Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
103 - SEASON 2


__ADS_3

Pagi ini Alice mendapat kejutan baru. Dia baru saja selesai sarapan di kamar saat Caterine menyodorkan gagang telepon untuknya. Katanya dari Rachel. Entah apa yang telah membuat temannya itu menghubungi Alice sepagi ini.


"Ya, Rachel? Sepertinya kau punya berita bagus kali ini." Alice bertanya penuh rasa ingin tahu. Dia sudah tahu karakter temannya. Rachel adalah orang yang tak bisa menahan berita bagus dari Alice. Mulut temannya itu termasuk cepat sekali dalam menyebarkan berita.


"Iya. Sangat bagus. Tetapi aku khawatir kau tidak akan terlalu senang mendengarnya. Kau harus siapkan diri dengan berita ini, oke?"


Suara Jasmine terdengar was-was. Dia terdengar sangat bahagia, tapi tak yakin Alice akan merasakan hal serupa. Jadi dia harus hati-hati menyampaikan hal ini.


"Berhenti membuatku penasaran, Rachel. Ada apa sebenarnya?" tanya Alice meradang. Rachel biasanya tak terlalu suka membuat teka-teki di pagi hari, sepertinya saat ini menjadi pengecualian.


"Maxen diberi keringanan dalam masa hukuman tahanan. Dia bersedia memberikan sebuah informasi sensitif yang dibutuhkan kepolisian dengan imbalan akan diberikan kebebasan." Jasmine menahan nafas. Dia takut apa yang ia sampaikan membuat Alice marah.


Maxen baru menjalani hukuman sekitar empat atau lima bulan. Setelah semua yang Alice lakukan untuk menjebloskan Maxen ke dalam tahanan, kini lelaki itu akan dibebaskan lagi dengan mudah hanya dengan memberikan informasi ke kepolisian. Siapa pun yang menjadi Alice, pasti akan sulit menerima hal ini. Hukum yang Alice perjuangkan ternyata lenyap begitu saja. Maxen tetap saja tidak ditakdirkan membayar dosa-dosanya dengan hukum yang sebenarnya.


Jasmine takut Alice menyesal menyerahkan Maxen kepada hukum. Dengan jaminan kebebasan Maxen yang sekarang, bukan hal yang mustahil jika Alice akan marah dan melakukan tindakan-tindakan lain.


Terdengar desahan berat. Alice menejamkan matanya sejenak, merasa bimbang harus menanggapi seperti apa. Dengan lirih, dia mengatakan pikirannya.


"Aku sudah menduganya, Rachel. Kau tak perlu khawatir. Aku sudah mengantisipasi hal ini jauh-jauh hari sebelumnya."


Setelah kasus Maxen resmi dibawa ke pengadilan, Klayver pernah mengungkapkan tentang hal ini kepada Alice.


Maxen adalah orang yang berpengaruh. Dia memiliki koneksi yang luas dan kekuatannya tak bisa disepelekan. Menyerahkannya kepada hukum hanya menjadi sandiwara kecil sebelum akhirnya bebas entah dengan cara apa. Baik Maxen maupun pengacaranya merupakan orang yang sangat kompeten. Melobi hukum bukanlah hal yang sulit bagi mereka.


"Kau sudah menebaknya?" Jasmine terdengar heran. Jika Alice sudah berhasil menebaknya, kenapa ia masih saja menyerahkan Maxen kepada pengadilan. Tindakan yang cukup sia-sia sebenarnya.


"Sudah. Aku menyerahkan Maxen ke pengadilan hanya sebagi bentuk fornalitas. Sebenarnya, aku sudah mulai bisa memaafkannya. Kesalahan antara Maxen dan Anson adalah masa lalu, Rachel. Meskipun aku belum sepenuhnya bisa menerima dan bersikap baik, setidaknya aku mulai memaafkannya. Jadi, jika ia sudah mendapat jaminan bebas, biarkan saja. Aku tak akan melakukan apa pun seperti yang kau khawatirkan. Kau tenang saja."


Alice tersenyum miris. Memaafkan adalah hal yang paling sulit, apalagi orang tersebut pernah merampas seseorang yang sangat berharga bagi kehidupan Alice. Tetapi, mendendam juga bukan jalan yang bijaksana. Dendam tak akan menghasilkan apa pun. Hanya lubang besar yang akan menyeret nurani kita sendiri dalam kekosongan semu.

