Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
001 - SEASON 2


__ADS_3

Kehidupan tidak selamanya berjalan mulus. Kebahagiaan tak selamanya tanpa ujung. Ini adalah sebuah jalan terjal. Di mana takdir selalu memiliki peranya tersendiri. Seperti halnya yang terjadi pada kehidupan Alice.


Sore ini, Alice baru saja pulang dari kontrol kehamilan bersama Anson. Dia tengah bersantai di halaman depan dengan perut yang membuncit karena kandunganya yang telah memasuki usia sembilan bulan. Di sisinya, Anson tengah sibuk memakai dasi untuk persiapan menghadiri pesta malam ini.


Alice menatap kehadiran suaminya dengan pandangan kagum. Satu setengah tahun telah berlalu semenjak pernikahan mereka. Akan tetapi, kemesraan mereka tak berkurang sedikit pun. Wajah itu masih menjadi wajah yang ia rindukan setiap saat. Suara itu masih menjadi suatu hal yang ia inginkan menghadiri indera pendengaranya.


Cinta itu hal yang sangat fundamental dalam hidup. Ketika seseorang telah mencecapnya, kita akan terjebak dengan keindahan miliknya sepanjang kehidupan kita. Cinta adalah suatu anegerah surgawi. Ia ada dalam alam keghaiban. Hanya hati yang berhak memilikinya.


"Kau yakin tak akan mendampingiku malam ini, Alice?" Anson menatap penuh harap pada istrinya. Wajah wanita ini kian bercahaya setiap hari. Ia seperti dewi yang telah berhasil menemukan pelengkap jiwa.


"Aku sangat ingin. Tapi kau tahu sendiri anak kita telah terlambat dua hari dari perkiraan lahir. Aku takut jika tiba-tiba di sana kontraksi itu muncul. Lebih baik aku menunggumu di sini." Alice tersenyum.


Kening Anson berkerut tak senang. Dia mengecup kening Alice dan memeluknya penuh kehangatan. Wanita ini, telah menjadi fokus hidupnya.


"Mungkin akan lebih baik jika aku menemanimu saja malam ini." Anson duduk di samping Alice penuh pengertian. Seharusnya anak mereka lahir dua hari yang lalu. Saat mereka kontrol ke dokter tadi sore, mereka disarankan untuk menunggu selama seminggu. Jika dalam jangka waktu tersebut ia belum juga melahirkan, dokter akan melakukan tindakan-tindakan lain.


"Pergilah, Anson. Aku baik-baik saja." Alice menggeleng ringan. Anson sudah terlalu sering melakukan sesuatu untuknya, dia tak ingin menjadi penghalang bagi Anson malam ini. Bagaimanapun juga, pesta yang akan diadakan adalah pesta penting bagi bisnis Anson.


"Kau yakin?" Anson kembali ragu. Dia mengusap kedua tangan Alice lembut, penuh rasa sayang.


"Sangat. Pergilah! Jika aku merasakan kontraksi atau papun, aku janji akan langsung menghubungimu."


"Janji?"


"Janji." Alice mengangkat dua jari membentuk sumpah. Anson memeluk Alice sekilas sebelum akhirnya berlalu pergi untuk berangkat ke pesta pembukaan sebuah perusahaan ternama miliki koleganya.


Sepeninggal Anson, Alice memutuskan untuk mengecek keadaan dua anaknya. Kimberly dan Axel. Dua anak itu telah tertidur lelap di atas ranjang bermotif kartun. Helena, sang baby sitter telah menyelimuti mereka dengan selimut karakter.


Alice tersenyum bangga. Perlahan-lahan dia mengecup kening anaknya masing-masing dan berjalan menuju ruang baca yang bersebelahan dengan ruang kantor milik Anson. Di sana, Alice bisa menemukan banyak koleksi novel. Baik baru maupun lawas. Malam ini sambil menunggu kepulangan Anson, Alice memutuskan untuk membaca beberapa bab cerita historical.


Sebenarnya, Alice tak terlalu suka membaca. Koleksi bukunya bahkan tidak ada sama sekali. Satu-satunya yang ia minati hanyalah buku keuangan. Dari jurnal umum hingga laba-rugi. Akan tetapi, semenjak menikah dengan Anson ia menjadi penasaran pada banyaknya koleksi bacaan Anson. Awalnya Alice mengambil sembarang novel modern berjenis harlequin. Dari sanalah ia mulai menyukai membaca. Tetapi sebatas novel. Dia tak tertarik membuka buku lain tentang teori alam semesta ataupun filsafat yang juga menjadi koleksi dominan di rak Anson. Terlalu rumit dan filosofis. Alice hanya menggeleng-gelengkan kepala setiap kali melihat Anson melahap buku-buku berat yang menjadi koleksinya.


