
Klayver sudah memastikan semuanya. Dia kini berdiri di balkon, menunggu kepulangan Alice.
Hari ini cuaca Manhattan cukup panas. Padahal sebentar lagi memasuki musim gugur. Wajah Klayver terlihat mengkilat karena keringat. Dia menatap mentari yang mulai berjalan ke arah barat, terapi panasnya masih cukup kuat untuk membuat suhu naik.
Setelah menunggu lumayan lama, Alice akhirnya pulang dengan mobil mini coopernya. Wanita itu turun dengan wajah ceria, tanpa memperhatikan wajah Klayver yang kian menggelap.
Klayver memberi tanda kepada Alice dengan suitan keras. Wanita itu menoleh terkejut ke atas balkon dan melihat keberadaan Klayver di sana. Dia melindungi matanya dengan sebelah tangan dan menatap seksama ke arah suaminya.
Sebelah tangan Klayver melambai, memberi isyarat agar Alice segera ke atas menemui dirinya. Dengan gerakan patuh, Alice berjalan cepat meninggalkan halaman rumah menuju balkon lantai atas tempat Klayver berada.
Air muka Alice sedikit tak nyaman. Dia mulai berspekulasi banyak hal. Sepertinya Klayver terlihat serius kali ini. Mingkinkah dia telah menemukan petunjuk baru tentang kematian Anson? Sudah lama mereka tidak membahas hal ini sehingga Alice takut Klayver telah melupakan kesepakatan awal mereka.
Dengan gerakan kasar, Alice menarik rambut merahnya yang panjang dan menggelungnya sembarangan. Suhu terlalu panas sehingga rambut panjang ini membuatnya gerah jika digerai.
Dalam waktu singkat, Alice berhasil mencapai balkon lantai atas. Dia berdeham beberapa kali, menarik perhatian suaminya.
"Kau tak perlu melakukan itu, aku sudah bisa menilai keberadaanmu dari langkah kakimu." Klayver terkekeh geli.
Alice mengabaikan komentar Klayver dan menjatuhkan diri ke atas kursi kayu bercat putih yang berada di ujung balkon.
"Ada apa, Klayver? Kau terlihat membawa kabar yang serius." Alice mulai menebak. Dia menyilangkan kedua tangannya dan menatap suaminya dengan seksama.
Klayver memutar badan dan berdiri menghadap Alice. Dia menatap langit-langit sejenak untuk memikirkan sesuatu.
Alice adalah wanita yang sangat rentan. Dia tak yakin wanita itu sanggup menerima kenyataan ini dengan baik.
"Ngomong-ngomong, kau dari mana saja?" tanya Klayver mencoba mencairkan suasana terlebih dahulu.
"Susan tidak mengatakannya kepadamu? Aku baru saja mengunjungi Rachel seharian ini. Sudah lama aku tak melihatnya." Alice tersenyum kecil. Pikirannya kembali teringat pada kehamilan Rachel yang membahagiakan.
"Oh ya, bagaimana keadaan temanmu itu?" tanya Klayver sembari mengambil sekotak rokok dari saku kemejanya. Dia mengambil satu batang, menyimpannya kembali kotak tersebut dan mengambil pemantik dari saku celana. Dengan ahli, Klayver menghidupkan pemantik dan membuat rokok yang ia tahan di antara jari-jemarinya menghasilkan asap putih. Aroma nikotin mulai menguar di udara.
"Baik. Kau tahu? Dia sekarang sedang hamil." Alice tersenyum lebar, memancarkan kebahagiaan dari kedua mata emasnya.
Klayver sedikit menegang mendengar penuturan istrinya. Dia menatap Alice tak percaya dan memastikan kabar tersebut.
"Hamil? Dengan Harry? Atau Maxen?" tanyanya ringan. Meskipun fakta ini mampu membuat Klayver terguncang, tetapi ia sudah terbiasa menghadapi situasi kritis yang lebih parah sehingga emosinya masih sanggup ia kendalikan.
