
Alice membeku mendengar pengakuan Daniel. Suara Daniel selembut belaian sutra. Kejujuran yang ia ungkapkan adalah kata hati miliknya. Suatu hal yang telah disimpan lama.
Tidak ada jejak kebohongan di matanya. Tidak ada sorot manipulatif. Semuanya memang pengakuan yang lelaki itu miliki dari sudut hatinya.
Alice menangkap ketidakberdayaan yang lelaki itu miliki. Sinar matanya redup. Binar matanya hilang.
Pasti tak mudah menyimpan cinta dalam diam. Apalagi jika wanita itu berkali-kali bersanding dengan lelaki lain. Kekuatan apa yang telah Tuhan pinjamkan untuk Daniel sehingga ia masih saja tetap bertahan dengan perasaannya yang bertepuk sebelah tangan.
Alice pernah merasakan cinta yang sangat kuat kepada Anson. Beruntung, dunia berpihak pada mereka sehingga ia dipersatukan meskipun waktu kebersamaan mereka tak terlalu lama.
Membayangkan Daniel memiliki emosi yang sekuat itu untuknya, membuat Alice tersenyum pedih. Tidak mudah menyimpan semua itu. Daniel pasti telah melalui banyak sakit hati hingga titik ini.
"Kau masih mencintaiku?" tanya Alice lemah. Dia meraba wajah Daniel yang suram dengan kedua tangan.
"Ya."
"Setelah aku bersanding dengan banyak lelaki lain, perasaan itu masih tetap ada?"
"Ya."
"Betapa bodohnya kau."
"Ya."
"Bisakah kau mengatakan kata lain selain ya?"
"Tidak."
Alice kembali terisak pilu. Dia memukul dada bidang Daniel dengan sepenuh tenaga. Alice ikut merasakan kepedihan yang Daniel derita. Alice merasakan kepiluan untuk Daniel.
"Tidakkah kau menderita?"
"Sangat."
"Kenapa kau masih tetap saja mencintaiku?"
"Bagaimana aku bisa berhenti mencintai jika pandanganku selalu tertuju padamu? Hingga tak ada lagi kecantikan lain yang bisa menembus hatiku. Semua fokus dan rasaku telah kau renggut sepenuhnya." Daniel menepuk-nepuk sisi wajah Alice dengan lembut.
Dia tak pernah ingin menjebak Alice pada suatu hubungan yang tidak alami. Jika memang Alice mencintainya, akan menjadi sebuah anugerah bagi Daniel. Jika tidak, mengenal dan dekat dengan Alice sudah cukup menjadi hadiah bagi hidup Daniel. Jika pun ia memiliki akhir yang tragis, mengenal Alice sudah lebih dari cukup untuk hidupnya.
"Kau mengatakan semua ini setelah kau tahu waktu hidupmu mungkin tak akan lama lagi, bukan? Apakah kau ingin membuatku merasa bersalah karena tak bisa menyelamatkan hidupmu?" Alice terisak memilukan.
Daniel tersenyum kecil. Di saat-saat hidupnya kritis, dia malah tak lagi memperhatikan nasibnya sendiri. Melihat Alice yang menangis untuknya mejadi suatu kesadaran yang terlambat ia pahami. Wanita ini menyimpan kepedulian padanya. Meskipun itu bukan cinta.
Semua itu lebih dari cukup. Kebahagiaan Daniel membuncah tinggi menerima kepedulian Alice. Dalam cinta, orang layaknya pengemis. Meminta sedikit untuk sesuatu hal yang kita anggap besar.
"Hiduplah dengan baik. Hanya itu keinginanku. Berhentilah mencari masalah dan menarik bahaya. Jika bisa, lupakan dendam lama. Milikilah maaf seluas samudera," pinta Daniel tulus.
Mengenal Alice adalah anugerah terindah. Dia tak akan menuntut Tuhan untuk membuat mereka bersatu. Hanya seperti ini, sudah lebih dari cukup. Suatu hal yang Daniel inginkan.
"Daniel …."
"Aku tak akan selamanya berada di sisimu. Jika nanti aku tiada, setidaknya mengingatku sedikit sudah menjadi rasa syukur bagiku. Hiduplah dengan baik,"
Air mata Daniel ikut mengalir turun. Akhirnya, setelah semua pertahanan yang ia miliki selama ini, jiwa Daniel menyerah. Sisi rapuhnya menunjukkan diri.
