
Alice menatap cahaya samar di kejauhan. Pagi telah kembali menyapa. Sinarnya menembus celah awan dan mencoba menyentuh bumi tanpa penghalang.
Di bawahnya, pepohonan berdesir ditiup angin. Suaranya cukup kuat sehingga menembus kamar Alice yang bersekat tebal. Musim gugur sebentar lagi akan berada dalam puncaknya. Dedaunan akan semakin banyak berserakan di tanah. Meninggalkan aroma kesegaran yang khas hingga dibiarkan mengering. Atau jika tidak, para petugas kebersihan akan menjadwal anggotanya untuk melakukan piket secara bergantian membersihkan jalanan kota.
Alice mengelus lembut perutnya. Di dalam sini, ada sebuah kehidupan baru yang ia nantikan kehadirannya. Penyemangat dan peneman sepi dalam setiap malam selepas kepergian Klayver.
Ada rindu yang menganak pinak. Menginginkan rumah untuk kembali pulang. Tetapi Alice hanya sanggup diam dalam penantian.
Kehidupan memiliki semua proses. Ujian adalah hal absolut yang harus dilalui setiap insan. Sesuatu yang akan terus hadir dan melengkapi kisah hingga sempurna.
Alice berjalan keluar kamar dan menuju dapur untuk membuat teh hangat. Akhir-akhir ini perut Alice sedikit bermasalah. Kehamilan ini lebih sensitif dari pada kehamilam sebelumnya. Dia harus selalu meminum sesuatu untuk meredakan mualnya di pagi hari dengan teh hangat atau lemon tea.
Dapur masih kosong. Hari masih terlalu pagi sehingga para pelayan sibuk dengan urusannya sendiri sebelum menyiapkan sarapan seperti biasanya.
Alice membuat teh panas dengan campuran melati dan duduk di halaman belakang untuk menikmati pagi. Dia letakkan cangkir teh tersebut di atas meja kecil yang menghadap taman belakang.
Angin terasa menusuk kulit, menembus piyama katun yang ia kenakan. Tengkuknya terasa berdesir disapa suhu yang cukup dingin. Tetapi rekahan sinar mentari di luar sana membuat Alice bertahan tetap di sini. Bersanding bersama udara dingin yang menusuk tulang.
Saat Alice tengah menikmati suasana indah ini, sebuah bayangan seseorang yang ia kenal berjalan cepat ke pintu belakang dan keluar terburu-buru. Alice menajamkan matanya untuk meyakinkan diri. Sosok itu seperti Sila. Dia terlihat mengejar sesuatu seperti sedang memiliki urusan darurat.
Apa yang membuat pelayannya itu terburu-buru? Mungkinkah ada musibah keluarga atau hal-hal semacam itu? Tetapi jika benar, kenapa Sila tak memberitahunya apa pun? Dia juga tak meminta ijin.
Dengan segera, Alice berdiri dan berjalan ke ruang dekat gudang. Ruangan yang sering William gunakan untuk bersantai di pagi hari. Alice ingin bertemu kepala pelayannya saat ini.
Benar saja. Di sana, lelaki tua itu terlihat duduk penuh wibawa dengan secangkir kopi. Uap panasnya mengepul ke atas, menguarkan aroma cafein yang kuat. William selalu menyukai kopi tanpa gula. Alice bisa membayangkan bagaimana nikmatnya cairan tersebut. Tetapi berhubung dia lagi hamil, Alice hanya bisa menekan keinginannya. Tubuhnya sudah terlalu sering mendapat asupan kafein. Tidak bagus untuk janin jika ia terlalu sering mengonsumsi minuman tersebut.
"Nyonya, anda sudah bangun?" William sedikit terkejut. Dia jarang mendapati Alice bangun sepagi ini. Mungkinkah wanita itu merasa tak enak badan?
"Ya. Kupikir-pikir, bangun pagi bagus untuk kesehatanku juga." Alice duduk di samping William yang terlihat santai.
Baguslah. Usia William sudah menua. Melihatnya bisa duduk sesantai ini merupakan indikasi bahwa hidup lelaki itu cukup baik. Tanpa tekanan dan tanpa beban yang cukup berarti.
"Memang, Nyonya akan merasakan manfaatnya jika terbiasa bangun pagi bersama fajar."
"Oh ya? Tetapi sepertinya cukup berat untukku jika harus setiap hari. William, apakah kau selalu sedisiplin ini menjalani hari? Kulihat kau orang yang terakhir beristirahat dan selalu menjadi yang pertama bangun."
Dedikasi William memanglah besar. Pengabdiannya pada keluarga ini tak lagi pantas ditanyakan. Terkadang, Alice pikir tak ada yang bisa ia lakukan untuk menbalas apa yang telah William lakukan terhadap keluarga besar Mallory.
"Sudah terbentuk secara otomatis, Nyonya. Ketika seseorang telah bertekad untuk mengabdi pada suatu keluarga, dia akan melakukan apa pun untuk itu." William menjelaskan.
