Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
034 - SEASON 2


__ADS_3

Jam masih menunjukkan pukul 11.10 saat Alice dan Klayver berhasil tiba di bandara John F. Kennedy, New York.


Alice sedikit mual setelah menghabiskan sekitar lima jam dalam penerbangan. Dia menatap Klayver yang berjalan ringan, keluar dari bandara dengan kacamata hitam yang ia kenakan.


Sialan memang. Dalam semua kondisi, lelaki itu selalu lebih baik dari pada Alice. Dia seperti manusia sempurna yang bisa berdiri tegak tanpa terpengaruh apa pun.


Sementara Alice, terseok-seok seperti kain lusuh yang siap dibuang kapan saja. Mengenaskan.


"Kau terlihat sedikit tak baik. Bagaimana jika kita mampir di kedai kopi sebentar?"


Alice menimbang-nimbang kemudian menggeleng lemah. Waktu sudah menjelang makan siang. Akan lebih baik mereka tiba di kediaman keluarga Leicester. Dia ingin beristirahat setelah sampai di sana.


"Tidak. Kita langsung saja. Apakah kita akan mencari taksi atau ada yang menjemput kita?"


Klayver menunjuk pada salah seorang lelaki berusia paruh baya yang memegang kertas berukuran dua puluh centi meter persegi dan bertuliskam Klayver Vaquez.


"Oh, dia menjemput kita?" Alice meyakinkan diri. Alice terlalu mual sehingga tidak memperhatikan orang tersebut yang berdiri di lorong setelah pintu keluar pertama bagian penjemputan.


"Ayo," ajak Klayver menggandeng lengan Alice.


Genggaman tangan Klayver terasa kuat dan hangat di atas kulit lengan Alice. Ada sebuah getaran listrik yang merambat cepat dan membuat Avery merinding. Bahkan sentuhan sederhana Klayver terasa memabukkan.


Klayver mengangguk di depan utusan keluarga Leicester dan menyapanya datar. "Supir keluarga Liencester?"


Orang itu mengangguk, mengamati wajah Klayver secara seksama dan menyapa sama datarnya. "Mr. Vaquez?"


"Ya."


"Mari, ikuti saya."


Mr. Vaquez? Bahkan sekarang pun nama itu masih tetap dipertahakan. Tidak ada Tristan Liecester. Sepertinya baik Klayver maupun Violin cukup berhati-hati menjaga rahasia.


Mereka dibawa menyusuri jalanan New York yang sedikit lengang menuju sebuah kawasan perumahan elit. Sepanjang jalan, Alice menghabiskan waktunya untuk tidur sehingga tidak terlalu mengamati sekeliling. Dia memang sedikit terganggu setiap kali melakukan penerbangan. Istirahat akan membuatnya semakin membaik.


Setelah setengah jam lebih, supir berhenti di sebuah halaman rumah besar dengan arsitektur yunani kuno.


Klayver menepuk bahu Alice dan membuat wanita itu bangun. Dengan mata memerah, Alice menatap rumah besar di sebelah kanannya.


"Ini rumah ibumu?" tanya Alice ternganga. Melihat bagunan ini seperti terasa melihat kejayaan lama kerajaan yunani dulu.


"Sepertinya."


"Sepertinya?" Alice terlihat semakin bingung.


"Aku belum pernah mengunjungi tempat ini setelah aku pergi dari keluarga Liecester. Tetapi melihat modelnya, sepertinya ini memang jenis rumah yang disukai Mom. Seleranya tak berubah."


Bagus. Hubungan mereka sama sekali tak menunjukkan kedekatan satu sama lain. Sungguh sial Alice harus berdiri di antara mereka untuk beberapa hari ke depan.


Alice keluar dari mobil dibimbing oleh supir. Dia berjalan sedikit cepat mengikuti langkah Klayver yang lebar. Dua buah koper berukuran besar dibawa oleh Klayver dan si supir.


Rumah ini dilindungi oleh pagar teralis yang lumayan tinggi. Di sisi kiri dan kanannya ada dua buah patung di atas gerbang. Satunya adalah patung Zeus setengah badan dan satunya lagi patung Hera. Sepertinya, Violin memiliki selera yang cukup klasik.


Sebuah halaman luas dengan hiasan tanaman di sana sini menyegarkan pandangan Alice. Tak jauh darinya, ada dereran tanaman kaktus yang tertata rapi di sebuah lahan khusus dengan rumput lembut berwarna hijau.


