
Alice berdiri penuh simpati di barisan belakang para pelayat yang mengiringi kepergian jenazah Ritz Sampson. Jumlah orang yang menghadiri pemakaman ini memang tak terlalu banyak, namun suasananya terasa sangat khidmat.
Ritz Sampson adalah seorang detektif yang hidup melajang tak menikah. Dia tak memiliki keluarga dekat. Hanya teman-teman sesama detektiflah yang mengiringi kepergian terakhirnya. Alice semakin bersimpati, detektif itu cukup ramah padanya, dan dia harus terbunuh karena suatu alasan yang tak jelas saat sedang memiliki misi membantu dirinya.
Orang menyenangkan seperti Ritz Sampson tak seharusnya mati dengan cara tragis seperti ini. Dia seharusnya berkeluarga, memiliki banyak anak, dan menikmati masa tuanya nanti. Tetapi sebuah kehidupan tak selalu berjalan sesuai dengan yang kita inginkan.
Alice telah menemui Mr. Alfreed, atasan Ritz. Dia menyampaikan rasa dukanya yang mendalam dan bersedia membayar sejumlah besar kompensasi atas kematianya. Bagaimanapun juga, karena misi Alicelah dia meninggal. Ritz patut mendapatkan sesuatu darinya.
Tetapi Mr. Alfreed menolak. Dia berkata bahwa sudah menjadi resiko mereka untuk menerima misi berbahaya. Alice hanya dibebani membayar sejumlah uang pokok yang menjadi bayaran Ritz, dan rencananya akan Mr. Alfreed sumbangkan pada beberapa lembaga amal.
Mr. Alfreed menjelaskan pembunuhan yang terjadi pada Ritz sangat rapi, tidak meninggalkan bukti sedikitpun. Hanya peluru dengan jenis merk pasaran, sehingga menyulitkan aparat mencari kebenaranya. Kemungkinan kasus ini akan ditutup sesegera mungkin, menyisakan banyak ketidak adilan yang dibungkam dengan keji.
Alice mencoba menerima semuanya. Fikiranya semakin terbuka melihat banyaknya kemungkinan buruk yang mungkin saja akan ia hadapi jika tetap melanjutkan pencarian putranya. Mungkin ada banyak Ritz Sampson lain yang terbunuh jika ia tetap menggunakan detektif lain dalam pencarian ini. Dia perlu memutar cara untuk mencari alternatif lain. Jangan ada lagi nyawa yang dikorbankan. Alice tak sangggup menyaksikan banyak kematian hanya karena dirinya.
Setelah acara pemakaman selesai, Alice kembali ke rumah Rachel. Temanya itu telah mengambil cuti hari ini untuk menemaninya. Katanya, Alice perlu seorang teman dalam keadaan rumit seperti sekarang. Alice tak henti-hentinya bersyukur karena Tuhan mengirimkan seorang teman sehebat Rachel dalam kehidupanya.
Alice ingat dulu sewaktu kematian orang tuanya karena kecelakaan, Rachel juga setia berdiri di sisinya. Saat itu usia mereka masih muda, dua puluh tahun. Dan Rachel bertindak seperti saudara bagi Alice dalam setiap tragedi yang menimpanya. Suatu hari nanti, Alice berjanji ia juga akan selalu ada untuk Rachel saat hidup Rachel mengalami guncangan.
Alice memasuki pekarangan kecil milik Rachel. Dia masuk dari pintu samping seperti biasanya. Alice terkejut mendapati Daniel telah lebih dahulu berada disini. Dia sedang mengobrol seru dengan Anna, adik Rachel yang masih berusia lima belas tahun. Mereka duduk di bangku kayu diteras rumah. Rachel memang memiliki seorang adik perempuan. Dia bersekolah di asrama pinggir kota, sehingga mereka jarang tinggal bersama. Alice tak mengira Anna akan pulang hari ini. Mungkin anak itu sedang mengambil liburan musiman.
"Hai Anna," sapa Alice ceria.
"Alice. Ya Tuhan, kau semakin cantik saja." Anna berseru riang memeluk Alice dengan erat. Rambut pirangnya yang dikucir tampak melambai-lambai ia gerakkan.
