Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
155 - SEASON 2


__ADS_3

James berdiri di balik jendela kamar yang kini ditempati oleh Violin. Dia menatap langit malam yang terlihat kelam dan tak menunjukkan cahayanya sama sekali. Pikiran James mulai berkecamuk. Hatinya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan baru. Lama dia berdiri di sini dan tak melakukan apa pun. Setelah satu jam lebih, James berbalik menatap sosok Violin yang kini terbaring tidur di atas ranjang.


Satu jam yang lalu James terpaksa memberikan obat tidur kepada Violin. Wanita itu kelihatannya telah lelah selama beberapa hari terakhir ini. Dia kekurangan tidur, kekurangan makan, dan kekurangan nutrisi. James hanya mencoba membantu yang terbaik untuk violin. Dengan memberikan obat tidur, dia berharap jatah istirahat Violin akan terpenuhi lebih baik lagi.


Perlahan James berjalan mendekat ke arah Violin. Dengan kondisinya saat ini, Violin terlihat seperti Dewi. Rambutnya tergerai di atas bantal sementara wajahnya terlihat pucat tak memiliki rona merah sama sekali. Bibirnya seperti telah lama membeku. Ada garis-garis pecah-pecah di bibirnya, menunjukkan bahwa tubuh Violin akhir-akhir Ini tak terawat. Kedua lengan tangan dan kedua lengan kakinya dirantai sebegitu rupa. Dia seperti tawanan dengan kondisi yang sangat mengenaskan.


James menarik nafas berat. Melihat keadaan Violin yang seperti ini, mau tak mau membuat hati James ikut tersayat. Violin adalah wanita yang selalu tampil dengan sempurna. Dia tak pernah menoleransi terhadap setiap kekurangan yang ada pada dirinya. Tetapi saat ini, kondisi wanita itu sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Semua ini membuat James mati rasa.


Dengan perlahan, James mencoba mengusap lembut sisi wajah Violin yang kini terasa dingin. Sebuah selimut lembut tak jauh dari Violin berbaring, diseret oleh james. Dia kemudian menyelimuti tubuh Violin dengan harapan keadaan istrinya lebih baik. James tak ingin Violin mengalami gejala demam atau pun semacamnya. Meskipun pada akhirnya nanti Violin akan ia habisi, tetapi setidaknya sebelum hari itu tiba, James berusaha merawat Violin di detik-detik terakhirnya dengan baik.


Violin adalah wanita yang telah menemaninya lama sekali. Dia wanita yang sangat hebat dan luar biasa tangguh. James hanya tak ingin kehilangan Sisi itu dari Violin di saat-saat terakhir. Memang menyedihkan melihat Violin kalah. Tetapi James sudah terlanjur mengambil langkah ini. Dia tak bisa mundur dan berbalik arah secara tiba-tiba. Meskipun penyesalannya pasti akan besar nantinya, tetapi inilah jalan yang sudah terlanjur James lalui.


Jalan kegelapan memang tidak mudah. Mau tak mau setiap orang yang melaluinya harus menggadaikan semua hati nurani yang mereka miliki. Untuk bertahan dan menjadi kuat, ada banyak pengorbanan-pengorbanan yang harus mereka lakukan dengan kejam. Salah satunya adalah mengorbankan keluarga dan orang-orang terdekat mereka. Itulah yang saat ini James lakukan. Semata-mata demi mewujudkan ambisinya.


Jika suatu hari nanti James ditanya oleh seseorang apa anugerah terbesar dalam hidupnya, maka ia pasti akan menjawab dengan yakin bahwa Violin adalah anugerah terbesar dari Tuhan untuknya. Violin merupakan hadiah yang sangat luar biasa. Hanya saja terkadang kehidupan itu memiliki rahasianya sendiri-sendiri. Ada ketidakcocokan yang James miliki untuk Violin. Ketidakcocokan yang ketika dibiarkan saja akan menghasilkan hal-hal yang buruk nantinya. James dan violin adalah dua orang yang sulit untuk bersatu. Sebenarnya James adalah lelaki yang memiliki ego besar dan ambisi yang tak kalah besar. Demikian juga dengan Violin. Jika mereka disatukan, hanya ada bentrokan-bentrokan yang terjadi.


James telah berusaha bertahan selama ini. Berpuluh-puluh tahun lamanya James mencoba diam dan mengikuti cara berfikir Violin. Tetapi lama-lama, ambisi yang ia miliki tetap menuntut untuk keluar dan menuntut untuk diakui secara langsung. Pada akhirnya, James tak bisa diam saja. Dia membutuhkan sarana sehingga kedudukan dan kekuasaannya bisa diakui secara konkrit. Dan itu tak bisa terlaksana seandainya Violin masih hidup.


Karena selama Violin hidup, James hanya akan menjadi bayang-bayang yang ada di balik wanita itu. Memang untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, James harus menyingkirkan Violin terlebih dahulu.


Sulit memang jika mau diakui. Tetapi setiap hal perlu pengorbanan. James hanya menyesal Violin terpaksa mendapatkan nasib yang seperti ini. Andai Violin tidak mengenal dirinya, mungkin Violin tidak harus merasakan akhir yang seperti ini. Atau andai Violin mengenal lelaki lain yang memiliki ambisi normal dan tidak sekuat James, mungkin Violin tetap bisa hidup bahagia dengan suaminya kelak. Tetapi, kehidupan telah memiliki jalannya sendiri-sendiri. Tuhan telah menyatukan James dengan Violin. Kedua orang yang memiliki kekuatan besar dalam sebuah hubungan. Karena itu harus ada salah satu di antara mereka yang disingkirkan. Sayangnya, pihak itu adalah violin.

