
Seorang lelaki berhasil memasuki ruangan tersebut dan menatap getir pada Alice yang kini pingsan tak berdaya dengan tangan dan kaki terikat. Dengan pelan, lelaki tersebut membawa sebuah alat sejenis logam, memasukkanya ke anak kunci dan melepaskan rantai yang membelenggu sang wanita.
Ditatapnya Alice dengan pandangan yang menyiratkan emosi mendalam. Perlahan, dia membawa Alice pergi dalam gendongan. Dia membawa wanita itu keluar menembus malam, melewati banyak ranting dan semak belukar. Siapa sangka dari semua tempat yang digunakan mereka untuk menawan Alice, mereka telah menggunakan sebuah pondok di tengah hutan dengan akses yang sulit.
Lelaki tersebut menatap luka di ujung jemari dan telapak kaki Alice. Tatapanya berubah penuh kebencian. Sebuah tekad kuat terbentuk di pikiranya. Dia telah menyusun banyak cara untuk membuat siapapun yang menyakiti Alice membayarnya sepuluh kali lipat lebih berat. Siapapun yang menyentuh wanita ini, akan ia lawan mati-matian. Tidak peduli seberapa kuat dan seberapa besar jumlah mereka. Sekalipun dia harus melawan dunia hanya untuk wanita ini, akan ia lakukan dengan penuh kesungguhan.
Dia tak pernah merasakan cinta. Dia tak pernah mengenal kasih sayang dari seorang wanita. Untuk pertama kalinya dia mengenal semuanya. Namun dengan kebodohanya, dia telah berbuat seperti pengecut dan memperlakukan buruk wanita tersebut. Kini, setelah semua yang ia lakukan, jika ia diberi kesempatan untuk menebus kesalahanya, akan ia terjang sekalipun jiwanya harus dipertaruhkan.
Anson membawa Alice menuju sebuah rumah sakit di pinggir kota. Meskipun masih dini hari dan mentari belum menampakkan diri, para dokter dan staf rumah sakit bergegas menanganinya secara langsung. Pelayanan rumah sakit ini benar-benar memuaskan. Setelah dua jam lebih, seorang dokter berhasil memberikan keterangan seputar kesehatan Alice.
Wanita itu baik-baik saja. Lukanya pasti akan sembuh. Dia hanya butuh istirahat karena syok dan kehilangan banyak darah. Perawat sudah melakukan tranfusi darah saat ini. Alice pasti akan sadar sebentar lagi.
"William, aku akan keluar mengurus beberapa hal. Tolong jaga Alice." Anson menatap William yang berada persis di sisinya. Lelaki tua itu sangat setia menemani Anson melakukan apapun.
"Baik, Tuan." William mengangguk dalam. Suaranya mengandung kepuasan.
Anson berbalik berniat pergi meninggalkan rumah sakit, namun kembali ia urungkan. Dia berjalan keruang rawat Alice untuk terakhir kalinya sebelum memutuskan untuk pergi.
Kondisi Alice terlihat sedikit lebih baik, meskipun masih terlihat memucat. Wajah putihnya seolah seperti kain yang telah lama dipakai. Menampakkan kelelahan dan keputus asaan.
Dengan lembut, Anson menyentuh rambut Alice dan mengecup keningnya perlahan. Nafas hangatnya menerpa beberapa helai rambut Alice.
"Tak usah khawatir, aku akan membalaskan siapapun yang melukaimu hari ini. Bahkan jika aku harus mengejar ke ujung dunia sekali pun. Akan kubuat mereka menyesal pernah menyentuhmu. Cepatlah bangun, Alice, aku mencintaimu."
Anson berjalan pergi menahan semua rasa perih di hatinya. Dia tak pernah tahu saat ini kedua mata Alice telah terbuka lebar, merasa terkejut dengan pengakuan Anson. Netra cokelatnya mengerjap-ngerjap tak percaya. Seolah-olah apa yang ia dengar adalah mimpi terliarnya.
Anson mencintainya? Sejak kapan? Kenapa lelaki itu sangat pintar menyembunyikan fakta tersebut? Dia bahkan telah menolong Alice kali ini dan berniat membalaskan dendam pada orang-orang yang telah menyakitinya. Mungkinkah perasaan yang diutarakan Anson adalah sebuah kebenaran?
Alice merasakan kebahagiaan membuncah di hatinya. Khayalan-khayalan indah mulai terbentuk di pikiranya. Tuhan tahu betapa gembira ia mendengar pengakuan Anson. Pengakuan itu, seperti air dingin yang mampu membungkam semua kepedihan dan rasa sakit yang Alice derita.
...
Seminggu lebih Anson pergi memburu orang-orang yang menawan dan melukai Alice. Dia mencari mereka seperti orang gila. Menyiksanya satu persatu. Mengirimkanya pada malaikat maut. Anson bahkan mengobrak-abrik organisasi yang menyertai mereka. Dia seolah-olah mendeklarasikan pada dunia bahwa Alice adalah wanitanya dan tak ia ijinkan satu orangpun melukainya. Banyak organisasi-organisasi gelap yang melihat tindakan Anson menelan ludah karena terkejut.
__ADS_1
Siapa sangka iblis seperti Anson sanggup memiliki tingkat keposesifan tinggi untuk seorang wanita. Siapapun, pasti berharap menjadi wanita itu. Seolah-olah, kehidupan Anson telah didedikasikan sepenuhnya pada wanita tersebut. Siapa yang tidak iri melihat lelaki setangguh dan seluar biasa Anson berkorban demi sesuatu yang ia sebut cinta?