"Kau pasti terkejut jika kuceritakan. Hubungan Rachel dengan Maxen berjalan sangat baik sehingga mereka … katakanlah, saling mencintai satu sama lain. Sudah tak ada lagi Harry dalam hidup Rachel. Anak tersebut tentu saja milik Rachel dan Maxen. Kehidupan kadang memang seperti lelucon. Kita bisa berlabuh pada seseorang yang tak pernah kita duga sebelumnya." Alice mulai berfilosofi. Dia menyandarkan tubuh lelahnya pada sandaran kursi kayu yang tinggi. Mata Alice sedikit terpejam, menikmati desiran angin sore di sela-sela udara panas.
Klayver menarik bibirnya membentuk seringai kecil. Segalanya semakin rumit sekarang. Dia mengeluarkan beberapa lembar berkas dari saku celana dan memberi isyarat agar Alice mendekat.
"Apa itu?" tanya Alice tak mengerti.
"Bukti transkasi yang kau cari."
Dalam lembaran tersebut, terlihat copian buku bank yang memperlihatkan banyak transaksi arus kas. Alice masih tak memahami maksud Klayver.
Dia menatap suaminya heran dengan padangan penuh tanya.
"Lihat, ini adalah buku transaksi bank milik Maxen Millian." Klayver membalikkan lembaran di halaman utama. Di sana tercetak nama Maxen Millian dengan huruf tebal.
Alice masih tak mengerti. Untuk apa Klayver memperlihatkan buku bank milik suami temannya. Bagaimana pun juga, semua itu adalah prifasi yang tidak seharusnya diumbar.
"Alice, orang-orang yang terhubung dengan kematian Anson adalah Souvery Kinston, Adam Hug, dan Andre Brown. Aku meneliti ada pesanan racun Novihock yang dilakukan oleh Souvery Kinston dua hari sebelum pesta diadakan. Dan tebak apa yang aku temukan. Salah seorang pelayan setia Souvery mengaku disuruh memasukkan racun tersebut di wine yang diminum Anson."
Alice menatap Klayver dengan penuh keterkejutan. Semunya mulai menunjukkan titik terang. Orang-orang tersebut adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian mendiang suaminya.
__ADS_1
Tetapi Alice masih tak mengerti apa hubungan semua ini dengam buku kas bank yang Klayver tunjukkan. Dia menatap bingung dan menggeleng pelan.
"Apa hubungan semuanya dengan ini?" Alice menunjuk buku tersebut tak mengerti.
Klayver menatap Alice dengan seksama. Kepekaan Alice terhadap sesuatu memang sangat rendah. Instingnya tidak sekuat Klayver. Lelaki itu harus menuntun istrinya pelan-pelan.
"Lihatlah, Alice." Klayver menunjuk beberapa transaksi yang saling terkait. Disitu terdapat nama Souvery, Adam, dan Andre.
"Di sini terdapat transaksi pembayaran dari Maxen untuk ketiga orang tersebut pada hari di mana Anson dinyatakan meninggal dunia. Jumlah nominal yang dikirimkan olehnya kepada ketiga orang tersebut adalah sama. Lihat!" Klayver menunjuk transaksi yang ia maksud.
Alice menangkap apa yang dimaksud Klayver. Di situ ada sebuah transaksi dengan jumlah nominal yang sangat besar. Alice menatap Klayver tak percaya dan mulai mengambil kesimpulan.
"Maksudmu, Maxen adalah ...."
"Atasan dari ketiga orang tersebut. Alias otak dari pembunuhan mendiang Anson."
Klayver mengambil kertas lain yang ia simpan dalam saku di balik kemeja dan menunjukkannya pada Alice.
