
Leon mematung. Ia mengusap-usap telapak tanganya sembari berjalan mondar-mandir mengelilingi ruangan.
Lelaki tua itu benar-benar di luar dugaan. Setelah sekian lama ia menjalani hidup dalam pondok bobrok seorang diri hingga nyaris dianggap sebagai hantu, kini ia datang hanya demi mencari informasi mengenai Eyes Evil.
"Aku tidak bisa!" Aaron menggeleng.
Ini bukan masalah dia tidak mau menjaga solidaritas antar teman. Ini masalah prinsip. Dari awal saat ia tahu identitas sebenarnya mengenai Ayes Evil, Leon telah bertekad akan menjaga rahasia ini. Dia adalah orang yang menjaga komitmen, sehingga mustahil baginya untuk mengkhianati kepercayaan sebesar ini.
"Kau benar-benar teman tak berguna!" Aaron menumpahkan amarahnya. Ia mengepalkan tinjunya dan berteriak keras.
"Kau tahu seberapa besar harga sebuah kepercayaan? Bahkan jika kau mengancam akan membunuhku, sesuatu yang aku yakin kau ahli melakukanya, aku tetap tak akan pernah membocorkan identitasnya."
Nada bicara Leon sama kerasnya dengan Aaron. Mereka berdua saling menuding dan menyalahkan. Leon cukup kuat menjaga rahasia yang ia miliki. Andai saja Alice bertemu denganya dalam keadaan normal, ia pasti menaruh kekagunan baru pada loyalitas yang Leon miliki.
"Apa untungnya aku memiliki teman sepertimu? Apa kau tetap tak akan peduli jika kukatakan wanita ini sangat butuh bertemu dengan Eyes Evil?" Aaron menggebrak meja.
Alice cukup terhenyak juga. Lelaki tua ini kalau emosi tidak setengah-setengah. Menilik dari sikapnya yang seperti itu, sangat memungkinkan gosip pembunuhan dua tahun yang lalu benar-benar terjadi.
"Bagaimana jika begini saja …," ujar Leon sembari duduk kembali di depan mereka, " Alice, kau katakan padaku apa kepentinganmu dan aku akan menyampaikanya pada Eyes Evil. Biarkan dia memutuskan sendiri apakah ia mau bertemu denganmu atau tidak." Leon mencoba memberi penawaran.
Aaron melirik Alice dan mengangguk kecil. Saat ini mereka tak memiliki pilihan lain yang lebih menjanjikan. Ada baiknya mereka mencoba peruntungan yang ditawarkan oleh Leon.
"Baiklah." Alice mengangguk, menerima usul Leon. Dia berdehem beberapa kali sebelum akhirnya menjelaskan padanya.
"Anson, suamiku, meninggal karena sebuah kesengajaan. Tetapi saat ini aku tak tahu metode apa yang musuh-musuh Anson lakukan untuk membungkamnya. Aaron telah menyelidiki ini dan mengatakan pelakunya adalah sekompok orang hebat yang memiliki banyak pelindung juga. Maka dari itu, aku berniat meminta bantuan Eyes Evil untuk membereskan masalah ini.
"Kudengar, dia adalah satu-satunya orang yang memiliki kemampuan menghabisi orang dalam bayangan, sehingga kematian mereka tak akan pernah bisa terdeteksi. Selain itu, seandainya pun akhirnya mereka semua tahu aku menggunakan jasa Eyes Evil, tak akan ada seorang pun yang berani membalas dendam padaku. Aaron berkata ia memiliki reputasi besar dalam dunia gelap."
Leon tercenung. Ia mencoba memahami maksud Alice dan berdecak tak nyaman.
Mereka semua tidak tahu kondisi yang sedang dihadapi Eyes Evil. Situasinya sedang rentan, meskipun kemampuanya sama sekali tak berkurang.
Selama ini, orang-orang yang berpengaruh rata-rata mengetahui nama besar dan kemampuan lelaki tersebut. Mereka yang menggunakan jasanya tidak pernah sekali pun dikecewakan. Siapa pun targetnya, jika Ayes Evil sudah bertindak bisa dipastikan target tersebut akan segera mencium tanah pemakaman.
Tetapi meski namanya terkenal dan ditakuti, tidak pernah ada seorang pun yang sanggup membongkar identitas sebenarnya. Mereka hanya tau bahwa Eyes Evil lelaki. Nama, wajah, usia, tempat tinggal atau pun informasi lainya tak ada yang bisa membongkar dirinya.
