Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
160 - SEASON 2


__ADS_3

Hari ini adalah hari pemakaman James. Violin membawa jenazah suaminya ke Washington dan menguburkannya dengan layak. Dia membuat berita palsu tentang penyebab kematian suaminya ke media. Semua itu demi untuk menutupi nama baik dan demi untuk melindungi Klayver juga. Dengan begini, kestabilan keluarga Violin tetap terjaga.


Selayaknya janda yang ditinggal suami, Violin menunjukkan rasa duka yang mendalam. Dia meneteskan air mata tanpa henti, bahkan terpaksa ditopang oleh anak-anaknya yang lain. Semua orang terkejut. Tak menyangka James meninggal dalam kecelakaan tragis di usianya yang masih belum terlalu tua.


Kecelakaan tragis.


Itulah apa yang Violin sampaikan kepada pihak media dan masyarakat. Demi James, ia bisa mengalah dan menutupi aib suaminya


Rasa cinta yang Violin miliki untuk James tak pernah pudar. Bahkan setelah apa yang James lakukan untuknya. Semua itu tak mengubah apa yang hatinya rasakan.


Kecewa memang ada. Sakit hati jelas terjadi. Tetapi rasa yang terlanjur ada, sulit untuk terenggut begitu saja. Bagi Violin, rasa itu tak ubahnya seperti sumpah. Sekali ia bersumpah, maka seumur hidup ia terikat. Sekalipun cobaan menghadang. Sekalipun musibah menerpa. Apa yang disatukan Tuhan katanya tak bisa dipisahkan oleh manusia. Kata-kata itu ada benarnya. Ikatan perkawinan Violin yang terjadi, tak akan bisa rusak oleh apa pun juga.


Klayver sering kali kagum terhadap ibunya. Wanita itu adalah sosok yang sulit dimengerti. Kekeraskepalaannya dibalut kebaikan hati yang tak berkesudahan.


Saudara-saudara Klayver diberitahu semua kejadian dengan detail. Violin tak ingin menyimpan rahasia dari anak-anaknya. Mereka semua berhak tahu apa yang terjadi.


Di luar dugaan, semua orang bisa menerima dengan baik. Bahkan tak ada yang menyalahkan Klayver sama sekali. Termasuk Violin. Semua orang tahu tindakan Klayver didasari keterpakasaan. Lelaki itu sudah menanggung beban rasa bersalah yang besar. Mereka semua tidak ingin menambah beban Klayver dengan menghakimi secara berlebihan. Alih-alih menyalahkan, mereka semua saling berangkulan tangan dan memberikan semangat satu sama lain. Inilah eksistensi dari keluarga yang sesungguhnya. Semuanya saling memahami, menerima, dan memaklumi.


Ketika prosesi pemakaman usai, Violin berjalan menggandeng Alice. Sinar mata wanita itu masih menunjukkan kedukaan, tetapi sikapnya sudah lebih baik dari pada sebelumnya. Setidaknya, Violin tak bersikap seperti mayat hidup lagi. Kesadarannya sudah kembali. Responnya juga telah normal.


"Kau ingin langsung kembali ke Manhattan?" tanya Violin. Mereka menatap cahaya pagi di ufuk timur yang berwarna cerah. Musim dingin hampir berakhir. Sebentar lagi musim semi hadir menyapa.


"Tidak. Mungkin aku akan berada di sini untuk beberapa hari ke depan. Tidak apa-apa, bukan?" Alice masih tak tega meninggalkan Violin seorang diri.


"Baguslah! Aku suka itu." Violin menampakkan senyumnya. Dia mengusap lengan Alice dengan penuh kasih sayang.


Wajah Violin kali ini terlihat lebih menua dari pada sebelumnya. Ada gurat-gurat samar yang muncul hanya dalam hitungan hari. Mungkinkah kehilangan James telah membuat Violin terpuruk?


"Ada apa, Alice?" tanya Violin tak mengerti.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ... hanya merasa beruntung memiliki mertua sepertimu."


