
"Jangan terlalu sering mengumbar senyum. Saat kau senang, kendalikan sinar matamu. Matamu mudah berbinar." Itu adalah pelajaran yang entah ke berapa kalinya dalam sehari.
Alice benar-benar telah tersiksa. Seminggu ke depan dia ditantang oleh Jasmine untuk tidak berekspresi di rumah selam hanya ada mereka berdua. Beruntung itu tidak berlaku di depan Axel atau pun teman-teaman Alice lainnya.
Dia bisa dikira gila jika meladeni Rachel dengan ekspresi dingin seperti ini pada setiap orang.
"Eits, kau juga tak boleh mengerutkan kening karena kesal. Tahan emosi dan ekspresimu. Milikilah wajah yang datar."
Alice mencoba mengatur nafasnya sedemikian rupa untuk menenangkan diri. Berada di bawah kendali Jasmine dalam pelatihan semacam ini menbuat Alice ingin meledak sewaktu-waktu.
"Apa sesulit itu untuk menjadi datar?" Alice berkata ringan, tersenyum hangat menyembunyikan kekesalannya.
"Ya berlakulah seperti itu. Cobalah tertawa saat kau tertekan, tersenyum saat kau kesal, diam saat kau bahagia. Itu bisa mengecoh banyak orang." Jasmine berteriak kecil, merasa puas bisa sedikit menyiksa Alice.
Wanita itu perlu diajari banyak hal. Siapa kira bersuami Klayver itu mudah?
"Aku tahu kau menikmati melakukan ini padaku, Jasmine. Aku bisa menilai pikiranmu yang dangkal itu." Alice masih saja tersenyum, menutupi setiap kejengkelan yang ia miliki.
"Baiklah. Aku memang sedikit senang. Aku sudah lama tak melakukan sesuatu yang menyenangkan seperti ini," jawab Jasmine jujur.
Mereka berdua sedang menikmati petang dengan suasana yang indah di halaman belakang. Jasmine duduk di sisi Alice dengan setoples kripik kentang yang kini tinggal setengah.
"Jasmine," Alice memanggil temannya.
"Ya?"
"Apakah kau pikir Klayver bisa mengatasi semua ini?" tiba-tiba Alice kembali berpikir tentang suaminya. Dia mengelus lembut perutnya, merasakan banyak emosi yang membuncah. Tapi seperti yang diinginkan Jasmine, Allice mencoba untuk mengendalikan setiap emosinya agar tak mudah terbaca oleh orang lain.
"Alice, percaayalah semua akan baik-baik saja. Meskipun semuanya butuh proses, pada akhirnya, suatu kebahagiaan patut untuk diperjuangkan secara nyata. Percayalah hal itu. Jangan pernah berhenti untuk berharap." Jasmine mengusap lembut lengan Alice yang telanjang. Angin petang mulai terasa menggigit. Membuat Alice beberapa kali menggigil kedinginan. Dedaunan juga berguguran banyak. Membuat tanah di sekitar mereka tertutup oleh daun-daun hijau yang berserakan.
"Jasmine, aku menyayangi keluargaku. Bantu aku untuk mempertahankan mereka," pinta Alice tulus. Dia menatap siluet di langit yang mulai berwarna gelap.
Alam adalah sebuah keindahan yang hakiki. Sesuatu yang terkomposisi dengan sempurna. Tuhan merupakan pelukis yang handal. Dia mencoretkan tintanya penuh perhitungan pada secarik kuas yang bernama dunia.
Alice adalah pengagum pada setiap karya seni. Termasuk pada keindahan alami yang ia dapatkan dari tanah Manhattan.
Dia berdiri di sini, sebagai ibu dan seorang istri. Tidak ada yang lebih sempurna lagi dari ini. Alice mensyukuri hal ini beriulang kali dalam setiap malam dan siangnya.
Melihat Axel tumbuh dengan baik merupakan impian yang masih ia pegang hingga detik ini. Bersama Klayver, akan ia lalui semua hal hingga masa tua menjelang.
