
Alice tak sadarkan diri cukup lama. Dia tak tahu keberadaan dirinya sendiri. Saat ia bangun, satu hal yang ia sadari adalah Alice berada di kamar yang cukup bersih dengan tirai-tirai panjang berwarna biru laut dan putih. Kamar ini sedikit tercium bau apak. Tanda bahwa ruangan ini jarang dipakai dan hanya menjadi tempat peristirahatan sementara. Alice bersin beberapa kali dan menutup hidungnya dengan tangan. Tubuhnya masib terasa lemas. Tenaganya seperti terkuras habis.
Setelah kesadarannya mulai datang secara bertahap, Alice menyadari bahwa dia tidak ditahan sama sekali tangan dan kakinya. Dia bisa bergerak bebas. Tak ada ikatan, tak ada rantai, tak ada penutup kepala, atau sejenisnya. Alice sedikit bernafas lega menyadari kenyataan ini. Dia sangat paranoid. Penawanan ini sudah menjadi tragedi tersendiri bagi Alice. Wanita itu pasti tak sanggup jika ia harus menambah beban mentalnya dengan keadaan menyedihkan seperti terikat tak berdaya.
Alice menyusuri kamar ini dengan hati-hati. Dia menatap secara seksama setiap sudut ruangan. Berharap entah bagaimana Alice mampu menemukan celah. Dengan begini, setidaknya otak Alice bisa lebih aktif. Berpikir dalam situasi darurat sangatlah diperlukan.
Kamar ini memiliki luas empat kali lima meter. Setiap sudutnya didesain dengan hiasan ukiran kayu yang bersulur dan rumit. Ranjangnya merupakan ranjang empat tiang dengan masing-masing sisinya memiliki tinggi kurang lebih dua meter. Tiangnya memiliki pola ukiran dengan sentuhan emas. Di antara satu tiang dengan tiang yang lain, ada kain tembus pandang yang bisa ditarik melalui tarikan otomatis di ujung kanan ranjang.
Kamar ini memiliki penghangat ruangan otomatis. Mau tak mau Alice bersyukur dengan kenyataan ini. Malam musim dingin dengan mental rapuh karena ditawan, membuat Alice semakin merasakan cuaca dingin lebih tajam dari pada sebelumnya.
Tak ada benda apa pun di kamar ini yang bisa dijadikan senjata oleh Alice. Sepertinya anak buah Luiz memikirkam segalanya dengan cukup mendetail. Hanya ada televisi yang teronggok tak berfungsi di sudut ruangan. Alice mencoba menghubungkan kabel-kabel televisi itu, tetapi agaknya benda kecil itu telah rusak cukup parah. Hanya ada suara gemerisik menyebalkan yang menyambutnya. Karena saat ini Alice sudah cukup tertekan, dia memutuskan untuk mematikan televisi bobrok tersebut dan kembali menjelajah.
Pintu kamar ini terkunci dari luar. Alice mencoba membukanya berulang kali dan dia gagal. Alice tak ingin membuat keributan berlebihan. Berusaha mendobrak pintu kayu berat ini jelas tak akan berhasil. Yang ada dia hanya akan mengundang anak buah Luiz dan bisa jadi Alice diikat menyedihkan untuk mengendalikan tindakan bar-barnya.
Alice mencoba memikirkan sesuatu. Dia kembali memandang ke sekeliling ruangan sekali lagi, berharap melewatkan hal-hal kecil yang bisa ia jadikan senjata. Tetapi sama saja. Sekuat apa pun Alice mencoba mencari, dia tak juga menemukan benda yang ia inginkan.
Akhirnya, Alice memutuskan untuk duduk kembali di ranjang dan mulai merenung. Tak ada jam beker di kamar ini. Alice hanya bisa mengira-ngira waktu secara kasar dan menebak jika saat ini mungkin sudah memasuki lewat tengah malam. Dari jendela kamar, terlihat suasana luar yang masih petang. Langit Manhattan masih sekelam sebelumnya.
Alice terdiam lama. Dia mulai teringat akan keberadaan Violin yang kini entah ada di mana. Apakah wanita itu baik-baik saja? Dan apakah James ….
Ya Tuhan.
James. Nama itu berhasil membuat Alice meradang. Terakhir yang Alice ingat tentang lelaki itu adalah dia menyerang Violin. James membuat Violin pingsan tak berdaya. Hanya Tuhan yang tahu apa sebenarnya yang merasuki James.