Air mata bening mengalir lembut menyusuri pipi Alice. Saat ini Alice merasa tak berdaya dan menanggung kepedihan yang berlarut. Topeng baik-baik saja yang dipakai Violin terasa menonjok Alice dengan kekuatan tersendiri. Di balik semua itu, Alice tahu Violin menyimpan kerapuhan tersendiri.


"Jangan menangis, Sayang! Kau wanita yang kuat. Tragedi tidak akan menumbangkanmu. Kau bahkan akan tumbuh semakin kuat dan besar nantinya!" Violin mengusap sisi wajah menantunya dengan tulus. Dia menepuk-nepuk pipi Alice pelan sebagai wujud rasa sayang.


"Bukankah seharusnya aku yang mengatakan itu padamu?" Alice terkekeh kecil, menangkap tangan Violin dan mengecup ujung jari-jemari wanita itu penuh cinta. Violin telah berhasil menjadi pengganti untuk ibu Alice yang telah lama tiada. Kasih sayangnya tak terbatas. Penerimaannya sebesar penerimaan ibu kandung. Bertemu dengannya adalah sebuah keberuntungan.


"Kau wanita yang cengeng!" Violin mencoba mengolok-olok Alice dengan nada bercanda.


"Ya. Aku terlalu cengeng. Bahkan sekarang aku menangis untukmu!" Alice berkata jujur.


Air mata adalah sebuah bahasa hati. Dia tercipta untul alasan-alasan dalam dan istimewa. Kali ini, air mata Alice dipicu oleh keadaan yang menimpa Violin.


"Untukku? Kenapa?"


"Karena kau terlalu sibuk berpura-pura bahwa kau baik-baik saja dan mencoba untuk bersikap normal. Sementara aku tahu kau sangat hancur luar dalam. Untuk apa menutupi semua itu? Untuk apa menanggung kesedihan seorang diri? Tidakkah lukamu di sini semakin terasa menyakitkan dan membesar berkali-kali lipat?" Alice menunjuk dada Violin.

__ADS_1


Seseorang diciptakan rapuh dan memiliki batasan-batasan tertentu. Kepedihan yang dalam dan ditutup-tutupi kepura-puraan hanya akan menjadi wajah palsu yang dangkal.


Violin saat ini hancur. Alice tahu itu. Seharusnya jika Violin mau menggunakan topeng di tempat umum tidak apa-apa. Tetapi saat mereka bersama dan tak ada orang lain, kenapa juga wanita itu masih mengenakan topengnya? Tidakkah Violin lelah?


"Bukankah hidup memang sebuah sandiwara? Kita hanya peranan kecil yang mau tak mau terkena efek dari rumus yang ada. Aku memang sakit dan hancur luar biasa di sini!" Violin menunjuk dadanya sendiri. "Tetapi sekuat apa pun aku berteriak dan menjerit, tidak akan mengubah keadaan yang terjadi. Tetap saja tragedi itu terjadi dan tak bisa kita tolak. Tetap saja hal-hal buruk menyapa kita dan mau tak mau kita hanya bisa tersenyum kalah."


Violin berkata jujur. Dia mengeluarkan keluh kesahnya secara terang-terangan. Alice sendiri bilang dia tahu jika Violin hancur. Kenapa juga kini ia harus berbohong? Bukankah kebohongan hanya akan menjadi lelucon kejam?


Kehilangan James merupakan sebuah kekalahan yang sangat telak. Bukan hanya kehilangan James sebenarnya. Tetapi kehilangan kesetianya di saat-saat terakhir.


Orang yang kita sayang, orang yang kita puja, orang yang kita pikir mampu menjadi sebagian dari diri kita, tiba-tiba berbalik dan menentang kita. Memangnya apa lagi yang akan terjadi selanjutnya jika bukan kehancuran total?


Masih tersimpan banyak tanya dari benak Violin. Apa yang telah membuat lelaki seperti James mengkhianati dirinya. Kesalahan besar apa yang Violin milili. Jika kesalahan Violin memang fatal, kenapa ia dibiarkan tersesat selama tiga puluh lima tahun ini. Semua itu membuat Violin serasa menabrak dinding beton yang tak kasat mata.