"Bukankah aku memang selalu cantik." Alice tertawa renyah. Anna, sudah seperti adik baginya.
"Tidak. Kau spektakuler. Kau seharusnya menjadi model atau artis. Aku tak terkejut jika kau memenangkan piala oscar." Anna tersenyum lucu. Wajahnya membulat seperti remaja pada umumnya.
"Oh, aku tak memiliki bakat memasuki dunia seperti itu, Anna. Aku lebih menyukai bisnis yang menantang." Alice melepaskan pelukan mereka.
"Anna, berhentilah mengganggu Alice." Rachel keluar dengan senampan biskuit panggang yang terlihat menggoda. Dia meletakkan makanan tersebut diatas meja kayu kecil disamping Daniel.
"Bisakah kau pergi kedalam, Anna. Kami perlu berbicara tentang sesuatu yang tidak seharusnya kau dengar." Rachel menunjuk Anna untuk segera masuk ke dalam rumah. Gadis itu mengerucutkan bibir tak senang, menghentakkan kaki meninggalkan mereka.
"Bagaimana pemakamanya?" tanya Rachel setelah merasa Anna sudah jauh dari mereka.
"Baik. Semuanya lancar," balas Alice duduk disisi Daniel, menggantikan tempat Anna. Alice mengambil beberapa buskuit buatan Rachel. Dia memejamkan mata menikmati sensasi lembut yang dihadirkan makanan itu dimulutnya. Rachel wanita yang hebat. Tunanganya pasti sangat beruntung memiliki wanita pintar memasak sepertinya.
"Bagaimana rencanamu selanjutnya? kau masih ingin mencari Axel?" Rachel bertanya serius.
"Masih. Aku belum memikirkan caranya. Menyewa detektif bukankah sama saja memancing bahaya? Bagaimana jika detektif yang kusewa berakhir mengenaskan seperti hari ini? Apa kau pikir aku sanggup melanjutkan hidup dengan beban mental begitu?" Alice tak bisa membayangkan jika ia harus menghadiri satu persatu pemakaman mereka.
"Aku memiliki saran. Bagaimana jika kau menggunakan jasa temanku? Dia adalah detektif yang handal. Dia memiliki keahlian menyelinap dengan sempurna. Sangat sempurna. Aku rasa, dia cukup kuat untuk bisa menyusup keamanan Anson. Mungkin dia juga bisa mengambil Axel secara sembunyi-senbunyi jika kau mau. Dia sangat hebat." Daniel merentangkan tanganya lebar, memberi jalan keluar.
"Apa kau yakin dia sanggup keluar dari misi ini dengan selamat? Bagaimana jika dia berakhir seperti Ritz Sampson?" Alice sedikit ragu.
"Aku sangat yakin dia bisa keluar hidup-hidup dari misi ini. Dia sangat ahli dalam menyelinap, Alice. Ada desas desus Anson juga beberapa kali menggunakan jasanya. Kemungkinan dia cukup dekat dengan Anson. Jadi tak akan mencurigakan jika ia mendekati Anson."
Alice tampak terlihat berpikir. Jika ini memang menjadi jalan keluar yang baik, kenapa tidak? dia harus jeli menggunakan setiap kesempatan yang ada.
"Baiklah. Berapa tarifnya, Daniel?" Mengingat keahlianya yang dipuji-puji Daniel, pasti harganya sangat luar biasa. Apalagi Anson juga pernah memakainya. Mungkin saldo tabungan Alice akan berkurang drastis setelah ini.
"Kau tak perlu membayar apapun. Aku hanya harus melakukan beberapa hal yang dia inginkan." Daniel tersenyum tulus, merasa bangga bisa membantu Alice.
"Apa yang dia maksud dengan beberapa hal? Apakah kau harus membobol situs terlarang? Atau membobol informasi illegal? Atau mengambil data penting yang merugikan?" Alice mulai emosi.
"Kau tak perlu khawatir, Alice. Yang terpenting putramu berhasil ditemukan!"
"Apakah kau akan melakukan pembobolan rekening atau semacamnya?" Alice bertanya curiga.