Bersamanya, ia akan melewati ribuan malam.
Menyaksikan matahari yang sama tenggelam di ufuk barat, melihat anak cucu mereka tumbuh menghirup udara Manhattan, mengenalkan generasi selanjutnya pada setiap cerita yang mereka miliki. Akan ia torehkan silsilah keluarga mereka dengan tinta emas, dipanjang di ruang tengah dengan foto yang sempurna. Agar anak turunnya mengenal garis darah nenek dan kakeknya.
Jasmine menatap mata Alice yang dupenuhi pengharapan tinggi. Dalam hati, ia merasa sakit. Kenangan masa lalu kembali terkuak tanpa tahu malu.
Dulu, Jasmine juga pernah memiliki mimpi yang kuat dan harapan yang tinggi. Pernah merangkai kisah yang ia kira berhasil. Nyatanya, kehidupan mudah mempermainkan seseorang. Hingga yang tersisa hanya khayalam semu dan harapan sia-sia.
__ADS_1
"Jasmine, di mana putrimu dimakamkan?" tanya Alice tiba-tiba.
Jasmine yang tak menyangka akan diberi pertanyaan seperti ini melongo untuk cukup lama. Sesaat kemudian, dia berhasil menangkap pertanyaan Alice dan menjawab dengan nada sedikit tercekat.
"Di sudut kota New York. Saat itu aku masih belum sesukses sekarang. Aku hanya memakamkannya di tanah kosong di samping kebun rumah. Saat aku sukses, aku berniat untuk memindahkannya. Tetapi perlebunan itu sudah menjadi bagian dari putriku. Tak jauh dari sana rumah lamaku berada. Jadi aku membiarkan Isabella tetap beristirahat di sana."
Setiap kali teringat akan Isabella, air mata Jasmine selalu ingin turum deras. Dia masih ingat bagaimana dulu putrinya jatuh dalam pelukan dan dekapannya. Ada kehangatan abadi saat hubungan itu berlangsung.
Namun, seperti yang sudah-sudah, Jasmine hanya akan menahan setiap emosi yang membuncah ingin keluar. Dia tak lagi ingin terjebak pada kesedihan lama. Dia hanya ingin mengingat kenangan-kenangan baik tentang Isabella saja.
Dunia berputar. Kehidupan berjalan. Pasti ada tenpat yang disebut surga di luar sana. Jasmine percaya akan hal itu dan yakin Isabella telah mencecap surga yang sebenarnya. Sebuah tempat yang lebih baik dari yang mampu Jasmine berikan pada putrinya.
Mungkin, jika putrinya hidup, sekarang pasti tak jauh berbeda dengan usia Axel saat ini. Selisih mereka hanya sekitar satu tahun.
"Tidakkah kau ingin memiliki anak lagi?" Alice melemparkan pertanyaan menyelidik.
Untuk seseorang yang pernah terluka, biasanya mereka akan sulit mengembalikan situasi yang sama lagi. Takut jika hal itu terjadi, akan menimbulkan potensi luka yang sama berulang kali. Begitulah rumus psikis manusia.
Ibaratnya, orang yang pernah jatuh di sungai, akan memiliki ketakutan yang sama saat melihat sungai. Seseorang yang pernah terperosok di tebing, akan memiliki ketakutan setiap melihat tebing. Seseorang akan belajar dari apa yang membuatnya jatuh dan terluka.
"Entahlah. Aku masih memiliki ketakutan saat memiliki anak. Takut jika tiba-tiba dibunuh dan kehilangan lagi. Tapi dalam hatiku yang paling dalam, ada keinginan kuat untuk memiliki buah hati lagi. Bagaimana kira-kira menurutmu, Alice?" Jasmine balik bertanya pada temannya.
Alice terdiam lama. Apa yang dikatakan Jasmine adalah sebuah kebenaran. Siapa yang tidak akan trauma jika pernah mengalami hal serupa?