Tiga jam lebih Anson menghabiskan waktu untuk membaca. Dia merasa tak nyaman dan melirik jam. 00.15. Sudah lewat tengah malam dan Anson masih belum kembali. Lima menit kemudian, saat Alice mulai jenuh dan berniat pergi tidur, ponsel di saku piyamanya berdering nyaring. Alice segera mengambil benda mungil itu dan tersenyum saat melihat nama Anson tertera di layar ponsel.


"Hai, kapan kau pulang, Sayang?"


"Alice. Maaf aku sedikit tertahan dengan seorang rekan bisnis lama. Dia memaksaku meminum beberapa wine sebelum akhirnya aku berhasil melepaskan diri darinya."


"Kau minum wine?"


"Hanya dua gelas kecil. Kau tak perlu khawatir. Aku bahkan bisa bertahan dengan lima gelas wine dan tetap memiliki kesadaran penuh."

__ADS_1


"Oh baguslah. Segeralah pulang."


"Aku sedang dalam perjalanan menuju tempat parkir untuk mengambil mobil. Tunggulah, Sweet heart. Empat puluh menit lagi aku tiba di rumah."


"Baiklah. Hati-hati di jalan."


Alice memutuskan sambungan. Dia berjalan ke lantai atas dengan hati-hati menuju kamar. Kehamilan ini membuatnya harus ekstra dalam melakukan apa pun.


Alice mendesah lega dan meyandarkan punggungnya pada kepala dipan. Tanpa sadar, dia memejamkan mata untuk sekejap. Akhir-akhir ini tubuhnya mudah lelah. Dia bisa tidur di mana pun dan kapan pun jika ia mau. Sepertinya kehamilan ini membuatnya menjadi putri tidur sejati.


Tanpa terasa, Alice tertidur selama satu setengah jam. Dia terbangun dan segera melihat jam dinding. Keningnya berkerut tak nyaman. Sepertinya Anson belum pulang. Lelaki itu pasti akan segera membangunkanya jika telah tiba di rumah. Kebiasaan yang selalu Alice ingat ketika Anson pulang larut.


Alice turun dari ranjang. Dia sedikit merasa gamang. Apakah Anson tertahan kembali oleh rekan bisnisnya? Tetapi bukankah seharusnya ia mengabari Alice dulu?


Alice menghabiskan sepanjang malam dengan kekhawatiran. Ponsel Anson juga tak bisa dihubungi. Perasaan Alice semakin was-was. Apakah ada sesuatu yang tidak beres?


Setelah sinar mentari mulai menampakkan semburat merah, Alice dikejutkan oleh kedatangan dua orang berseragam polisi. Jack dan Abraham. Mereka terlihat tertekan saat menyampaikan kabar terbaru.


"Dengan Mrs. Mallory?" Jack, polisi yang bertubuh lebih kekar mengawali pembicaraan.


"Ya. Apakah ada sesuatu yang buruk?"


Kedua polisi tersebut saling bertukar pandang, seperti ingin melemparkan tugas tersebut pada yang lain. Akhirnya Jack berdehem pasrah dan kembali mengatakan sesuatu.


Alice sudah tak sanggup lagi mendengar penjelasan dari Jack. Pandanganya sudah menggelap secara mendadak. Dia terjatuh dalam kegelapan yang pekat.



Rachel mendampingi Alice di sebelah ranjang. Dia menatap sedih temanya yang kini masih terbaring pingsan tak berdaya. Setengah jam setelah pemberitahuan duka yang dilakukan polisi, Angel tiba di rumah Alice. Dia tadinya bermaksud mampir untuk mengisi liburan mingguan yang ia dapat. Dia juga ingin sedikit berbagi kisah tentang kehidupanya. Namun yang ia temui justru kondisi Alice yang telah pingsan mengenaskan dengan didampingi dua orang polisi asing. Satu-satunya penjelasan yang ia dapat adalah kecelakaan yang menewaskan Anson pada dini hari tadi. Tentu saja Rachel merasa syok.


Dari semua orang, Rachel selalu merasa kehidupanya paling mengenaskan. Dia korban broken home yang tak meniliki siapa pun selain adiknya. Ia pikir kehidupanya akan berubah berwarna setelah mengenal Harry dan bertungan denganya. Akan tetapi, mimpinya terlalu muluk. Harry menganggap Rachel seperti kekasih bayangan. Mereka tak pernah menunjukkan diri secara terang-terangan di depan publik. Pertunangan mereka juga sengaja di sembunyikan Harry dari teman-temanya. Rachel mulai lelah dan berpikir Harry memiliki niat terselubung lain.


