
Alice menjalani tiga hari kemudian dengan sikap sebiasa mungkin. Klayver telah pergi dua hari yang lalu. Meninggalkan sebuah pesan singkat dan ciuman hangat.
Masih teringat jelas dua hari lalu mereka saling memandang dalam diam. Bahasa seolah sirna. Tatapan mata saling terikat kuat, mengungkapkan betapa perpisahan ini merupakan musibah bagi hubungan mereka.
Tetapi, baik Alice maupun Klayver memilih membisu. Tidak ada tindakan apa pun yang bisa mencegah hal ini tak terjadi. Semua kejadian saling berkesinambungan dan layaknya lelaki, Klayver dituntut untuk menyelesaikan masalahnya seorang diri.
Alice bersikap hangat pada Axel dan bertindak seolah tak terjadi apa-apa. Kepada putranya, dia menjelaskan Klayver hanya pergi untuk urusan bisnis. Di depan Rachel maupun Jasmine, senyum wanita itu masih terkembang sempurna. Membuat siapa pun tak menyadari duka besar apa yang ia tanggung.
Hati Alice kosong. Semakin hampa setiap kali memandang sisi ranjang yang biasa ditempati sang suami. Tetapi semuanya hanya berhenti di situ. Tak ada apa pun yang bisa Alice lakukan untuk meredam kerinduan miliknya.
"Klayver telah membayar banyak untuk menukar jasaku dalam melindungimu. Sebagai gantinya, aku tak bisa sembarangan pergi ke mana pun dan meninggalkanmu seorang diri kecuali dalam keadaan tertentu. Dengan kata lain, aku akan menjadi bayanganmu mulai sekarang. Sebuah bayangan yang selalu mengikuti ke mana pun kau pergi. Apakah kau keberatan dengan hal itu?"
Jasmine mengungkapkan rencananya di suatu pagi saat mereka sarapan bersama. Axel tak terlihat sosoknya hari ini karena telah bermalam di rumah Rachel semenjak kemarin malam.
Sila mengantarkan sepaket puding sebagai makanan penutup dan menyela pembicaraan mereka sejenak. Alice tersenyum kecil untuk mengungkapkan rasa terimakasih. Sebagai pengganti Susan, Sila tak terlalu buruk.
"Aku tahu peranmu saat ini, Jasmine. Kebetulan setelah menikah dengan Klayver, aku jarang keluar untuk mengurusi bisnisku secara langsung. Biasanya aku mendelegasikan job lewat media elektronik kepada asistenku dan asistenku mengirimkan laporan pekerjaan padaku secara berkala melalui email atau hard copy untuk aku periksa. Jadi, kita mungkin akan sering berada di rumah ini karena aku jarang keluar. Kuharap kau tak jenuh berada di rumah sepanjang hari."
Alice hanya beberapa kali dalam sebulan turun ke lapangan untuk mengontrol bisnis. Biasanya hal itu dilakukan saat rapat bulanan dan rapat darurat jika ada beberapa masalah yang perlu penanganan darinya. Selebihnya, dia mengontrolnya lewat telepon.
Beberapa kali dalam seminggu, terkadang Alice keluar untuk memanjakan diri ataupun memanjakan Axel agar bisa berinteraksi pada lingkungan sekitar. Tetapi meskipun begitu, sebagian besar waktunya ia habiskan di dalam rumah. Entah kenapa, semenjak mengenal Klayver, jiwa introvert Alice semakin dominan.
Untuk wanita seliar Jasmine, mungkin gaya hidup Alice terkesan kuno dan membosankan. Alice tak akan menyalahkan Jasmine jika ia tiba-tiba memilih mengundurkan diri. Memangnya apa menariknya hidup terkurung di dalam rumah bersama wanita lain alih-alih menjalani kehidupan normal dan mencari hiburan layaknya wanita pada umumnya.
"Aku tak keberatan terjebak bersama introvert sejati semacam dirimu. Bagaimanapuj juga, Klayver telah membayarku mahal. Jika aku tak melakukan apa yang ia mau, namaku hanya tinggal kenangan. Kujamin saat dia pulang, pasti aku orang selanjutnya yang menjadi korban tangan dinginnya."
Jasmine telah lama mengenal Klayver. Bagi lelaki itu, pantang rekan-rekannya berlari dari kesepakatan yang telah mereka janjikan. Jika hal tersebut terjadi, Klayver hanya akan menganggapnya sebagai pengkhianat dan membereskan jasadnya tanpa ampun.
Siapa orang yang berani melanggar kesepatan dengan iblis? Hanya Tuhan yang tahu nasib tragis macam apa yang menanti musuh Klayver.
