Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
039 - SEASON 2


__ADS_3

Alice menatap Klayver dengan ketidakmengertian. Apa yang telah Klayver katakan berada jauh di luar dugaan Alice. Dia menghitung satu sampai sepuluh dalam hati, berharap apa yang ia dengar adalah bentuk kesalahan dan akan disadarinya secepat mungkin.


Namun, bahkan sampai Alice mengitung hingga dua puluh, Klayver masih tetap saja menatapnya tajam.


"Itulah persyaratanku," ucap Klayver ringan.


Alice terbelalak lebar. Oh, pendengarannya memang masih berfungsi baik. Klayver menginginkan anak? Benar-benar anak yang bisa bernafas dan bergerak?


"Kau ingin aku memberimu … anak? Anak dalam arti secara harafiah? Anak yang sesungguhnya?"


Klayver menangkap kebingungan di manik mata Alice. Dia mengangguk kecil, memahami kekagetan yang dipancarakan oleh istrinya.


Klayver sudah memikirkan semua ini. Dia menimbang-nimbang dari semua sudut dan mrngambil kesimpulan bahwa ia akan lebih baik menciptakan kesepakatan dengan Alice.


"Alice, aku adalah seseorang yang berasal dari latar belakang kelam. Memiliki sisi yang tidak selalu diterima oleh orang lain. Berapa persen orang di dunia ini mampu menerima dengan baik seorang pembunuh bayaran sepertiku?"


Ditambah dengan riwayat keluarga Klayver yang dominan dan memiliki kekuatan. Semua itu mudah mengintimidasi orang lain. Sulit mencari wanita yang tulus menjalin hubungan dengannya.


Klayver telah lelah dengan wanita yang dangkal. Kebanyakan dari mereka yang mendekatinya, hanya karena melihat fisik, uang, ataupun kekuatannya. Tidak ada dari mereka yang berani memahami seluk beluk dirinya secara utuh dan tetap berdiri dengan semua kemungkinan terburuk.


Contoh kecilnya adalah Holy. Setelah Klayver memberikan semua kepercayaan dan emosinya hingga tak bersisa, wanita itu tetap saja memilih pergi, menolak hidup bersama seorang lelaki yang memiliki latar belakang kelam.


Wanita baik-baik akan menjauh darinya, merasa seolah ia adalah bahaya terselubung. Wanita jal*ng akan menempel padanya, seperti benalu yang menyesap semua sari manis yang Klayver miliki. Kedua jenis wanita itu lama-lama membuat Klayver merasa muak.


Tetapi, Alice adalah pengecualian. Dia bukan jenis wanita jal*ng yang mengobral selangk*ngan. Wanita itu cukup berprinsip, keras kepala, dan menjaga moral.


Alice juga wanita yang cukup kuat mengimbagi semua sisi gelapnya. Dia telah melihat sendiri bagaimana kekuatan Alice keluar ketika ia ditekan oleh Violin.


Saat itu, Klayver berniat menghentikan Violin. Dia membenci ibunya melakukan semua itu persis di hadapannya sendiri. Dia baru saja masuk kembali ke ruang tengah setelah berbicara mengenai bisnis dengan Wilsen. Tak disangka di sana ibunya telah menodong pistol untuk kedua kalinya kepada Alice.


Marah. Itulah yang dirasakan Klayver. Tetapi saat ia mencoba menghentikan, Wilsen menahannya. Kakaknya bisa merasakan bahwa Violin tidak akan bertindak sejauh itu. Isyarat mata Wilsen mengungkapkan bahwa segalanya akan baik-baik saja.


Saat itu Klayver harus bertaruh dengan insting yang dimiliki kakaknya. Wilsen adalah orang yang paling mengenal Violin. Jadi ketika Angelica dan John berusaha menahan Violin, Klayver memilih menjadi pengamat. Satu-satunya yang ia percayai adalah insting Wilsen. Biasanya kakaknya tak pernah gagal menebak situasi sejauh menyangkut ibu mereka.


Selain itu, Klayver percaya jika ia menghentikan Violin, dia tak bisa menjamin ibunya tidak akan melakukan hal yang sama di masa depan. Satu-satunya cara adalah memberikan kesempatan pada Violin melakukan apa yang ia inginkan dan menuntaskan rasa ingin tahu ibunya.


