
Tidak ada yang lebih mengejutkan dari pada apa yang baru saja Alice lihat dengan mata kepalanya sendiri. James dengan sengaja menembak pengawal Alice dengan gerakan mendadak. Tidak ada satu orang pun yang mengantisipasi hal ini. Baik Alice maupun Violin terkejut mendapati hal ini.
Dua jasad pengawal Alice yang sebenarnya merupakan orang kepercayaan Violin, kini terbaring tak berdaya di atas aspal yang dingin. Mata mereka masih melotot tak percaya. Mungkin jika mereka bisa bicara, mereka juga pasti tak menyangka akan dibunuh semudah ini. Ada pertanyaan yang tak terjawab menjelang kematian mereka. Hanya saja, tanya itu tenggelam tak dipedulikan bersama nyawa mereka.
Wajah Violin yang biasanya datar dan terkendali, kini terlihat pias. Sudut bibir wanita itu bergetar penuh ketidakpercayaan. Dia masih tak mengerti tentang apa yang terjadi saat ini. Mungkinkah James tengah melakukan sandiwara? Tetapi sandiwara apa yang mengorbankan pengawal mereka sendiri.
"Sayang, apa yang kau lakukan?" tanya lirih terdengar dari bibir indah Violin. Wanita itu berjalan mendekat menuju suaminya untuk mengonfirmasikan apa yang ia lihat sebelumnya. Dia berharap entah bagaimana, Violin bisa mendapat penjelasan masuk akal dari suaminya. Keadaan mereka saat ini memang tak mendukung untuk bernegosiasi, tetapi Violin tak bisa menunggu semua ini lebih lama lagi.
"Mencari kemerdekaanku sendiri." James berbalik, menatap Violin dengan pendar mata asing. Dia memberikan punggungnya ke arah musuh, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
Memberikan punggungnya ke arah musuh.
Violin menyadari kenyataan ini dan mundur perlahan. Tidak mungkin. Tidak. James hanya akan memberikan punggungnya kepada orang-orangnya sendiri. Anti baginya untuk membelakangi musuhnya sendiri kecuali mereka adalah …
Mereka adalah orang-orang James sendiri.
"Aku lelah dengan dirimu, Violin. Sebagai seorang wanita, posisimu selalu mencoba lebih tinggi dariku. Sebagai seorang lelaki, aku selalu berada di bawah nilaimu. Padahal, jika aku mau, kemampuanku setara denganmu." James menatap Violin. Tak ada kehangatan dan cinta seperti sebelumnya. Mata yang biasanya mengerling sayang, kini tampak tajam dan berjarak.
"James," balas Violin lemah. Dia menaikkan tangannya, berusaha menggapai suami yang telah tiga puluh lima tahun menemani hidupnya.
"Ya?" James mendekat. Dia meraih tangan istrinya dengan datar. Lenyap sudah semua ekspresi cinta yang biasanya terlihat mengalir lembut dari pandangan matanya. Kini yang tersisa hanyalah reaksi dingin dari seorang lelaki asing.
Alice tak mengerti. Dia mendekat ke arah Violin, berusaha menggapai wanita itu untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kelihatannya Violin cukup linglung saat ini. Alice perlu memahami segalanya lebih detail lagi.
"Maaf, Violin. Terkadang cinta saja tak cukup membuat pernikahan bertahan."
Belum sempat Violin mencerna apa yang James katakan, dia sudah terlebih dahulu dipukul bagian tengkuknya oleh James.
Entah kewaspadaan Violin yang berkurang, entah konsentrasi dirinya yang kacau. Wanita yang selama ini dianggap memiliki kekuatan, tumbang begitu saja di hadapan lelaki yang ia cintai. Tubuh lemah Violin meluruh tak berdaya dalam pelukan James.
Belum sempat Alice mencerna apa yang terjadi di hadapannya, dia merasa sebuah pukulan keras mendarat di tengkuknya. Alice mencoba berbalik dan melawan. Dia ingat beberapa tangkisan yang diajarkan oleh Jasmine sebelumnya. Jurus-jurus itu merupakan jurus dangkal yang diajarkan Jasmine untuk Alice dalam keadaan darurat. Baru saja tangan Alice terangkat untuk melawan, pukulan lain yang lebih kuat menyerang tengkuknya di sisi lain. Violin melemah. Dia hanya melihat kegelapan sekilas sebelum akhirnya ketidaksadaran merenggutnya.