"Tidak. Aku tak pernah mau terlibat dengan pengalihan dana bank. Kejahatan yang mudah dideteksi. Aku hanya bermain dengan data dan informasi beberapa pihak."
__ADS_1
Pasti bukan sembarang data. Jika data itu dihargai sangat mahal, kemungkinan itu adalah informasi sensitif yang mudah menimbulkan bahaya.
"Lupakanlah, Daniel. Aku tak ingin menyeretmu terlalu jauh. Biar ku cari cara lain." Alice menggeleng lemah. Tidak. Dia tak bisa menjerumuskan Daniel seperti ini. Lelaki itu terlalu baik untuk ia manfaatkan sedemikian rupa.
"Ayolah Alice. Tak ada cara lain lagi, bukan? Aku sudah terbiasa melakukan hal ini sebelumnya. Percayalah, aku tak akan mendapatkan kerugian apapun."
"Tidak, Daniel."
"Alice, biarkan Daniel melakukanya. Kita semua tahu tak ada cara lain lagi." Rachel menyentuh siku Alice, meyakinkan temanya. Alice menoleh tak berdaya. Sorot matanya menampakkan kelelahan. Dia seolah bisa tumbang kapan saja.
"Apa kalian yakin ini cara yang paling baik?" Alice nyaris berbisik.
Daniel dan Rachel mengangguk secara bersamaan. Mereka tersenyum tulus, memahami dilema yang dialami oleh Alice.
"Berjanjilah, Daniel. Kau tak akan membahayakan dirimu sendiri." Alice menyerah. Dia menerima bantuan yang ditawarkan Daniel.
"Aku berjanji."
...
Daniel melakukan apa yang ia janjikan. Dia menyusupkan temanya untuk mencari kediaman Anson dan mencari cara mengambil Axel secara diam-diam. Alice berharap cara ini berhasil. Dia nyaris tidak pernah tidur setiap malam hanya untuk mendoakan agar putranya mampu ia temukan.
Hari berganti Minggu. Minggu berganti bulan. Tak terasa tiga bulan berlalu tanpa sebuah kabar apapun. Daniel hanya menggeleng lemah, setiap kali ia bertanya tentang perkembangan informasi putranya.
"Bahkan temanku juga tak ada kabar selama satu bulan terakhir. Dia tak bisa kuhubungi tiba-tiba."
Ya Tuhan. Ada apa lagi ini? Apakah semuanya tak bisa berjalan dengan lancar?
"Apakah ia dalam bahaya?" Alice bertanya getir.
"Entahlah, Alice. Anson memang bukan orang yang sembarangan"
Jika detektif hebat yang direkomendasikan Daniel saja tak berhasil menembus keamananan Anson, siapa lagi yang bisa? apakah selamanya Axel hanya akan menjadi kenangan bagi Alice?
Ada saat-saat dimana Alice nyaris merasa kosong. Dia melihat setiap permainan bayi di pusat perbelanjaan, membelinya sangat banyak dan menaruhnya di setiap sudut rumah. Dia berharap sewaktu-waktu Axel kembali, rumahnya telah siap menerima putranya pulang.
Alice teringat tiga boneka beruang yang ia beli di akhir minggu kemarin. Ia letakkan berjejer bersama permainan lain di ruang keluarga. Alice juga membeli aneka mobil-mobilan, membayangkan Axel pasti menyukainya.
Pernah sekali ia melihat stroller bayi dengan karakter lucu. Tanpa ragu, dia membelinya dan membawa benda itu pulang. Sepanjang malam Alice mendorong stroller kosong itu dengan air mata berlinang, menyanyikan lagu anak-anak yang ia hafalkan. Dia menatap tempat yang seharusnya terisi dengan putranya dengan penuh kehampaan.
Pernah juga saat ia melakukan jogging memutari blok, dia menemukan batu-batuan berbentuk unik. Dia menggenggam batu-batuan itu, membawanya pulang dan menghiasinya dengan nama putranya. Dia gantung benda kecil itu di depan pintu kamarnya.
Semakin lama, rumah Alice penuh dengan nuansa anak-anak. Di setiap sudut ada barang-barang bayi teronggok tak terpakai.