Jasmine bukan orang bodoh. Tentu saja ia tak ingin melanggar kesepakatan awal. Lagi pula, hubungan mereka telah dekat dan membentuk jalinan kuat. Persahabatan seperti itu mustahil Jasmine hancurkan begitu saja.
"Kau yakin tak apa-apa?" Alice merasa gamang. Dia kembali menatap penampilan Jasmine dari ujung rambut hingga kaki.
Tanktop tanpa bra dengan cetakan jelas di puncak dadanya. Tato kalajengking yang seolah-olah berkata 'sentuh aku dan cintai aku' persis di tengah-tengah aset milik Jasmine. Sebuah rok span hitam yang hanya berukuran beberapa centi meter membalut pinggul Jasmine dengan cara yang bahkan Alice enggan untuk mendeskripsikannya.
__ADS_1
Penampilan Jasmine terlalu … canggih? Entah kata apa yang tepat untuknya. Alice tak merasa yakin Jasmine akan betah terjebak bersamanya dalam beberapa bulan terakhir.
"Yakin. Mungkin jika beruntung, aku bisa meniru kebiasaan terpujimu dan menerapkannya dalam hidupku nantinya." Jasmine terkekeh, mulai membayangkan dirinya sendiri memakai pakaian kasual yang menyembunyikan seluruh asetnya.
Jasmine bergidik kecil. Pakaian memang didesain untuk mempercantik seseorang, tetapi pada dasarnya kecantikan wanita muncul sempurna saat ia tak memakai apa-apa.
Itu adalah prinsip yang diyakini Jasmine selama ini. Karena itulah, secinta apa pun dia pada gaun branded yang harganya mencekik leher, dia lebih cinta kepolosan tubuhnya sendiri.
Biar saja ia disebut narsis atau gila. Prinsip seseorang berbeda-beda. Sayangnya, Jasmine mengambil prinsip yang sedikit melenceng. Tubuh adalah segala-galanya bagi seorang wanita. Kecantikan adalah harga tertinggi dari kaum hawa. Dollar yang ia dapatkan mengalir dari bisnis terlarang yang menjajakan tubuhnya dan ribuan tubuh wanita lain di luar sana.
"Kau cukup menyenangkan, Jasmine." Senyum Alice terbentuk dengan sempurna. Menampilkan sebagian giginya yang terawat. Sumpah demi apa pun juga, Jasmine iri terhadap kesempurnaan Alice. Wanita baik-baik, dengan segala kecantikan, kekayaan, dan cinta yang terlalu sempurna. Baiklah, sepertinya Tuhan sedang mencoba mengolok kekurangan-kekurangan Jasmine melalui perbandingan nyata dengan Alice.
"Ada apa denganmu? Kau terlihat sedikit tak nyaman." Alice mengerutkan kening, menyadari kejanggalan yang tiba-tiba terbentuk di antara mereka.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit kesal melihat betapa beruntungnya dirimu. Kau bukan hanya memiliki kecantikan, Alice. Tetapi juga memiliki banyak hal lainnya yang menjadi impian seluruh wanita di luar sana."
Jasmine menyesap lemon tea dari gelas kristal raksasa dan memejamkan matanya untuk merasakan dalam-dalam nikmat yang lidahnya dapatkan.
Terlepas dari semua kebobrokan dirinya, Jasmine merupakan kaum wanita yang bisa menghargai setiap kenikmatan kecil yang ia dapatkan. Minuman dan sarapan khusus di pagi hari, misalnya. Tak semua orang bisa melakukan semua itu. Tak semua orang bisa mengambil kekayaan rasa yang disuguhkan dari segelas minuman.
Berapa banyak para jutawan yang menikmati kenyamanan mobil tetapi lupa mensyukuri adanya udara.
Berapa banyak kaum jenset yang mengejar mega proyek dengan dana billiunan tetapi lupa mengejar kebahagiaan kecil berupa senyuman keluarga.
Berapa banyak milliarder dunia mengoleksi kenikmatan dari ribuan selangkángan wanita tetapi mengacuhkan istrinya sendiri di rumah.
Hingga terkadang, mungkin Tuhan kesal, atau mungkin memang alam menyeleksi sendiri. Orang-orang yang terpenting di samping kita berpulang, baru saat itulah ribuan air mata berurai tanpa henti.
Namun, apa artinya air mata jika yang diambil tak akan mungkin lagi kembali? Di saat itu, banyak orang yang akan merasa sesal tak berguna.
"Benarkah aku sesempurna itu?" Alice bertanya dengan menaikkan salah satu alisnya yang indah.