Sebelum Alice pingsan. Sebuah Kata hati mulai menyerang dalam batinnya. Inikah rasanya kekalahan? Terasa pahit sekali. Apalagi melalui orang yang ia kenal.
...
Violin bangun di sebuah kamar berdesain minimalis. Kamar ini memiliki tirai merah jambu yang penuh renda. Langit-langitnya berwarna merah jambu yang sama. Ranjang yang ia tiduri memiliki tiang-tiang tinggi seperti desain ranjang jaman dulu.
__ADS_1
Violin menarik tangannya. Dia merasa tertahan. Dengan cepat, wanita itu menoleh ke kanan dan kiri. Menyadari di kedua lengannya ditahan oleh rantai yang menghubungkan ke ujung ranjang dan ke kedua pergelangan kakinya.
Gerakan Violin sengaja ditahan sebegitu rupa. Dengan marah, wanita itu menarik lengan dan kakinya, mencoba membebaskan diri. Dia mulai berteriak marah dan mengumpat sembarangan. Kamar yang indah ini tak lagi terasa nyaman dengan keadaannya sekarang. Tak ada lagi nilai keindahan yang dipuja-puja orang selama ini selama kau tertahan dan tak memiliki kebebasan.
Violin menolak berhenti memberontak. Dia semakin menarik kedua lengannya dengan kuat, mencoba segala cara untuk melepaskan diri. Tidak ia biarkan sedetik pun tubuhnya berhenti memberontak. Dia takut jika ia berhenti mencoba melepaskan diri, pikirannya mulai berkembang dan menghubungkan semuanya dengan James. Dia tak ingin memikirkan lelaki itu saat ini. Tidak. Dia tak kuat untuk membuat pendapat baru terhadap suaminya sendiri.
"Aaaarggghhhhhh!"
Violin menarik lengannya membabi buta. Ada memar samar yang mulai terlihat. Wajahnya terihat mulai kacau. Rambutnya yang biasa ia sanggul kini tergerai mengenaskan. Seperti wanita gelandangan yang tak terurus. Tidak. Bahkan gelandangan pun lebih baik darinya.
Pintu tiba-tiba terbuka dengan gerakan cepat. Seorang lelaki yang sangat familier memasuki kamar ini dan menutup kembali pintunya. Menutup semua akses apa pun yang bisa Violin lihat.
"James." Rasa tak percaya menyeruak dengan kuat. Menantang untuk keluar dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Ya? Ada apa, Sayang? Kusarankan kau untuk tidak terlalu keras terhadap dirimu sendiri! Percuma kau mencoba melepaskan diri. Rantai itu dibuat dengan bahan khusus yang sangat kuat dan didesain menahan seseorang yang memilili kekuatan lebih sepertimu. Ada campuran titanium di dalamnya."
James menyeret kursi kecil terdekat dengan ujung kakinya. Dia mengeluarkan rokok dan pemantik otomatis dari saku jas. Jas yang sama dengan jas yang ia kenakan pada saat makan malam anniversary pernikahan mereka. Ingatan itu membuat Violin diserang reaksi keputusasaan baru.
"James. Kau tak mungkin melakukan semua ini, bukan? Katakan! Kau tidak mungkin menjadi orang yang ada di balik kejadian ini, bukan?"
Suara Violin terdengar rapuh. Dia mencoba menggenggam seutas tali harapan yang mulai ringkih. Tali harapan yang bisa saja terputus sewaktu-waktu.
"JAMES! JAWAB AKU!"
Marah, kesal, kecewa. Semua itu merasuk ke hati Violin dan menyatu dengan cepat. Wajah Violin kian memucat. Bibirnya terlihat tanpa warna. Lipstik merah yang ia pulas sebelummya telah hilang terhapus entah oleh apa.
"Sayangna, aku yang ada di balik semua ini, Sayang! Maaf aku mengecewakanmu! Tetapi inilah kenyataannya. Aku memilih berdiri melawanmu dan menjadi bagian dari Luiz Martinez."
Suara James tak terlalu lantang, tetapi cukup mendobrak kesadaran Violin lebih dalam lagi.