"Jika kau mencintaiku, carilah tempat yang aman. Meskipun itu untuk sementara, tetapi mengulur nafas adalah hal yang harus kau lakukan. Biar aku di sini mencoba menahan Klayver. Walaupun usaha kita sia-sia, namun semua ini layak kita coba. Tetaplah hidup, Dan."
…
Alice pulang ke rumah saat hari telah petang. Dia mengendarai mobilnya dengan sedikit linglung. Apa yang telah mereka bicarakan sebelumnya membuat konsentrasi Alice terpecah.
__ADS_1
Alice patut bersyukur. Dia berhasil membujuk Daniel untuk keluar dari Manhattan malam ini. Lelaki itu mengikuti saran Alice dan menyiapkan penerbangan ke negara lain secara diam-diam.
Sekarang, masalahnya tinggal mengatasi Klayver. Jika memang apa yang dikatakan Daniel benar, itu artinya sebentar lagi pasti ada pihak lain yang memburu Klayver.
Meskipun Alice mempercayai kekuatan Klayver, terapi ia juga waspada. Kesulitan Klayver adalah kesulitan Alice juga. Mereka saling menyeret satu sama lain. Alice tak ingin keluarganya, terutama Axel terjebak dalam situasi sulit. Akan lebih baik dia mengamankan putranya dulu ke kota lain.
Alice masih memikirkan bagaimana ia memberi tahu kabar ini pada Klayver. Menyampaikan semua perkembangan masalah sama saja bunuh diri. Memberi tahu Klayver hanya akan membuat lelaki itu menyadari perbuatan Daniel lebih awal. Dia bisa langsung mengejar Daniel dan membuat perhitungan.
Jika Klayver bertindak cepat, Daniel pasti akan tertangkap. Alice takut membayangakan semua ini.
Tetapi tetap diam juga bukan solusi yang baik. Jika pihak lain membantai Klayver sementara Klayver belum siap, Alice takut lelaki itu akan terdesak dan berakhir tragis. Bagaimana pun juga, Alice menjadi istri sahnya. Dia khawatir pihak lain juga akan mengincarnya.
Kenapa semua ini jadi semakin rumit?
Apa yang harus Alice lakukan?
Setelah menimbang-nimbang pilihan yang ada, Alice memutuskan untuk mendiamkan masalah malam ini. Besok ia akan membicarakan dengan Klayver. Saat itu masih belum terlambat bagi Kalyver untuk bersikap waspada dan cukup waktu bagi Daniel melarikan diri.
Setelah mengambil keputusan ini, Alice merasa teanang. Dia memfokuskan perhatiannya kembali ke jalan menyusuri meter demi meter menuju jalan pulang. Alice teringat sesuatu kemudian mulai menghubungi Rachel. Dia ingin nenitipkan Axel untuk sementara dengannya. Bersama Rachel pasti lebih aman.
"Rachel, bisakah untuk beberapa hari ini aku menitipkan Axel padamu?" tanya Alice penuh harap.
"Axel? Apakah ada masalah, Alice? Kau sedang dalam kesulitan?" Rachel terdengar khawatir.
"Ada beberapa keadaan yang perlu kuwaspadai. Aku belum bisa menjelaskannya sekarang. Aku akan sangat berterimakasih jika kau mau menampung Axel untuk sementara."
Hanya itulah penjelasan yang bisa Alice berikan. Semoga saja Rachel tak terlalu mengejar penjelasan lebih rinci lagi.
"Baiklah. Kirimkan saja Axel ke mansion Maxen. Atau apakah aku perlu menjemputnya ke rumahmu?" tawar Rachel pengertian.
"Tidak perlu, Rachel. Aku akan menyuruh Helena membawa Axel ke tempatmu besok. Terimakasih. Kau benar-benar teman terhebat." Alice menutup sambungan telephon. Dia tersenyum lega telah menyelesaikan urusan ini.
Alice memijat pelipisnya dengan lembut. Dalam hati, dia berjanji akan belajar menyembunyikan emosi lebih baik lagi.
Alice mendesah lega saat ia memasuki rumah dan mendapat kabar dari salah seorang pelayan bahwa Klayver masih berada di luar. Lelaki itu belum pulang dari tadi pagi. Alice merasa malam ini dia cukup aman.
