
Sebuah tato berbentuk simbol yin dan yang berjumlah tiga lingkaran terukir indah dengan tinta hitam di punggung bagian belakang Klayver. Diantara semua simbol tersebut, ada sebuah tato naga melingkar, seolah-olah makhluk itu membawa tiga simbol dalam cengkeraman dan punggung atasnya.
Tato ini sangat unik. Luasnya sekitar lima belas kali dua puluh centimeter. Terukir indah dan menawan diatas kulit tembaga Klayver. Meskipun bentuknya cukup besar dan menonjol, namun cukup efektif jika ditutupi oleh kaos ataupun baju sehingga logo tersebut tak terlihat sama sekali.
Apakah itu alasan Klayver membunuh semua wanita yang menyaksikan tanda tersebut? Itulah kenapa dia menyembunyikanya dengan serius?
Lantas, nasib apa yang akan Alice alami setelah ia melihat tato rahasia ini. Mungkinkah sekarang nyawamya tak lagi berharga? Ironis sekali.
Alice berjalan mundur tak tahu arah. Perasaanya campur aduk tak karuan. Dia tak ingin mengetahui sebuah rahasia yang sensitif dan mampu membahayakan dirinya Dia tak ingin terlibat informasi yang bisa membawanya pada posisi sulit.
Alice menunduk dalam dan tak memperhatikan saat Klayver kembali menarik kaosnya dan diam-diam duduk tanpa suara mengamati wanita ini.
"Kenapa kau memberitahukan hal ini padaku?" Alice bertanya gamang. Wajahnya telihat tertekan.
"Untuk mengikatmu."
Hah?
Alasan apa itu. Alice kembali duduk, mengambil kursi yang paling ujung. Dia tak ingin pikiranya semakin terkontaminasi dengan cara berpikir Klayver yang ambigu.
Mengikatnya? Darimana melihat tato bisa menjadi sebuah ikatan? Alice takut itu akan menjadi ikatan kematian.
"Bisakah kau definisikan arti dari mengikat?" Alice menampakkan wajah bingung.
"Hmh …." Sebuah dengusan enggan keluar dari tenggorokan Klayver.
"Aku mempercayaimu dengan rahasia ini dan kau harus mempercayaiku dengan rahasiamu. Mulai sekarang, kita harus terbuka, begitulah kerja sama ini terjalin. Ikatan kepercayaan." Klayver berkata yakin.
Jadi ikatan seperti inikah yang diinginkan Klayver? Alice mengangguk mencoba memahami.
"Mari kita makan. Sudah waktunya makan." Klayver berdiri, diikuti Alice di belakangnya.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas lewat. Alice mengernyitkan kening, tak menyangka secepat ini waktu telah berlalu.
Mereka melewati lorong kecil sebelum akhirnya tiba di dapur dengan kitchen set berbentuk letter U. Klayver berdiri di tengah kitchen set, mengambil beberapa bahan dari laci atas yang tergantung di langit-langit dan juga melengkapinya dengan bahan-bahan makanan dari kulkas.
Lelaki tersebut bergerak bak seorang koki ahli. Dia memanaskan iga sapi dalam panggangan sebanyak dua porsi dengan baluran bumbu yang lengkap.
Aroma daging panggang dan rempah-rempah terasa menggoda penciuman Avery. Membuat perutnya bergejolak sehingga mengeluarkan suara memalukan.
Klayver tak bereaksi. Dia tetap saja meneruskan kegiatan masaknya dan tak terganggu oleh suara perut Avery. Setelah iga tersebut matang, dia meletakkanya pada wadah kecil dan melambaikan tangan untuk memberikan arahan agar Alice membawa sajian ini ke tempat yang ia inginkan.
"Bawa ini ke halaman belakang. Kita makan di luar!" pintanya datar.
Alice hanya bisa mengangguk dan membawanya ke halaman sesuai petunjuk yang diarahkan Klayver.
Alice membuka pintu dapur dan mendorongnya hati-hati. Dia terkejut saat menyadari yang dimaksud halaman belakang adalah area seluas dua ratus meter persegi dengan kolam yang besar.
Kolam ini dikelilingi beberapa pohon besar yang entah jenisnya apa. Sepertinya beberapa pohon adalah pohon yang asing. Mungkin jenis pohon dari Asia.
