
Daniel duduk menatap laptop di atas meja nakas di samping tempat tidur. Dia mengamati grafik angka rumit yang menunjukkan penjualan bulan ini. Daniel sudah berkutat dengan tabel ini hampir dua jam lamanya hingga malam telah larut dan mendekati pukul satu dini hari. Tetapi, bukannya data itu mempermudah pemahamannya, justru membuat kepalanya semakin pusing saja.
Fokus Daniel tidak lagi tertuju pada tabel berbentuk angka. Pikirannya dipenuhi oleh bayangan Jasmine dan ciuman yang mereka lakukan di halaman belakang rumah Alice.
Daniel tertawa kecil, mengolok dirinya sendiri. Siapa sangka dirinya terpengaruh oleh ciuman wanita seperti Jasmine. Dari semua wanita yang ada di dunia ini, dari semua wanita baik-baik yang bisa ia dapatkan, Daniel justru terbawa pada ciuman yang dilakukan Jasmine.
Ya Tuhan. Ke mana otaknya tadi sore? Sepanjang tiga puluh satu tahun kehidupannya, setelah sekian lama ia selalu menggunakan otaknya yang luar biasa, baru tadi Daniel merasa kecerdasannya tidak aktif. Semua responnya dipengaruhi oleh sentuhan Jasmine dan efek ciuman Jasmine untuknya.
Daniel masih ingat bagaimana rasa manis Jasmine di bibirnya. Bagaimana wanita itu bergerak indah, menuntut, dan memberi kesan yang mendalam.
Daniel menekan tombol shut down di laptop dan berdiri meninggalkan benda itu. Dia menyugar rambutnya dengan gerakan kasar. Sialan. Apakah tubuhnya terlalu lama tidak disentuh wanita sehingga perempuan seperti Jasmine mampu menarik responnya sedemikian rupa?
Pasti begitu. Daniel kekurangan sosialisasi. Dia tidak melakukan banyak hal untuk menghibur dirinya sendiri setelah kepulangannya dari Bali sehingga mungkin otaknya mulai mengalami kelainan.
Daniel mengetuk-ngetukkan ujung kakinya ke lantai secara berirama. Dia mulai memikirkan rencana. Sepertinya dia perlu mencari penghiburan malam ini. Masih sempat jika Daniel pergi sekarang. Dia hanya perlu menghabiskan sedikit waktu untuk bersenang-senang.
Dengan cekatan, Daniel berjalan menuju garasi, mengambil mobilnya dan mulai keluar melintasi jalan menembus gelapnya malam menuju club langganannya.
Tak butuh waktu lama untuk tiba di sana. Jalanan cukup lengang sehingga Daniel tak terjebak oleh kemacetan kota yang menyebalkan.
Suara musik terdengar memenuhi pendengaran. Lantai club telah penuh dengan pemuda pemudi yang menari mengikuti irama musik. Di tempat ini, malam merupakan kehidupan baru. Waktu bukanlah penghambat bagi para pencari kesenangan secara instan.
Daniel menyeruak ke tengah keramaian, mendekati seorang bartender. Dia meletakkan tangannya di meja konter dan beberapa saat kemudian, Kellan Lion, sang bartender mendekat ke arahnya.
"Daniel, lama tak berjumpa. Ke mana saja kau? Bourbon sweet tea seperti biasanya? Atau martini?" tawar Kellan yang cukup mengenal Daniel.
"Martini saja. Aku sedang sibuk dengan beberapa hal akhir-akhir ini." Daniel duduk di kursi besi tanpa sandaran yang berdesain minimalis. Dia melirik ke samping, menatap seorang gadis manis berambut pirang yang cukup menyenangkan.
"Dia cukup manis, bro. Bukan hal yang buruk untuk mendekatinya malam ini." Kellan meletakkan gelas kristal cantik di hadapan Daniel yang berhiaskan irisan lemon tipis. Cairan berwarna orange keemasan itu tampak menggugah selera.
Daniel mengangguk menbenarkan, mengerti isyarat yang dimaksud Kellan. Sepertinya wanita itu terlihat belum memiliki pasangan. Tidak ada lelaki yang berada di sisinya dengan posesif.
