
Alice duduk di halaman belakang dengan sebuah novel di pangkuan. Dia menghabiskan waktu setengah jam lebih di tempat ini dan tenggelam dalam cerita tentang historical romance. Di sisinya, satu porsi cemilan telah ia tandaskan habis. Siang ini sedikit panas. Alice memakai kaos pendek dam celana denim pendek.
Setelah merasa bosan, Alice kembali menasuki rumah dengan langkah malas. Axel sedang bermain di taman bersama Helena. Tak ada yang bisa memupuskan kebosanan Alice siang ini.
Akhir-akhir ini Alice sering mendelegasikan pekerjaannya pada para karyawan. Semenjak kematian Anson, dia kehilangan banyak fokus untuk mengurus bisnis. Waktunya ia habiskan mencari informasi tentang kematian suaminya.
Kini, setelah ia berhasil mengenal Klayver dan membentuk kerja sama dengannya, Alice sudah terlanjur terbiasa mendelegasikan bisnisnya. Dia sekarang bersikap santai di rumah. Sekali-kali jika ada suatu keadaan penting, ia baru memantaunya langsung. Kebosanan sering kali menghinggapi dirinya.
Di ruang tengah, Alice berpapasan dengan Klayver dan William. Sepertinya mereka baru saja selesai membicarakan sesuatu. Alice tersenyum kecil, tak ingin mengganggu mereka.
"Alice. Aku ingin berbicara denganmu," pinta Klayver.
"Oh, kupikir kau masih perlu berbicara dengan William." Alice menatap dua orang lelaki di hadapannya.
"Aku sudah selesai dengannya."
Alice mengangguk mengerti dan mengikuti Klayver ke lantai atas. Ternyata lelaki itu mengarahkan mereka ke kamar.
Meskipun enam hari ini Alice tidur sekamar dengan Klayver, tetapi mereka saling menjaga jarak. Terutama Alice. Jadi memasuki kamar berdua dengan Klayver di siang hari cukup membuat Alice merasa canggung.
"Ada apa Klayver?" tanya Alice duduk di kursi meja rias. Dia menatap Klyaver secara seksama. Lelaki ini, masih saja mengeluarkan aura yang kuat.
"Hari ini aku ingin mengurus urusanku. Kau tahu bahwa aku sedang menjadi buronan bukan?" Klayver mengangkat topik ini. Dia ingin menunjukkan keadaan yang sebenarnya pada Alice. Wanita tersebut perlu waspada.
"Ya. Tapi bukankah mereka masih belum berhasil mengaitkan bahwa Eyes Evil itu kamu, bukan?" Alice bertanya balik.
Klayver mengangguk kecil untuk membenarkan. Ingatan Alice cukup tajam. Tidak buruk.
"Ya. Tetapi aku perlu membereskan beberapa orang. Selama aku pergi, berhati-hatilah dengan orang di sekelilingmu."
"Apa maksudmu, Klyaver?" tanya Alice tak mengerti.
"Maksudmu adalah musuhmu bisa menjadi siapa pun. Jaga rahasiaku. Jangan sampai ada satu orang pun yang tahu bahwa aku adalah Eyes Evil. Ingat Alice, jangan sebarkan tentang tato yang kumiliki."
Alice mengusap pelipisnya. Dia tak tahu apakah peringatan yang Klayver berikan adalah bentuk kewaspadaan atau bentuk sikap merendahkan pada Alice. Demi apa pun juga Alice tahu bahwa rahasia Klayver adalah rahasia yang akan ia bawa sampai mati. Lelaki itu tak perlu mengingatkankan hal tersebut padanya.
"Aku bukan orang yang bodoh, Klayver." Alice meradang. Dia benar-benar kesal mendengarnya.
"Aku tahu, tetapi kau terkadang sering bertindak diluar kendali." Klayver berkata datar. Dia berbalik dan keluar dari kamar. Alice membuntutinya dari belakang.
Sialan Klayver. Alice benar-benar tak memiliki nilai di matanya. Emosi Alice semakin memburuk saat mereka tiba di lantai satu. Mereka melewati lorong menuju ruang depan.
"Hai, Alice!"
Alice terkejut mendengar sapaan dari suara yang sangat familiar. Dia melihat Daniel sedang berjalan dengan wajah berseri-seri menuju arahnya. Lelaki itu menatap Alice dan Klayver bergantian.