"Kepura-puraan apa yang sedang kau mainkan, James? Drama apa yang menuntutmu untuk bersandiwara melawanku?" Tatapan Violin melemah. Dia mencoba mencari celah kecil yang bisa membuat Violin memahami tentang tindakan James. Dia ingin tetap berpegang teguh jika suaminya tak mungkin untuk mengkhianati Violin dengan cara kejam seperti ini.
"Tak ada sandiwara. Aku hanya lelah dengan pernikahan ini. Aku hanya tak sanggup berjalan bersamamu lebih lama lagi. Aku hanya tak bisa terus disampingmu dengan keadaan yang menyedihkan!" James menatap istrinya dengan serius. Tak ada jejak bercanda di matanya. Semuanya menunjukkan keseriusan.
"Tidak mungkin. Itu tidak mungkin! Kau pasti sedang membuat lelucon!" Violin menggeleng kuat, mencoba menolak kata demi kata yang James lontarkan. Semua itu terasa tak masuk akal. Membuat Violin merasa dijebak dalam prank tal bermutu. Ya Tuhan, semoga saja suaminya itu segera tertawa dan merangkul dirinya dengan mengatakan semua itu adalah kejutan ulang tahun pernikahan mereka.
"Aku sudah lelah dengan pernikahan kita, Sayang. Selama tiga puluh lima tahun kau menjadi istriku dan memegang kendali semuanya. Organisasi kita, anak-anak kita, bisnis kita, bahkan pernikahan kita. Apa pun itu kaulah yang memegang kendali. Aku hanya menjadi tokoh latar yang tak berguna. Egomu terlalu besar sehingga mengambil semua hal yang ada di sekeliling kita. Katakanlah, sebagai lelaki, aku lelah untuk terus menjadi bayang-bayangmu, Violin!"
__ADS_1
Pengakuan jujur dari seorang lelaki yang kini duduk dengan bertopang kaki. Sudut mata lelaki itu menatap wanita yang kini bergerak tak berdaya di atas ranjang. Tak ada apa pun di matanya selain ekspresi kekecewaan. Sebuah kekecewaan yang mungkin sudah lama ia alami dan coba didiamkan begitu saja. Sebuah kekecewaan yang akhirnya tetap keluar mencari pelampiasan.
"Itukah pendapatmu tentang diriku? Sedangkal itukah kau menilai pernikahan kita?" tanya Violin tak mengerti.
James adalah lelaki yang pengalah. Tetapi itu karena jiwanya yang mudah menerima diskusi dalam semua suasana hati. James adalah orang yang penuh senyum dan pengertian. Dengan pribadi penerima dan sabar. Bagaimana bisa semuanya bisa terjadi seperti ini?
"Kaulah yang dangkal, Violin. Puluhan tahun aku bersamamu dan aku tak memiliki posisi kuat sama sekali. Sebagai lelaki, setiap kata-kataku tak pernah diperhatikan. Sebagai suami, otoritasku tak pernah ditegakkan. Pernikahan dan kehidupan kita, semuanya hanya tentang dirmu. Aku adalah lelaki yang lambat laun mulai tersingkir dan tak memiliki arti!"
James mengungkapkan kata hatinya yang selama ini terpendam. Puluhan tahun dia telah diam. Puluhan tahun dia hanya menjadi pemain sampingan. Berharap entah bagaimana, suatu hari Violin bisa menyadari kesalahannya dan menghargai James dengan cara yang sebenarnya. Sebagai lelaki, James hanya ingin dihargai. Tetapi apa yang ia inginkan tak kunjung terjadi.
"Kau memiliki arti yang sangat besar untukku, James. Kau adalah separuh diriku. Kau adalah satu-satunya. Tidak bisakah kau melihat semua itu?" Suara Violin semakin meninggi, merasa marah dengan cara pikir James yang seperti itu. Bagaimana mungkin sebuah kekecewaan bisa berkumpul sebesar itu dan tak memiliki tanda-tanda sama sekali?
"Aku hanya memiliki arti sebagai orang yang kedua bagi egomu. Jika kau lelah dengan kehidupan, kau datang padaku dan bertopang di bahuku. Jika kau buntu memikirkan jalan keluar, kau baru datang padaku dan meminta saran. Jika kau putus asa terhadap sesuatu, kau datang dan mencari semangat ulang dari diriku. Jika kau tertolak oleh dunia dan merasa tak berguna, kau datang padaku dan mencari arti baru dari diriku. Singkat kata, aku adalah tempat kembalimu jika kau sudah terdesak. Aku adalah tempat sampahmu dalam semua hal.