"Hai, sendirian saja?" Daniel mulai menyapa sang wanita yang berambut pirang ikal sebahu. Wajahnya mungil, memiliki bintik-bintik kecil di sekitar hidungnya. Kulitnya yang seputih pualam membuat kecantikan yang dimiliki wanita itu terkesan lembut dan menyenangkan.
"Bersama beberapa teman, mereka semua sibuk menari di sana." Wanita itu menunjuk lantai bawah di mana banyak orang sedang asyik menari mengikuti irama.
Daniel mengangguk kecil, menatap wanita itu lebih intensif. Dia mencoba mengira-ngira usia wanita di sampingnya. Mungkin dua puluh dua tahun, mungkin dua puluh tiga. Sekitar itu. Tidak terlalu buruk. Daniel tidak terlalu suka mendekati gadis remaja yang masih belasan tahun.
"Sepertinya kau tidak membawa pasangan, Ms. …?"
"Audrey Wright." Suara wanita itu sedikit dikeraskan, mengalahkan musik yang terdengar menggema menulikan telinga.
Audrey. Nama yang sesuai dengan sosoknya. Wajah manis, penampilan modis tetapi tak terkesan vulgar. Berbeda sekali dengan Jasmine. Daniel mengernyitkan kening tak suka. Sudahlah. Malam ini Jasmine tak pantas untuk disebut.
__ADS_1
"Daniel Stranger." Tangan kekarnya terulur secara otomatis. Dengan mantap, wanita di sisinya menerima uluran tangan tersebut dan tersenyum hangat.
Malam ini Daniel memakai kemeja berkerah dipadankan dengan celana kain berwarna gelap. Rambutnya tampak sedikit berantakan, tetapi justru menambah nilainya karena kemaskulinannya semakin terlihat. Di bawah kelopak mata, ada kantung kecil sebagai tanda ia kurang tidur. Daniel berhasil menjadi makhluk malam selama akhir-akhir ini.
"Kau sering ke sini, Audrey? Kelihatannya aku jarang melihatmu." Daniel mencoba melakukan pendekatan secara alami.
Dress yang dikenakan Audrey cukup simple. Berbahan sutra dengan model sederhana. Hanya saja, ditengahnya memiliki potongan yang sedikit berani dengan menampilkan belahan dadanya. Stiletto cokelat gelap ia kenakan membungkus kakinya yang ramping.
"Kadang-kadang. Aku bukan pelanggan tetap. Kelihatannya kau cukup sering ke club ini." Audrey berkomentar.
Mereka saling berbincang dengan santai. Setelah waktu berlalu, Daniel mengajak Audrey untuk pindah ke lantai atas yang lebih tenang agar obrolan mereka terasa nyaman. Percayalah, mengobrol dalam ruangan yang penuh suara musik dengan volume keras itu sangat tak menyenangkan.
Lebih dari setengah jam mereka saling bertukar informasi singkat. Audrey adalah wanita yang cukup terbuka. Dia ternyata seorang marketting di perusahaan konveksi. Caranya bersikap dan caranya berinteraksi memang mencerminkan bakatnya sebagai marketting yang supel dan persuasif.
Daniel tak mengira kedatangannya ke club ini bisa sangat lancar. Bertemu dengan wanita sepintar Audrey merupakan hal positif yang patut ia syukuri. Hanya satu hal yang masih membuatnya bimbang. Wanita itu seperti wanita lainnya. Tidak membawa dampak apa pun bagi hasrat dan hatinya. Hanya rasa senang yang manis di permukaan saja.
Mungkin, Daniel harus bekerja keras malam ini. Jika ia bisa melewati fase dingin dari hatinya sendiri0, mungkin ia akan bisa menemukan kembali hasrat dan kehangatan hatinya.
Semua hal perlu proses. Benar apa yang dikatakan Rachel. Dia hanya harus membuka hati dan membiarkan orang lain masuk ke dalam ranah pribadinya. Satu-satunya untuk menghancurkan gerbang utama adalah membiarkan orang menyusup ke dalam. Begitulah rumusnya.
