Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
049 - SEASON 2


__ADS_3

Sore ini adalah sore terakhir sebelum Alice mengeksekusi Maxen dan seluruh anak buahnya pada keesokan harinya. Jam sudah menunjukkan pukul empat waktu Manhattan.


Semuanya sudah dipersiapkan. Orang-orang yang akan menghabisi anak buah Maxen telah berjaga di titik strategis yang dijanjikan. Mereka sudah dipantau mulai hari ini oleh Klayver.


Klayver juga menyiapkan orang untuk berjaga-jaga mengawasi Susan andai wanita itu menangkap sesuatu yang tak beres dan membuat hal-hal di luar dugaan mereka.


Angin semilir terasa sejuk di halaman belakang rumah. Alice duduk seorang diri, sibuk dengan banyak hal di pikirannya.


Ada sesuatu yang mengganjal. Sesuatu yang tak bisa ia abaikan begitu saja. Semua ini tentang Rachel.


Pertemanan yang telah mereka jalin merupakan ikatan kuat yang tak sembarangan diperoleh. Rachel bukan hanya teman. Dia sudah seperti saudara batin yang telah lama Alice miliki.


Situasi Rachel pasti akan sulit. Alice berhasrat menghabisi suaminya sendiri, sosok yang Rachel cintai. Sosok yang sebentar lagi akan menjadi ayah dari anaknya.


Akan seperti apa sikap Rachel setelah tahu Alice-lah orang yang telah mengincar Maxen dan memburunya? Pertemanan mereka masihkah bisa berjalan?


Alice harus bersiap-siap dengan kemungkinan terburuk. Tadinya dia berpikir akan mudah memperbaiki situasi. Tetapi mengingat cinta kuat yang dimiliki Rachel untuk Maxen membuat Alice ragu apakah Rachel bisa memaafkan niat buruknya.


Tak akan mudah bagi seorang wanita melihat kematian suaminya. Apalagi jika ia sedang dalam kondisi hamil. Kehidupan pasti akan menyisihkannya, menjadikan Rachel sebagai korban tragedi yang memilukan.


Alice berdiri dan melangkah bimbang. Dia tetap ingin menghabisi Maxen, tetapi dia tak ingin Rachel membencinya. Meskipun itu adalah hal yang sangat egois dan sedikit mustahil terjadi, tetapi Alice berniat untuk melakukan sesuatu.


Dengan impulsif, Alice mencoba menghubungi Rachel dan meminta wanita itu untuk datang ke rumahnya. Alice masih memiliki waktu dua jam sebelum Klayver pulang. Dia perlu membicarakan sesuatu dengan Rachel.


Setengah jam kemudian, Alice menyambut kedatangan Rachel seorang diri. Wajah Rachel berseri-seri bahagia, seolah memancarkan bahwa kehidupan pernikahan telah membuatnya merasakan surga.


Alice menyambut Rachel dengan sedikit rasa bersalah. Dia membimbing teamannya ke ruang kerja, mencari tempat yang sangat pribadi agar pembicaraan mereka tidak didengar orang lain.


"Bagaimana kabarmu, Rachel?" tanya Alice ringan. Dia duduk di kursi kerja berlengan tinggi, berseberangan dengan Rachel dibatasi meja kaca besar.


"Baik dan sangat bahagia. Aku tak pernah mengira cinta akan terasa seluar biasa ini." Rachel tersenyum lebar, menampilkan ekspresi tulus yang terpancar jelas.


Alice menunduk dalam. Bibirnya ia tarik membentuk senyum getir. Rachel bahagia. Sayangnya, Alice akan merusak kebahagiaan tersebut. Membantingnya menjadi berkeping-keping.


Mungkinkah surga akan marah dengan tindakannya? Tetapi itulah harga yang harus Alice bayar demi sebuah dendam. Tidak menyenangkan memang.


"Bagaimana denganmu, Alice?" tanya Rachel kemudian.


Alice merasa ragu-ragu untuk sesaat. Dia mencoba menegakkan tubuh dan menyampaikan sesuatu.


"Baik. Ada sesuatu yang perlu aku sampaikan padamu, Rachel. Sesuatu yang sangat penting. Mungkin, ini akan mengguncang hatimu."Alice berkata mantap. Dia meraih beberapa bukti copian dari laci teratas tentang kejahatan Maxen yang Klayver berikan beberapa waktu lalu dan menggenggamnya erat di tangan.


