
Dua hari Violin dan Alice ditawan di rumah ini. Mereka tetap diperhatikan dan diberi makan. Meski begitu, tak ada yang memakan bagian mereka dengan habis. Violin apalagi. Dia hanya sibuk dengan pikirannya. James yang sesekali menjenguk istrinya tak bisa berbuat apa-apa. Bagaimanapun juga, semua itu karena dirinya. Violin kehilangan selera dan hasrat hidupnya secara perlahan. Pendar di matanya tak sekuat sebelumnya. Sinar wajahnya kian menggelap dan petang. Seolah-olah beban hati hanya ia rasakan seorang diri.
Penampilam Violin semakin kacau. Rambutnya tak terurus. Dia juga menolak diurus oleh beberapa pelayan yang dikirimkan oleh James. Bajunya tak berganti dari semenjak terakhir mereka memakainya. Ibarat boneka, Violin mulai terlihat rusak dan tak berfungsi. Dia menolak semua usaha orang-orang suruhan James yang berusaha untuk mengurus penampilannya. Bagi Violin, untuk apa mengurus diri jika akhir yang menunggunya adalah akhir trgagis? Itu seperti orang yang dijamu makan malam sebelum hari eksekusi. Seseorang sudah tidak mungkin merasakan hidangan enak lagi.
Violin tak tahu akan sebatas mana nuraninya bisa bertahan. Dia tak tahu sampai titik mana logikanya berfungsi. Kehilangan kesetiaan James masih terasa menyakitkan baginya. Sekuat apa pun Violin mencoba memikirkan kembali, dia selalu tak berhasil mendapatkan pemahaman. Kenapa suaminya sendiri memilih mengkhianatinya? Separah itukah dosanya hingga James memilih menyerangnya secara diam-diam? Menggunakan cara licik dan menipunya habis-habisan.
Padahal, hati Violin sudah tertambat untuk James. Jiwanya menyatu. Impiannya ia bagi bersama suaminya. Tetapi akhir yang menantinya ternyata tak sesuai dengan harapan Violin semula.
Violin mencoba bersandar pada kenyataan. Dia mencoba bangkit dan mengumpulkan serpihan-serpihan kesadaran. Tetapi percuma. Mentalnya selalu kacau setiap kali memahami kenyataan bahwa ia dibuang oleh orang yang ia cintai begitu saja.
Kenapa kehidupan bisa terasa mengolok-oloknya dengan kejam? Padahal sekejam-kejamnya Violin dia tak pernah berusaha melukai dan menjebak orang-orang terdekatnya. Violin memiliki batas kuat dalam segala hal. Keluarga adalah apa yang ia lindungi. Demi mereka, bahkan andai nyawa menjadi taruhan pun, Violin pasti melakukannya.
Tetapi agaknya takdir tak bersahabat dengan dirinya. Apa yang coba ia lakukan selama ini menghasilkan kekecewaan besar. James, orang yang paling tak mungkin menyakitinya, kini berdiri berseberangan dengan Violin sebagai musuh. Terlalu mengejutkan.
Air mata Violin telah mengalir tak terhitung berapa kali. Kesedihan yang ia miliki terasa menganak-pinak, mengalahkan kesadarannya. Hingga kemudian tiga hari setelah penawanan dirinya, Violin tak sadarkan diri. Wanita kuat yang anti ditekan, kini terkulai lemah tanpa daya. Menunjukkan kekalahan besar yang ia rasakan.
Beberapa saat kemudian setelah Violin pingsan, James datang ke kamarnya. Lelaki itu menatap lama wanita yang telah menemani hidupnya berpuluh-puluh tahun.
Rantai masih menahan lengan tangan dan kakinya. James tak bisa melepaskan benda itu dari Violin. Istrinya adalah wanita yang kuat. Dia bisa mencari celah untuk kabur andai James memberikan kelonggaran. James tak bisa melakukan itu. Dia masih membutuhkan Violin lebih lama di sisinya.
Perlahan, James meraih tubuh lunglai istrinya dan membenarkan posisinya agar lebih nyaman. Wajah Violin pucat pasi. Kelopak matanya menunjukkan lingkaran hitam. Pipinya seperti berubah tirus hanya dalam beberapa hari. Rambut dan penampilannya terlihat kusut masai tak terurus.