Setelah satu setengah jam mereka saling mengobrol, Daniel menawarkan diri untuk mengantar Audrey pulang. Kebetulan sekali apartemen wanita itu satu arah dengan kediaman Daniel. Pendekatan mereka jadi terasa lebih alami.
"Baiklah. Aku terlalu bodoh jika menolak tawaranmu."
Audrey mengedipkan sebelah matanya, mencoba sedikit menggoda Daniel. Siapa juga wanita yang menolak lelaki setampan Daniel yang terlihat mapan dan menyenangkan. Satu lagi. Dia juga bukan lelaki tipe playboy yang suka hinggap di sembarang wanita secara acak. Bisa jadi, jika affair mereka diteruskan, mungkin berlanjut ke arah hubungan yang sehat. Bukan sekadar percintaan singkat yang dangkal. Meskipun sebenarnya andai hanya percintaan singkat yang bisa ditawarkan Daniel, Audrey tak akan menolaknya. Toh malam ini ia juga butuh hiburan. Sesuatu yang bisa mengalihkan dari kerumitan masalah pekerjaan.
"Karena kau tampan dan cukup sopan," jawab Audrey setengah berteriak saat mereka melewati tempat yang cukup bising.
"Oh, aku harus memuji diriku sendiri jika wanita cantik sepertimu bersedia menyebutku tampan dan sopan." Daniel menbalas dengan suara yang tak kalah keras juga.
Keduanya saling tertawa secara bersamaan. Setelah mereka berhasil keluar dari club, Daniel meninggalkan Audrey sebentar untuk mengambil mobil. Waktu yang singkat itu Audrey gunakan untuk mengecek riasan wajahnya. Dia mebubuhkan lipstik orange di bibir manisnya untuk menyempurnakan penampilan.
Dengan cekatan, Audrey juga menambahkan lapisan bedak di beberapa sisi wajahnya yang sedikit berkeringat. Saat Daniel tiba di sisinya, Audrey merasa penampilannya sudah lebih baik dari sebelumnya. Dia tersenyum manis, menyambut Daniel yang membukakan pintu bersikap layaknya lelaki gentle.
"Jadi, kau bekerja dalam bidang perangkat lunak dan pengembangan teknologi?" Audrey memulai pembicaraan kembali. Dia menunjukkan tanda-tanda ketertarikan pada Daniel secara terang-terangan. Melihat mobilnya yang merupakan produk keluaran terbaru dengan harga yang fantastis, Audrey mulai menilai bahwa Daniel bukanlah orang sembarangan. Agaknya, malam ini ia mendapat bintang keberuntungan.
"Ya. Bagaimana jika malam ini jangan membicarakan masalah pekerjaan. Suasana terlalu indah untuk kita habiskan hanya dengan obrolan pekerjaan."
Audrey tersipu malu. Dia menatap ke sisi jalan dan mengulúm senyum kecil. Lelaki idaman sejati.
"Kau suka wanita yang seperti apa, Daniel?" Audrey kembali menciptakan obrolan. Dia memandang wajah serius Daniel dan mengagumi gurat-gurat wajahnya yang samar.
Daniel terdiam lama. Dia terlihat berpikir sebentar. Pertanyaan itu membuat Daniel sedikit memutar otak
__ADS_1
Wanita seperti apa yang dia sukai? Dia sendiri juga tak terlalu memedulikan hal itu. Sebelum ini, semua fokus yang ia miliki hanya untuk Alice. Apakah mungkin selera wanita yang ia sukai adalah wanita dengan karakter baik hati sekaligus keras kepala?
"Yang penting, dia wanita baik-baik dan bisa menjaga komitmen." Hanya itulah jawaban yang bisa diberikan oleh Daniel.
Mungkin, semua karakter wanita bisa Daniel sukai sejauh tidak seburuk Jasmine. Wanita itu adalah pengecualian. Mana mungkin wanita murahan dengan aset tubuh yang diperjual belikan bisa ia sukai? Mustahil.
"Kelihatannya, kriteria yang cukup umum." Audrey menimpali. Dia menatap sisi jalanan yang masih lengang dan menurunkan sedikit jendela mobil. Angin malam adalah salah satu hal yang ia sukai. Berbeda dengan AC otomatis, angin malam memiliki fungsinya tersendiri. Entah kenapa, Audrey merasa hembusan angin mampu membuatnya merasa lebih tenang dan damai.