__ADS_1


Alice sudah belajar untuk itu. Dia harus berdamai dengan kenyataan dan menerima apa yang kehidupan telah sajikan untuknya. Apa pun itu, Alice yakin Tuhan pasti telah mengatur semuanya demi kebaikan makhluknya. Tidak mungkin rumus Tuhan akan merugikan ciptaannya sendiri. Selalu ada hikmah, sekali pun di balik kepedihan dan kehilangan yang terlanjur terjadi.


"Oh, aku … aku benar-benar tak menyangka. Kau wanita yang sangat menakjubkan, Alice. Aku bersyukur dengan sikap yang kau ambil." Rachel tercekat. Dia menghapus air bening yang mulai berlinang di wajahnya dengan punggung tangan. Memiliki teman seperti Alice merupakan hal yang paling membahagiakan yang Tuhan berikan untuknya.


"Sudahlah, Rachel. Kau tak perlu merasa berterimakasih padaku. Aku hanya mencoba berdamai dengan keadaan. Sesuatu yang dibutuhkan oleh jiwaku." Alice tersenyum kecil, memahami rasa haru yang Rachel rasakan saat ini.


Bagaimana pun juga, Maxen telah menjadi sosok yang dicintai oleh Rachel. Pasti berat bagi Rachel jika terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya. Alice bisa merasakan hal tersebut. Dia lebih memilih temannya bahagia bersama pilihan hatinya dan melupakan dendam lama yang ia miliki. Itu pasti akan menjadi hal yang indah bagi mereka semua. Pasti tidak mudah, tapi Alice yakin mereka pasti bisa menemukan titik temu.


"Oh bagaimana pun juga, aku tetap berterimakasih padamu, Alice. Nanti aku hubungi lagi. Sekarang aku harus mengurus tentang Maxen terlebih dahulu."


"Memang kapan Maxen akan keluar?" tanya Alice penasaran.


"Minggu depan, sepertinya. Entahlah, aku belum tahu secara pasti. Nanti kutanyakan hal ini pada pengacara yang menanganinya. Kau akan kuberi tahu kepastiannya." Rachel mengirimkan ciuman jarak jauh dan memutuskan sambungan teleponnya.


Alice berdiri mematung cukup lama. Dia mencerna kembali fakta yang baru saja Rachel sampaikan padanya. Maxen sebentar lagi akan kembali, pulang ke dalam dekapan Rachel dan memulai kisah mereka kembali. Lantas, kapan kisahnya juga kembali? Satu setengah bulan Klayver pergi tanpa ada kabar sementara Alice telah menyimpan kerinduan besar yang tak berkesudahan.



Seminggu tak terasa telah berlalu. Apa yang dijanjikan polisi pada Maxen ternyata berbuah menjadi kenyataan. Lelaki itu kini berhasil menghirup udara bebas kembali setelah empat bulan lebih berada di balik jeruji penjara.


Matahari terasa lebih hangat ketika Maxen tak lagi dibebani sebagai status nara pidana. Angin musim gugur terasa sejuk di kulitnya, tak lagi memiliki keluhan pada rasa dingin yang menggigil.


Beginilah rasanya kebebasan. Indah. Terlalu manis rasanya, lebih dari pada madu. Maxen tersenyum kecil, menatap Rachel yang menjemputnya di luar pintu penjara. Wanita itu terlihat luar biasa. Dia mengenakan dress orange dengan tali spageti dan blazer yang disampirkan di bahu kirinya. Tatapan Jasmine penuh haru. Air mata bening menetes membasahi wajah cantiknya.


Maxen berjalan cepat menuju istrinya. Dia merentangkan tangan, memberi isyarat untuk menerima pelukan hangat dari pasangannya. Tanpa menunggu lama, Jasmine berhambur menuju pelukan lelaki yang sangat ia rindukan. Air mata menetes tak terkendali.


Pengacara pribadi Maxen yang mengurus prosedur kliennya dari awal hingga akhir hanya bisa ikut tersenyum. Dia ikut merasa lega akhirnya klien utamanya bisa terbebas dari jeruji besi.