__ADS_1


Selain Violin, satu hal penyesalan yang masih dimiliki James adalah tentang Klayver. Putranya itu mau tak mau harus terseret dalam masalah ini. Andai saja putranya itu tidak memiliki insting yang tinggi dan kemampuan membunuh hebat, mungkin James tidak perlu memusnahkan putranya juga. Sayangnya, putranya merupakan lelaki yang sangat langka dan memiliki kemampuan yang istimewa. Itu semua membuat James mau tak mau harus menghabisi dan membungkam Klayver juga. Beruntung dia memiliki partner seperti Luiz Martinez. Dengan Partner yang seperti itu, tidak akan sulit bagi James untuk membunuh istri dan putranya


Setelah James berhasil menyelimuti Violin, dia memeriksa keadaan Violin terlebih dahulu sebelum meninggalkannya keluar kamar. Kelihatannya wanita itu saat ini cukup nyaman dengan istirahatnya. Tidak ada yang perlu James cemaskan. Dia kemudian berjalan perlahan keluar dari kamar dan menutup kembali pintu itu dari luar dengan sebuah kunci khusus.



Jam menunjukkan pukul dini hari ketika sebuah keributan mulai terjadi. Saat itu, Luiz sudah berada di kamarnya dan beristirahat semenjak satu setengah jam yang lalu. Suara desingan tembakan menbangunkannya dengan cepat. Lelaki itu keluar dari kamar tergesa-gesa dengan pistol di tangan. Dia membuka pintu dengan hati-hati dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi.


Tiga pengawal kepercayaannya telah terkapar tak berdaya di lorong kamar. Dua di antaranya terkena tembakan di dahi, sedang satu orang terkena … tunggu.


Sabetan pisau tajam persis di tenggorokannya. Nafas pengawal itu seperti unggas yang disembelih. Orang itu masih kejang-kejang selama beberapa detik sebelum akhirnya mati dengan mata yang melotot menakutkan. Lantai rumah ternoda darah. Cairan merah pekat itu mengalir, mendekati alas kaki yang Luiz pakai. Dengan risih, Luiz mundur dan berjalan menyusuri lorong. Dia perlu memastikan secara langsung siapa yang menyerang orang-orangnya malam ini. Dia butuh mengendalikan keadaan.


"JAMES!" Teriakan Luiz kali ini lebih keras.


Dooor


Dooor


Ada suara tembakan dari arah belakang. Luiz segera berlari ke halaman belakang dan melihat apa yang teejadi.


Di ruangan lain dekat dapur, Luiz kembali menemukan dua orang pengawalnya dilumpuhkan. Kali ini mereka lebih tragis. Kedua orang itu ditikam dengan kejam dengan sesuatu yang mirip belati persis di jantungnya. Mata mereka semua melotot marah, seolah ingin memberikan sumpah serapah kepada pembunuhnya.

__ADS_1


"Shenor! Shenor!" Seorang pengawal berlari dari belakang. Dia terlihat pucat pasi saat mendekat menuju Luiz.


"Apa yang terjadi? Di mana James? Apa Violin dan Alice cukup terjaga saat ini?" tanya Luiz mulai marah.


Luiz adalah orang yang selalu memegang kendali dan ingin serba tahu. Jika ada sesuatu yang di luar pengetahuannya, dia akan merasa kesal sendiri.


"Ada beberapa penyusup berpakaian hitam. Saya tak tahu mereka siapa. Mr. James Liecester tak terlihat di mana pun. Mungkin dia masih berada di kamarnya. Wanita yang anda tawan seharusnya ada yang menjaga mereka. Tetapi dengan kondisi seperti ini, saya tak yakin jika mere—"


"Diam kau! Cepat atasi masalah yang ada. Aku perlu melumpuhkan penyusup-penyusup ini!" Luiz merasa kesal kembali.


James tak ada. Violin dan Alice tak diketahui keadaanya di lantai atas. Luiz sedikit dilema. Dia ingin mengecek tawanaannya secara langsung, tetapi juga ingin melihat keadaan halaman belakang secara langsung. Keributan utama ada di tempat itu. Luiz memutuskan untuk melihat apa yang terjadi.


"Aaarrggghhhh!"


Terdengar teriakan dari salah satu pengawalnya di halaman belakang. Luiz segera menuju ke sana untuk melihat apa yang terjadi. Langkah-langkahnya cepat dan terkontrol. Bahkan dalam situasi darurat, lelaki itu cukup arogan untuk menunjukkan keanggunannya.


Halaman belakang lebih mirip dikatakan sebagai tempat pembantaian. Ada empat jasad pengawal yang tersebar di sekitar Luiz dengan penampilan mengenaskan. Mereka semua ada yang tertembak, ditikam, dan dilukai dengan pisau persis pada bagian-bagian vitalnya. Luiz meradang. Dia sangat marah jika orang-oranya mulai dibantai begitu saja. Apakah orang yang membantai anak buahnya sangat hebat sehingga pengawal-pengawal Luiz saja jadi tak berkutik seperti ini?


"Luiz Martinez. Kudengar kau mencariku. Kau menahan istriku untuk memancing keberadaanku. Jika boleh tahu, sebesar apa keberanianmu sehingga memancing amarahku?"


__ADS_1


__ADS_2