Deretan aneka macam bunga, seperti geranium dan baby breath tampak indah tertata di atas pot-pot gantung. Di sudut lain, ada juga magnolia yang tumbuh mempesona.


Di tengah-tengah, ada jalan setapak yang dihiasi bebatuan kecil memutar setengah lingkaran menuju pintu utama.

__ADS_1


Bagian depan rumah dihiasi tiang-tiang besar dengan ukiran rumit di setiap permukaan. Di tengahnya, ada pintu utama dari kayu maple yang dipernis secara sempurna.


Sang supir yang memperkenalkan diri sebagai Leon, membimbing mereka memasuki ruang depan yang juga merupakan ruang utama.


Ruangan ini memiliki luas yang bisa menyamai ruang rapat dalam kantor Alice. Ada tiga set kursi kulit dan kursi berlapis beludru yang tersebar di titik utama.


Lukisan-lukisan terkenal menghiasi dinding bercat cream. Vas-vas antik berjejer sempurna di bawah tangga melingkar. Sisi-sisinya mengkilap, seolah menunjukkan seberapa tinggi nilainya.


Alice berdecak dalam hati. Secara keseluruhan, Violin adalah wanita yang memiliki seni tinggi dalam memilih dekorasi dan perabotan. Sesuatu yang ia turunkan pada Klayver.


Indah, tapi tak berlebihan. Mahal, tapi tak mencolok.


Bagaimana mungkin orang dengan daya seni setinggi itu adalah orang yang kejam dan terjebak dalam dunia hitam. Kehidupan sering kali mengecewakan kita. Tidak selalu penilaian kita hanya bersandar pada daya tangkap visual sesaat.


"Klayver?" Violin berjalan dari ruang dalam dengan langkah-langkah teratur. Kakinya yang panjang bergerak sigap dan cepat.


"Kalian sudah datang?" Violin bertanya ringan. Sinar matanya datar, seolah tak memiliki emosi. Persis seperti Klayver. Benar-benar gen yang sempurna.


Jika pun Violin bahagia atas kedatangan mereka, dia pasti telah menyembunyikannya dengan rapi. Seolah-olah emosi adalah sebuah aib yang pantas ditutupi.


"Seperti yang Mom lihat," kata Kalyver dingin.


Violin kali ini mengenakan pakaian santai dengan atasan rajut berwarna biru dongker dan celana kain putih gading. Rambutnya yang berwarna cokelat gelap disanggul tinggi, menampakkan anting indah berbentuk bintang di telinganya.


Mata Violin yang sewarna dengan mata Klayver menatap mereka dengan cermat. Pandangan ini mengingatkan Alice dengan tatapan predator di alam bebas. Sesuatu yang patut untuk mereka waspadai.


"Kau ingin beristirahat dulu atau langsung ingin bertemu dengan Dad? Saudara-saudaramu baru akan tiba saat jam makan siang nanti."


Violin menjelaskan. Wajah cantiknya yang terpoles make up sederhana menguarkan aura dominasi yang kuat. Lama-lama jika Alice terus berada satu ruangan dengan orang-orang seperti ini, dia akan mengalami tekanan mental yang cukup parah.


"Baiklah. Ikuti Mom!" seru Violin dengan sebuah senyum kecil. Dia mengarahkan mereka melewati lorong panjang dan menyusuri tangga lain yang berada di ruang tengah.


Alice sudah tak terlalu mengamati semua detail-detail furniture setiap ruangan yang ia lewati. Pikirannya sibuk menantikan kamar tidur nyaman yang Violin janjikan. Kepalanya sudah terlalu berat untuk tetap sadar.


Di lantai atas, Violin mengarahkan mereka ke sebuah kamar yang terletak dua ruangan dari anak tangga terakhir. Dia membuka pintunya dan mempersilakan mereka untuk beristirahat. Klayver menyeret koper ke ujung ruangan. Di belakangnya, Leon menyerahkan koper lain milik Alice.


Kamar ini sangat luas. Lebih luas dari pada kamar yang di tempati Alice di Manhattan. Tempat tidur bertiang besar terbuat dari kayu maple tampak mempesona. Seprainya berwarna emas selembut sutra.