Hal yang paling mahal di dunia ini adalah kebebasan. Tidak ada yang pernah bisa menyamai keindahan ketika kau menghirup udara kebebasan tanpa beban. Seolah-olah semua dahaga dan rasa lapar yang kau miliki bisa hilang begitu saja dengan keluar dari tempat terkutuk yang bernama penjara.

__ADS_1


"Kupikir ini mimpi." Jasmine menghirup aroma Maxen yang terasa familier. Campuran antara rempah-rempah dan kayu manis di musim panas. Aroma tersebut selalu membuatnya melayang, membuatnya teringat tentang setiap keindahan yang mereka bentuk sebelumnya.


"Tidak. Aku benar-benar bebas. Bukankah sudah pernah kukatakan kau tak perlu khawatir? Aku dan pengacaraku adalah orang hebat. Aku pasti akan keluar dari tempat busuk ini secepat yang aku mampu. Bagaimana bisa aku meninggalkan istriku terlalu lama?" Maxen mengangkat tubuh Jasmine dengan ringan dan memutarkannya beberapa kali ke udara. Mereka saling bertukar tawa dan menikmati kebersamaan yang terasa seperti mimpi.


Tuhan telah mengaruniakan Maxen sebuah keindahan berupa Rachel. Istri, teman, sekaligus pelengkap hidupnya. Mereka layaknya satu kesatuan yang saling mengisi satu sama lain. Mustahil terpisahkan.


"Baiklah, Mr. Angkuh. Kau memang selalu pintar dalam mengambil spekulasi. Dasar sombong!" Rachel memukul pelan lengan suaminya dengan wajah berbinar-binar. Air matanya telah ia usap, menyisakan bekas-bekas kecil di setiap sisinya.


"Ayo kita pulang, kita perlu merayakan hal ini."


Rachel mengangguk, menyetujui suaminya. Mereka berjalan beriringan menuju mobil pribadi Axel yang menunggunya di lapangan parkir.


"Rachel, kau tak akan pernah tahu betapa udara bebas mampu menjadi sebuah candu yang menggetarkan. Sesuatu yang selama ini jarang aku syukuri dan baru terasa setelah aku kehilangan kebebasanku di balik jeruji penjara." Maxen setengah melamun.


Sebagian besar seseorang hanya bersyukur atas nikmat-nikmat yang teraba oleh mata. Bersyukur ketika mendapat uang yang banyak, istri yang cantik, rumah yang mewah, dan usaha yang besar. Mereka lupa bahwa sejatinya semua itu tak akan pernah memiliki nilai jika kebebasan kita tergadai. Apa fungsinya semua itu jika kita tak diijinkan menikmati. Yang ada kita hanya akan semakin sekarat setiap waktu.


Wajar jika selama ini banyak kasus yang melaporkan kejadian bunuh diri di balik sel penjara. Karena kebebasan seseorang memiliki nilai yang paling tinggi. Banyak dari mereka yang tak akan pernah kuat andai kebebasan tersebut terenggut dan terpaksa berada dalam posisi sebagai tahanan.


Beratapkan langit dan berlindung di balik gubug reyot lebih mulia dari pada predikat sebagai nara pidana. Meskipun beberapa orang ada yang menemukan pencerahan di dalam penjara, tetapi tak sedikit yang justru semakin terperosok semakin dalam di lubang kriminalitas ketika mereka berada dalam tempat itu.


Penjara bisa menjadi tempat pencucian rohani, atau bisa menjadi tempat belajar kriminal lebih parah lagi. Tergantung orang tersebut akan menerimanya seperti apa.


"Aku tahu, Maxen. Percayalah. Aku orang yang paling menderita melihatmu berada di balik jeruji, sekaligus orang yang paling tak berdaya karena itu." Rachel menatap Maxen dengan wajah serius. Dia mengatakan hal yang sebenarnya.


Ada rasa sakit yang dialami oleh seorang istri melihat suaminya sendiri menderita. Ada kesedihan yang ditanggung seorang istri melihat belahan hatinya terpenjara. Rasa sakit dan kesedihan itu adalah hal yang sulit untuk dideskripsikan. Hanya Rachel yang tahu bagaimana hal itu mempengaruhinya. Menjadi sumber lara yang tak kasat mata.


"Maafkan aku. Tetapi aku sekarang telah kembali. Aku janji, aku akan selalu ada untukmu, menghabiskan waktu yang tersisa."


__ADS_1


__ADS_2