
Klayver berdiri pelan menuju arah pintu rumah yang amat besar. Dia mengendap-endap mencari celah. Klayver adalah orang yang terbiasa dengan bayangan malam. Tubuhnya telah terlatih dengan baik. Setiap indera yang dimilikinya menunjukkan kekuatan yang telah lama dibentuk dengan keras.
Di sudut rumah ada sebuah kotak kumpulan kabel. Dengan hati-hati dan sigap, Klayver membuka pelindung kabel dengan sebuah alat dan mengotak-atiknya selama beberapa saat. Setelah dirasa yakin, Klayver masuk melalui gerbang kecil belakang rumah yang hanya dijaga oleh satu orang laki-laki bertubuh gempal.
Mudah menghadapi lelaki seperti ini. Dengan gerakan ringan, Klayver mengarahkan pukulan ke titik sensitif leher si gendut dan membuatnya rubuh sebelum sempat dia berteriak satu patah kata pun.
Si gendut yang lemah. Cibir Klayver dalam hati.
Setelah melewati si gendut, Klayver berjalan menuju pintu rumah belakang. Dia mengambil sesuatu dari saku, menggunakannya untuk membuka kunci dan otomatis pintu terbuka tanpa suara. Rumah ini menggunakan perangkat pengamanan yang super canggih. Ada sensor gerak dan sensor panas.
Tetapi terkadang orang lupa. Seacanggih-canggihnya teknologi, penggagas utamanya adalah manusia. Karena itu, yang memilliki kesempatan besar untuk membobol dan merusak juga manusia.
Beruntungnya, Klayver termasuk orang yang bisa melakukan dua-duanya. Mengotak-atik teknologi dan membobolnya.
Saat Klayver mulai memasuki rumah, semua sensor telah berhasil Klayver matikan. Dia berjalan santai seperti tamu dan menuju dapur yang telah gelap gulita.
Klayver memiliki mata kucing. Dia bisa melihat dalam kegelapan dan meraba banyak benda di sekitarnya berdasarkan perkiraan letak. Setiap benda meniliki getaran tertentu. Jika kita fokus, kita akan bisa membedakan getaran yang dimiliki dari setiap benda.
Dengan cekatan, Klayver membuka lemari pendingin, mengambil minuman soda, dan meminumnya dalam beberapa kali tenggak. Setelah merasa cukup, dia mengusap ujung botol, membiangnya ke tempat sampah.
Klayver melanjutkan eksplorasinya dan mencari ruangan yang ia perkirakan sebagai kamar.
Perlahan, Klayver membobol pintu kamar dengan sebuah alat canggih. Setelah berhasil, pintu terbuka dengan suara derit samar.
Kamar itu meniliki satu ranjang ukuran king size dengan beberapa perabot umum dari kelas atas yang harganya ratusan ribu dollar.
Di atas ranjang, berbaring sepasang insan berlainan jenis tanpa pakaian sehelai pun. Seorang lelaki berusia enam puluhan dan seorang wanita muda berusia awal dua puluhan. Dasar lelaki tua. Menjelang mati pun dia memilih berada dalam pelukan wanita muda.
Klayver mengambil postol dari pinggulnya, melepaskan kunci kokangan sehingga menimbulkan suara ceklek nyaring.
Dua orang yang sedang tertidur itu membuka matanya dengan linglung. Lelakilah yang paling cepat memahami kondisi mereka sekarang. Dia berusaha duduk, tetapi ditahan oleh ujung pistol Klayver.
Wanita muda yang berada di sisi lelaki tua ingin berteriak, tetapi terlalu rakut sehingga ia hanya bisa megap-megap seperti ikan yang nyaris mati.
"Kau? ... apakah kau eyes evil?" pandangan lelaki tua itu seperti tak terima. Dia telah memasang keamanan tingkat tinggi. Hanya satu orang yang bisa menembusnya, jika dia memang ingin melakukannya. Eyes Evil. Orang yang bisa membobol keamanan tingkat tinggi. Dia adalah penbunuh hebat, sekaligus musuh yang ingin lelaki itu lenyapkan.
"Komandan Nardock. Kira-kira, apa tanggapan istrimu saat melihatmu mati bersama pelacúr lain di rumah simpananmu sendiri?"
"Kau!"
"Selamat datang di neraka, Komandan korup."