Tak disangka, ia justru menekan Alice sebegitu rupa. Lebih tak disangka lagi, Alice menolak tunduk dalam tekanan tersebut dan memilih berdiri sendiri, menentang Violin dengan segenap kepercayaan diri. Dia tak menghiraukan keselamatannya sendiri maupun nasibnya yang mulai tersudut.


Jujur, melihat betapa kuatnya Alice bertahan dalam tekanan memunculkan kekaguman tersendiri di hati Klayver.


Klayver tidak pernah menemukan wanita yang siap sedia mempertahankannya dengan segala cara. Dialah yang terbiasa mempertahankan semua miliknya dari orang lain. Menyadari kenyataan ini, membuat Klayver dicekam rasa keposesifan baru.


Meskipun jika mau disadari lebih jauh, Alice melakukan semua itu karena kesepakatan awal mereka terhadap perjanjian satu sama lain.


Sialan memang. Kesepakatan itulah yang telah mendasari tindakan Alice. Dendam yang dimiliki Alice terhadap pembunuh Anson lebih tinggi dari pada keselamatan dirinya sendiri. Wanita yang cukup bodoh, tetapi patut dikagumi.


Dengan pertimbangan itu, Klayver berpikir Alice cocok untuk menjadi ibu dari anaknya.

__ADS_1


Usia Klayver sebentar lagi memasuki tiga puluh tahun. Dia membutuhkan pewaris dan menginginkan seorang putra. Jika Alice bisa memberinya anak, Klayver yakin mereka akan memiliki kehidupan yang cukup bisa dinegosiasikan.


"Bisakah kau menjelaskan maksudmu?" Alice berusaha memahami perkataan Klayver.


"Aku menginginkan putra. Sesederhana itu," ucapnya ringan.


"Maksudku kenapa tiba-tiba? Dan kenapa harus aku?" tanyanya tak mengerti.


Klayver berdiri dari ujung ranjang, menatap ke luar kamar melalui jendela. Dia mengamati pemandangan hijau yang berada di halaman bawah. Melihat semua ini, membuat hatinya sedikit nyaman. Violin selalu pintar mengatur rumah dan mendesain setiap ruangan yang ada. Termasuk desain outdoor.


"Bagaimana pun juga, aku membutuhkan seorang pewaris. Aku tak yakin ada wanita yang cukup logis untuk menjalin pernikahan dan memiliki anak hanya untuk sesaat denganku. Biasanya wanita selalu merepotkan. Dia bisa mempersulit posisiku dan menuntut hal-hal di luar kapasitas mereka. Akan lebih baik jika aku membicarakan topik ini denganmu." jelas Klayver panjang lebar.


Alice yang mendengar penjelasan Kalyver hanya bisa tersenyum getir. Untuk sekali lagi, Klayver berusaha memanfaatkan dirinya. Hatinya sedikit tersayat.


"Jadi, kau berpikir bahwa aku kandidat yang cukup sempurna?" tanya Alice, menyembunyikan ketidaksukaannya.


Klayver menagngguk kecil tanpa menoleh sama sekali.


"Kita adalah dua orang yang saling memahami keadaan masing-masing. Tak ada kepalsuan sehingga hubungan kita lebih jujur dari pada hubungan lain yang mungkin saja bisa kulakukan pada wanita mana pun. Dan jika saatnya nanti kita berpisah, aku berjanji akan mengatur kunjungan yang cukup adil bagi kita berdua."


Kata-kata itu bagaikan belati tajam. Klayver bahkan telah mengantisipasi perpisahan mereka, sementara Alice dengan bodoh berharap kelanggengan akan ikatan mereka. Semua hal yang bertolak belakang ini membuat sebagian dari hatinya tergores secara mengenaskan.


Bagi Klayver, pernikahan mereka tetaplah sebuah kesepakatan yang berujung pada perceraian. Semua hal hanya berisi poin-poin sederhana. Seolah-olah di sini tidak ada hati yang akan tercecer sia-sia.