Andai James masih hidup, andai lelaki itu masih bisa ia sanding, akan ia lontarkan ribuan pertanyaan serupa. Hanya untuk tahu sebatas mana kebodohan Violin telah berjalan selama ini.


"Jangan pernah menyalahkan diri sendiri, Violin! Kau wanita yang hebat. Kau wanita tangguh. Tidak selayaknya orang lain ikut menghakimi hidup pribadimu!" Alice berkata serius. Dia mulai melihat rasa bersalah yang muncul perlahan di mata indah mertuanya. Alice menebak setelah kematian James, Violin pasti akan terlalu sering menghadapi psikisnya dengan beban rasa bersalah baru. Seolah-olah apa yang terjadi pada James merupakan murni kesalahannya.


"Kau benar, Alice! Kau benar! Aku seharusnya tidak msmbebani diriku dengan rasa bersalah baru yang tak penting!" Senyum Violin lebih tulus kali ini. Sepertinya wanita itu cukup bisa menerima nasihat yang Alice berikan.


"Di sini, di lubuk hati, aku masih menyimpan tanya. Kenapa lelaki yang sangat aku cintai melakukan semua itu? Kekurangan besar apa yang aku miliki? Dia bukan hanya membuangku. Tetapi bahkan tadinya berniat menghabisiku. Kau tahu apa artinya itu? Sangat menyakitkan! Aku membentuk keluarga dengan James sangat lama. Hingga kupikir aku telah mengenal semua celah yang ia miliki."


Pandangan Violin menatap jauh ke depan. Dia telah melalui banyak moment bersama James. Ketika ia sehat, sakit, marah, bahagia, kesal, dan semuanya. Tetapi agaknya lelaki itu tetap saja memilih pergi. Keluar dari kehidupan Violin dengan cara yang paling tragis.


"Mom! Mom!" Suara Angel menyusul mereka dari jauh. Angel adalah salah satu adik Klayver. Dia wanita yang cukup dekat dengan Violin dibandingkan saudara-saudara Klayver yang lain.


"Tunggu aku. Kau terlalu sering menghabiskan waktu dengan menantumu. Sehingga aku lama-lama kau lupakan!" Angel terkekeh kecil, melihat kedekatan antara Violin dengan Alice.


Dalam hati, Angel cukup beruntung memiliki saudara ipar seperti Alice. Dia bukan hanya bisa menerima Klayver, tetapi juga bisa menerima keluarga besar Klayver yang penuh kekurangan di sana-sini.


"Oh, benarkah? Hahaha. Alice adalah wanita yang cukup menarik sebenarnya. Dia orang yang yang bisa mengimbangiku!" Violin mencoba berkelit.


"Apa itu artinya aku tak bisa mengimbangimu sebagai putrimu sendiri?" Angel semakin terkekeh geli melihat ibunya yang membela Alice.


"Tentu saja, Sayang. Kau adalah putriku." Dengan lembut, Violin merengkuh Angel dan mencium kedua pipinya seperti anak kecil.


Duka kembali menyelimuti mereka. Ada tatapan kepedihan yang lewat di mata mereka tetapi segera berganti dengan hal yang lain. Alice hanya tertunduk dalam. Dia tahu di dasar hati mereka, masih ada luka dalam yang menganga dan sulit untuk disembuhkan. Mungkin, hanya waktu yang bisa menyenbuhkan mereka. Hanya waktu yang bisa menjawab luka itu akan berhenti di mana.


"Mari kita pulang. Pemakaman ini sudah mulai sepi." Angel meraih lengan Violin dan lengan Alice di sisi kiri dan kanan secara bersamaan. Dia membimbing mereka keluar dari kompleks pemakaman. Suasana di tempat ini membuat mereka semua tak nyaman. Angel tak suka melihat ibunya berlarut-larut tenggelam dalam kesedihan.