Di salah satu sisi, terdapat jendela raksasa dengan gorden putih polos berenda yang ujungnya diikat. Lantainya dari kayu ek. Permukaannya halus dan hangat.


"Beristirahatlah," saran Violin meninggalkan mereka berdua.


Tanpa menunggu konfirmasi dari Klayver, Alice segera membuka penutup tempat tidur dan menjatuhkan diri di atasnya. Kelembutan membungkusnya dengan sangat hangat. Dia memejamkan mata dan langsung tertidur dalam hitungan detik.


Klayver merapikan koper, dan menata isinya di sebuah lemari kayu mahoni di ujung kamar. Dengan gerakan sistematis dia mengosongkan isi koper hanya dalam beberapa menit.


Setelah selesai, Klayver menatap Alice sekilas dan berlalu keluar kamar. Dia menyusuri tangga, berjalan lurus melewati lorong dan berhenti di sebuah ruangan yang terdengar suara Violin secara samar-samar. Instingnya masih bekerja dengan sempurna. Dia bisa menebak ruangan mana yang sekiranya menjadi ruang pribadi orang tuanya.


Klayver membuka handle pintu, menatap dua orang dewasa yang tengah membicarakan sesuatu dengan serius.


Menyadari kedatangannya, mereka berdua menoleh ke arah Klayver dan memandangnya penuh arti.


"Hai Tristan? Ataukah aku harus memanggilnu Klayver sekarang? Selamat datang kembali dalam keluarga ini." James, lelaki yang telah menjadi ayahnya menyapa hangat dan merentangkan tangan lebar-lebar. Secara simbolis menyambut kepulangannya.


Dad masih tampak sama seperti delapan tahun lalu saat Klayver meninggalkannya. Tekstur wajahnya yang tampan terlihat jelas. Hanya terdapat gurat-gurat samar yang menunjukkan usia tuanya.


Rambut Dad yang tadinya hitam, berubah menjadi keputih-putihan. Tetapi itu justru menguatkan sosoknya. Usianya yang telah memasuki enam puluhan, usia yang tak jauh dari Mom, membuat sinar matanya dipenuhi sorot kebapakan.

__ADS_1


Dibandingkan dengan Mom, James jelas memiliki sisi kehangatan khusus yang lebih besar dari Violin. Emosinya lebih bisa dibaca dan ditangkap. Cara berbicaranya juga lebih ramah, tidak berjarak seperti istrinya. Emosi Violin dan James seperti es kutub dan sinar mentari musim panas. Sangat bertolak belakang.


"Hai, Dad. Bahkan hingga usiamu menua, kau masih bisa bertahan menghadapi Mom," sapa Klayver berjalan mendekati mereka.


Klayver menjatuhkan diri di depan mereka di atas sebuah sofa lembut berwarna hitam. Ruangan ini adalah ruang kerja ayahnya. Ada rak dokumen besar di sudut dan seperangkat komputer di atas meja Dad. Tak jauh dari sisinya, lemari file diletakkan menyatu dengan dinding.


"Dia adalah aset berharga yang tak mungkin kubiarkan pergi," sahut Mom tertawa kecil. Dia sama sekali tak tersinggung oleh kata-kata anaknya.


"Kau telah memilih dipenjara oleh iblis wanita," balas Klayver kemudian.


"Hidup adalah tentang penjara, bukan? Ada yang memuja moral, maka ia terpenjara dalam moralits. Ada yang memuja cinta, maka ia terpenjara menjadi budak cinta. Ada yang memuja kekuasaan, maka ia terpenjara dalam sistem. Sayangnya, aku memuja ibumu. Jadi memang sudah selayakya ditawan dalam kuasanya."


Dad beropini. Dia merangkul pinggang istrinya dengan mesra. Sentuhannya mengungkapkan tentang cinta yang mendalam. Tak perlu ditanyakan lagi seberapa besar James mengagumi istrinya. Andai Violin adalah kepercayaan, maka James akan suka rela menjadikan wanita ini sebagai agamanya.


Klayver menyandarkan tubuhnya ke ujung sofa dan bertelekan dengan sebuah lengan. Kedua kakinya ia julurkan. Satu kaki ia silangkan di atas kaki lainnya. Gayanya santai. Tetapi baik Violin maupun James menyadari tidak ada yang namanya santai jika menyangkut tentang putra kedua mereka.