Selama ini jika terjadi transaksi, Eyes Evil selalu memiliki perantara. Salah satunya adalah Leon. Mereka tak pernah diijinkan melakukan pertemuan secara langsung. Hanya para perantalah yang Eyes Evil ijinkan untuk menemui dan berbincang padanya. Bahkan masalah pembayaran, para perantaralah yang mengurusnya. Mereka menerima uang dan memberikanya pada Eyes Evil dengan mendapat upah dua puluh persen dari tarif transaksi.
Sistem itu telah Eyes Evil lakukan semenjak delapan tahun yang lalu, saat ia mulai memasuki bisnis gelap ini sebagai pembunuh bayaran. Semua pihak puas dan tak mengeluhkan komplain apa pun.
Hingga satu setengah tahun muncul sebuah gerakan dari beberapa organisasi untuk memburu Eyes Evil. Baik organisasi gelap maupun organisasi pemerintahan. Tujuanya sama. Membekuk Eyes Evil karena ia telah banyak melenyapkan orang-orang berpengaruh.
Tidak masalah jika organisasi yang mengejarnya hanya organisasi lokal. Eyes Evil bisa menghadapinya. Bahkan jika hanya beberapa negara yang memburunya, mungkin ia masih bisa bersikap tenang. Tetapi yang memburunya kini adalah sembilan negara yang berbeda. Dengar-dengar, sembilan negara itu sudah berkembang menjadi dua belas negara.
Jumlah yang cukup gila. Secara tidak langsung, Eyes Evil dianggap sebagai buronan internasional. Sekuat-kuatnya dia, jika ia harus menghadapi para pemburu yang jumlahnya luar biasa tentu saja ia bisa kalah.
Beruntung hingga saat ini identitasnya masih belum berhasil dibongkar sepenuhnya, meskipun banyak petunjuk sudah mengarah padanya. Semua orang perlahan-lahan sudah memupuk bukti untuk menghubungkan Eyes Evil dengan seorang lelaki yang memiliki kesamaan-kesamaan dengan petunjuk mereka.
Jika semua ini dibiarkan, lambat laun Eyes Evil akan terungkap identitasnya. Hanya menunggu waktu saja sampai ia dihabisi ramai-ramai oleh semua orang. Kecuali jika ia tiba-tiba bisa menemukan cara untuk melepaskan diri.
Leon pernah menyarankan operasi plastik dan membuat identitas lain. Tetapi Eyes Evil tak pernah mau melakukan usul itu. Baginya, operasi plastik hanya digunakan oleh banci yang takut menghadapi sebuah resiko. Membuat identitas lain juga tak terlalu menolong. Mengingat orang-orang yang memburu mereka bukanlah orang bodoh yang mudah dimanipulasi. Cara-cara penyelamatan darurat sudah tak bisa lagi Leon usulkan.
__ADS_1
Setahun yang lalu dia mendorong Eyes Evil agar pergi dari negara ini, namun ditolak mentah-mentah. Ia berkata percuma pergi ke manapun karena ia menjadi buronan banyak negara. Sama saja ia pergi dari rumah pemburu ke rumah pemburu lain.
Leon sudah tak tahu apalagi yang bisa ia usulkan untuk kebaikan nyawa Eyes Evil. Bagaimanapun, ia dalah teman sekaligus perantara. Dia tak terlalu suka membayangkan temanya terdesak seperti ini.
"Alice, aku akan menyampaikan permintaanmu padanya. Beri aku beberapa hari dan biarkan aku menghubungimu."
"Baiklah. Terimakasi, Leon." Alice berdiri dan mengulurkan tangan untuk menyalami Leon. Cahaya matanya menampakkan rasa puas.
…
Sore ini Alice pulang dengan membawakan cake kesukaan Axel. Dia melihat putranya tengah bermain bersama William. Kepala pelayan yang dulu dimiliki Anson ini selalu menemani masa-masa sulitnya. Dia bahagia setidaknya ada sosok seperti William yang memberinya semangat dan topangan layaknya seorang ayah.
"Will, apakah hari ini Axel berulah?"
"Tidak Nyonya, dia cukup pengertian dan semakin pintar." Senyum William lebar hingga sampai pada kedua matanya.
Alice menyerahkan cake yang ia bawa pada putra satu-satunya.
"Thank you, Mom!" Axel memeluk sebungkus cake di dadanya dengan wajah berbinar riang, khas anak-anak.
"Kiss me, honey!" pinta Alice menyodorkan pipinya.
"No! No!" Axel memberontak pergi dari sisi Alice dan berlari menjauh.