Dooooorrr
Mr. Nardock jatuh ke belakang, terguling sekali dan meluruh tak berdaya setelah mengalami kejang untuk sesaat.
"Aaaaaaarrgggggghhhhh!"
Doooooorrr
Tanpa berpikir panjang, Klayver menghabisi wanita itu juga. Dia membiarkan saja mereka seperti itu, dan kembali keluar setelah mengelap beberapa jejak kakinya dengan kain khusis yang ia bawa.
Klayver melenggang pergi deangan santai. Semua ini terlalu mudah. Dia sudah menghabisi satu orang lagi yang mengincarnya.
Eldrick Nardock. Seorang komandan polisi, sekaligus pemburu eyes evil dengan iming-iming uang. Dia merupakan contoh aparat yang korup.
__ADS_1
Kalyver tidak merasa bersalah sama sekali karena telah membunuh Mr. Nardock. Negara seharusnya memberinya pengharhaan karena berhasil melenyapkan sampah politisi sepertinya.
Berapa banyak orang di negara ini yang bersembunyi di balik rapinya jas nyatanya mereka menyimpan banyak kebobrokan moral.
Para agen federal yang selingkuh dan mencari celah menjual informasi pada pihak lain. Para politisi kotor yang korup. Para pejabat yang memakan uang rakyat dan berkoar-koar melakukan misi demi rakyat. Para kritikus politik yang sesumbar mengangkat hak asasi manusia tapi nyatanya bungkam dicokol uang.
Banyak kekotoran yang merajalela. Dibandingkan jenis kaum seperti itu, Klayver merasa menjadi kaum suci yang tak ternoda. Tangannya hanya kotor karena berlumur darah. Tapi mereka bukan hanya tangan yang kotor. Prinsip, jiwa, dan ambisinya bobrok luar dalam.
Nardock adalah salah satunya. Dia tokoh masyarakat yang dihornati, disanjung, dan didewakan. Nyatanya dibalik itu semua, dia koruptor negara dan pemuja wanita muda sebagai koleksi pribadinya.
Hasrat. Tahta. Wanita.
Tiga kata sakral yang ia kenal mampu membalik-balikkan dunia. Tiga kata yang hampir semia lelaki meinginkannya. Tiga kata yang mampu membuat perubahan. Entah menuju perbaikan, atau kebobrokan.
Keesokan harinya setelah kejadian semalam, Klayver menonton televisi di sebuah kamar motel yang lumayan bobrok. Pintunya nyaris rubuh kapan pun ia mau, atapnya mengenaskan dengan beberapa bagian yang rapuh di langit-langi, dan ubin yang kusam. Seolah-olah lantai itu akan berubah menjadi debu jika terlalu lama digerus oleh alas kaki.
Klayver sudah terbiasa bertahan dalam situasi apa pun. Tidak peduli tempat yang jauh dari kata nyaman, tidak peduli harus menahan setiap protes tubuhnya, selama situasi itu menjamin keamanan dirinya, Klayver bisa menahan diri.
Dia terbiasa melalui hal-hal sulit. Pernah ia bertahan tanpa makanan tiga hari di pinggiran hutan hanya untuk mengintai mangsa, pernah menembus sungai di musim salju hanya untuk mengejar target, dan pernah menunggu di padang rumput selama seharian penuh di musim panas hanya untuk menanti target.
Misi merupakan hal yang paling penting bagi Klayver. Dia bisa menahan keinginanannya sendiri untuk sebuah tujuan yang lebih besar. Karena itu, banyak yang mengandalkan Klayver karena kerjanya dinilai sempurna. Sebutan eyes evil bukan semata-mata tanpa alasan.
Di siaran berita pagi ini, banyak polisi yang yang telah menemukan kejadian kematian seseorang yang dikenal sebagai komandan polisi. Banyak kabar duka yang dilebih-lebihkan.
Kasusnya langsung menyeruak cepat. Terbukti dari police line yang dipasang mengitari seluruh area mansion Nardock. Banyak wartawan yang berdatangan. Berita dari satu sumber dan sumber lainnya saling simpang siur.
Ada yang mengatakan Nardock dibunuh bersama simpanan, ada yang berspekulasi dia bunuh diri bersama wanita lain, ada yang berspekulasi dia dibunuh karena dendam.
Klayver hanya terdiam menikmati berita utama. Berita yang akan terus berguling sebagai topik hangat bulan ini.