"Hai, Daniel. Kau tak mengabari sama sekali akan berkunjung ke tempatku hari ini." Wajah Alice menghangat melihat senyum Daniel yang seindah musim semi.
"Ohoho aku terlalu sibuk dengan bisnisku. Inikah suamimu? Hai bro, aku Daniel Stranger." Daniel menyapa Klayver, menawarkan jabat tangan.
Aura Klayver berubah dingin dalam waktu sekejap. Dia memandang Daniel dengan sorot mata tak terbaca. Alice tidak mengerti reaksi yang Klayver berikan. Sering kali lelaki tersebut tak bisa diduga sama sekali.
"Klayver Vaquez," sambutnya datar, menerima jabat tangan Daniel.
"Ngomong-ngomong, selamat atas pernikahan kalian. Aku sekarang tidak membawa apa-apa. Tapi nanti akan kukirimkan hadiah pada kalian." Daniel sedikit merasa bersalah.
"Baiklah Daniel.Tak apa. Masuklah dan biarkan aku menjamumu dengan layak," tawar Alice ramah.
Daniel mengangguk, merasa lega.
"Aku keluar dulu." Klayver berlalu dari mereka dengan langkah-langkah cepat.
__ADS_1
Daniel menyenggol tangan Alice. Dia melirik Klayver tanpa suara. Seolah-olah ingin mengatakan bahwa suami Alice cukup unik.
"Dari mana kau mendapatkan suami sedingin itu? Seleramu cukup aneh, Alice." Daniel memutar matanya tak mengerti.
Dulu Anson. Sekarang Klayver. Pola pikir wanita memang aneh.
"Cinta tak ada yang tahu ke mana akan berlabuh, bukan?" Alice menjawab skeptis. Berpura-pura kasmaran selalu membuat dirinya kesal.
"Baiklah. Jangan bicara tentang cinta." Daniel melambaikan tangan, merasa ikut kesal.
"Baiklah. Baiklah. Ceritakan padaku kesibukan apa yang sedang kau lakukan sehingga bahkan di pernikahanku dan pernikahan Rachel, kau tak hadir?"
Daniel duduk di kursi ruang tengah, meminta kopi dari Alice dan mulai menjelaskan beberapa hal. Mukanya sedikit tertekan. Sepertinya beban yang ia bawa cukup berat.
"Aku sedang mencari seseorang, Alice. Kali ini cukup sulit," jelas Daniel merasa tak berdaya.
The Queen sudah mendesaknya akhir-akhir ini. Dia menginginkan hasil secepatnya. Kepala Daniel seolah siap pecah setiap kali ditanya tentang perkembangan pencarian yang wanita itu minta.
Mencari eyes evil bukanlah sesuatu yang ringan. Salah-salah, nyawanya bisa melayang. Daniel harus bersikap hati-hati untuk setiap tindakan yang ia ambil.
"Seseorang?" Alice bertanya terkejut. Sejak kapan Daniel beralih profesi mencari orang hilang? Itu sedikit diluar dugaan.
Daniel tertawa melihat reaksi terkejut dari Alice. "Ini proyek besar, Alice. Aku mencari seseorang. Tetapi sangat sulit."
Alice menaikkan bahu karena tak ingin tahu lebih lanjut. Jika Daniel terlalu gila mencari keberadaan seseorang, ya … itu masalahnya sendiri.
"Sudahlah, Daniel. Jangan bahas lagi tentang itu." Alice tertawa kecil.
Daniel memandang Alice dengan pandangan lelah. Proyek kali ini telah menghabiskan semua tenaga dan sumber daya yang ia miliki. Jika sosok yang ia cari tak kunjung ia temui, ada baiknya ia menyerah dan menyerahkan job ini pada yang lain.
"Kau tak tahu, Alice. Orang yang kucari benar-benar sangat penting." Daniel tersenyum kecil.
Melihat keseriusan di mata temannya, tak urung Alice ikut penasaran. Siapa orang yang menyita perhatian Daniel sebesar ini?
Daniel menoleh ke arah Alice dengan serius. Dia sedang menimbang-nimbang apakah tidak apa-apa memberikan informasi ini.
Mengingat Alice adalah temannya, seseorang yang cukup bisa dipercaya dan tak akan mudah membongkar rahasia, Daniel memutuskan untuk memberitahunya.