Sangat tak masuk akal membayangkan James mampu menyakiti Violin secara langsung. Mereka adalah contoh pasangan paling sempurna. Bagaimana bisa tiba-tiba James berbalik menyerang Violin begitu saja? Mungkinkah diam-diam selama ini mereka berdua memiliki masalah intern?
Alice merapikan rambutnya yang berantakan. Dia kembali berdiri dan mencoba merangkai fakta demi fakta yang ia lihat. Berharap dengan begitu Alice bisa menemukan fakta lain.
__ADS_1
Sayang. Lama Alice merenung dia tak juga berhasil menebak alasan semua ini. Bayangan otaknya semakin kacau. Alice hanya bisa mendengkus pasrah dan duduk kembali penuh kekalahan di ranjang.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Alice yang menyadarinya merasa kaget dan memegang dadanya yang akhir-akhir ini mudah sekali merasa syok. Alice khawatir semua itu akan mempengaruhi bayinya.
Seseoramg yang sangat Alice kenal berdiri menjulang di balik pintu. Seorang lelaki dengan wajah latin yang sempurna. Gurat-gurat wajahnya menampakkan sikapnya yang dominan. Tekstur tubuhnya menyiratkan kesempurnaan dari ujung hingga ujung. Senyum iblisnya menghias bibir maskulin yang kini tertuju pada Alice.
"Halo, Alice. Kita berjumpa lagi!" kata Luiz dengan nada lembut. Nada lembut yang membahayakan. Alice bergidik sendiri mendengarnya.
"Apa lagi yang kau mau kali ini, Luiz? Kau menahanku untuk memancing keberadaan Klayver? Begitukah?" Alice langsung menyerang Luiz dengan pertanyaannya secara telak.
Alice lelah untuk berpura-pura tak ada bahaya dan berpikir bahwa segalanya baik-baik saja. Dia bukan pemain drama andal dan bukan penyuka script film. Karena itulah saat ini Alice memilih untuk menghadapi rasa takutnya dan menantang Luiz secara langsung. Mungkin ini bukan tindakan yang benar, tetapi setidaknya Alice bisa mendapatkan jawaban yang ia inginkan.
"Kau cukup pintar kali ini, Alice."
Luiz mendekat ke arah wanita itu dan terkekeh geli. Dia suka melihat wanita yang mencoba untuk berani dan menghadapi ketakutannya. Bagi Luiz, semua itu terasa menarik. Memberikan permainan baru bagi Luiz untuk ia permainkan.
"Sebenarnya, apa masalah kalian, Luiz? Sehingga kau melibatkanku dalam hal ini!" Alice kembali membuka suara. Dia sudah masa bodoh dengan nasibnya sendiri. Mungkin Alice sudah jenuh hanya diamati dan dikuntit secara diam-diam. Kali ini Alice menginginkan jawaban yang sebenarnya.
Luiz Mencoba menyindir Alice secara telak. Jarang ada wanita yang berani bertanya atau melawannya di awal pertemuan mereka bertemu. Apa yang dilakukan Alice merupakan sesuatu yang sangat langka.
Luiz menatap Alice cukup lama. Dia seperti tengah memikirkan sesuatu. Wajah Luiz terlihat datar tanpa ekspresi sama sekali. Tetapi Alice tahu, di balik ekspresi datar itu pasti tersimpan banyak akal bulus yang Luiz miliki untuknya. Alice pernah melihat Klayver. Dia pernah beberapa kali menyaksikan klayver menampilkan ekspresi datar, padahal sebenarnya sedang memikirkan banyak hal di otaknya. Sepertinya Luiz merupakan lelaki yang tak berbeda jauh dengan Klayver. Lelaki seperti itu adalah jenis lelaki yang mampu menyimpan pikiran terdalamnya di dalam otaknya tanpa menampilkan ekspresi sama sekali.
"Aku tak bisa diam saja merasa ketakutan seorang diri sementara sebenarnya di dalam hatiku tersimpan banyak pertanyaan-pertanyaan untukmu. Karena itulah, aku memutuskan untuk bertanya langsung padamu, Luiz. Apakah kau akan menjawabnya atau tidak, semua itu adalah urusanmu." Alice mencoba mengatakan yang sebenarnya. Karena bagaimanapun juga, rasa penasaran yang dia miliki sudah sangat besar. Dia tak tahu alasan apa yang melatarbelakangi lelaki itu sehingga menjadikan Alice sebagai sasarannya cukup lama. Alice yakin di balik semua itu pasti ada alasan kuat.