Istri dari Nardock juga disorot. Istri mudanya hanya menutup mulut, memilih tak berkomentar apa pun atas meninggalnya suaminya dengan wanita lain.
Duka wanita itu yang pertama adalah ditinggal mati sang suami dalam sebuah pembunuhan. Duka kedua, menyadari bahwa keadaan kematian sang suami bersama wanita lain. Pukulan yang cukup dalam.
Dengar-dengar, istri Eldrick Nardock sedang hamil enam bulan. Merupakan sebuah tekanan tersendiri bagi wanita yang tengah mengandung janin dan dipaksa menerima takdir mengenaskan seperti itu.
Mungkin, setelah keadaan mereda, Klayver bisa mengirimkan surat duka untuknya secara pribadi. Bagaimana pun juga, wanita itu pantas untuk mendapatkan simpati tulus dari seseorang.
Selain itu, Klayver tidak merasa bersalah sama sekali. Membunuh Nardock hanya sebuah langkah pembersihan dunia dari sampah. Klayver telah melakukan hal baik juga untuk istri Nardock, meskipun caranya tak menyenangkan.
Klayver menyesap anggur dari botol pipih yang ia genggam. Mengingat istri Nardock jadi menbawanya pada kenangan tentang Alice. Apa kabar wanita itu? Apa kabar janin yang Alice kandung?
Semoga Tuhan memberi nyawa panjang untuk Klayver. Dia tak ingin nasib Alice terkantung-kantung seperti nasib istri Nardock. Jangan sampai istri dan anaknya mengalami duka mendalam karena dirinya.
…
Sila memasukkan sebuah dokumen seperti map ke dalam kantung plastik hitam. Dia menoleh ke sekeliling ruang belakang dan segera keluar melalui gang kecil. Cara berjalannya cepat, seperti terburu-buru untuk melakukan sesuatu. Di gerbang belakang, dia melihat sosok William menatapnya heran.
Sila tersenyum kecil, merasa kalah. Dia memutar arah dan mencoba menghindari William. Ia urungkan niatnya untuk keluar rumah. Sebagai gantinya, Sila masuk ke kamarnya dan mengunci pintu dengan suara klik pelan.
Willam menatap tindakan Sila dengan mata memincing. Dia merasa tak suka melihat tindakan mencurigakan seperti itu. William berjalan ke ruang belakang, mengamati dengan seksama, dan memutuskan melakukan sesuatu.
Dengan sigap, lelaki tua itu menuju arah gudang peralatan yang berada di ruang bawah tanah. Di sana ia membuka lemari besar yang berada di sudut. Gudang peralatan ini jarang dipakai. Lantainya telah banyak terlapisi debu. Di setiap sudut telah menjadi rumah laba-laba. Sebuah laba-laba besar bersemayam di tengah-tengah sarangnya. Matanya menatap siapa pun yang cukup berani membuat masalah dengan rumahnya.
Willam mengambil sebuah alat dan menelitinya sebentar. Dia membersihkan debu yang menyelimuti benda tersebut dengan meniupkan udara dari mulutnya.
__ADS_1
William tersenyum puas. Alat ini masih berfungsi dengan baik. Dia memasukkannya ke sebuah kardus, berjalan keluar dari gudang, dan menutup pintunya yang telah lama tak tersentuh orang.
Saat keluar, William sempat berpapasan dengan Alice dan Jasmine di tangga. Mereka memakai pakaian santai untuk melakukan latihan fisik seperti biasanya. William tersenyum kecil.
"Nyonya, Jessica," sapa William sopan dengan menundukkan kepala.
"William. Kau baru dari bawah?" Alice membalas sapaan William dengan senyuman hangat.
"Ya. Mengambil beberapa peralatan." William menunjuk kardus kecil ditangannya.
Karena Alice tak terlalu penasaran, dia melewati percakapan itu begitu saja dan melanjutkan langkahnya menuju ruang latihan.
William berbalik dan menatap punggung Alice cukup lama. Dalam hati, ia bertekad akan menjaga majikannya. Apa pun yang terjadi.
…
Sehari setelah kematian Nardock, Klayver mencoba mengamati situasi. Sepertinya keadaan mulai tenang. Para polisi memang masih gencar mencari tahu kasus pembunuhan ini, tetapi mereka tak menemukan bukti apa pun. Kasus ini lama-lama tetap akan masuk ke dalam kasus tak terselesaikan.