Dengan bersenandung ria, Alice mencari Axel dan menghabiskan waktu satu jam lebih untuk bermain dengannya. Setelah malam semakin larut dan putranya tertidur, dia kembali ke kamar untuk membersihkan diri.
…
Pagi harinya, Alice bangun dengan perasaan kacau. Ranjang di sebelahnya tampak rapi, menunjukkan Klayver sama sekali tak pulang semalam. Meskipun mereka bukanlah pasangan suami istri, tetapi setiap malam lelaki itu akan tidur di atas ranjang yang sama. Klayver cukup keras kepala untuk melakukan kebiasaan ini. Alice yang awalnya berpikir semua untuk sandiwara, lama-lama jadi mempertanyakan niat Klayver sebenarnya.
Alice keluar dari kamar untuk mencari William. Sang kepala pelayan tengah berdiri di halaman belakang dengan sebatang rokok di tangan kanan.
"Nyonya." William mengangguk menyapa majikannya.
"William, apakah kau tahu di mana Klayver?" tanya Alice sedikit khawatir.
Apakah suaminya sedang dalam masalah? Apakah itu artinya Alice dan Axel juga perlu waspada? Semua pikiran ini membuat Alice meradang.
"Kemarin tuan menggunakan organisasiku untuk mengurus beberapa hal. Tampaknya urusan tersebut belum selesai hingga sekarang." William mengangguk kecil, memberi penjelasan pada Alice.
"Kau tak ikut?" tanya Alice kemudian.
"Tidak. Saya memiliki beberapa urusan untuk kuselesaikan juga." William menjawab apa adanya. Kemarin William memiliki kesibukan lain sehingga Klayver mengijinkan ia tidak berpartisipasi.
"Apakah ada masalah padanya mengingat dia belum kembali?" tanya Alice tak bisa menututupi nada khawatir yang ia miliki.
"Jangan khawatir, Nyonya. Tuan pasti akan menghubungiku jika ada masalah. Organisasiku cukup kompeten. Mereka pasti cukup kuat melindungi Tuan."
William mencoba menenangkan Alice. Dia tahu majikannya mudah khawatir. Setelah mendapatkan banyak tragedi dalam hidup, wanita itu memiliki kewaspadaan tingkat tinggi pada segala sesuatu. Sehingga kadang dia cenderung paranoid.
__ADS_1
"Baiklah, William. Aku percaya dengan penjelasanmu." Alice tersenyum lega. Dia berlalu pergi untuk menemui Helena.
Alice perlu memberi intruksi pada Helena untuk membawa Axel sesegera mungkin ke tempat Rachel. Dia membantu Helena menyiapkan keperluan Axel secara kilat.
Saat Alice melepaskan kepergian anak itu, ada tangis mendung di wajah Axel. Dia tak terima karena harus dipaksa meninggalkan ibunya.
Alice menepuk kepala putranya dan memberikan penghiburan kecil. Dia berjanji kepergian Axel hanya sementara. Alice juga mengatakan di sana Rachel akan menyambutnya dengan banyak hal menarik. Setelah mendengar itu, barulah Axel bersedia pergi.
Setelah urusan tentang Axel selesai, Alice kembali ke ruang tengah dan menunggu Klayver. Hari ini waktu berlalu begitu lama. Klayver tak juga kunjung kembali.
Saat hari telah mulai siang, William mendatangi Alice, mencoba menghibur. Klayver belum ada kabar. Ditambah lagi ada pihak yang telah mengetahui identitas Klyaver sebenarnya. Alice benar-benar dirundung ketakutan. Dia khawatir hal buruk akan terjadi pada mereka.
Bagaimana pun, Klayver adalah suaminya. Nasib mereka saling terseret satu sama lain.
Saat hari telah sore, kekhawatiran alice mulai memuncak karena suaminya masih tidak pulang dan tak bisa dihubungi.
William lama-lama ikut khawatir juga. Dia mengatakan komunikasi dengan bawahannya mulai membaik, tetapi sayangnya organisasi William telah berpisah dari Klayver semenjak pagi tadi. Sehingga keberadaan Klayver tak diketahui. Bawahan William hanya mengatakan jika Klayver sedang mengurus seseorang.
Alice terdiam lama. Mengurus seseorang pasti tak sederhana seperti yang Alice pikirkan. Dia hanya takut Klayver akan menemui beberapa hal di luar dugaan. Identitas Klayver yang mulai bocor membuat banyak kemungkinan bisa terjadi.