"Kau benar, Alice. Rasa penasaran bisa membunuh seseorang. Apa kau yakin ingin mengetahui alasannya?" Luiz mencoba menantang. Alice melangkah mundur secara teratur. Berdiri berdekatan dengan Luiz membuat Alice terasa tertekan. Aura lelaki itu cukup dominan. Ada tatapan kekejaman yang mampu Alice tangkap dari sinar mata Luiz. Sebenarnya, Alice tak terlalu yakin untuk mancing amarah atau pun kekejaman yang Luiz miliki dengan pertanyaannya. Karena itulah, sekarang saat ini dia memilih mundur teratur dan hanya diam tidak membalas satu kata satu patah kata pun yang Luiz ttanyakan.
"Kenapa kau diam saja Alice?" Luiz meringis kecil dan mulai menyadari bahwa lawan bicaranya mulai merasa ketakutan padanya. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan bagi Luiz selain melihat mangsanya sendiri bertekuk lutut dan takut karena tindakan yang Luiz berikan. Bagi Luiz hal-hal seperti itu merupakan sebuah kesenangan tersendiri.
__ADS_1
"Aku hanya merasa sepertinya aku terlalu mencampuri urusan pribadimu." Alice menelan ludah, merasa kalah secara perlahan-lahan.
Alice bertekad untuk mencari tahu alasan yang sebenarnya dari mulut lu sendiri. Tetapi melihat situasi yang terjadi sekarang, sepertinya hal ini cukup sulit untuk ia lakukan. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah mencoba diam dan berharap dengan begitu Luiz bisa berbaik hati untuk membiarkan keselamatan Alice berlangsung. Sekarang ini Alice menyadari, bahwa sekuat apa pun Alice mencoba masa bodoh dengan nasibnya sendiri, nyatanya ia tidak bisa melakukan hal itu. Ada janin yang ia kandung dan perlu ia pikirkan keselamatannya.
"Sebuah pertanyaan sebenarnya memang selalu membutuhkan jawaban, bukan Alice? " Luiz terkekeh geli melihat ketakutan yang mulai semakin jelas tampak di wajah Alice.
Wanita itu ternyata memiliki keberanian yang terbatas. Tak heran sebenarnya, mengingat Alice adalah wanita yang berasal dari keluarga baik-baik dan tidak pernah masuk ke dalam dunia gelap seperti yang telah Klayver alami selama ini. Bagi Alice, dunia ini pasti selembut sutra dan seputih kapas. Wanita seperti itu adalah wanita yang tidak tahu bahwa di balik dunia ini ada juga kehidupan gelap dan kejam untuk sebagian orang lainnya. Sebuah kehidupan yang pastinya akan menjadi momok tersendiri bagi wanita seperti Alice.
"Klayver pernah membunuh banyak sekali anak buahku yang paling kubanggakan. Bagiku, nyawa harus dibayar dengan nyawa. Darah harus dibayar dengan darah. Sebagaimana pepatah, dendam hanya akan bisa berakhir setelah kita mengambil sesuatu yang diambil orang lain dari kita. Karena itu, aku bermaksud untuk menghabisi Klayver atas masa lalu yang ia miliki denganku. Tidak mudah bagiku untuk membiarkan saja orang-orang yang menyenggol harga diriku dan mengganggu kehidupan bisnisku. Klayver adalah salah satu orang yang cukup berani dan cukup ***** untuk berurusan denganku! "
Alice memilih duduk di ujung sudut ranjang yang sedikit berjarak dari Luiz Martinez. Saat ini dia tak tahu harus menanggapi apa atas penjelasan yang diberikan oleh Luiz. Bagaimanapun juga, Alice tahu bahwa masa lalu Klayver memang merupakan seorang pembunuh sewaan. Dia bisa saja telah menghabisi anak buah Luiz Martinez seperti yang lelaki itu jelaskan sebelumnya.
Nasi telah menjadi bubur. Alice juga tak bisa menyalahkan Klayver sepenuhnya. Bagaimanapun juga, itu adalah karir yang dilakukan oleh Klayver sebelumnya. Hanya saja, saat ini semuanya semakin bersangkutan dan memiliki risiko yang semakin besar. Berurusan dengan Luiz Martinez merupakan sesuatu hal yang cukup sulit. Lelaki itu pasti tidak akan berhenti melakukan sesuatu hingga apa yang ia inginkan tercapai.