Selain itu, beberapa tanaman lain dari jenis mawar berbagai macam warna juga hidup dengan terawat. Di salah satu sudutnya ada juga tanaman melati yang menguarkan aroma wangi yang khas.
Kolam ini terlihat jernih. Airnya beriak kecil dengan warna unik karena terpapar matahari. Satu set kursi santai dari kayu terletak di sudut dinding belakang dapur, berhadapan dengan kolam.
Alice meletakkam sajian ini di atas meja kayu yang tersedia. Dia berdecak kagum, tak menyangka Klayver memiliki selera tinggi dalam memilih desain dan furniture rumah. Apakah diam-diam di balik jiwanya yang dingin dan acuh tak acuh menyimpan sisi keindahan tersendiri?
__ADS_1
Alice duduk di atas kursi kayu, menyandarkan tubuh dan mulai menikmati angin yang berdesir lembut. Dia merasakan emosinya sedikit rileks. Siapa sangka diduk di halaman pondok pembunuh profesional bisa menenangkan suasana hatinya?
Alice berani bertaruh. Jika ada orang yang melihat pondok ini, mereka pasti tak akan pernah mengira pemiliknya adalah seorang pembunuh kejam. Siapa sangka penampilan berkelas mampu menutupi kebobrokan moral seseorang?
Alice nyaris saja tertidur saat tiba-tiba suara Klayver membuyarkan semua ketenanganya.
"Makanlah, kubawakan teh juga."
Alice membuka mata dan terbelalak. Klayver sudah berdiri di sisi meja dengan nampan besar yang berisi dua gelas teh dalam ukuran sedang, telur dadar, dan salad untuk melengkapi makan siang kali ini.
Keberadaan Klayver sangat tiba-tiba. Tanpa suara langkah ataupun pertanda lain. Mungkinkah dia memiliki kemampuan menyamarkan diri sehingga bahkan gerakanya tak terdeteksi? Pantas saja di disebut-sebut sebagai yang terhebat dalam dunia hitam yang ia geluti.
"Terimakasih." Alice sedikit tak nyaman dan menggeser duduknya ke samping, memberikan tempat bagi lelaki tersebut untuk duduk berjarak darinya.
Klayver duduk dengan tenang. Dia mulai makan perlahan dalam diam. Semua gerakanya anggun dan memiliki tabble manner yang sempurna. Ya Tuhan, bagaimana bisa seorang yang sempurna seperti ini adalah pembunuh berdarah dingin?
Tak berapa lama kemudian, Avery ikut memakaan hidangan tersebut. Dia harus mengendurkan sedikit kewaspadaanya. Jika Alice selalu curiga bahwa makanan yang disajikan Klayver beracun, bisa-bisa ia paranoid sendiri. Selain itu, dia perlu memraktekkan ikatan kepercayaan baru dengan Klayver. Akan dia kikis perasaan buruknya tentang lelaki ini sedikit demi sedikit.
Alice mengagumi cita rasa daging di hadapanya. Iga sapi panggang ini benar-benar memiliki aroma rempah-rempah yang menggiurkan. Sebenarnya, dari mana lelaki ini belajar memasak? Alice saja yang wanita sejati tidak sepandai ini dalam hal dapur. Dia selalu mengandalkan Susan dan Rachel jika menyangkut tentang masak memasak.
Sekali-kali, Alice memang memasak juga, tetapi hanya sebatas resep dasar yang mudah untuk ia lakukan. Axel biasanya selalu memprotes masakanya.
"Klayver …," panggil Alice.
Lelaki ini hanya diam membisu. Dia tak merespon panggilan tersebut.
"Apakah setelah semua ini selesai, kau benar-benar tak akan membunuhku? Bagaimanapun juga, aku telah mengetahui keberadaan tato simbolismu." Alice bertanya khawatir.
Dia sudah menahan pertanyaan ini dari tadi. Alice harus mengungkapkan rasa penasaranya sebelum otaknya mulai berpikir yang tidak tidak.
"Sudah kubilang itu semua tergantung padamu. jika kau cukup cerdas dan tidak membocorkan identitasku untuk kau jual pada pihak lain, aku tak akan mengganggumu. Namun, jika sebaliknya, tentu saja aku akan mengakhiri hidupmu. Jangan tanyakan bagaimana aku akan membunuhmu, aku memiliki banyak cara," kata Klayver santai, "atau kau tertarik mengakhiri hidupmu di ranjang, seperti yang aku lakukan pada para wanita itu?"