Perlahan, James melepaskan rantai di lengan Violin. Ada bekas kemerah-merahan melingkar di tangan dan kakinya. Bekas tersebut terlihat sedikit parah dan tampak di beberapa titik mulai menggores kulitnya dan menampakkan darah kering berupa bercak-bercak kecil.
"Bawakan aku air hangat dan kain!" James menyuruh salah seorang pelayan di rumahnya untuk mengambil apa yang ia mau. Pelayan yang terpercaya itu segera bergegas mengambil apa yang James inginkan.
Tak berapa lama, James melepaskan pakaian Violin dan menggantinya dengan baju lain yang terasa lembut dan lebih hangat untuk menahan cuaca dingin. Dia mengurus Violin dengan telaten. Dia usap secara menyeluruh tubuh istrinya dengan lembut. Wanita itu masih saja terkulai pingsan dan tak sadarkan diri.
__ADS_1
Mungkin Violin lelah. Mungkin Violin mulai menyerah. James melihat keputusasaan yang kian membesar setiap saatnya dari tatapan mata Violin. Dia sebenarnya ingin meraih istrinya dan menenangkan wanita ini seperti biasanya. Sebenarnya, di balik kekeraskepalaan yang Violin miliki, tersimpan kerapuhan yaang besar. Wanita itu hilang arah setiap kali kehilangan orang terdekatnya. Dulu, Violin pernah kehilangan Klayver. James menyaksikan sendiri kehancuran wanita tercintanya secara perlahan.
Kini, Violin akan terancam kehilangan James dan Klaver lagi. Pasti tidak mudah bagi wanita itu tetap bertahan dalam keadaan seperti ini. Siapa wanita yang cukup kuat melepaskan kepergian orang-orang terdekatnya begitu saja? Apalagi orang-orang terdekat tersebut terancam hilang dengam cara kejam.
Setelah selesai memakaikan baju, James memakikan kembali rantai tersebut di masing-masing pergelangan tangan dan kaki Violin, dan menahannya di ujung ranjang. Kali ini James mencoba melapisi lengan Violin dengan kain lembut, berharap rantai itu tak terlalu melukai istrinya.
Jujur, James masih mencintai Violin. Munafik jika ia mengatakan nuraninya tidak menberontak setiap kali memikirkan akan menghabisi Violin. Wanita itu sudah menjadi bagian dari hidupnya. Menjadi separuh jiwanya. Mereka memimiliki kenangan-kenangan indah di masa lalu. Dari hal-hal kecil hingga hal-hal besar. Semua itu masih membekas kuat di benak James.
Sebentar lagi, kenangan itu akan hilang. Luruh bersama nyawa Violin. James berharap semoga kematian Violin cepat dan tak menyiksa. Dia yakin Violin adalah orang yang baik. Tuhan pasti akan memberi tempat di surga. Dia akan berkumpul bersama bidadari nanti. Jauh dari James, jauh dari dunia ini.
Sementara James. Dia telah terlanjur menjual jiwanya untuk ambisi. Nuraninya mulai padam setiap saat. Dia tak ubahnya orang yang membentuk kesepakatan dengan iblis. Jika ada tempat bagi James di dimensi lain, James yakin tempatnya adalah neraka. Penuh siksaan dan kesulitan.
"Emhm …."
Sebuah gerakan pelan dilakukan oleh Violin. Agaknya wanita itu mulai sadar. Perlahan, kelopak matanya bergetar beberapa kali sebelum akhirnya membuka secara penuh.
"James?" Violin terkejut mendapati suaminya duduk tak jauh darinya. Dia merasakan ada yang berbeda. Tubuhnya terasa lebih nyaman dari pada sebelumnya. Dengan perlahan, Violin menatap dirinya sendiri dam mendapati piyama hangat dari katun telah membungkusnya dengan sempurna. Dia telah berganti baju setelah tiga hari tiga malam mengenakan baju yang sama.
Tak jauh dari Violin, ada baskom kecil berisi air dan kain yang sepertinya baru saja digunakan. Violin menatap baskom itu sedikit lama dan menebak James telah mengurusnya.
"Kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau tak membiarkan aku begitu saja?" tanya Violin tak mengerti.
James telah melukainya dengan sangat dalam. Untuk apa lelaki itu tetap memperhatikan Violin untuk hal-hal kecil seperti ini?