Emosi adalah sesuatu yang tak pernah Klayver miliki. Hidupnya bagaikan kompas, selalu melakukan hal sesuai arah dan tak pernah melenceng sekali pun dari rencana.


"Jadi kau akan membuat hubunganku dengan anak tersebut seperti hubungan dangkal orang tua part time yang mengunjungi anaknya?" protes Alice tak terima. Dia membayangkan hamil, melahirkan, menyusui, dan ditinggal pergi. Sangat menyakitkan.


Klayver sepertinya telah mengonsep hal ini cukup matang. Dia membicarakan pengaturan anak seolah-olah Alice sudah bersedia terhadap usul yang ia berikan.


"Kau menginginkan putra, bukan? Bagaimana jika aku melahirkan putri?" tantang Alice. Sinar matanya mulai menggelap. Dia mulai menilai situasi. Apakah Klayver cukup objektif untuk menerima semua kemungkinan ini?


Klayver terdiam cukup lama. Dia kembali menimbang-nimbang. Jujur, dia mengharapkan seorang putra. Dirinya membutuhkan penerus untuk bisa dibentuk sesuai kehendaknya. Tetapi jika memang Tuhan hanya memberikannya anak perempuan, dia tak keberatan juga. Setiap manusia memiliki potensi yang berbeda. Jika Klayver cukup pintar mendidiknya, entah lelaki atau perempuan, mereka akan tumbuh secara luar biasa.


"Kita coba dua kali. Jika kau tetap melahirkan anak perempuan, aku tak keberatan menerimanya. Tetapi jika salah satunya putra, itu akan lebih baik bagiku."


"Jadi jika aku langsung bisa melahirkan bayi laki-laki, kau tidak akan menuntutku memberikan anak kedua bukan?" tanya Alice mulai penasaran.


Sudut bibir Klayver melengkung, membentuk senyum kepuasan.


"Tidak. Meskipun jika kau mau memberikanku tambahan anak, aku tak keberatan untuk menerimanya." Membayangkan ini, mau tak mau membuat Klayver semakin tersenyum lebar.


"Aku tak yakin kau akan menjadi ayah yang baik. Mengingat selama ini interaksimu dengan Axel sangat buruk."


Alice mengingat hal ini. Axel dan Klayver memiliki jarak tak kasat mata yang sulit untuk mereka tembus. Mereka otomatis saling menghindar dan hanya akan bersama jika keadaan terpaksa.


Jika interaksi seperti itu yang akan terjadi antara Klayver dengan anaknya kelak, Alice tak yakin putranya bisa tumbuh secara normal. Beban psikis yang dihadapi putranya pasti sangat berat.

__ADS_1


"Alice, aku memang tak mudah berinteraksi dengan anak kecil. Kehidupan tak pernah mengajariku hal tersebut. Tetapi lebih dari semuanya, aku memiliki perhatian yang besar pada Axel. Entah kau mau mengakuinya atau tidak. Jika sesuatu terjadi padanya, meskipun itu saat kita tak lagi memiliki ikatan apa pun, aku akan tetap berdiri di pihaknya dan bersedia membunuh orang untuk putramu." Klayver menarik nafas, kembali melanjutkan.


"Kepribadianku sangat introvert. Tidak semua yang aku rasakan aku tunjukkan, Alice."


Apa yang Klayver sampaikan adalah sebuah kebenaran. Meskipun jika dilihat dari permukaan dia tak memiliki perhatian terhadap Axel, tapi jauh melampaui semua itu ia adalah pengamat yang tajam. Dia melihat anak itu, mempelajari kebiasaannya, mengetahui apa yang ia sukai dan apa yang ia benci, dan menghafalkan semua emosinya.


Klayver sudah hafal di luar kepala semua perangai tentang putra Alice. Anak itu suka sosis bakar dengan saus mayonaise, roti tawar selai kacang dengan ekstra cokelat, bubur dengan kaldu ayam dan kacang polong, serta roti gandum yang lembut buatan Susan.


Bahkan, Klayver tahu kebiasaan-kebiasaan Axel. Bibirnya akan mengerut denagn mata menyipit saat marah dan matanya berbinar dengan cekungan khas di sudut bibir ketika senang.