Para wartawan semakin kisruh. Mereka mengaitkan hal-hal kecil atas kematian Nardock dan membuat masalah semakin melebar.
Ada yang mengaitkan kematian Nardock karena konspirasi negara tetangga. Ada yang mengambil spekulasi jika kematian lelaki itu karena mantan nara pidana yang menyimpan dendam pada sang komandan. Bahkan ada yang mengambil kesimpulan Nardock dibungkam karena melakukan penyelewengan negara oleh mitranya sendiri.
Klayver seperti menyiramkan minyak ke bara api. Apa yang ia lakukan membuat banyak rahasia gelap yang Nardock lakukan selama ini muncul ke atas permukaan.
Musuh-musuh Nardock terlalu banyak. Masing-masing dari mereka memiliki motif sendiri untuk menghabisi lelaki tersebut. Jika dicermati satu per satu dari kemungkinan tersangka yang ada, eyes evil hanyalah satu dari seribu orang calon tersangka yang berpotensi.
Klayver lega setidaknya dia tidak melakukan kecerobohan yang bisa menjebak dirinya sendiri saat proses eksekusi Nardock.
Sekarang saat semua orang sibuk menyorot Nardock dan segala hal busuk tentangnya yang perlahan-lahan terkuak, Klayver berniat melihat secara langsung janda Nardock dan memberinya kompensasi atas tindakan pembunuhan tersebut.
Meskipun pada hakikatnya, Nardock yang telah mengincar nyawa Klayver terlebih dahulu hingga akhirnya Klayver terpaksa menghabisinya, tetap saja rasa bersalah Klayver pada sang istri tetap ada.
Nardock kaya, tetapi Klayver tetap ingin menyerahkan sebuah kompensasi tersendiri. Kompensasi yang bisa saja mereka butuhkan di masa depan.
Klayver berkunjung ke rumah Emily, istrinya Nardock dan berpura-pura menjadi pelayat seperti orang lain. Kediaman Nardock terlalu ramai. Orang-orang berkumpul di sini untuk menunjukkan bela sungkawa. Dari pejabat hukum, politisi, wartawan, para kerabat, dan banyak lagi dari kalangan masyarakat biasa.
Klayver menatap wanita cantik berambut pirang berusia tiga puluhan tahun yang tampak berdiri anggun. Sebuah duka dan kepedihan terlihat jelas pada kedua matanya.
Dengan sigap, Klayver berjalan menuju Emily dan merangsek malalui banyak orang untuk mengucapkan simpati. Setibanya di hadapan Emily, dia menunduk dalam dan mengucapkan belasungkawa setulus mungkin.
"Nyonya, saya salah satu masyarakat biasa yang ingin menyampaikan rasa duka saya atas kepergian suami anda. Semoga Tuhan memberikan berkah pada hidupmu dan calon anakmu kelak." Klayver menatap perut Emily yang membesar dan membungkuk sopan.
"Terimakasih, Mr. ….?"
"Jo. Hanya Jo."
"Terimakasih, Jo." Senyum Emily tulus, menunduk sebentar untuk membalas penghormatan pada Klayver.
"Ini sesuatu yang kecil dari saya, semoga kelak suatu hari nanti berguna bagi anda atau calon anak anda."
Klayver menyisipkan sesuatu di tangan Emily sebelum pergi. Diam-diam, Klayver memberikan informasi tentang aset rahasia yang dimiliki Nardock. Dia juga memberikan kunci kotak bank yang ia temui di brangkas Nardock setelah ia membunuhnya. Kunci dan keterangan aset itu Nardock simpan di brangkas rumah simpanannya. Mudah bagi Klayver membobolnya.
Nardock memiliki sebuah pulau yang tak diketahui orang lain. Rencananya dia akan menggunakan pulau itu untuk tujuan asusila. Tetapi Klayver lebih dulu membunuhnya. Klayver pikir lebih baik pulau dan semua dokumen yang menyertainya akan lebih berguna jika diserahkan pada Emily.
Setelah berjalan menjauh tujuh puluh kilometer dari kediaman Nardock, Klayver melepas topeng wajah elastis yang ia kenakan dan sapu tangan kulit miliknya.
__ADS_1
Dia membuangnya di tong sampah dan bersenandung ringan. Klayver adalah orang yang sangat berhati-hati. Dia tidak mungkin datang dengan cara mengekspos dirinya sendiri.
…