"Tahukah kau, Mom? Lelaki jika masih saja mencium dan memeluk ibunya akan disebut anak manja dan akan sulit mendapatkan wanita."
"Hei, kau baru lima tahun. Jangan katakan seperti itu!" Alice mendelik marah. Dapat pendidikan dari mana teori yang Axel pakai ini? Ya Tuhan, dia masih anak kecil.
Untuk sejenak, mereka saling terdiam saat nama Anson kembali di sebutkan. Selalu ada luka menganga di antara mereka setiap kali nama itu disebut.
"Apakah Nyonya sudah mendapat informasi perkembangan tentang pembunuhan tuan besar?"
Alice berdehem, melambaikan tangan menyuruh William mengikutinya. Dia memanggil Helena untuk mengawasi Axel sementara ia berbincang dengan William di ruang dalam.
Alice membawa William menuju ruang kerja di lantai bawah. Ia menutup pintu dan mempersilakan William duduk di salah satu kursi.
Selama ini, mereka berdua menyadari ada yang tidak beres mengenai kematian Anson. Saat Alice bertindak cepat mencari tahu infornasi ke mana-mana, William juga melakukan hal serupa. Hanya saja usaha mereka selalu menemui kebuntuan, mengingat musuh yang mereka hadapi bukan sembarang musuh.
Saat ini ketika Alice mulai mendapat kepingan petunjuk baru, dia berniat membaginya dengan William.
"Kau ingat Aaroon?" tanya Alice.
"Ya. Lelaki yang tuan besar sebutkan dalam surat terakhir untuk Nyonya datangi. Seharusnya aku saja yang mendatangi orang itu, Nyonya. Aku tak akan bisa menanggung rasa bersalah andai terjadi sesuatu pada Anda."
Saat itu mereka sempat berdebat. William tak bersedia mengijinkan jika Alice pergi seorang diri. Tetapi Alice terlalu keras kepala untuk terbang ke LA dan meninggalkan William di rumah. Alice beranggapan akan lebih baik kepala pelayan itu tetap di rumah, berjaga-jaga seandainya ada sesuatu yang terjadi William bisa melindungi Axel dan menyelamatkanya. Jika mereka berdua pergi bersama, Alice merasa tak aman meninggalkan Axel tanpa penjagaan.
"Aku lupa tidak memberitahumu semalam ia membobol rumah ini dan tidak ada orang lain yang menyadari kehadiranya, termasuk kau, William!"
Jika Aaron saja bisa menembus keamanan rumah ini, pasti orang-orang yang membunuh Anson bisa melakukan hal yang sama juga. Alice perlu meningkatkan keamanan. Dia harus membuat William mengetahui situasi kritis mereka.
"Maafkan atas kelalaian saya, Nyonya. Tapi bisa kupastikan rumah ini memiliki keamanan yang sangat ketat. Itu berarti Aaron bukan orang sembarangan."
__ADS_1
Alice mengangguk membenarkan. Semua teman-teman Anson tak ada yang sembarangan. Bahkan lelaki pertapa tua seperti Aaron yang menjalani hidup dalam pondok bobrok masih sanggup membobol keamanan canggih seperti rumah Anson.
"Mulai saat ini, tingkatkan lagi keamanan rumah ini."
William mengangguk patuh.
"Aaron memberiku informasi bahwa pelaku pembunuh Anson adalah sekelompok orang yang memiliki pelindung kuat. Jika kita paksakan menghabisi mereka, kita tak akan bisa menghadapi para pelindung mereka."
Lagi-lagi William mengangguk. Ia sudah bisa menebak semua situasi ini. Dari awal ia mencari tahu informasi, semua hal yang ia temui hanya berakhir buntu. Itu artinya, para pelaku adalah orang-orang yang bisa saja setara dengan Anson, atau bahkan lebih. Jika kekuatan mereka digabungkan, apalagi mereka semua memiliki pelindung kuat, mustahil bagi William maupun Alice bisa bertindak leluasa.
"Apa yang ia usulkan untuk kita lakukan, Nyonya?"
William semakin menyadari kerumitan masalah ini. Sebelumnya ia berpikir posisi Anson cukup kuat untuk bisa bertahan menghadapi semua permusuhan lama. Tetapi, sekuat-kuatnya seseorang, akan ada yang lebih kuat lagi. Sebagaimana peribahasa yang mengungkapkan bahwa di atas langit masih ada langit.
Dunia ini luas. Kehidupan itu besar. Kita hanya seonggok debu dalam pantai yang tercecer. Kecil. Tak bernilai.