"Jadi, kau memang benar-benar memanfaatkanku untuk memancing keberadaan Klayver agar dia keluar sehingga kau bisa menghabisinya begitu saja? "Alice merinding melemparkan pertanyaan ini secara langsung kepada Luiz Martinez. Dia tak pernah menyangka bahwa apa yang selama ini ia takutkan benar-benar terjadi. Sekarang, Alice berhasil menjadi satu-satunya kelemahan Klayver yang dipegang oleh musuh Klayver sendiri. Alice takut jika Klqyver memiliki akhir yang tragis karena dirinya.
Luiz mengangguk kecil dan membenarkan apa yang dikatakan oleh Alie. Percuma saja untuk membantah apa yang Alice katakan jika memang sebenarnya itulah tujuan Luiz Martinez.
"Apakah akhirnya kau menyesal karena telah menikah dengan seorang pembunuh, Alice?" tanya Luiz Martinez dengan pandangan penasaran.
Alice tersenyum pasrah. Meskipun kehidupan menyerangnya dari semua sisi, dia tidak akan pernah merasa menyesal karena mengenal Klayver dan menikahinya. Bagi Alice, seseorang berhak memiliki masa lalu. Seseorang juga berhak memiliki masa depan. Karena itulah, Alice tidak ingin terlalu menghakimi Klayver dengan masa lalu yang pernah ia miliki sebelumnya. Saat ini dia hanya ingin kehidupan dirinya dengan Klayver menjadi kehidupan normal seperti kehidupan lainnya dan akan baik-baik saja selamanya. Alice tak pernah menyangka jika bahaya-bahaya masih akan tetap mengancam mereka. Ternyata, resiko seperti ini selalu ada di setiap keadaan dan situasi.
"Tidak! Aku tidak pernah menyesal mengenal Klayver selamanya, Luiz!" Alis menjawab dengan yakin. Kedua matanya menatap wajah Luiz Martinez yang kini mengeluarkan aura kegelapan dan menekan ketakutan setiap orang dalam jarak jangkau. Alice menyadari setiap kehidupan memiliki resikonya sendiri. Jika memang risiko Alice dalam memiliki rumah tangga bersama Klayver adalah menghadapi bahaya seperti ini, maka akan dia hadapi dengan berani. Alice tak ingin menjadi wanita munafik yang bisa berdiri di belakang dan takut menghadapi risiko. Memang inilah langkah yang ia ambil dari awal. Tidak ada penyesalan sama sekali di hati Alice mengenai semua ini.
Luiz bertepuk tangan dengan nyaring. Ruangan yang hening ini semakin terasa mencekam setelah Luiz berhenti bertepuk tangan. Lelaki itu mengitari seluruh isi kamar dan membiarkan kesepian menjadi teman di antara mereka. Alice hanya bisa terdiam dan dia tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi Luiz. Di dalam hatinya, Alice hanya berharap semoga Klayver tidak terpancing oleh tindakan-tindakan yang Luiz lakukan saat ini. Andai Alice bisa mengambil jalan keluar dan bisa kabur dari tempat ini, maka pasti akan ia lakukan nantinya. Yang jelas, Alice tak ingin menjadi wanita yang bisa membahayakan Klayver.
"Alice, kau memang wanita yang sangat hebat. Tidak heran Klayver memilih menikah denganmu. Padahal untuk ukuran lelaki seperti Klayver, dia adalah jenis lelaki yang sulit untuk berkomitmen dan menikah dalam kehidupan mereka. Ternyata Klayver memiliki istri yang cukup bernilai. Sekarang aku tahu kenapa Klayver memilih mengikat janji suci dengan wanita seperti dirimu!"
__ADS_1
Luiz benar-benar kagum secara tulus. Dia belum pernah melihat seorang wanita yang memiliki kontradiksi kuat dalam dirinya. Di sisi lain wanita itu lemah karena tidak memiliki kekuatan, tetapi wanita itu juga memiliki keberanian untuk membela sesuatu yang ia pikir benar. Padahal jika ditelaah lebih jauh lagi, wanita seperti Alice adalah wanita lemah yang bisa saja Luiz singkirkan sewaktu-waktu. Tetapi agaknya kenyataan itu tak membuat Alice berlindung di balik kepeengecutan dirinya. Itu adalah satu poin yang cukup bisa membuat Luiz menghargai sosok Alice saat ini.
…