"Seseorang yang memiliki julukan sebagai Eyes Evil. Dia adalah seorang pembunuh bayaran yang sedang jadi buronan banyak pihak. Sayangnya, tak ada satu orang pun yang tahu siapa sebenarnya Eyes Evil. Satu-satunya petunjuk yang kumiliki adalah tato istimewa berupa tiga pasang simbol yin dan yang dengan naga diantaranya."
Alice tersentak tiba-tiba. Lidahnya terasa kelu. Apa yang baru saja ia dengar dari Daniel, berhasil mengoyak-oyak kesadarannya.
Jadi selama ini Daniel menjadi salah satu pihak yang memburu Eyes Evil? Suatu keberuntungan dia belum tahu siapa Klayver sebenarnya.
Tangan Alice berubah tegang. Dia mulai waspada terhadap semua tindakan Daniel. Sosok Daniel seolah langsung menjadi kabur. Alice memasang garis tegas di antara mereka.
"Alice, kau baik-baik saja?" tanya Daniel merasa khawatir.
"Ya. Ya. Aku ... aku hanya sedikit terkejut karena kau berani mencari informasi tentang keberadaan pembunuh bayaran." Alice sedikit tergagap. Dia berdiri dengan canggung dan berjalan di sekitar ruangan.
Klayver sudah mengatakan ada orang dalam yang patut diwaspadai. Mungkinkah itu artinya Daniel? Jika benar, saat ini mereka harus menjaga jarak.
"Kau jangan terlalu kahwatir, Alice. Aku akan baik-baik saja." Daniel meyakinkan temannya. Dia merasa menyesal membagi informasi serentan ini. Sepertinya Alice cukup terganggu setelah mendengarnya.
"Baiklah. Aku percaya padamu." Alice mengangguk kecil, berusaha untuk menghilangkan kecanggungan kecil yang terlanjur tercipta.
Dalam hati, Alice sedang memikirkan bagaimana menutupi fakta tentang Klayver dari Daniel. Dia masih tak mengetahui apa tujuan Daniel mencari informasi. Yang jelas, seseorang yang berusaha mengungkap sosok eyes evil adalah orang yang patut Alice waspadai.
Alice berencana mengorek semua tujuan Daniel kenapa ia menginginkan informasi mengenai Eyes Evil. Tetapi melihat raut muka Daniel yang mulai suram, ia jadi mengurungkan niatnya. Daniel adalah orang yang cukup sensitif. Jika Alice terlalu merongrong dia dengan banyak pertanyaan, Alice takut Daniel akan curiga padanya.
"Alice, apakah kau bahagia dengan pernikahan ini?" tiba-tiba Daniel bertanya tentang sesuatu yang di luar dugaan Alice.
__ADS_1
Alice kembali tersentak. Tangannya kaku mendadak. Pertanyaan ini terasa sedikit mengganjal. Bahkan, dulu Daniel tidak pernah melemparkan pertanyaan seperti ini saat ia masih menikah dengan Anson.
"Tentu saja, Daniel. Ada apa?" Alice bertanya curiga.
Daniel menarik ujung bibirnya membentuk senyum kecil. Dia menepuk bahu Alice dengan akrab.
"Tidak. Aku hanya tak ingin kau mengambil pilihan yang akan kau sesali sepanjang sisa hidupmu."
Hanya itu alasan yang Daniel berikan. Tidak ada yang dia inginkan kecuali kebahagiaan Alice. Semenjak ia mengenal Alice, satu-satunya hal yang menjadi prioritas utama adalah membuat Alice bahagia. Jangan ada lagi penderitaan.
Alice melihat ketulusan yang terpancar jelas dari mata Daniel. Lelaki itu sudah lama ada untuknya. Kepedulian yang ia berikan untuk Alice adalah suatu hal yang alami.
Alice mendesah kecil. Dia merasa canggung melihat tatapan mata Daniel yang sehangat ini. Dalam hati, ia takut perasaan Daniel padanya masih belum hilang. Jika demikian adanya, pasti cukup menyiksa bagi Daniel menyimpan perasaan ini untuk sekian lama dan hanya bertepuk sebelah tangan.
"Daniel," panggil Alice lirih.
"Ya?" Daniel menjawab dengan sama lirihnya.
Wanita ini, dulu pernah memiliki kisah indah dengannya. Kisah yang mereka bentuk ketika usia mereka masih muda.
Seandainya saja Daniel bisa mempertahankan hubungan mereka, mungkin dia akan menyanding Alice sebagai istrinya.