Rachel ikut sedih menyadari keadaan emosi Alice yang semakin kacau. Dia menatap tak berdaya pada setiap ruangan rumah milik Alice yang akhir-akhir ini dicat dengan karakter kartun di sepanjang didindingya. Katanya untuk menyambut Axel.
Rachel merasa sangat sakit. Perasaanya sesak tak terkata. Alice selalu percaya Axel akan kembali untuknya, pulang dalam dekapanya. Dia tak pernah membayangkan andai mimpi itu tak berhasil terwujud.
Bagaimana jika Axel selamanya tak akan kembali pada Alice? Bagaimana jika Alice tak tahu keberadaan Axel selamanya? Mungkinkah dia akan berhenti dan menerima kenyataan? Sanggupkah ia?
Rachel pernah ikut menangis sepanjang malam mendengar Alice menyanyikan lagu pengantar tidur untuk putranya. Dia duduk bersama setiap mainan anak-anak yang ia beli, melipat tanganya di lutut seperti anak kecil, dan mendendangkan lagu sepanjang malam. Semakin lama, suara Alice semakin lirih dan berubah menjadi isakan. Rachel saat itu merasa terpukul dengan sangat keras.
Kau tak akan pernah mengerti seberapa besar tragedi yang dialami oleh seorang ibu saat ia kehilangan anaknya. Kehidupan yang ia miliki seakan larut, mengalir tanpa arti, lenyap tanpa makna.
Nafas anak bersambung dengan ibunya. Kehidupan anak bersambung dengan kehidupan ibunya. Mereka satu kesatuan yang utuh. Jika dipisahkan, hanya akan menghancurkan yang lainya.
Alice meratap setiap saat. Dia menatap penuh pengharapan pada setiap bayi yang tak sengaja ia lalui. Dua hari lalu, Alice menggendong seorang bayi milik wanita asing dalam perjalanan pulang kantor. Dia menimangnya cukup lama dan hampir membawa anak itu pulang andai wanita asing itu tak merebutnya kembali.
Daniel menyadari tekanan yang dialami oleh Alice. Dia beberapa kali menawarkan diri untuk membawa Alice pada seorang psikolog, namun selalu ditolak. Sebenarnya wanita itu butuh penanganan yang lebih serius. Daniel takut jika tak segera diatasi, depresi yang Alice derita akan sulit dikendalikan lagi.
Sore ini, saat Alice sedang bersiap-siap pulang kerja, dia mendapat panggilan dari Rachel. Suara Rachel terdengar kalut. Sepertinya, ada masalah yang cukup serius.
__ADS_1
"Alice." Rachel setengah berteriak.
"Ya Rachel, apakah semuanya baik-baik saja?" Alice mulai khawatir.
"Apakah kau sudah dengar kabar Daniel?"
Daniel? Alice menggeleng lemah. Kenapa dengan Daniel? Bukankah pagi tadi lelaki itu masih sempat menelpon Alice dan saling melempar humor?
"Ada apa dengan Daniel?" Alice bertanya curiga.
"Daniel ditangkap polisi. Dia ditahan siang ini dengan tuduhan melakukan cyber crime. Dia dituntut karena menyebarkan informasi rahasia yang merugikan banyak pihak."
"Ya Tuhan ... di mana dia ditahan?"
Rachel menyebutkan sebuah alamat kepolisian. Alice segera mengambil tasnya dengan tergesa, dan menuju kesebuah alamat yang diberikan Rachel. Mereka berjanji untuk bertemu disana.
Setelah satu jam melakukan perjalanan dengan kecepatan yang tinggi, Alice berhasil tiba di tempat tujuan. Dia melihat Rachel yang melambai dari depan halaman kantor polisi. Sepertinya temanya itu telah berhasil tiba lebih dulu darinya.
"Bagaimana Daniel?" tanya Alice khawatir.
"Dia dan pengacaranya sedang diintrogasi. Sepertinya proses ini akan berlangsung sangat lama. Bagaimana kalau kita menunggu di kedai tak jauh dari sini. Kita perlu asupan untuk menghadapi masalah kali ini." Rachel menuntun Alice.