"Bagaimana kabarmu selama ini, Klayver?" Setelah menimbang-nimbang, Villan memutuskan untuk memanggil putranya dengan nama tengah. Tak ada lagi Tristan di antara mereka.


"Apakah aku perlu berbohong padamu, Dad?"


"Tidak. Katakan saja yang sesungguhnya."


"Aku telah menjadi buronan dua belas negara saat ini. Satu-satunya keberuntunganku adalah belum ada yang tahu bahwa eyes evil adalah aku. Jika informasi ini bocor, yah kemungkinan kau akan menerima abu kematianku sebentar lagi."


"Tidak akan ada abu kematian. Di keluarga kita, tidak ada sistem kremasi. Aku lebih suka memakamnkan jasadmu dengan peti yang indah dan berukiran rumit. Itu lebih baik."


"Violin, kumohon," potong James tak menyukai lidah tajam istrinya sendiri. Meskipun James menyadari seberapa besar kasih sayang istrinya pada Klayver, tetapi sering kali wanita ini tak bisa mengontrol diri sehingga kata-katanya terkesan menyakitkan.


"Aku tak terlalu suka dengan peti mati, Mom. Kesannya terlalu mendramatisir." Klayver berkata ringan, sama sekali tak keberatan dengan komentar Violin.


"Berhenti membicarakan kematian. Kau baru saja kembali dan aku tak suka memperumit masalah. Dengarkan aku, Klayver. Kau tetaplah putraku. Darah dagingku. Mulai saat ini dan seterusnya, apa yang keluarga ini miliki adalah apa yang kau miliki juga. Jika kita harus menghancurkan dunia untuk melindungimu, maka akan kita lakukan!" James berkata tegas.


Jarang yang mengetahui kekuatan sebenarnya keluarga ini terletak pada James. Meskipun Violin adalah penggerak utama keluarga dan mengambil hampir setiap keputusan, tetapi jika tak diijinkan oleh James, dia tetap tak akan bergerak.


Ibarat sebuah tubuh, Violin adalah tangan dan kaki. James adalah jantung. Lelaki itu hanya turun tangan di saat-saat kritis tetapi jika sudah terjun langsung, kekuatannya bisa meluluh lantakkan semua orang. Lebih dari semuanya, wajah yang memiliki kehangatan ini adalah topeng yang paling kejam. Jika dia mau, James memiliki jiwa iblis seratus kali lipat dari pada Violin. Kekuatan sebenarnya sangat menakutkan.


Hanya Klyver dan Violin-lah yang menyadari kekuatan sejati miliki James. Putra-putri mereka yang lain, selalu menganggap Dad adalah orang hangat dan pasif. Sangat jauh dari Mom.


"Aku tak terlalu suka bergantung pada kekuatan orang lain, Dad. Aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri. Jangan terlalu ikut campur."


Baik James dan Klayver, mereka memiliki harga diri tinggi. Ada batas yang mereka tarik satu sama lain. Dan inilah yang telah Klayver tetapkan sebagai batas.


"Kami bukan orang lain. Kami adalah keluarga. Lupakan kesalahan masa lalu dan mari kita kembali menyatu," kata Dad mencopa diplomatis. Delapan tahun yang lalu, Violin telah melakukan sebuah kesalahan yang membuat Klayver memisahkan diri dari keluarga. James tak ingin hal tersebut terjadi lagi.


Kalyver menatap Mom dan berdecih kecil. Dia masih memiliki sedikit kebencian terhadap tindakan Violin di masa lalu. Tetapi waktu telah berlalu. Rasa sakit juga sudah mulai pudar. Dengan berat, Klayver harus mulai memaafkan ibunya dan menyambung hubungan baik.


"Jangan lakukan hal yang sama pada istriku kali ini, Mom. Jika tidak, aku benar-benar akan membencimu!"


James dan Klayver menatap Violin tak suka. Sementara wanita itu hanya mengernyit kecil, merasa jengah disudutkan sedemikian rupa.


"Aku hanya sedikit penasaran. Siapa istrimu sebenarnya." Violin menaikkan bahu, mulai memikirkan sebuah rencana.


"Sayang, jangan lakukan apa pun." James mengingatkan istrinya.


"Oh, baiklah. Aku tak akan melakukan apa pun yang bisa melukai istri tersayang Klayver. Hanya sedikit perkenalan, mungkin." Violin tersenyum kecil, penuh maksud.


__ADS_1


__ADS_2