"Sepertinya itu cukup serius." Rachel mencondongkan tubuh, merasa penasaran.


Sangat jarang Alice tiba-tiba menghubunginya dan meminta untuk bertemu langsung. Rachel sudah menebak pasti ada hal-hal buruk yang tengah terjadi.


"Apakah ada masalah, Alice? Kau bisa menceritakannya padaku. Aki janji mulutku akan tertutup rapat untumu." Rachel memberi isyarat mengunci mulut dan mengerucutkan bibirnya dengan jenaka.


Alice tak berkata-kata. Dia menatap langit-langit ruangan dengan pandangan nanar. Selama ini, orang lainlah yang selalu mengambil sesuatu dari hidupnya. Baru kali ini Alice menjadi pihak yang mengambil sesuatu dari orang lain. Ya. Dia akan mengambil Maxen dari sisi Rachel, temannya sendiri.


Kehidupan kadang memang lucu. Tetapi juga kejam. Beberapa orang terjebak dalam dunia tanpa arah dan saling menyakiti satu sama lain.


Alice menatap temannya. Matanya mengandung banyak kepedihan. Tetapi aura kebencian masih melekat kuat. Kehilangan Anson telah menbuatnya kehilangan banyak sisi yang dulu ia miliki. Orang-orang itu benar. Dendam adalah awal kehancuran. Karena demi hal tersebut, kita tak peduli akan menghancurkan siapa dalam prosesnya. Jalan yang dilalui Alice adalah jalan berdarah yang tak bisa ia putar balik.

__ADS_1


Dendam itu seperti kesepakatan dengan iblis. Tumbal utamanya adalah jiwamu sendiri. Sehingga di mana-mana pelakunya akan tenggelam dan ikut terseret.


"Pembunuh Anson telah kutemukan."


Pernyataan itu membawa mereka pada keheningan panjang. Rachel menatap Alice tak percaya. Kedua bibirnya membuka dan menutup beberapa kali, seolah-olah ingin mengatakan sesuatu tetapi diurungkan.


Setelah keadaan lebih baik, Alice mendekati temannya, menyerahkan copian bukti-bukti yang ia dapatkan dari Klayver dan melontarkan pernyataan menohok.


"Maxen adalah pembunuh suamiku."


Berita itu bagaikan sambaran petir di siang hari. Hanya saja, tak ada efek menggelegar seperti di film-film. Tetapi hasilnya tetap sama besar. Menggemparkan.


Alice menyadari keadaan Rachel yang syok. Dia menjelaskan satu demi satu bukti yang ada, menggiring Rachel pada fakta sebenarnya.


Alice tahu ini tak mudah. Sulit bagi wanita menerima kabar jika suaminya adalah seorang pembunuh. Keluarga Rachel baru saja terbentuk. Kebahagiaan masih membuncah. Sekarang, semua itu hancur bak butiran pasir yang diterjang air laut.


Setelah memaparkan bukti-bukti yang ada, Rachel terlihat semakin syok. Matanya yang tadi memiliki sinar kini meredup dalam sekejap. Bibirnya bergetar pilu. Wajahnya pucat pasi. Seperti tengah dilanda tragedi paling hebat.


Rachel menangkupkan kedua tangannya, menahan kepedihan. Dia hanya bisa memejamkan mata, meresapi semuanya. Air mata mengalir turun, membasahi lantai dengan pola abstrak.


Rachel tahu apa yanh disuguhkan Alice adalah sebuah kebenaran. Dia telah mengenal Alice lama sehingga menyadari semua keseriusan mengenai masalah ini.


Anson pernah menjadi mentari utama dalam hidup Alice, sebagaimana Maxen menjadi kiblat bagi Rachel. Kehilangan Anson telah menghasilkan lubang yang amat sangat. Seperti yang telah Rachel lihat sebelumnya.


Rachel mengusap matanya yang berlinang cairan bening. Dia kembali teringat akan segala ucapan Harry. Lelaki itu mengatakan Maxen menyimpan rahasia kelam yang menggemparkan. Mungkinkah ini yang dimaksud Harry?


Maxen juga berkali-kali berkata secara tersirat bahwa lelaki itu telah lama terjebak dalam kegelapan. Sehingga terkadang lupa akan hangatnya cahaya.


Hanya saja, dalam waktu yang singkat, harapan Rachel diterbangkan dan lenyap. Apa yang telah Alice sampaikan mengubah segalanya.


"Jadi, selama ini aku hidup bersama pembunuh?" tanyanya dengan nada getir.