"Suatu hari nanti, ketakutanmu pasti akan hilang. Kau hanya perlu berdamai pada kenyataan. Pada dasarnya, tidak setiap lelaki bersikap brengsek seperti Jack. Aku juga dulu pernah memiliki anak dan kehilangan mereka. Rasa sakitnya bertahan lama, tapi pada titik tertentu aku akhirnya bisa melepaskan diri dari rasa bersalah dan meneruskan hidupku kembali. Semua hal di dunia ini merupakan takdir dari Tuhan. Kita hanya perlu berdamai dengan diri sendiri. Luka memang akan selalu ada. Tetapi setiap luka memiliki obat, Jasmine. Kau harus tahu itu."
"Aku tahu. Aku membutuhkan waktu untuk berdamai dan memaafkan diri sendiri." Jasmine mengangguk kecil, menerima pandangan dan pemikiran Alice yang masuk akal.
Dunia memang akan terus berjalan. Tak peduli berapa ribu duka yang ditanggung oleh penduduknya.
…
Luiz menatap Liza dengan penuh rasa puas. Dia telah menugaskan wanita itu untuk membentuk koneksi pada orang dalam di rumah tangga Alice. Liza melakukannya dengan baik. Sekarang, mereka bisa mengawasi Alice lebih detail setiap waktu.
"Tak sia-sia aku memiliki anak buah sepertimu. Kau memiliki jasa yang luar biasa hebat. Ingatkan aku untuk memberimu hadiah di akhir minggu ini." Luiz tertawa lebar, merasa menang.
Liza hanya menunduk dalam. Dia sedikit bergerak dan mendongakkan kepalanya ke atas, menatap Luiz.
"Kau sudah terlalu baik padaku dan pada keluargaku. Kau tak perlu bersusah payah memberiku hadiah lain." Liza kembali menunduk dalam, memaksa dirinya untuk tetap tunduk.
"Kau menolak hadiahku?"
"Aku tidak berani, Luiz. Silakan jika kau memberikanku hadiah. Aku akan menerimanya dengan senang hati."
Liza merutuk dalam hati. Luiz merupakan lelaki yang sangat maniak. Jika dia berkata akan memberikan hadiah, itu artinya dia akan memberikan lelaki baru untuk menghibur Liza di akhir pekan. Liza benar-benar tidak membutuhkan kekasih dadakan. Dia ingin hidupya tenang di akhir pekan, tidak diganggu oleh pemuda yang menurut Luiz tampan dan luar biasa hebat.
Terkadang, demi mengusir pemuda-pemuda itu, Liza sering kali berpura-pura sakit. Dia enggan melakukan semua hal sesuai dengan protokol Luiz, termasuk kehidupan romansanya.
__ADS_1
"Bagus. Bagus. Aku memiliki kenalan lelaki tampan. Dia pasti cocok untuk menemanimu. Aku akan mengaturnya nanti."
Benar, bukan? Tebakan Liza benar. Liza harus mengingatkan diri untuk menbeli obat pencahar yang akan ia berikan pada lelaki tampan itu.
Tak ada yang tahu bahwa selama ini Liza masihlah gadis. Dia menjaga hal itu hingga detik ini dan tak membiarkan seorang pun menyentuhnya.
"Terimakasih, Luiz." Liza mundur ke belakang, berpamitan secara otimatis dan berjalan keluar ruangan. Tetapi baru beberapa langkah berjalan, Luiz kembali memanggil Liza.
"Awasi Alice dengan sangat hati-hati. Jika tiba waktunya nanti, aku akan menggunakannya untuk memancing kemunculan eyes evil. Mari kita lihat siapa di antara kita yang akan tersenyum penuh kemenangan."
Liza mengangguk patuh, segera berjalan gesit keluar ruangan utama.
Luiz adalah orang yang memiliki kepribadian aneh. Liza tak ingin terlalu lama berada satu ruangan dengannya. Liza sudah cukup sering melihat banyak darah yang dirumpahkan oleh Luiz sendiri di dalam ruang utama.