Waktu terasa sangat lama berlalu. Malam ini mereka tidak mendapatkan apa-apa sama sekali. Daniel entah diintrogasi hingga jam berapa. Setiap kali mereka memaksa bertemu, selalu ditahan oleh petugas.
Mereka terpaksa menghabiskan satu malam penuh di motel kumuh terdekat. Setelah pagi menjelang, barulah mereka diijinkan untuk menemui Daniel di sebuah ruang khusus. Alice menatap sedih melihat Daniel memakai pakaian tahanan.
"Aku baik-baik saja, tidak perlu cemas," katanya menghibur.
"Berhentilah berbohong, Daniel. Bagaimana ini bisa terjadi?" Alice bertanya terus terang.
Daniel terdiam cukup lama. Sepertinya dia sedang menimbang-nimbang kemungkinan untuk memberikan penjelasan.
"Ini tentang Anson," katanya lirih, berhati-hati agar pembicaraan mereka tak terdengar. Meskipun ruangan ini hanya diisi oleh mereka, namun bukan hal yang mustahil jika dipasang alat perekam. Daniel harus berhati-hati agar pembicaraan mereka tetap aman.
"Ada apa?" tanya Alice lirih.
"Temanku telah meninggal. Anson cukup lihai menyadari niatnya. Dia tahu akulah yang mengirim detektif itu untuk memata-matainya. Dia mengutus seseorang untuk membongkar kejahatan lamaku dan menjamin agar aku ditahan selama mungkin, sebagai peringatan bahwa kita tak bisa sembarangan bermain-main denganya." Daniel menjelaskan setengah berbisik.
Alice menutup mulutnya terguncang. Dia tak mengira akan berakhir seperti ini. Bagaimana mungkin Daniel justru dijebak oleh Anson?
"Aku tak apa-apa. Kemungkinan aku hanya akan ditahan tujuh tahun. Sidangku akan dimulai lima hari lagi dan aku akan bersikap kooperatif. Anson membiarkanku hidup itu sudah menjadi keuntungan bagiku. Yang kukhawatirkan adalah kalian. Bisakah kalian menghentikan pencarian ini? " Daniel menatap Rachel dan Alice bergantian. Kedua matanya menyorotkan permintaan harapan yang terpendam.
"Alice. Bisakah kau melupakan semuanya dan mulai dari awal lagi? Biarkanlah Anson membesarkan anakmu. Terlepas dari semua kebejatanya, dia adalah sosok ayah yang cukup baik. Berhentilah melakukan tindakan yang sia-sia. Mulailalah hidup dari awal, temukan orang yang mampu kau cintai, tak harus aku, siapapaun berhak kau pilih, dan buatlah hari baru. Milikilah anak, besarkan dia dan lupakan semua tragedi yang kita semua alami hari ini."
Alice membeku.
"Alice ... jika kau melakukan pencarian ini, hanya akan menghancurkan dirimu sendiri. Aku tak ingin ada hal yang buruk terjadi pada kalian. Aku tak bisa membayangkan jika Anson melakukan eksekusinya pada kalian." Daniel menyentuh lengan Alice lembut. Dia mencoba menguatkan diri Alice.
Alice mengerjapkan matanya. Air mata berlinang turun tak terkendali. Dia mulai menangis sesenggukan. Rachel hanya bisa memeluk dan menenangkanya dengan sabar.
Emosi Alice sudah mulai stabil saat dia merasa ponselnya bergetar. Dengan lemah, Alice menatap nomor asing yang tertera di layar.
"Halo."
Hening cukup lama.
"Apakah kau sengaja bermain denganku, Alice? sudah ku katakan jangan usik hidupku. Apakah kebaikan hatiku kurang untukmu? Dengan bahasa yang bagaimana lagi aku berbicara padamu agar kau faham? Atau apakah kau merindukan bermain denganku sehingga kau memancingku seperti ini?" Sebuah suara yang sangat ia kenal. Suara yang hingga kini mampu membuatnya bereaksi dengan hebat.
Anson.
...
__ADS_1
Maaf atas segala typo laknat yang bertebaran.