Alice tersentak. Klayver mengatakan sesuatu tentang pembunuhan dengan gaya arsiktokrat dan nada yang sangat lembut. Ekspresinya tak terbaca tanpa ada riak sedikit pun. Ya Tuhan, lelaki ini jelas psikopat akut.
"Apakah kau terlalu memegang etika sehingga sikapmu tetap saja lembut saat kau membahas tentang pembunuhan?" Alice merinding. Dia semakin menggeser duduknya agar menjauh dari Klayver.
Klayver mengulum senyum. Dia menatap Alice tanpa kehangatan dan mengatakan sesuatu secara telak.
"Dua minggu lagi dari sekarang, kita akan terikat sebagai suami istri. Mas kawin apa yang kau inginkan dariku, Sayang?"
…
Seorang wanita bersanggul hitam tengah menatap laki-laki berusia awal tiga puluhan. Lelaki itu membawa setumpuk berkas dengan sikap sopan. Dia menatap tak yakin pada wanita berusia enam puluhan yang duduk penuh wibawa bagaikan sang ratu.
Mereka duduk di sebuah ruangan VIP restoran ternama di pusat New York. Dua pramuniaga mengantarkan makanan dengan formalitas tanpa cela.
Wanita itu dikenal sebagai The Queen. Dia mengangguk dan melambaikan tangan, memberikan isyatat kecil untuk mengusir para pelayan yang dianggap sebagai lalat pengganggu.
"Apa yang kau bawa untukku?" tanyanya dingin, mempermainkan pisau di tangan kananya.
Sang lelaki, hanya tertunduk diam dan membuka sebuah berkas di tanganya. Dia menunjuk suatu bagian tertentu, mendekatkan informasi tersebut pada The Queen, dan mengangguk penuh arti.
"Terakhir kali, saat aku berhasil melacak keberadaanya, orang yang dicurigai Eyes Evil tengah berada di sekitar London. Entah itu sebuah rumor atau benar adanya."
The Queen merebut berkas tersebut dengan angkuh dan mempelajarinya. Dia melihat beberapa foto yang diambil oleh sang lelaki dan menggelemg kecewa. Bukan sosok ini yang ia cari.
__ADS_1
"Aku tidak mencari orang ini. Untuk ketiga kalinya, kau memberiku informasi yang salah!" katanya tajam, tak terima.
Sang lelaki hanya mengusap hidungnya dan memikirkan sesuatu. Sialan. Berurusan dengan wanita tua itu memang merepotkan. Setiap informasi yang ia serahkan selalu saja tak benar. Setiap kali ia mencari informasi lagi, The Queen tidak pernah memberikan petunjuk sehingga langkahnya hanya bisa mengandalkan keberuntungan.
"Aku masih tak tahu bagaimana wujud orang yang kau inginkan. Aku hanya bisa menebak-nebak saja berdasarkan insting, Nyonya. Jika kau tak keberatan untuk meringankan tugasku, bisakah kau memberiku ciri-ciri untuk mempermudah pencarianku?"
The Queen menggeleng tak yakin. Apa yang ingin ia cari mulai terlihat sebagai bayangan samar-samar. Sosok itu semakin menghilang seiring berjalanya waktu.
"Cari saja orang yang memiliki tato simbol tiga lingkaran ying dan yang dengan naga yang mengapit di antaranya."
"Dan dimana tato itu berada?" tanya lelaki skeptis.
"Bagian punggung." The Queen berkata mantap. "Jika kau menemukanya, bawakan fotonya padaku dan aku akan bisa memastikan apakah orang itu benar-benar dia atau bukan."
The Queen berkata mantap. Dia memang tak terlalu ingat, tetapi jika ia melihat orang itu, instingnya pasti akan bekerja cukup jeli sehingga sanggup membedakan apakah orang tersebut adalah orang yang ia cari.
Sementara sang lelaki yang ada di hadapanya hanya bisa meradang dalam hati. Hei, mencari lelaki berusia dua puluh sembilan tahun tanpa petunjuk, hanya berdasarkam tato unik di punggung jelas bukan sesuatu yang mudah.
Lelaki itu menggeleng letih. Apakah itu artinya The Queen hanya mempermainkanya? Mungkinkah wanita itu berharap dia membuka punggung setiap lelaki di jalan untuk mengonfirmasikan tato yang ia deskripsikan? Berapa ratus kali ia akan dihajar masal karena pelanggaran moral di tempat umum?