Jika bukan karena terlanjur masuk, Liza tak akan pernah bersedia bertahan dalam dunia kelam. Dunia ini merupakan dunia yang bisa membuat Liza berakhir sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
Nyawa adalah sebuah hal yang ringkih. Dengan semua permainan kotor, banyak korban jiwa bertebaran. Banyak orang tak bersalah yang ikut terbawa karena berada pada posisi yang tidak tepat. Liza hanya tak mau keluarganya ikut menanggung resiko ini. Cukup dia saja yang mengalaminya.
Melalui tangannya, tak lagi terhitung berapa banyak orang yang telah ia bunuh dengan keji. Banyak darah bercecer. Banyak nafas telah ia ambil.
Menyesal? Mungkin sedikit. Bagaimana pun juga Liza masih memiliki hati nurani yang cukup sehat. Penyesalah adalah hal normal. Hanya orang gila yang tak menyesal setelah mengambil ratusan nyawa tanpa berpikir.
Terkadang, Liza bertanya-tanya. Apakah dari sekian banyak orang yang ia bunuh ada yang merupakan suami dari seorang wanita? Ayah dari seorang putra? Kakak dari seorang adik?
Bagaimanakah setelah kematian mereka. Duka seperti apa yang keluarganya miliki. Apakah istrinya masih sanggup menjalani hidup tanpa sang suami? Aakah seorang putra tidak akan kekurangan makan setelah ditinggal sang ayah? Apakah seorang adik tidak akan kehilangan arah setelah ditinggal sang kakak?
Pertanyaan-pertanyaan itu pernah menyelinap dalam lubuk hati Liza yang paling dalam. Karena itulah, atas dasar kemanusiaan yang masih tersisa,
Liza pernah memberi sokongam materiil pada seorang ayah yang ia bunuh dan kebetulan memiliki empat anak. Mereka semua kacau balau setelah kematian tulang punggung mereka. Istri dan anak-anaknya bermukim di bangunan bobrok dekat tempat sampah yanh atapnya hanya berasal dari bahan-bahan sederhana.
Liza tak pernah tahu apa alasan Luiz ingin mengakhiri kehidupan seseorang. Terkadang yang ingin diakhiri bukan hanya pesaing bisnisnya, tetapi rakyat jelata yang tanpa sengaja menolak kebijakannya yang kejam.
Pernah juga Liza disuruh untuk membunuh seorang anak balita berusia dua tahun hanya karena ayahnya tak membayar uang keamanan. Setelah Liza melakukan hal kotor itu, dia mengunjungi makam balita itu selama dua puluh tiga hari dengan air mata yang berlinang.
Hatinya telah rusak dari dalam. Terlalu sering menerima kebobrokan yang dibawa oleh Luiz dan Liza tak berdaya untuk menolak. Karena jika ia menolak, hidupnya dan hidup keluarganya yang dipertaruhkan.
Karena itu, setiap kali keadaan berubah genting, Liza lebih senang bersembunyi, menjauh dari Luiz. Dia tak ingin dipanggil dan mendapat jatah menghabisi orang-orang yang Liza pikir tak pantas untuk dihabisi.
Sayangnya, Luiz-lah yang sering menghubungi Liza untuk melakukan banyak hal kotor. Meskipun Liza lelah, tertekan, dan stress, hanya anggukan kepalalah yang bisa ia berikam untuknya.
Wanita seperti Liza yang telah diprogram menjadi budak bagi lelaki kejam seperti Luiz, tidak diijinkan memiliki pilihan lain selain menurut. Tak peduli hati dan nuraninya mulai sekarat.
Itulah kenapa Liza masih gadis dan enggan untuk menikah. Karena jika ia sampai memiliki anak, dia tak tahu rencana apa yang akan Luiz terapkan untuk calon anaknya kelak.
Begitulah kehidupan. Terlalu rumit dan mengecewakan. Liza tersenyum kecil, selalu merasa kalah berulang kali.
…
__ADS_1