__ADS_1
Bagi William, keluarga Mallory merupakan tujuan hidupnya. Dulu, ayah Anson telah menolong ayahnya sehingga ia memiliki semacam hutang budi untuk ikut mengabdi pada keluarga ini sepanjang hidupnya. Setelah Anson meninggal, dedikasinya ia tujukan pada Alice dan Axel, putranya. Dua orang itu menjadi tujuan baginya saat ini.
Meskipun William tahu mungkin ia tak akan bisa menyaksikan Axel tumbuh besar karena usianya tak lagi mendukung, tetapi Willliam cukup puas menyaksikan perkembangan anak itu semampu usia mengijinkannya.
Waktu adalah musuh utama manusia. Berapa banyak rencana yang telah manusia ciptakan dan kalah karena waktu mengambil kehidupannya terlebih dahulu.
Waktu adalah alat yang bisa terputus kapan pun ia mau. Berapa juta mimpi yang dihasilkan dunia dan pupus karena waktu mengambil mereka ke alam lain.
Begitulah kehidupan. Kuasa kita dibatasi oleh sesuatu yang orang sebut umur. Sesuatu tak akan pernah abadi dalam keadaan apa pun. Meskipun banyak cerita fiksi yang memuja tentang keabadian, sejatinya semua itu hanyalah angan semu.
"William, aku hampir melupakan tujuanku mencarimu. Aku baru saja melihat Sila keluar rumah dari gerbang belakang dengan terburu-buru. Apakah dia memiliki masalah darurat? Keluarganya sakit atau hal semacam itu?"
William mengernyitkan dahinya dalam. Air mukanya berubah keruh ketika Alice menanyakan tentang topik ini. Dia seperti enggan menbahasnya
"Mungkin. Nanti aku akan menanyainya."
"Dia tidak meninggalkan pesan padamu?"
"Tidak. Belum. Mungkin keadannya cukup darurat sehingga tidak sempat mengatakannya padaku secara langsung."
Wajah William terlihat tak senang. Alice ingin mengatakan lebih banyak, tetapi melihat reaksi William yang kurang merespon, dia jadi enggan.
Alice bersandar ke sandaran kursi dan memejamkan matanya perlahan. Suasana tenang ini membawa efek tersendiri. Kantuknya mulai hinggap, membawanya ke alam tidur.
…
Di suatu tempat, seorang wanita muda duduk di kursi rendah menghadap lelaki bernama Luiz dan seorang wanita yang dipanggil Liza.
Wanita itu hanya duduk, tak berani menaikkan pandangannya. Kedua tangannya ia kaitkan di atas lutut. Berhadapan dengan Luiz selalu membuat dia merasa tertekan. Udara di sekitar menjadi berubah menegangkan.
"Jadi, kau menjamin bahwa kau bisa melakukan apa yang kukatakan dan tetap menutup mulut, bukan?" Luiz kembali menanyai wanita itu.
Kepercayaan adalah sebuah hal yang paling sensitif. Luiz selalu menyeleksi seseorang yang ia rekrut lebih mendetail dari pada Liza. Dia terbiasa hidup dalam dunia gelap di mana mengkhianati dan dikhianati adalah hal yang biasa.
Karena itulah, Luiz tak ingin menanggung resiko. Dia berhati-hati dalam menaruh kepercayaan dan tidak membiarkan seorang pun menyusup dan bermain-main dengannya.
Liza sudah lama mengenal karakter Luiz. Lelaki itu bisa saja menguji bawahannya dengan cara-cara tak masuk akal hanya untuk mencari tahu sedalam apa kesetiaan yang mereka miliki.
Liza masih ingat apa yang dilakukan Luiz saat pertama kali ia bergabung dalam organisasi ini. Luiz menyiksanya di sebuah ruangan es dingin dan membekukan tulang. Ruangan itu merupakan ruangan penyiksaan yang sangat kejam. Setiap kali Liza hampir tidak sadar, dia dipukul dengan sebuah alat seperti tongkat setrum agar kesadarannya kembali.
__ADS_1
Hal itu berulang hingga tiga hari. Luiz ingin mencoba mencari tahu sekuat apa keinginan Liza untuk bisa bertahan di bawah tekanan. Jika ia gagal dan menyerah dalam proses tersebut, nyawa Liza sudah pasti melayang dari dulu.
Bagi Luiz, nyawa orang lain tak pernah penting. Selama tujuannya terpenuhi, sebanyak apa pun darah yang ditumpahkan, semua itu sepadan.
Mungkin Luiz hatinya terbuat dari titanium. Terlalu kuat untuk ditembus dan tak akan melunak oleh apa pun juga. Nurainya hilang sejak lama. Yang ada hanya misi organisasi dan kesuksesan bisnis gelap milikinya sendiri.
Sejak Liza mengetahui hal itu, dia jadi menanam kehati-hatian yang tinggi setiap kali berhadapan dengan Luiz. Tidak mungkin Liza akan melakukan hal ceroboh secara sengaja. Karena yang menantinya hanyalah akhir yang tragis.