Perandaian seperti itu selalu membuat Daniel ingin kembali ke masa lalu dan memperbaiki hubungan mereka. Apa pun akan ia berikan untuk wanita ini. Nafas Alice sudah menjadi separuh kehidupannya. Sulit bagi Daniel menjauh dari wanita ini.
"Bisakah kau menghentikan pencarian tentang Eyes Evil? Jujur, aku tak ingin kau mengalami hal-hal buruk karena pencarianmu."Alice berkata apa adanya.
Dia tak ingin antara Daniel dan Klayver ada bentrokan. Dia ingin menjaga dua orang tersebut berada dalam jalur masing-masing dan tidak melukai satu sama lain.
Klayver adalah orang yang cukup kejam. Jika dia tahu sedang diburu, lelaki itu pasti tak akan segan untuk mengahabisi siapa pun yang memburunya. Di sini, Daniellah pihak yang rentan untuk terluka. Membayangkan Daniel seperti itu membuat Alice merasa tak nyaman.
"Tak bisa, Alice. Aku sudah terlanjur berjanji pada seseorang. Aku akan tetap mencarinya," jawab Daniel tegas. Dia jelas tak bisa dibantah.
Alice manarik nafas dengan berat. Keadaan semakin rumit. Dia merasa tak berdaya. Daniel dan Klayver seperti dua orang yang berjalan dalam satu jalur kecil dan siap untuk bertabrakan. Tinggal menunggu waktu saja bom di antara mereka meledak.
Membayangkan itu semua terjadi, membuat Alice merasa mual. Dia memejamkan mata menyembunyikan ketidakberdayaan. Tuhan, Daniel adalah temannya dan salah satu orang yang berarti bagi kehidupannya. Hatinya ikut teriris jika ada hal buruk yang terjadi padanya.
"Alice, apakah kau baik-baik saja?" Daniel mulai khawatir lagi.
"Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah, mungkin." Alice tersenyum. Memikirkan masalah ini membuat mentalnya melemah. Bayangan Daniel dan Klayver berganti-gantian melintas dalam bayangannya.
Ya Tuhan. Jangan ada lagi tragedi dalam hidupnya.
"Baiklah. Lebih baik kau istirahat lebih awal, Alice. Aku akan pergi dulu. Ada pekerjaan yang menungguku." Daniel berdiri dan berpamitan secara kilat. Alice hanya sanggup mengangguk dengan wajah sedikit pias. Dia mengantarkan Daniel hingga pintu depan dan melihat kepergian mobil temannya hingga menghilang dari pandangan.
Sepeninggal Daniel, Alice berdiri lama di teras rumah. Dia melamunkan sesuatu. Pikirannya kalut. Instingnya merasa sebentar lagi akan ada masalah.
Tak berapa lama kemudian, Axen dan Helena kembali dari taman. Anak itu terlihat kelelahan setelah bermain dan langsung tertidur dalam gendongan Alice ketika Alice mengambil alih putranya.
Axel adalah salah satu hal yang membuat hidup Alice merasa tenang. Dia adalah pegangan yang Alice andalkan saat dirinya terpuruk dalam kepedihan. Anak ini hanya berumur lima tahun. Tetapi nilainya tak tergantikan.
Alice menempatkan Axel di kamar anak dan menyelimutinya dengan kain lenbut bermotif karakter. Dia tersenyum kecil dan mengecup puncak kepala putranya.
Karena lelah, Alice mengikuti jejak Axel. Dia segera pergi ke kamar dan merebahkan diri di atas ranjang. Untuk sesaat, Alice membiarkan keruwetan pikirannya begitu saja. Dia memejamkan mata, melarikan diri dalam dunia mimpi.
Waktu dengan cepat berlalu. Tak terasa, saat Alice membuka mata hari telah sore. Dia terkejut mendapati Klayver telah berdiri tak jauh dari sisinya. Wajah lelaki tersebut terlihat menggelap.
Alice ingin bertanya, tetapi melihat aura yang Klayver bawa membuat ia mengurungkan niatnya. Aura ini seperti … aura seorang pembunuh.
Rasa takut mulai menyeruak di hati Alice. Ia berdehem kecil, bangkit dari posisi tidur. Matanya masih memerah karena baru saja terbangun. Klayver memandangi Alice dengan sorot mata janggal.
Ada apa sebenarnya?
__ADS_1
"Siapa Daniel sebenarnya? Tahukah kau dia salah satu orang yang mencoba mengungkap identitasku sebenarnya?"
…