Siapa yang menyangka malam indah Rachel ternyata ia jalani bersama lelaki bejat yang menghabisi nyawa suami sahabatnya sendiri.


Cinta adalah hal yang unik. Seringkali ia hadir pada orang yang salah dan berkembang secara mengenaskan. Pada akhirnya, sang penikmat cinta hanya akan tersayat pilu. Menertawakan diri di sudut dunia yang terasa kecil.


"Maxen pembunuh." Rachel berkata pilu. Dia memukul-mukul meja dengan gerakan putus asa.


Apa lagi yang bisa ia harapkan dari situasi ini? Alice telah membuka mata Rachel dengan cara yang mengejutkan. Tabir itu telah terbuka. Menampakkan kecacatan Maxen yang sebenarnya.


Alice memilih membiarkan Rachel melampiaskan amarah. Wanita itu butuh menyalurkan emosi. Percuma juga kalau ditahan.


Setelah beberapa waktu, keadaan Rachel lebih tenang. Alice berdiri di dekatnya dan mengungkapkan rencana. Inilah berita yang sesungguhnya. Inti dari topik masalah yang perlu ia sampaikan.


"Besok, aku dan Klayver akan menghabisi Maxen. Aku tahu ini sulit untukmu, tetapi nyawa harus dibalas dengan nyawa. Bahkan jika aku harus menghancurkan dunia untuk membunuh Maxen, akan aku lakukan."


Rachel tersentak keras. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali, merasakan kepedihan yang mendalam.


Dengan lirih, Rachel berkata, "Kutebak Klayver pasti bukan orang sembarangan."


Suasana di ruangan ini semakin menegang. Alice menghidupkan AC dan mengatur suhunya sesuai yang ia inginkan.


"Ya. Dia cukup berpengalaman dalam hal-hal seperti ini." Hanya itulah yang mampu Alice katakan. Dia tak mungkin mengatakan bahwa Klayver adalah pembunuh bayaran, tak jauh berbeda dengan Maxen.

__ADS_1


Rahasia Klayver merupakan sesuatu yang wajib Alice jaga. Mungkin dia egois, menghakimi Maxen sebagai seorang pembunuh padahal suaminya sendiri sama kotor dengannya.


Meskipun Maxen pembunuh, asalkan ia tidak menyinggung hidup Alice mungkin tidak akan masalah. Alice tak pernah menilai dari masa lalu seseorang. Sayangnya, keadaan berkata lain. Maxen mengambil nyawa lelaki yang sangat ia cintai. Bagaimana Alice bisa bersikap baik dan tidak memburunya?


"Apakah kau akan membenciku, Rachel?" tanya Alice apa adanya.


Akan sangat disesalkan jika ia sampai kehilangan sahabat seperti Rachel. Tetapi jika ini adalah resiko yang harus ia ambil, Alice menerimanya dengan lapang dada.


"Aku tak tahu, Alice. Aku berharap, aku tak membencimu. Tetapi aku benar-benar tak tahu. Bisakah kau mengerti perasaanku? Ini semua sangat rancu bagiku."


Rachel terisak pilu. Secara nalar, dia tak pernah ingin kehilangan Alice sebagai sahabatnya. Tetapi dia tak bisa menjanjikan semuanya berjalan lancar


Ada kepedihan mendalam membayangkan Maxen dibunuh. Rachel tak tahu kekosongan apa yang akan ia temui. Tetapi ia sadar kesalahan besar yang telah suaminya lakukan dalam masa lalu Alice. Kesalahan itu pasti sulit untuk ditebus.


Rachel hanya bisa berharap hatinya cukup kuat untuk tidak membenci Alice. Bagaimanapun juga, nuraninya mulai menggedor keras. Jujur, dia tak rela Maxen terbunuh dan dibantai.


Namun, meminta maaf pada Alice juga bukan sebuah solusi. Maaf setelah darah bercecer tak akan memiliki makna. Maaf setelah nyawa tercerabut tak akan memiliki guna. Maaf setelah hidup terpupus tak akan memberi efek.


Semuanya sudah terlanjur. Takdir telah bermain. Sebesar apapun dilematis yang Rachel miliki, karma sedang berjalan dan arahnya tak bisa Rachel bengkokkan.


Hidup bisa sangat mengerikan. Rachel membenci kenyataan pahit yang ia alami. Sulit memang menerima semuanya. Tetapi itulah kehidupan. Banyak hal yang harus kita telan dalam kepahitan.