"Jika kau mencintaiku, kenapa kau tidak datang dulu padaku dan dengarkan semua kata-kataku sebelum kau kehilangan arah dan lelah oleh keadaan? Jika kau menyayangiku, kenapa kau tidak menjadikan aku sebagai tempat tujuan pertamamu sebelum kau terdesak oleh kesulitan? Kau tak pernah menghargaiku sebagai seorang suami. Kau juga tak membiarkanku memiliki nilai yang seharusnya. Bagaimana bisa kau berpikir untuk mempertahankan pernikahan yang cacat ini, Violin?"
Sebuah keluh kesah yang terpendam lama kini terkuak secara penuh. James telah menahan semua emosi ini berpuluh-puluh tahun lamanya. Dia adalah pihak yang selalu tak dianggap. Tak dinilai. Dan tak diperhatikan. Anak buah mereka, para pengawal, karyawan, anak-anak, semuanya. Hanya tunduk di bawah prosedur Violin. Ibarat kerajaan, Violin adalah ratu yang memegang kendali. James tak dibiarkan turun ikut campur kecuali mendapat ijin dari Violin.
"Kau tak mungkin menahan pikiran semua itu sendirian bukan? Ini adalah sebuah pernikahan yang kita buat dengan dasar cinta. Tidakkah kau pikir semua hal harus dibicarakan baik-baik?"
Violin tak mengerti kenapa jika ada kemarahan dari James, harus lelaki itu salurkan melalui pengkhianatan seperti ini. Tidak bisakah semua itu dibicarakan dengan cara baik-baik? Bukankah itu makna dari perkawinan yang senenarnya?
"Kau adalah wanita dengan ego yang luar biasa besar. Tidak ada cara bagiku untuk berbicara baik-baik. Sudah watakmu sulit untuk mengalah dan mau menang sendiri. Aku sudah hafal dengan karaktermu yang satu itu, Sayang!"
James mengungkapkan kebenaran. Dia menejamkan mata sejenak, menyadari dengan berat bahwa apa yang ia sampaikan merupakan kenyataan. Kenyataan yang telah James tanggung sekian lama. Sebagai lelaki, dia selalu membutuhkan harga diri. Sesuatu yang tidak bisa ia dapatkan dari istrinya sendiri.
"Apa rencanamu sebenarnya, James? Ke mana arah omong kosong ini sebenarnya?" Violin mulai hilang kesabaran. Pikirannya masih menolak apa yang ia dengar langsung dari mulut James. Semua itu seperti tidak nyata baginya.
"Aku berencana akan membiarkan orang-orang Luiz menahan Alice. Setelah Luiz mendapatkan kemauannya, saat itulah aku baru bisa menghabisimu."
Violin melongo tak percaya. Dia berhenti memberontak dan menatap James dengan tatapan kosong. Otaknya seperti berhenti berputar untuk sesaat. Ibarat mesin, Violin merasa porosnya kehilangan pelumas.
"Tidak. Tidak mungkin! Bukankah Klayver adalah anakmu sendiri? Menjebak Alice sama artinya dengan mendorong Klayver dalam kematian. Bukankah kau pernah berkata mencintaiku dan mencintai anak-anak kita?!" Violin berteriak marah. Dia merasa kalah dan lelah. Semua logika yang ia miliki habis untuk berdebat dengan James.
Perlahan, James berdiri dan menatap Violin lama. Saat ini lelaki itu seperti orang asing bagi Violin. Tak ada jejak kedekatan apa pun di antara mereka.
"Aku memang masih mencintamu. Dan mencintai anak-anak kita pastinya. Berat untuk kehilanganmu. Tetapi inilah yang harus aku korbankan untuk mendapatkan organisasi dan bisnis milikmu, Violin. Mengenai Klayver. Anak itu terlalu sulit untuk dikendalikan dan bisa menjadi ancamanku sewaktu-waktu. Ada baiknya juga aku bekerja sama dengan Luiz untuk melenyapkannya!"
__ADS_1
…