Rachel adalah orang yang tertutup. Dia mencoba meyakinkan diri berkali-kali sebelum akhirnya memutuskan untuk membagi bebaan ini dengan Alice. Saat ia telah siap membuka cerita hidupnya, Alice justru kembali di terpa tragedi. Suaminya, lelaki pujaanya, meninggal. Bencana apa lagi yang lebih hebat untuk seorang istri selain kematian dari suaminya sendiri saat ia sedang dalam keadaan mengandung sembilan bulan.


Dibanding Alice, tragedi yang ditanggung Rachel jelas bukan tandingaya. Sahabatnya itu telah melalui asam garam kehidupan. Dari hal-hal kecil hingga besar. Setelah dulu ia mengalami ditinggal Kendrick, kini ia ditinggal Anson. Dunia tak pernah adil pada Alice. Sesuatu yang ia sayangi selalu pergi dari hidupnya.


Perlahan, kelopak mata Alice mulai terbuka. Rachel menggenggam tangan Alice dengan kuat, takut wanita ini akan mengalami syok. Para pelayan tak berani menampakkan wajahnya. Mereka merasa tak kuat melihat kesedihan dari wajah majikan mereka. Semua orang tahu betapa Alice dan Anson adalah pasangan yang sempurna. Saling mencintai. Saling memuja. Saling mendamba. Sulit dibayangkan jika salah satu dari mereka akan pergi lebih dulu menuju kehidupan selanjutnya.


"Alice." Rachel memanggil temanya penuh rasa sayang.


"Rachel!" teriak Alice dengan wajah pias. Kedua tanganya mulai bergetar hebat. Dua polisi yang masih setia berada di ruangan ini diam-diam pergi. Mereka menyerahkan tugas ini secara tak langsung di bahu Rachel.

__ADS_1


"Apakah yang aku dengar adalah kebenaran? Anson kecelakaan?" Alice terlihat syok. Nada bicaranya bergetar.


"Jenazahnya sedang dalam perjalanan pulang. Daniel yang mengurus semuanya."


"Ya Tuhaaaannn … Ini tidak mungkin. Pasti ada kesalahan dalam meingidentifikasi jenazah."


Rachel mengambil nafas berat. Dia merasa terjebak dengan situasi ini. Apa lagi yang perlu ia jelaskan pada Alice?


Baru saja Daniel menghubungi Rachel dan memastikan bahwa jenazah tersebut memanglah Anson. Akan tetapi, memastikan Alice untuk memercayai fakta ini pastilah tidak mudah. Apalagi mengingat usia kandunganya yang menginjak sembilan bulan. Rachel khawatir syok itu akan memengaruhi janin yang ia kandung.


"Alice, aku tahu pasti sulit untuk menerima semua ini. Tapi kau harus kuat, oke? Anson pasti tak ingin kau menderita lagi."


Kata-kata bisa menjadi suatu hal yang tak berguna jika dihadapkan pada hal tragis seperti ini. Rachel memilih diam dan membiarkan Alice menumpahkan tangisnya. Dia tak ingin memberi simpati berupa kata-kata kosong.


Alice memilih bersembunyi dalam tangis lirih selama berjam-jam. Dia tidak melakukam hal-hal histeris lain. Sepertinya walaupun dia tertekan, tetapi masih ingin menjaga emosinya sendiri agar janin yang ia kandung tidak terganggu.


Rachel tetap setia menemani Alice. Hingga kemudian saat jenazah Anson tiba, barulah Alice mengalami syok kembali. Dia pingsan tak sadarkan diri saat melihat keadaan jenazah Anson yang mengenaskan. Kepala Anson terbentur cukup parah. Semua sendi-sendinya seperti tidak lagi berada di tempatnya semula. Beberapa bercak darah di bagian-bagian tubuh tertentu tampak terlihat bekasnya dengan jelas. Alice seperti ikut merasakan penderitaan yang dialami Anson menjelang detik-detik kematianya. Dia kembali terjatuh dalam kegelapan total.


Saat ia terbangun, dia sudah seperti mayat hidup. Sinar matanya terlihat berkurang perlahan-lahan. Rachel yang berada di sisinya semakin merasa khawatir. Dia takut kejadian beberapa tahun terulang kembali. Kesadaran Alice hilang dan bertindak seperti boneka.