"Lihat, aku memiliki bukti pesanan racun yang dilakukan oleh Souvery. Dia memesan atas namanya, tetapi penagihan uang itu ia bebankan atas nama Maxen Millian. Pikirkan hubungan semua itu." Klayver memiliki sebuah bukti baru dengan kertas orderan yang telah lucek. Di sana tertulis beberapa kode yang Alice tak mengerti. Sepertinya orderan ini adalah orderan dalam pasar gelap, alias illegal.
"Maxen adalah penggerak dalam tindakan pembunuhan Anson. Hari ini aku juga mencuri informasi dari semua aktifitas email dari mereka semua. Tebak apa yang aku temukan. Pada hari di mana Anson meninggal, mereka semua melaporkan hal tersebut ke email Maxen dengan kode rahasia. Aku mampu menembusnya karena keahlianku dalam teknologi cukup lumayan. Secara normal, email itu akan otomatis terhapus begitu terkirim dan dibaca oleh Maxen."
Mereka bertindak dengan cukup cekatan. Langkah-langkah mereka terorganisir dan tersembunyi. Jika saja Klayver tidak cerdas dalam mencari informasi dan tidak dibekali kemampuan dalam teknologi, dia tak akan bisa mendapatkan semua bukti-bukti tersebut.
"Apakah aku perlu menunjukkan email tersebut padamu? Aku menyimpannya di laptop jika kau butuh melihatnya langsung!" tawar Klayver menunjuk ke arah dalam.
Laptop Klayver sudah dilengkapi fasilitas canggih. Dia menjaga kerahasiaan dan pengamanan tinggi sehingga setiap kali menerobos sistem keamanan orang lain, alamat IP.nya tidak akan terdeteksi.
Alice menggeleng lemah. Dia percaya pada penjelasan klayver dan tidak perlu mengeceknya secara langsung. Klayver tidak mungkin membohonginya. Penjelasannya berdasarkan fakta yang akurat.
"Dari mana kau bisa mendapatkan buku bank milik Maxen dan bukti transaksi pesanan racun Novihock? Dan dari mana kau bisa memastikannya pada pelayan Souvery secara langsung?" Alice tak bisa menahan rasa penasaran yang ia miliki.
"Buku bank Maxen aku dapatkan dari Harry. Bukti pesanan racun dan keterangan pelayan, aku mendapatkannya setelah aku berhasil menyuap beberapa orang." Klayver berkata santai.
"Harry? Bukakah Harry adalah adik Maxen?" Alice bertanya tak percaya.
Menyerahkan bukti tersebut kepada Klayver sama saja mendorong Maxen dalam kehancuran. Hubungan seperti apa yang mereka miliki sehingga adik kandungnya sendiri sanggup menghkhianati Maxen di balik punggungnya.
Klayver merasakan kebingungan yang Alice alami. Dia hanya mengusap lembut punggung istrinya dan menjelaskan dengan singkat.
"Ikatan darah tidak selalu membawa kesetiaan. Banyak kakak-adik kandung yang sanggup membunuh satu sama lain."
Alice terdiam lama. Dia menopang pelipisnya dengan sebelah tangan dan mendesah lirih.
Fakta bahwa Maxen adalah pembunuh Anson adalah sesuatu yang menggebrak kesadaran Alice dengan sangat keras. Bagaimana dia harus menyikapi semua itu? Sementara Rachel sekarang justru sedang mengandung anak lelaki tersebut.
Alice menutup wajahnya dengan telapak tangan. Anson adalah sesuatu yang sangat penting baginya. Lelaki itu pernah menjadi segala-galanya dan memberikan kebahagiaan yang sangat sempurna. Siapa pun yang melukainya patut untuk membayar dengan nyawa.
Alice sudah lama tak lagi mempercayai lembaga hukum. Menyerahkan pada polisi hanya akan menjadikan kasus ini semakin runyam. Orang kaya seperti Maxen pastilah mudah mencari celah untuk melumpuhkam bukti dan meniadakan saksi. Hukum baginya hanyalah ajang permainan yang mudah untuk ditaklukkan. Percuma membawanya ke meja hijau. Toh lelaki itu akan mudah lebas dari jerat sanksi dan justru bisa memburu Alice dan menargetkan nyawanya.