Melihat wanita di hadapannya sekarang, Liza jadi merasa khawatir. Seolah-olah hal buruk akan segera menimpanya. Luiz selalu menyukai hal-hal berbau penyiksaan. Mungkin diam-diam lelaki itu menyimpan kelainan jiwa yang kuat. Dengan latar belakang kehidupannya yang seperti itu, wajar baginya menjadi seorang psikopat.
"Panggil Dua orang pengawal!" Luiz memerintahkan Liza. Wanita itu segera bangkit berdiri dan melakukan apa yang lelaki tersebut inginkan. Dia mulai menebak akan ada kejadian tak menyenangkan.
Dua orang lelaki besar berbadan tegap dengan banyak tato di punggung dan wajahnya datang menghadap Luiz. Ada kekejaman di mata mereka.
Wanita muda yang melihat kedatangan mereka semakin mengerut ketakutan. Ada rasa penyesalan kecil yang mulai terbentuk. Kenapa ia harus memilih jalan ini dan mengkhianati seseorang? Jalan yang ia ambil ternyata memiliki resiko besar. Andai tahu akan seperti ini, mungkin dia tidak akan mengambil langkah ini.
Tetapi keadaan telah berbalik. Dia terlambat untuk mundur. Tidak ada jalan kembali. Mau tak mau, dia harus tetap maju dan menghadapi konsekuensi.
"Kau tahu kenapa aku memanggil kalian?" tanya Luiz kepada kedua pengawalnya dengan senyum samar. Mengetahui hal ini, Liza memilih mundur dan keluar ruangan. Luiz yang melihatnya hanya terkekeh kecil. Liza lama-lama memiliki indikasi nuraninya mulai terbangun. Luiz harus mengantisipasi sebelum akhirnya wanita itu melakukan hal-hal lain yang bisa merugikannya.
Dunia gelap adalah dunia yang penuh kekejaman. Dalam proses ini, banyak yang merasa bersalah di akhir bab dan mengalami konflik batin. Pada dasarnya, setiap orang memiliki nurani. Ada titik di mana mereka digerus oleh rasa bersalah dan memilih memutar haluan.
Itulah yang tidak disukai oleh Luiz. Dia tak suka anak buahnya memberontak hanya karena nurani. Persetan dengan nurani. Luiz tak mempercayai akan hal tersebut. Dia hanya mempercayai semua hal yang mampu menghasilkan uang dan kesuksesan instan. Masa bodoh dengan omong kosong tentang kebaikan maupun semacamnya. Yang ia tahu, prinsip kebaikan tidak akan membuat orang kaya.
"Hajar wanita itu, tetapi jangan sampai mati. Jika ia memilih menyerah dalam proses, bunuh saja dia dan berikan mayatnya pada anjing kesayanganku. Mari kita lihat seberapa kuat dia berada di bawah tekanan. Aku tak suka orang-orang yang kurekrut memiliki mental lemah dan mudah menyerah oleh keadaan."
Hanya itulah yang dikatakan Luiz sebelum akhirnya terdengar teriakan menyayat hati. Dua orang pengawal itu sibuk menghajar seorang wanita muda. Dalam waktu singkat, wajahnya tak lagi bisa dikenali. Setiap sudut wajahnya dipenuhi lebam, dengan banyak darah yang mengucur deras. Tulang-tulangnya tak lagi berada di tempat seharusnya. Sendi-sendinya dihancurkan secara total oleh dua pengawal yang tak memiliki hati.
Sila, dengan tubuh hancurnya, hanya bisa terbaring pasrah. Nafasnya mulai kenbang-kempis siap untuk berakhir kapan saja. Dalam hati, dia mulai menyesali kenapa ia memilih mengkhianati Alice dan bergabung bersama Liza hanya karena iming-iming uang. Sungguh sebuah hal yang memalukan.
Andai waktu berbalik, ia ingin bertahan dan memilih berdiri di sisi Alice. Wanita baik yang telah banyak memberinya penghasilan dan perhatian pada kehidupan Sila.
Alih-alih setia dan menjaga Alice, dia justru tertarik tawaran Liza karena iming-iming uang yang nyatanya habis dalam sekejap. Kini, tubuhnya hancur, hidupnya kacau, moralnya lenyap, dan masa depannya suram.
Menjadi bawahan Luiz adalah sebuah beban yang menggerogoti nuraninya. Sila tak ingin menghabiskan seluruh hidupnya dengan menghamba pada iblis seperti itu. Entah bagaimana, nanti, akan ia temukan cara agar tak terjebak bersama organisasi ini selamanya.
Bahkan seandainya ia harus kehilangan hidupnya sekali pun, mungkin itu lebih baik dari pada hidup dalam gelap bersama orang yang tak memiliki nurani.
Sila mengerutkan kening menahan sakit, menyerah dengan kegelapan total saat rasa sakit itu tak bisa ia tanggung lagi. Tubuhnya menyerah kalah. Memilih aman bersana ketidaksadaran.
__ADS_1
…