Namun, ketakutan Rachel untungnya tak terjadi. Di pemakaman Anson, Alice bertindak normal meskipun menyimpan kepedihan yang mendalam. Dia terlihat tegar setiap kali menerima simpati dari para pelayat.


Setelah dua hari semenjak pemakaman Anson, hari-hari Alice banyak dihabiskan di dalam rumah. Dia menanggung duka seorang diri. Meskipun di hadapan Axel maupun Kimberly ia tampak tenang, namun di dalam hatinya menyimpan banyak hal yang tak mungkin tersampaikan.


Sore ini, Alice duduk melamun di halaman belakang. Dia menikmati angin sore dalam kehampaan. Axel dan Kimberly masih sibuk berada di dapur, mencoba disibukkan aktifitas lain oleh Susan. Mereka semua tak ingin anak-anak mengingat kepergian daddy dan merasa berduka. Karena itulah, para pelayan sepakat untuk menyibukkan anak-anak selama Alice masih dalam masa berkabung. Setidaknya, perhatian mereka akan sedikit teralihkan.


Alice tiba-tiba merasakan kontraksi. Dia mengernyit tak nyaman dan mencoba berdiri. Alice mencoba memanggil pelayan dan meminta sopir untuk membawanya ke rumah sakit terdekat. Setengah jam kemudian, Alice tiba di rumah sakit dengan kontraksi menginjak bukaan empat. Rachel sebera menyusul temanya untuk menemani proses kelahiran.


Jam sudah menunjukkan pukul 19.33 saat tangisan bayi laki-laki berteriak keras. Dia mengepalkan jari-jemarinya seperti memukul udara. Alice tersenyum kecil. Wanita itu mengecup puncak kepala anaknya dan mengeluarkan air mata.


Kebahagiaan dan penderitaan bercampur baur menjadi satu. Umumnya, wanita ditemani oleh suaminya saat proses kelahiran. Akan tetapi,Alie tak merasakan semua itu. Dia hanya sanggup menyimpan profil Anson dalam sanubarinya. Otaknya mulai bermain perandaian. Andaikan Anson masih di sini dan berada di tengah mereka, ia tak akan mengalami kesepian. Andaikan Anson tak terlalu cepat meninggalkan mereka, ia tak akan merasakan kehilangan. Andaikan kecelakaan itu terjadi, ia tak akan mengalami kepahitan kembali.


Ya Tuhan. Ia baru saja mencecap kebahagiaan satu setengah tahun. Saat itu dunia seolah menjadi milik mereka. Semua yang ada di sekeliling bagaikan warna-warna surgawi yang membawa kegangatan. Mimpinya menjadi kenyataan. Yang ia cintai berhasil ia miliki. Berbagi bersama di setiap detik seperti nyanyian alam yang indah. Namun, agaknya nasib belum memihak mereka. Sebuah takdir yang disebut maut memilih menghampiri Anson. Meninggalkan istri dan anak-anaknya dalam kesendirian.


Bayi mungil itu diberi nama Joseph oleh Alice. Dia berharap anak tersebut tumbuh dan memiliki ketampanan luar dalam.


Kimberly mengunjungi Alice keesokan harinya. Dia datang sendiri bersama Helena. Axel sedikit demam karena terlalu sering mengingat dan memanggil-manggil nama Anson. Anak itu masih belum terlalu paham jika daddy tak lagi bisa kembali bersama mereka. Di antara mereka, Axel lah yang paling dekat dengan Anson.


Alice duduk bersama Kimberly ditemani Helena. Joseph telah diletakkan di ruangan tersendiri khusus bayi. Alice dan Kimberly saling mengisi satu sama lain. Meskipun Kimberly sudah memahami tentang kecelakaan dan kematian Anson, namun ia cukup tegar mengahadapi semuanya. Pendewasaanya sedikit berbeda dengan anak seusianya. Dia memahami dengan cepat suatu keadaan.


Alice mencoba istirahat beberapa saat. Dia membiarkan Kimberly duduk di sampingnya selama tiga puluh menit sebelum akhirnya sebuah keributan besar terjadi di sekitarnya. Alice membuka mata dan terkejut mengetahui Kimberly telah pingsan dengan nafas yang terputus-putus kesusahan. Para perawat membawa Kimberly keluar untuk melakukan pemeriksaan. Saat keterkejutanya masih belum hilang, ia kembali dikejutkan fakta bahwa Kimberly maupun bayinya, meninggal karena sesak nafas.

__ADS_1



__ADS_2