Pilihan yang tersisa jika masih menginginkan keadilan adalah membuat langkah sendiri untuk menghabisi Maxen dan antek-anteknya. Itulah satu-satunya cara Alice untuk mendapatkan kedamaian.
Meskipun dia harus menghadapi kesedihan Rachel dan mengotori tangannya sendiri untuk ini, selama Maxen mati, Alice puas. Biar nanti dia akan memikirkan cara menghibur temannya. Apa yang ia inginkan tidak mungkin untuk ia tarik kembali.
"Bagaimana keputusanmu?" tanya Klayver, memberi kebebasan bagi istrinya untuk berubah pikiran.
"Bunuh Maxen dan ketiga orang yang kau sebutkan tadi. Menurutmu? Siapa dulu yang lebih baik untuk kau bunuh?" tanya Alice penuh kebencian.
__ADS_1
"Maxen adalah orang yang cukup sulit untuk dikejar. Lebih baik membunuhnya dulu kemudian baru tiga anak buahnya. Kepala harus dilumpuhkan pada langkah pertama." kata Klayver serius.
Alice mengangguk mengerti. Klayver benar. Jika mereka membunuh tiga anak buah Maxen terlebih dulu, sama artinya memberi peringatan pada Maxen untuk pergi dan menyembunyikan diri. Akan sulit bagi mereka untuk mencari keberadaam Maxen nantinya. Tetapi jika mereka melumpuhkan Maxen terlebih dahulu, ketiga anak buahnya tidak akan terlalu membawa kesulitan besar karena pada dasarnya kemampuan mereka tidak sehebat Maxen dalam hal menyembunyikan diri.
"Metode apa yang kau inginkan saat aku menghabisi Maxen?" tanya Klayver ringan. Dia memberi Alice banyak pilihan agar wanita itu merasa puas.
"Aku ingin dia meminum racun yang sama seperti yang dia berikan pada suamiku. Mata harus dibalas dengan mata. Nyawa harus dibalas nyawa. Rasa sakit juga harus dibalas dengan rasa sakit yang sama. Jelaskan padaku, Klayver. Bagaimana racun tersebut bekerja?"
Klayver menatap istrinya penuh pemahaman. Penderitaan akan membuat seseorang berubah kejam dan penuh dendam. Memang bukan hal yang asing sebenarnya. Kebanyakan sisi gelap manusia akan muncul setelah ia ditekan dan disakiti sehingga ia kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya.
"Racun Novihock memicu reaksi berantai protein yang menyebabkan jaringan tubuh, organ dan otot tidak terkontrol karena diberondong oleh berbagai sinyal. Sinyal tersebut datang secara terus-menerus dan membebani jaringan tubuh, otot dan organ. Hal ini kemudian memicu produksi air liur berlebih dan masalah pernafasan karena otot tidak dapat lagi dikendalikan. Racun ini dapat menyebabkan kelumpuhan, kejang-kejang dan kematian apabila dosisnya cukup tinggi atau bebannya cukup lama."
Klayver menjelaskan kembali tentang racun Novihock. Karena racun ini lebih kuat dari pada racun lainnya, dia bisa melumpuhkan target hanya dalam dosis yang kecil dan waktu yang singkat. Tak mengherankan jika Anson bisa kecelakaan dalam rentan waktu yang sangat singkat setelah mengonsumsi racun ini. Saat racun tersebut bekerja, Anson pastilah sedang dalam perjalanan pulang sehingga fokusnya dalam mengendarai mobil hilang dan menyebabkan kecelakaan fatal.
Kecelakaan Anson hanya alibi. Tanpa kecelakaan, lelaki itu tetap akan mati juga setelah mengonsumsi Novihock.