Semua itu telah Klayver hafal di luar kepala. Hanya saja, karena kepribadian yang terlanjur terbentuk pada dirinya, ia tak terbiasa mengungkapkan semua perhatian dalam bentuk sikap secara langsung.


"Ketika saatnya nanti aku memiliki anak, aku akan memiliki perhatian yang cukup untuk mengurusnya."


Klayver menoleh ke arah Alice, menginginkan jawaban dan kejujuran darinya.


Semenjak kematian Holy, semua tujuan hidup Klayver mulai terasa kosong. Pekerjaan adalah apa yang ia kejar mati-matian. Karena itulah ia terkenal sebagai pembunuh paling ahli dan berprestasi. Sebab ia telah sering melatih dirinya menempuh semua batas yang mampu ia pikul.


Namun, semakin lama arah hidupnya menuntut kejelasan. Tidak mungkin dia akan mengalami kekosongan seperti ini terus. Dia butuh seseorang yang bisa menerima dan menanggapinya dengan tulus. Seseorang yang tidak akan berhenti mencintai walaupun melihat semua cacat celanya.


Pernah, Klayver berharap itu adalah Alice. Tetapi kesadaran kembali menerjangnya. Selayaknya wanita baik-baik, Alice mustahil untuk bisa menerimanya.


Klayver adalah sisi gelap yang keberadaannya menjadi ancaman bagi setiap orang. Akan terlalu muluk jika ia membuat mimpi bersama dengan wanita baik-baik. Pada akhirnya, dia hanya akan menyeret Alice menuju kehancuran.


Pemikiran itulah yang membuat Klayver menginginkan anak. Seorang anak akan tetap menerima orang tuanya, seburuk apa pun mereka. Selama orang tua tersebut cukup besar memberinya kasih sayang.


Dia menginginkan anak. Amat sangat. Lebih dari apa pun juga. Apalagi setelah melihat Axel, dia jadi sering menbayangkan posisi dirinya sebagai seorang ayah.


"Bagaimana jika aku menolak, Klayver?" tantang Alice berani. Pikiran Alice mulai berkecamuk tak menentu. Dia ingin mengetahui langkah apa yang akan Klayver lakukan jika ia menolak usul ini.


"Ada dua tahap yang akan aku lakukan jika kau menolak. Pertama, aku akan memburu Daniel dan membunuhnya. Kedua, aku akan menyewa wanita lain dengan harga yang cukup untuk melahirkan anakku."


Meskipun Klayver masih belum mendapat bayangan wanita lain yang sanggup ia sewa rahimnya, tetapi jika Alice menolak, dia tak keberatan melakukan opsi tersebut. Bagaimana pun, ambisinya untuk memiliki anak sudah sangat besar untuk ia tanggung.


Alice membisu cukup lama. Jujur, membayangkan ada wanita lain yang mengandung darah daging Klayver membuat hatinya memanas. Dia membenci perandaian tersebut.


Tetapi, mengandung anak Klayver dengan kemungkinan perceraian sewaktu-waktu juga bukan hal yang bagus. Alice dihadapkan pada pilihan yang sulit.


Selain itu, Daniel juga ikut terseret dalam masalah ini. Semua keputusannya mempengaruhi banyak pihak.


"Jika aku menyetujui permintaanmu, apakah kau masih akan membunuh musuh-musuh Anson? Kita sudah cukup lama berdiam diri tanpa melakukan apa-apa." Alice mengingatkan.


"Aku akan segera mengurus masalah itu setelah kita pulang nanti. Jadi, apakah itu artinya kau setuju dengan rencanaku?" Klayver bertanya memastikan.


Alice menelan ludah dan memejamkan mata untuk sejenak. Sepertinya, dia memang akan mengambil opsi ini. Membayangkan Klayver menyentuh wanita lain benar-benar tak tertahankan.


"Baiklah. Apakah kita perlu melakukan proses bayi tabung atau semacamnya?" Alice bertanya lirih. Wajahnya mulai memerah.

__ADS_1


Klayver tersenyum penuh kemenangan dan menjawab mantap. "Aku menyukai seni tradisional, Alice. Aku ingin prosesnya alami. Kita bisa mulai melakukannya malam ini."



__ADS_2