"Bagaimana jika malam nanti kita mencoba makan malam di luar?" tanya Jasmine memiliki ide.


Rumah nanti malam pasti akan terasa hambar. Kepedihan dan kehilangan belum sepenuhnya hilang dari mereka. Duduk saja di rumah tanpa melakukan apa pun pasti terasa menyedihkan. Mungkin mereka harus mulai melakukan aktifitas baru. Aktifitas di luar yang bisa mengalihkan perhatian mereka untuk sesaat.


"Baiklah. Sepertinya ide yang cukup bagus." Violin mengangguk kecil, memahami maksud dari Angel yang berusaha menciptakan suasana harmonis kembali dalam keluarga mereka.


Mereka bertiga berjalan beriringan keluar makam. Di belakang mereka, Klayver dan saudara-saudaranya segera menyusul.

__ADS_1


Kehidupan telah membawa mereka pada proses baru. Menciptakan sebuah kedewasaan tersendiri. Hari akan tetap berjalan, matahari akan tetap bersinar. Seseorang akan selalu dituntut untuk bangkit jika tak mau terpuruk selamanya. Alam akan membimbing orang menuju pemulihan. Mungkin, dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mengobati seriap luka dan air mata yang mereka miliki. Tetapi pada saatnya nanti, akan tiba waktu di mana mereka mampu tersenyum lagi tanpa beban apa pun. Meninggalkan semua kesedihan dan luka yang pernah kehidupan goreskan untuk mereka.



Sore ini Alice duduk di balkon kamar di kediaman Violin. Dia menyesap secangkir kecil madu yang dibawakan oleh salah satu pelayan. Katanya baik untuk kesehatan. Di sisinya, berdiri Klayver yang menatap Alice dengan tatapan pemujaan. Seolah-olah Alice adalah wanita yang paling suci dan paling cantik yang ada di dunia ini.


Semenjak mengenal Alice, semua fokus Klayver hanya tercurah padanya. Perhatian, kasih sayang, cinta, dan segalanya. Hidup Klayver hanya untuk Alice. Tidak ia biarkan seorang pun mengganggu dan mengambil hal yang paling berharga baginya. Termasuk Luiz Martinez.


Di atas pangkuan Alice, ada sebuah koran terbitan hari ini yang memaparkan berita tentang kematian Luiz Martinez, seseorang yang disebut sebagai usahawan dari Brazil. Kematian Luiz Martinez dinyatakan sebagai perampokan acak dengan luka tembak di bagian kepala dan dada. Kediamannya di Manhattan juga ditemukam dalam keadaan berantakan. Sejumlah barang berharga hilang yang kemungkinan diambil oleh para perampok yang beraksi.


Banyak pengawal-pengawal Luiz Martinez yang ditemukan dalam keadaan tewas mengenaskan. Mereka semua tak ada yang selamat. Dari sinilah berita mulai berkembang. Ada yang mencurigai Luiz Martinez bukanlah sembarangan pebisnis karena ia memiliki selusin lebih pengawal di kediamannya. Pengawal-pengawal itu memiliki tato dan beberapa di antaranya memiliki riwayat sebagai geng jalanan, bahkan ada yang sebagai pengedar narkoba antar distrik.


Kesimpulan-kesimpulan bertebaran di masayarakat luas. Ada yang beranggapan Luiz Martinez meninggal karena ia sebenarnya memiliki bisnis gelap dan dihabisi oleh rivalnya. Ada yang beranggapan Luiz Martinez masuk dalam buronan negara sehingga dibunuh dalam operasi rahasia. Ada yang beranggapan Luiz Martinez dilawan oleh beberapa pihak untuk melakukan pengembangan senjata. Masyarakat mulai tidak percaya jika Luiz Martinez meninggal hanya gara-gara perampokan. Di gudang bawah tanah kediamannya, ditemukan banyak simpanan senjata langka. Pendapat-pendapat masyarakat mulai saling tumpang tindih dan menciptakan wacana-wacana sendiri.