Polisi dan dokter yang menanganinya akan dengan mudah menyalahkan kecelakaan sebagai faktor utama atas meninggalnya Anson.
"Klayver, apakah menurutmu dokter di rumah sakit juga terlibat dalam menutupi kematian Anson?" tanya Alice mulai teringat tentang hal ini. Dulu, ada seorang perawat yang langsung meninggal dunia setelah ia memberitahukan beberapa kecurigaan mengenai kematian kedua anaknya. Mungkinkah Kedua anaknya yang lain juga dibunuh?
Semua pertanyaan-pertanyaan ini membuat Alice merasa pusing. Dia mengerjapkan mata beberapa kali dan menatap kalyver dengan sinar mata redup.
"Meskipun racun ini sulit untuk dideteksi, tetapi aku curiga para dokter telah disuap sedemikian rupa sehingga mereka bungkam."
Benar-benar sesuai dengan apa yang ditakutkan oleh Alice selama ini.
"Klayver, menurutmu, apakah kedua anakku juga dibunuh?" tanya Alice dengan jantung berdegup keras. Dia sudah menahan pertanyaan ini cukup lama. Setiap kali dia memikirkan ini, hatinya dipenuhi banyak ketakutan. Jujur, dia tak siap mendengar jawaban buruk dari pertanyaannya sendiri.
"Apa kau yakin ingin mendengar jawaban dari pertanyaanmi ini, Alice?" Klayver sudah menahan diri agar tak mengungkapkan hal tersebut. Tetapi agaknya Alice cukup keras kepala dalam menggali setiap informasi yang ada.
"Katakan!" pinta Alice dengan mata berkaca-kaca. Ya Tuhan, dia sudah mendapatkan firasat buruk tentang jawaban yang sebentar lagi ia dengar.
"Ya. Kedua anakmu dibunuh dengan cara yang sama. Senenarnya, Maxen menargetkan seluruh keluarga Anson. Termasuk kau dan tiga anakmu. Sayangnya saat itu, kau tidak memakan satu suap pun makanan dari rumah sakit sehingga selamat dari racun Novihock. Sedangkan Axel, dia berada di rumah jadi dia cukup aman dari tindakan licik para dokter yang disewa Anson untuk membunuh kalian."
Klayver sudah menyelidiki semua ini hingga sampai ke akar. Semua bukti yang ia miliki membuatnya berdecak kagum. Maxen benar-benar tak setengah-setengah dalam usaha melenyapkan keluarga Anson.
"Lantas, kenapa sekarang ia membiarkan aku dan Axel tetap hidup?" tanya Alice tak mengerti.
Kalyver menatap langit sore yang mulai berwarna jingga. Ia menarik nafas berat dan matanya menyipit penuh arti.
"Karena dia berpikir bahwa kau cukup aman dibiarkan hidup. Selain itu, ada seseorang yang melindungimu setelah kematian kedua anakmu. Orang itu adalah anak buah sekaligus orang kepercayaan Anson yang ia biarkan berada di sisimu selama ini."
Alice menoleh tak mengerti. Bibirnya membentuk hurup O tanpa suara.
"Susan. Dia juga informan Maxen. Wanita itu bertugas mengawasi tindakanmu dan dia beranggapan keberadaanmu tak membahayakan Maxen sehingga ia meminta keringanan pada Maxen agar kau dibiarkan tetap hidup. Dengan kata lain, seminggu yang lalu dia memberikan jaminan dengan nyawanya sendiri agar kau tetap hidup."
…
Tidak ada orang yang sepenuhnya jahat.
Tidak ada orang yang sepenuhnya baik.
Kita hanyalah seseorang yang memiliki penggabungan dari kedua hal tersebut secara bersamaan.
Selamat siang dan salam hangat kawan,
Terimakasih untuk semua komentar positif yang telah kalian berikan.
__ADS_1
Lope lope. ❤❤❤