James sekarang menjadi orang yang penuh kontradiksi. Dia melakukan sesuatu yang sering kali bertentangan dengan tujuannya.
"Karena aku tak ingin melihatmu kacau dan kalah!" James menjawab jujur. Matanya menyorot dalam, seolah memiliki luka sendiri setiap kali melihat istrinya menyerah.
__ADS_1
"Kau sudah mengalahkanku secara telak, James. Kau sudah melakukan banyak hal kejam terhadapku. Bukankah itu yang kau harapkan? Bukankah kau seharusnya merasa menang melihatku terpuruk dan kacau?" Sebuah protes keluar dari bibir Violin. Wanita itu sudah lelah secara psikis. Dia tak sanggup lagi jika harus berdebat terus dengan James.
"Ya. Tapi aku tak suka melihatmu menyerah dan kalah. Bisakah di akhir hidupmu ini kau menunjukkan harga diri tinggi? Sehingga kau nanti akan menyambut maut dengan jiwamu yang kuat?" James menatap langit-langit ruangan.
Selama pernikahan mereka, James selalu ingin melihat wanita itu kalah olehnya. Dia ingin menjadi orang yang dominan. Dia ingin menjadi yang nomor satu. Dia ingin dijadikan kiblat.
Nyatanya, setelah semua itu terjadi, ada rasa sakit tersendiri bagi James melihat Violin yang terpuruk mengenaskan. Ada rasa tak terima yang kuat di lubuk hatinya. Dia ingin entah bagaimana caranya, James kembali meraih Violin dan membuatnya bangkit kembali. Wanita itu sudah lama menjadi candunya. Dia masih saja menjadi kelemahan James. Memikirkan Violin selalu berhasil membuat James merasakan pertentangan hati.
"Aku sudah lelah, itulah kenyataanya. Untuk apa aku berpura-pura kuat dan merasa menang?" Violin terkekeh kecil. Air mata kembali mengalir dari sudut mata. Bibirnya tertarik membentuk seringaian sinis. Inilah kekalahan yang sebenarnya. Membuat Violin semakin lemah dan tak berdaya.
Ada sesuatu yang memukul rongga dada James ketika melihat air bening itu mengalir pelan di pipi wanita yang masih menjadi istrinya. Air mata yang jarang James lihat dalam hidup Violin. Kini, air mata itu mengalir karena dipicu oleh James sendiri.
"Kenapa kau melakukan ini padaku, James? Dosa apa yang aku miliki dalam hidupmu sehingga kau membalasku dengan cara seperti ini?" tanya Violin secara retoris.
James hanya diam. Dia mengerti semua protes yang coba ditanyakan oleh Violin. Mungkin jika James berada dalam posisi yang sama, dia akan menanyakan hal serupa juga.
"Terkadang, seseorang tak perlu melakukan dosa untuk mendapatkan banyak kesulitan dalam hidupnya. Kau hanya tidak cocok denganku, Violin. Kau terlalu dominan dan keras. Aku tak bisa terus melanjutkan pernikahan kita kecuali hanya akan berdiri sebagai seorang pengecut yang menyedihkan. Maaf, Violin. Aku memilih untuk menjadi pemenang dan menyingkirkanmu. Kuharap kau bisa pergi ke surga nanti dengan tenang. Kau adalah wanita yang luar biasa. Pasti mudah bagimu untuk mendapatkan tempat yang layak."
Violin terdiam lama. Matanya masih saja mengalirkan air bening. Cahaya matanya masih belum kembali. Dia terjebak dalam kekalahan yang lebih besar lagi. Pengakuan James tak ubahnya seperti pukulan kuat untuk Violin.
Dengan penuh kepedihan, Violin menatap netra suaminya. Dia menelan ludah beberapa kali. Bibirnya bergetar sebelum akhirnya mengatakan sesuatu.
"Tetapi aku menginginkan tempat bersamamu. Seburuk apa pun tempat yang akan kau lalui, aku ingin menjadi wanita yang mengikutimu. Kau sudah menjadi rumahku, James. Bagaimana bisa aku pulang ke tempat lain yang tak ada dirimu di sana?"
James membeku. Dia berhasil menemukan setitik reaksi cinta dari istrinya. Cinta yang kini coba ia khianati habis-habisan.
…
__ADS_1