Kekuatan pun juga demikian. Besar kecilnya kekuasaan seseorang itu bersifat relatif. Tergantung dari ruang lingkup dan di mana ia berada.
Dulu Anson terlihat kuat dan sulit terkalahkan, tetapi alam menunjukkan bahwa dia bukan apa-apa. Akan selalu ada orang yang berada di atas dan lebih besar dari kita. Karena itulah kita diajarkan untuk bersikap rendah hati.
Alice sudah belajar menerima semua ini. William juga belajar untuk tidak bertindak gegabah. Kejadian yang menimpa Anson membuat mereka lebih dewasa dan memilah-milah setiap tindakan dengan penuh perhatian.
Alice tak ingin lagi kehilangan lagi. Setiap kali seseorang bersinggungan dengan bahaya dan kematian, dia akan menyadari seringkih apa kehidupan yang kita miliki. Semua itu membuat kita semakin menghargai kehiduapn detik demi detiknya.
"Aaron memberikan saran agar aku menggunakan jasa Eyes Evil. Katanya, ia adalah satu-satunya orang yang bisa menghabisi banyak musuh dengan resiko yang minim. Dengan meminjam tangan dan namanya, kita tak perlu mengambil resiko dibantai oleh musuh Anson. Tak akan ada yang berani mencari masalah dengan Eyes Evil. Kita harus memanfaatkan situasi ini."
William berdiri mendadak. Lelaki yang jarang menampilkan ekspresi dan emosi ini tampak tak setuju oleh apa yang dikatakna Alice. Dia mengepalkan tanganya membentuk tinju di sisi tubuh. Alice mengernyit heran melihat reaksi William. Apakah ia mengatakan sesuatu yang salah?
"Kau tak boleh melakukan ini, Nyonya." William terlihat sedikit takut.
Eyes Evil adalah sebuah nama yang telah melegenda. Dia seseorang tanpa nama dan tanpa wajah yang hingga kini banyak dicari orang. Keberadaanya bagaikan iblis. Serupa bayang-bayang sehingga sulit untuk ditebak. Beberapa orang menjulukinya sebagai malaikat kegelapan.
Ia dikenal mampu menggunakan semua jenis senjata mematikan. Pistol, pisau, katana, dan sejenisnya. Ia juga dikenal sebagai ahli racun. Ada gosip yang tersebar bahwa lelaki ini menguasai tiga jenis beladiri sabuk hitam. Dia, nama lain dari raja beladiri yang diagung-agungkan.
Keahlianya unik dan ajaib. Kemampuanya membunuh tak bisa diragukan lagi. Bahkan, jika ia mau, ia bisa membunuh dengan tangan kosong saja. Dia menguasai titik-titik akupuntur sehingga bisa membekukan darah atau pun menghentikan fungsi urat nadi dalam hitungan detik. Jika ia mau, dia bisa menyentuh beberapa titik vital yang mengakibatkan kematian seseorang.
Tak ada yang tahu usia lelaki itu senenarnya. Ada yang mengatakan usianya masih 25 tahun, ada yang 35 tahun, ada yang 42 tahun, bahkan ada yang mengatakan 52 tahun. Hanya gendernya saja yang orang-orang ketahui. Mereka tak berhasil mengorek apa pun selain itu.
Meskipun keahlianya melegenda, William tak terlalu yakin menggunakan jasa Eyes Evil. Lelaki itu terlalu menakutkan. Dia tak tahu apa yang akan Eyes Evil ambil dari Alice seandainya saja ia bersedia membantu.
"Jangan gunakan dia, Nyonya!" William kembali mengingatkan.
"Tidak ada pilihan lain lagi, Will. Kita harus memanfaatkan sumber daya apa pun yang bisa kita temui. Aku akan menawari Eyes Evil sejumlah aset yang sangat besar agar ia bersedia membantu menghabisi orang-orang yang membunuh suamiku." Alice bertekad kuat. Kedua matanya menyala-nyala penuh kebencian. Amarah yang ia rasakan untuk para pembunuh Anson sudah di luar batas normal.
"Nyonya, apakah anda tahu ia terkenal sebagai pembunuh paling ahli?" Memang sudah menjadi hal yang umum mengetahui nama Eyes Evil dalam dunia gelap.
"Kudengar begitu. Itulah kenapa aku menginginkan jasanya."
"Ia dikenal juga sebagai pembunuh para wanita cantik setelah ia meniduri mereka."
…
__ADS_1