The Queen menatap ujung meja dengan tatapan dingin. Mata emasnya berkilat-kilat sangat tajam. Dia menyentuh ujung gelas berwarna kristal dan menyesapnya perlahan.
Wanita tua ini, meskipun usianya enam puluh tahun, namun wajahnya masih terlihat berumur empat puluhan. Fitur-fitur wajahnya masih kencang dan memiliki kecantikan khusus. Kecantikan yang terkesan dingin dan angkuh.
"Lakukan pencarian lagi. Berikan hasilnya secepatnya!" perintahnya tak ingin dibantah. Lelaki itu hanya meringis kecil. Sang majikan telah memberikan titah. Apalagi yang bisa ia lakukan selain melakukan perintah tersebut dengan sepenuh hati? The Queen benar-benar wanita yang kompleks.
"Nyonya, tak mudah mencari lelaki yang kau sebutkan. Dia cukup lihai bersembunyi. Selain itu, dia juga menjadi buronan banyak pihak."
Lelaki itu perlu meyakinkan pada The Queen bahwa orang yang ia inginkan informasinya bukanlah orang sembarangan. Memangnya mudah memburu orang licin seperti itu? Namanya juga disebut sebagai Eyes Evil. Mata iblis. Siapa yang mudah menemukan lelaki iblis sepertinya?
"Bukankah kau hacker yang hebat? Gunakan kemampuanmu untuk membobol setiap informasi yang ada. Aku menginginkan informasi akurat Eyes Evil sesegera mungkin." The Queen menyipitkan matanya, memusatkan diri pada suatu pemandangan di balik jendela luar.
Kota metropolitan ini tampak sibuk. Kendaraan berlalu lalang menyesaki jalan-jalan utama. Gedung-gedung berjejeran saling berdesakan. Orang-orang saling beraktifitas masing-masing.
Aktivitas berjalan seperti biasanya. Tetapi bagi The Queen, tidak ada hari yang biasa bagi kehidupanya. Setiap detik yang ia miliki telah ia lalui dalam pencarian ini. Dia mencurahkan semua tenaga, harta, dan waktu hanya untuk mencari sesosok orang yang disebut sebagai Eyes Evil.
Di mana lelaki tersebut? Kenapa keberadaanya bagaikan angin yang tanpa wujud? Secerdas apa ia menyembunyikan diri sehingga semua pihak dibuat bingung oleh tindakanya yang mengecoh?
The Queen berdiri, mengepalkan kedua tangan ke sisi tubuhnya. Dia berjalan tanpa suara, benar-benar tanpa suara ke arah jendela besar restoran ini. Pandanganya melayang, tak tentu arah.
Lelaki di dekatnya menatap kagum. Bahkan di usianya yang sudah menua, wanita ini memiliki keanggunan dan kekuatan tersembunyi. Langkahnya tegas dan tak bersuara. Sebuah langkah yang sangat efektif untuk mendekati lawan dan menyerang lawan secara tiba-tiba.
"Nyonya, bisakah kau memberiku informasi yang lebih akurat agar aku bisa lebih memfokuskan upaya untuk mencari tahu keberadaanya?" Lelaki tersebut betanya hati-hati
The Queen terlalu kuat. Tentu saja sang lelaki tak ingin menyinggung wanita angkuh dengan sengaja. Tentu tidak. Hei, dia masih menginginkan keselamatan dirinya.
"Dia memiliki mata elang yang tajam dan pandangan membunuh yang kuat. Dia juga memiliki aura khusus sebagai pembunuh. Kau harus hati-hati mencarinya, jika terlalu ceroboh, nyawamu akan melayang." The Queen berkata dalam. Pandanganya masih menatap ke kejauhan dalam kehampaan. Setelan hitamnya semakin memperkuat aura dingin yang ia miliki.
Lelaki itu menggeleng lemah. Mata elang yang tajam. Pandangan membunuh yang kuat. Aura khusus sebagai pembunuh.
Ciri-ciri macam apa itu? Di mana ia bisa menemukan lelaki dengan kriteria seperti itu? Ya Tuhan, sepertinya sebentar lagi dia akan gila karena tugas rumit ini.
"Lakukan tugas ini dengan baik, Daniel. Aku tak ingin kau gagal lagi!"
...
__ADS_1