leher Rachel dan mencecapnya pelan.
"Hentikan, Maxen. Kau tak bisa membujukku untuk mengikuti kemauanmu begitu saja." Rachel berkata keras, tetapi masih membiarkan lelaki itu berbuat semaunya. Sentuhan Maxen selalu membuat dadanya melonjak senang.
"Oh, benar-benar wanita keras kepala." Maxen menggoda Rachel dengan menyibakkan rambut dan menyentuh ujung telinganya.
"Hentikan, Maxen! Kau tahu aku sangat menjaga kemandirian. Lelaki dan wanita harus setara. Aku tak mau menjadi pengangguran." Rachel memprotes dengan lemah.
Pelukan Maxen semakin menguat dan membuat mereka terbawa suasana.
__ADS_1
"Maxen," panggil Rachel kemudian.
"Ya, Sweet Heart?"
"Besok Alice akan bepergian ke New York untuk mengunjungi keluarga besar Klayver. Tidak apa-apa kan, jika Axel menginap di sini bersamaku?" tanya Rachel sedikit khawatir.
"Temanmu akan ke New York?"
"Iya."
"Kenapa Axel tidak ikut serta?" Semenjak mereka menikah, Maxen menjadi cukup tahu tentang seluk beluk Alice.
"Anak itu masih tak nyaman untuk dibawa bepergian jauh. Tidak masalah, bukan? Dia akan bersikap baik. Bukankah waktu dulu saat ia menginap di sini juga sikapnya terjaga?"
Maxen memandang Rachel dengan tak senang. Saat itu Rachel belum berhasil ia miliki. Jadi tak masalah jika ada anak asing yang menemani tidur istrinya. Tetapi sekarang mereka saling menghabiskan banyak aktifitas di atas ranjang. Apakah itu artinya Maxen harus berhenti merayu Rachel di malam hari? Tidak. Jelas Tidak.
"Aku akan menidurkan anak itu di kamar lain bersama pengasuhnya. Jadi tidak mengganggu waktu kita," Rachel seperti menyadari dilema yang dirasakan oleh suaminya.
Mendengar penjelasan ini, Maxen bersiul keras dan tertawa lebar. Rachel cukup memahami dilema yang ia rasakan.
"Bagus. Aku tak keberatan," katanya ringan, menggendong Rachel tiba-tiba dengan gaya bridal menuju kamar.
"Hei, apa yang kau lakukan?"
"Menaklukkanmu lagi dan menciptakan surga kecil kita."
Maxen tak menggubris semua protes Rachel dan tetap melaju cepat ke kamar tidur. Ia melewati dua anak tangga sekaligus. Lengannya yang kuat menahan tubuh Rachel dengan ringan, seolah-olah wanita itu hanya memiliki beban seringan bulu.
"Ini masih sore Maxen," Rachel memprotes lirih.
"Aku tak peduli," sahut Maxen tersenyum kecil, menampakkan giginya yang sempurna.
Dalam hati, Maxen bertekad akan menggunakan semua waktu yang ia miliki untuk menaklukkan wanita ini dan membuatnya melupakan keberadaan Harry.
Harry.
Bagaimana pun, nama itu masih menjadi duri antara mereka.
Maxen mengakui dirinya brengs*k, dia berhasrat merebut wanita yang notabene adalah miliki adiknya.
Namun, ia tak lagi peduli. Moralitasnya sudah hancur. Etikanya telah lenyap. Apa yang ada hanya keinginan jiwanya untuk mengambil Rachel dan menjadikannya sebagai pelengkap diri.
Tubuh dan jiwanya membutuhkan wanita ini.
…
__ADS_1