Sore berganti menjadi malam. Senja di langit telah kehilangan cahaya keemasan. Kegelapan mulai merangkak turun. Alice yang masih dilanda kekhawatiran hanya duduk di ruang depan, menunggu dengan was-was kepulangan Klayver.
"Jangan khawatir, Nyonya. Tuan adalah orang yang sangat kompeten. Dia pasti bisa mengatasi masalah."
William mencoba menenangkan Alice, meskipun dirinya sendiri juga tak tenang. Dia berjalan memutari ruangan dengan tangan terkepal, berusaha siap dengan semua perkembangan yang ada.
Dalam hati, William menyadari kerentanan situasi. Mereka saat ini cukup bergantung pada kekuatan Klayver. Jika terjadi sesuatu padanya, William khawatir posisi mereka akan semakin rapuh.
"Berapa banyak orang yang kompeten dan tetap berakhir tragis? Kau lupa dulu Anson adalah lelaki yang hebat. Siapa yang menyangka akhir kehidupannya seperti itu. Nasib adalah sesuatu yang tak pernah bisa kita duga, William."
Alice berkata lirih. Kehidupan ini selalu memiliki rahasia. Ada sebuah kekuatan yang dinamakan nasib. Sesuatu yang tak pernah bisa dinalar oleh logika tetapi selalu mengalahkan banyak situasi. Dia berdiri sendiri. Seperti sebuah faktor X di luar variabel yang tak bisa dipengaruhi tetapi sanggup memengaruhi.
"Nyonya, saat ini kita tak bisa melakukan apa-apa. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah berdoa dan berharap," ujar William lirih.
Baru saja William mengatakan hal ini, lampu ruangan mati tiba-tiba. Alice berteriak terkejut dengan perubahan yang terjadi.
Rumah ini didesain dengan sempurna oleh Anson. Jika listrik mati, secara otomatis simpanan daya akan bekerja dan tetap menjaga listrik tetap menyala.
Salah satu kemungkinan yang terjadi jika listrik mati adalah mereka telah disusupi seseorang. Sistem alarm yang mati bisa memicu sambungan lainnya ikut mati, termasuk listrik. Meskipun itu tidak selalu menjadi rumus paten, karena alarm tetap bisa disusupi tanpa harus mengganggu arus listrik, tetapi William sudah waspada sepenuhnya. Saat ini, apa pun bisa terjadi.
Untuk mencegah hal-hal lain, William mengarahkan Alice untuk keluar melalui pintu belakang. Dia meraih lengan Alice dalam kegelapan dan menepuknya pelan untuk menenangkan.
"Nyonya, anda lebih baik keluar dulu melalui pintu belakang. Saya akan menggerakkan para pelayan untuk mengikuti anda. Tetapi saat ini anda adalah prioritas utama."
William membimbing Alice ke arah pintu keluar. Dia mengambil ponsel pribadinya dan mencoba menghubungi seseorang untuk mengawal Alice. Tetapi William hanya memandangi ponselnya dan bersumpah serapah.
"Ada apa, William?" tanya Alice terdengar khawatir. Genggaman di tangan William semakin mengerat kencang. Ketakutan mulai menyeruak ke permukaan.
"Mungkin kita sedang dikepung. Mereka menggunakan pengacau sinyal sehingga semua media elektonik dan komunikasi tak bisa digunakan," jelas William mulai membimbing Alice ke luar ruangan lebih cepat.
William takut keadaan mereka tak aman. Saat ini William masih belum tahu penyebab semua kekacauan. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah bergegas menyelamatkan Alice.
Suara pelayan yang saling berteriak bingung terdengar dari ruangan lain. William mencoba tak peduli pada hal lain dan hanya berfokus menyelamatkan Alice. Beruntung Axel telah dibawa pergi ke rumah Rachel. Setidaknya anak itu telah aman.
"William, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Alice bertanya khawatir. Saat ini mereka telah sampai di sekitar dapur. Pintu keluar berjarak beberapa meter lagi. Ketika mereka telah mencapai pintu, William membukanya dengan perasaan lega.
"Kita akan …." perkataan William terhenti di udara.
Baik Alice maupun William tak bisa berkata-kata. Halaman belakang sudah dikepung banyak orang. Kini mereka menghadapi puluhan orang dengan pakaian gelap yang terlihat samar-samar di bawah cahaya rembulan malam.
…
__ADS_1