"Memang. Aku tak memiliki kriteria khusus." Daniel tertawa kecil, mengambil belokan setelah lampu merah sesuai arahan Audrey.
Apartemen Audrey sudah tidak jauh lagi. Daniel memandang bangunan tinggi di sisi jalan yang telah sepi dan dijaga beberapa security di gerbang utama.
Daniel memasuki kawasan parkiran apartemen dengan sebuah kartu khusus yang dimiliki Audrey. Dilihat dari bangunan ini, sepertinya Audrey cukup mapan dalam hal materiil. Pekerjaannya sebagai marketting berhasil menopang gaya hidupnya yang tinggi.
Mereka berjalan beriringan menyusuri lorong utama. Di sudut lorong, ada sepasang lift yang dioperasikan secara umum. Audrey mememasuki ruang kotak berukuran tiga kali tiga meter diikuti oleh Daniel. Dia menekan tombol angka delapan dan membiarkan lift bekerja sebentar.
"Apakah tidak apa-apa kau pulang lebih dulu dan meninggalkan teman-temanmu?" Daniel jadi teringat Audrey pergi ke club secara berkelompok. Wajar jika nanti teman-teamnnya khawatir melihat kepergian Audrey yang tiba-tiba.
"Aku sudah mengirimkan pesan pada salah seorang mereka. Kau tak perlu khawatir." Senyum Audrey masih terlihat cerah. Dia menuntun Daniel keluar dari lift dan berjalan cepat menuju apartemen nomor 405.
"Kau bisa mampir ke dalam sebentar, Daniel." Audrey berdiri sedikit bimbang. Dia menatap Daniel penuh arti, seolah-olah mengirim permintaan secara khusus agar lelaki tersebut menerima udangannya.
Tetapi bukannya menjawab, Daniel justru meraih beberapa helai rambut Audrey dan memainkanya di jari jemari.
"Mungkin lain kali. Aku akan menghubungimu besok." Senyum Daniel tampak menawan.
Mereka berdua sempat bertukar kontak sebelumnya. Mudah bagi Daniel menghubungi Audrey sewaktu-waktu.
Audrey sebenarnya kecewa. Tetapi ia tetap mempertahankan senyumnya yang manis. Lelaki seperti Daniel tak pernah bisa dipaksa begitu saja. Salah-salah dia bisa lari menjauh dan tak lagi memberi kesempatan bagi Audrey untuk mendekat.
Audrey harus sabar. Mengikuti setiap kemauan Daniel dan mencoba membujuk secara perlahan. Lelaki itu terlalu berharga. Sekali lihat saja Audrey tahu Daniel bukanlah lelaki sembarangan.
"Baiklah. Hati-hati di jalan pulang." Hanya itu yang bisa Audrey sampaikan. Dia berjinjit kecil, menyamakan tinggi Daniel dan mencoba mengecup pipi lelaki di hadapannya.
Daniel memejamkan mata untuk sejenak. Kecupan Audrey terasa selembut bulu. Beberapa detik kemudian dia merengkuh pinggang wanita tersebut dan menunduk dalam menatap matanya yang berwarna kecokelatan. Mata kucing. Daniel menyebutnya begitu. Sedikit mirip dengan Alice. Hanya saja, mata ini lebih gelap lagi.
"Daniel." Audrey menatap dengan tatapan sayu. Bibirnya membuka sedikit, seolah-olah sengaja menggoda.
Perlahan, Daniel menciumnya penuh perasaan dan menikmati kelembutan milik Audrey.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Daniel kembali melepaskan diri dan tersenyum kecil. "Istirahatlah. Aku akan menghubungimu lain kali."
__ADS_1
Daniel berbalik secepat kilat dan berlalu pergi. Audrey termangu untuk sejenak. Dia menyentuh bibirnya dengan bingung. Sepertinya ciuman ini tidak ada yang salah. Tetapi kenapa Daniel bertingkah seolah-olah melakukan hal yang tidak tepat? Lelaki terkadang memang aneh.
…