"Aku tahu pasti berat bagimu. Tetapi bisakah kau bayangkan bagaimana keadaanku dulu saat kehilangan Anson dan anak-anak? Oh satu lagi. Kau belum tahu jika kedua anakku meninggal atas perintah Maxen juga. Tadinya ia berniat menghabisi seluruh keluarga Anson tanpa sisa. Sayangnya, aku dan Axel selamat karena berhasil menghindari racun. Hanya karena Maxen berpikir aku tidak menuntut balaslah yang membuatnya membiarkan aku tetap hidup. Jika saja ia tahu aku merencanakan semua ini, baik aku dan Axel tak akan lagi menghirup nafas hingga detik ini." Alice membuat pengakuan. Dia ingin Rachel memahami kenyataan yang sebenarnya. Lelaki itu pantas dibongkar semua belangnya.


Rachel mencengkeram sisi meja. Dia menahan mual mendengar kata demi kata yang Alice lontarkan. Ada keseriusan yang sangat kuat dari temannya. Lebih dari apa pun juga, Rachel mempercayai fakta tersebut. Alice tak mungkin membohonginya. Hubungan mereka lebih kuat dari pada apa pun sehingga mustahil Alice membodohinya dengan kata-kata kosong.


Keringat dingin mulai bermunculan di tengkuk Rachel. Dia ingin menjerit meneriakkan kepedihan, tetapi duka yang ia rasakan sangat dalam sehingga suara yang bisa ia keluarkan hanyalah tangisan lirih yang menyayat hati.


Maxen membunuh Anson mungkin karena didasari suatu alasan terntu. Tetapi membunuh anak-anak bahkan bayi Alice yang baru lahir, Rachel benar-benar tak tahu alasan gila seperti apa yang mendasarinya.


Hanya iblis yang tidak memiliki nurani yang bisa mengambil nyawa bayi tak berdosa. Rachel tengah mengandung janin, dia telah merasakan keposesifan yang kuat terhadap calon anaknya. Membayangkan ada seorang bayi yang kehilangan nyawanya karena dibunuh, membuat hatinya merintih pilu. Sebagai seorang ibu, ia merasakan kepedihan atas hal tersebut.


Maxen memiliki sisi kelam yang tak pernah Rachel duga. Hatinya lebih gelap dari perkiraannya. Seperti jurang curam yang mampu menyesatkan siapa pun.


Rachel mulai berpikir dan merenung. Mungkinkah orang seperti Maxen sanggup merasakan cinta? Apakah semua kata manis yang ia akui akhir-akhir ini hanyalah omong kosong belaka.


Semuanya terlihat semakin buram. Warna-warna indah yang tadinya menarik tenggelam dalam kegelapan total. Semua kehancuran ini disebabkan oleh Maxen. Apalagi yang bisa Rachel lakukan selain melimpahkan kesalahan pada suaminya?


Hanya seorang iblis yang tidak memiliki rasa belas kasih. Membunuh anak adalah dosa yang tak termaafkan. Setiap makhluk memiliki hak untuk hidup. Perampas nyawa bukanlah hal yang bisa Rachel maafkan begitu saja.


Rachel berdiri dengan lemah. Dia membalikkan badan dan berlalu pergi. Alice hanya bisa memejamkan mata, memilih untuk tidak berkata apa-apa.


Alice tak tahu apakah memberi tahu Rachel tentang semua ini merupakan hal yang tepat. Temannya bisa saja menyampaikannya pada Maxen. Kita tak pernah tahu cinta mampu membuat orang sanggup bertindak jauh


Tetapi hati kecil Alice berharap Rachel bukanlah orang yang akan mengkhianati kepercayaannya. Dia telah mempertaruhkan banyak hal dengan tindakannya. Semoga Rachel cukup peduli padanya.


Setelah ini, hubungan pertemanan mereka bisa saja kacau dan sulit diperbaiki. Pasti ada kecanggungan dan keretakan yang kuat. Tidak pernah selamanya pertemanan akan berjalan mulus.


Di luar sana, langit mulai menguning. Matahari tersenyum kecil dalam sinar yang samar. Siluet senja terbentuk indah menghias langit Manhattan yang tak pernah mati.


Alice duduk lama di kursi kerja, kedua tangannya menopang wajah. Air mukanya keruh. Bayangan demi bayangan saling berkaitan satu sama lain.


__ADS_1


__ADS_2