Setelah berhasil menyelesaikan urusanya, Anson kembali ke rumah lamanya. Saat itu dia terkejut melihat Alice berdiri mematung di depan halaman rumahnya dengan menggendong Axel di tangan kananya, dan menggenggam lengan Kimberly di tangan kirinya.
Anson seolah tak percaya melihat kenyataan ini. Mereka berdiri menyambutnya, tersenyum hangat seolah-olah Anson menjadi sesuatu yang penting bagi mereka.
Anson turun dari mobil, berjalan cepat menuju halaman saat tiba-tiba dua anaknya memeluk dirinya dengan antusias. Dia merengkuh Kimberly dan Axel dalam gendongan. Tawa renyah terdengar sangat menggoda dari lelaki ini. Tak jauh dari mereka, Alice tersenyum lembut. Sikapnya sedikit kikuk.
"Alice, kukira kau berada di mansionmu." Anson mengerutkan dahi, menunjukkan keterkejutan.
"Jangan takut. Semuanya sudah aman. Tak akan ada lagi yang mengganggumu. Kau bisa kembali ke mansionmu bersama Axel."
Meskipun sulit bagi Anson menjelaskan semua ini, namun dia tetap harus melakukanya Bagaimanapun juga Alice lebih baik kembali pulang. Keberadaanya di sini hanya akan membuat harapanya berkembang dan jatuh secara bersamaan. Alice adalah sesuatu yang terlarang. Terlalu indah, terlalu menggoda dan terlalu sulit ia raih.
"Aku ingin berbicara sesuatu, Anson." Alice memanggil seorang perawat, memintanya untuk menjaga anak-anak sementara waktu. Dia membawa Anson masuk ke sebuah ruang dalam.
"Ada apa?" Anson mulai curiga.
Alice menatap lantai tak yakin. Dia memainkan jari jemarinya, mengumpulkan keberanian memgatakan sesuatu.
Alice menatap Anson semakin kelimpungan. Dia menarik-narik ujung bajunya seperti anak kecil. Anson yang tak habis pikir dengan tindakan Alice, semakin resah.
"Bisakah kau jujur padaku?" tanya Anson kembali.
"Aku .... " Wajah Alice semakin memerah.
"Ada apa Alice?" Kesabaran Anson sudah diambang batas. Dia menggeleng lemah melihat kelakuan Alice.
"Seminggu yang lalu saat kau membawaku ke rumah sakit. Aku mendengar .... " Alice menarik nafas berat. Dia mengusap-usap punggung tanganya untuk menormalkan reaksi tubuhnya.
"Alice, ada apa?" Anson mengusap lembut kedua bahu Alice. Dia memberikan kekuatan bagi Alice untuk melanjutkan penjelasanya.
Alice memandang Anson, tubuhnya mulai gemetar. Tangisnya mulai pecah.
__ADS_1
"Aku mendengar kau mengatakan kau mencintaiku. Apakah itu benar?" Tangis Alice mulai membanjir. Dia merasa gamang dengan pertanyaan dan semakin tak yakin dengan jawaban yang akan diberikan oleh Anson. Alice benar-benar tak siap jika dia harus mendengar penolakan dari lelaki ini.
Anson mematung tak berdaya. Pertanyaan Alice seolah membekukan tubuhnya secara mendadak.
"Alice." Anson merengkuh tubuh ringkih Alice dalam pelukan. Dia mengusap lembut punggung wanita yang telah berhasil merebut hatinya.
"Aku bukan hanya mencintaimu. Aku memujamu, mengagumimu, menyukaimu dengan sangat dalam. Apakah aku salah Alice? Setelah semua kepedihan dan tragedi yang kuberikan padamu. Setelah semua kehancuran yang aku ciptakan dalam hidupmu, aku masih tetap menginginkanmu."
Alice menguraikan diri dari pelukan Anson. Dia menampar Anson dengan sepenuh tenaga. Namun lelaki itu hanya diam menerima semuanya.
"Bodoh kau Anson. Jika kau mencintaiku, seharusnya kau berlutut di depanku dan melamarku langsung. Apakah kau ingin aku hanya menjadi simpanan bagimu selamanya? Jika kita memiliki sepuluh anak, tidakkah kau ingin memberi nama belakangmu pada mereka?"
Anson seolah tak yakin mendengar penuturan Alice. Dia mengerjap tak percaya, dan berlutut memohon.
"Alice, kau mau menjadi istri dan ibu bagi anak-anakku? Maukah kau menerima lelaki cacat sepertiku?" kata-kata Anson bergetar hebat. Dia tak yakin Alice sanggup menerima lamaranya.
Namun kemudian Alice melemparkan diri pada pelukan Anson, menangis bahagia. Dia mengecup setiap sisi wajah Anson penuh perasaan.
"Aku mau, aku mau Anson. Ayo kita menikah. Kau tak tahu sebesar apa aku mencintaimu." Alice mengeratkan pelukanya pada lelaki yang telah lama menyusup dalam ruang hatinya ini.
Dengan manja, Alice menyurukkan kepalanya di leher Anson. Dia tersenyum, merasa sangat bahagia.
"Sepertinya kali ini, aku benar-benar bisa memilikimu secara legal, Alice. Kau tak tahu seberapa inginya aku menjadikanmu istriku."
"Kalau begitu, segeralah cari cincin pernikahan yang bagus untukku." Alice menepuk lembut dada bidang Anson.
"Apapun maumu, lady." Anson terkekeh bahagia. Dia merasa mendapatkan kado terindah dari surga.
...
Udah end nih ceritanya man teman.
Ada yang mau eksta chapter nggak buat pernikahan Alice dan Anson?
__ADS_1
Kalo masih banyak yang semangat, ntar aku bikin coreran tentang pernikahan mereka.
Ayo vote siapa yang masih mau eksta chapter? 😃😃