Topik ini sepertinya akan menjadi topik utama dalam bulan ini. Tidak ada yang bisa menggali sepenuhnya atas tewasnya Luiz Martinez. Banyak bukti-bukti yang telah hilang. Semua pembunuhan dilakukan dengan teliti. Bahkan sidik jari pun tidak ditemukan. CCTV dirusak, dan jejak-jejak lainnya dihapus. Seolah-olah pelakunya adalah profesional sejati.


Hanya Alice, Klayver, dan beberapa orang saja yang tahu kejadian apa yang ada di balik kematian Luiz Martinez.


"Kau cukup pintar dalam menghabisi tokoh besar seperti Luiz Martinez," puji Alice setelah ia selesai membaca berita koran di pangkuannya.


"Itu memang keahlianku, Sayang." Klayver berjalan ke belakang Alice dan memijat bahu istrinya dengan gerakan lembut.


"Bahkan polisi dan agen federal pun kesulitan untuk mencari tahu kasus kematiannya. Bagaimana kau bisa serapi itu, Klayver?" Alice menengadahkan wajah, menatap Klayver yang berdiri menjulang.


Lelaki itu bak dewa zeus. Gagah. Tinggi. Berkuasa. Sebuah mukjizat bagi Alice untuk bisa bersanding dengan Klayver dan menjalani hari-hari dengannya.


"Jika kau sudah terbiasa hidup dengan caraku, kau pasti tahu titik mana saja yang harus disembunyikan dan harus dipaparkan setiap kali membunuh seseorang." Klayver menjawab dengan datar. Dia memiliki insting yang terlatih sejak dini. Otak dan pikirannya terbiasa bekerja dengan cepat dalam melakukan sesuatu.


Selain itu, Klayver adalah orang yang mengetahui cara berpikir orang lain. Jadi ketika ia melakukan suatu misi, untuk menutupi identits dirinya, dia terbiasa melenyapkan hal-hal yang sekiranya akan dicari oleh orang lain. Seperti bukti dan jejak fisik, misalnya.


"Aku cukup puas hidup sebagai wanita biasa dan mendampingimu hingga akhir hayat nanti. Menjadi hebat sepertimu bukanlah ambisiku. Aku hanya ingin kehidupan kita tenang dan damai, Sayang. Apalagi setelah ada calon anak kita." Alice mengusap perutnya yang kian menbesar.


Klayver memutari Alice dan berlutut di hadapan istrinya. Dia mengecup lembut calon anak yang Alice kandung. Sinar matanya melembut, dipenuhi rasa cinta dan kepuasan. Hidup adalah hadiah. Klayver telah berhasil mendapatkan hadiahnya saat ini.


"Aku pasti akan memberikan ketenangan dan kebahagiaan sebesar apa yang aku mampu padamu, Sayang!" Klayver meraih jari-jemari Alice, memberikan janji yang keluar dari lubuk hatinya.


Alice adalah dunia Klayver. Demi apa pun juga, lelaki itu akan memberikan apa yang Alice mau.


"Aku tahu itu, Sayang. Aku tahu. Kau pasti akan melakukan banyak hal untukku." Senyum Alice merekah, seperti matahari di musim semi.


Kebahagiaan Alice telah sempurna. Dia mendapatkan kembali seseorang yang ia cintai di sisinya.


"Alice, untuk kehidupan kita selanjutnya, aku telah memutuskan semua masa laluku dan mencoba mengurangi karirku dalam dunia gelap. Mungkin aku tak bisa sepenuhnya langsung meninggalkan dunia yang sudah lama aku miliki. Tetapi setidaknya perlahan-lahan, aku akan menjadi lelaki yang memiliki kehidupan normal seperti yang lain."


Alice menatap Klayver dengan mata menyorot tak percaya. Dia meraih tangan Klayver dengan gemetar dan menciumnya penuh persaan. Air mata Alice adalah jawaban yang jujur dari reaksi kebahagiannya yang membuncah.


__ADS_1


__ADS_2