"Ya." Jasmine menjawab dengan jujur. Untuk seseorang yang merasa iri, Jasmine terlihat tak keberatan memuji objek yang membuat iri secara terus terang. Pribadi wanita ini memang unik. Lain sekali dari pada wanita umumnya
"Kau hanya menilai diriku dari permukaan, Jasmine. Bagaimanapun juga, aku pernah melalui pasang surut kehidupan. Aku bersinggungan dengan banyak tragedi dan terseok-seok melewatinya. Mungkin, saat ini aku memang bahagia. Terlihat sempurna dengan semua kehidupan yang mendukung. Tetapi untuk sampai di titik ini, aku melewati ribuan kepahitan. Salah satunya adalah merasakan pedihnya kehilangan."
__ADS_1
Mata Alice meredup, menguarkan aura kepedihan. Masih teringat bagaimana dulu ia memperjuangkan Axel dan kebahagiaannya bersama Anson. Setelah kebahagiaan itu berhasil di raih, kehilangan besar menyapanya kembali. Suami dan anak-anaknya pergi dan tak mungkin kembali.
Benar. Saat ini ia bahagia. Tetapi bahkan untuk sampai di langkah yang sekarang ia titi, ribuan onak duri telah ia lewati. Bahkan, sampai sekarang pun Alice merasa hidupnya masih belum sempurna.
Identitas Klayver dan situasi yang lelaki itu hadapi membuat Alice merasa tak tenang. Bahaya bisa saja menyapa kehidupan mereka sewaktu-waktu. Layaknya pisau bermata dua, Klayver adalah sesuatu yang mudah melukai dan dilukai orang lain.
Hanya keyakinanlah yang membuat Alice percaya. Berharap suatu hari nanti, Tuhan membuat Klayver kembali pada jalan hidup yang baik. Jalan hidup yang tidak dipenuhi oleh darah.
Jika hal tersebut terjadi, mungkin saat itulah Alice merasa hidupnya telah sempurna. Untuk saat ini, keadaannya masih jauh dari itu semua. Benar ia bahagia. Tetapi bahagianya bisa terenggut sewaktu-waktu. Situasi yang ia hadapi terlalu ringkih. Tidak ada pijakan yang kuat.
"Selama manusia hidup, manusia tak akan pernah terlepas dari tragedi dan kehilangan. Begitulah hukum alam yang berlaku. Memangnya apa yang abadi dalam dunia ini?" Jasmine membalas dengan kalimat retoris. Baik Alice dan Jasmine kemudian terdiam lama. Masing-masing dari mereka terlihat merenungi sesuatu.
Dunia adalah pusat semua proses. Selalu ada pasangan dari setiap hal. Ada sedih pun ada bahagia. Ada perkenalan pun ada perpisahan. Ada pertemuan pun ada kehilangan.
Kita, hanya sekadar mahkhluk ringkih yang mau tak mau menjalani proses demi proses. Kita tak pernah tahu bagaimana akhirnya, tetapi sebuah perjalanan perlu ditempuh. Untuk itulah generasi selanjutnya akan mengenang semua riwayat kita.
"Kau benar. Setiap kesempurnaan, memiliki luka yang tersembunyi. Tak pernah ada yang sempurna dalam dunia ini." Alice membenarkan ucapan Jasmine. Baginya, saat ini yang terpenting adalah memperjuangkan setiap celah yang Tuhan berikan agar hubungannya dengan Klayver bisa bertahan lama. Entah nanti takdir akan berkata apa, yang penting Alice telah berjuang untuk itu.
Tak ada yang pasti dalam dunia ini selain perubahan. Semua hal bergerak sesuai kehendak Tuhan. Tidak semua orang memiliki akhir bahagia selama-lamanya. Hanya dongenglah yang menciptkan akhir bahagia. Pada kenyataannya, mungkin hanya dua puluh persen saja dari seluruh orang di dunia ini yang berhasil mencapai kebahagiaan sempurna.
Kebahagiaan adalah usaha dari kita sendiri. Jika kita tak menciptakannya, mustahil hal tersebut berwujud.
"Aku hanya berharap, pernikahanku dengan Klayver akan tetap baik-baik saja."
Hanya itulah harapan kecil yang dimiliki Alice saat ini. Hal yang sederhana, akan tetapi terasa tak meyakinkan.
"Kuharap demikian. Meskipun aku tak terlalu yakin di dunia ini masih ada akhir yang sempurna dan bahagia selama-lamanya. Percayalah, aku juga pernah menikah dan menyerahkan semuanya pada pada suamiku. Lihat apa hasilnya! Dia justru membunuh bayiku sendiri. Bayi yang merupakan darah dagingnya juga."
…
Selamat lebaran di #RumahAja
Lebaran kali ini sungguh istimewa ya
Salam sukses buat kalian, kawan ….
__ADS_1