
Alice merasa tak enak. Pagi ini dia hanya menyesap lemon tea beberapa teguk dan membiarkan perutnya kosong. Entah kenapa, dia merasa ditarik oleh perasaan yang sangat menyesakkan. Terutama ketika ia memikirkan tentang Klayver. Apakah laki-laki itu baik-baik saja? Atau mungkinkah terjadi sesuatu padanya yang Alice tak tahu? Semua ini menjadi semakin membuatnya khawatir.
Berada jauh dari pasangan, dalam kondisi hamil, membuatnya selalu mudah stress dan berpikiran buruk. Apalagi mengingat siapa Klayver sebenarnya. Identitas suaminya membuat ia rentan mendapatkan bahaya sewaktu-waktu. Seolah-olah kehidupan sedang mengamatinya dengan mata yang memicing untuk memberikan surprise dan kejutan buruk.
Baru satu setengah bulan lebih sedikit Alice berpisah. Tetapi waktu itu terasa sangat lama baginya. dia merasa waktu berjalan dengan sangat lambat. Seperti binatang tua yang terseok-seok karena keadaan.
Setiap hari yang terpikir Alice adalah bagaimana keadaan Klayver? Apakah dia baik-baik saja? Apakah terjadi sesuatu padanya? Sesuatu hal yang buruk? Semua itu seperti tanya yang tak terjawab.
Karena lelah dengan pikirannya sendiri, ia memutuskan untuk ke ruang bawah, menikmati angin musim gugur di halaman belakang. Axel sedang bermain dengan Helena di taman dekat rumah. Akhir-akhir ini Alice sering kali menghabiskan waktu sendiri.
"Nyonya," sapa William saat Alice tiba di akhir tangga.
"Hai, William! Bagaimana kabarmu hari ini?"
"Baik, Nyonya. Perlu kutemani?" William menawarkan diri.
"Tidak perlu. Aku hanya ingin ke halaman belakang sebentar. Oh, Jasmine di mana? Aku belum melihat wanita itu dari pagi tadi."
William tersenyum kecil, sedikit merasa bersalah. Wanita itu berpamitan akan keluar sebentar. William telah mengijinkan dan berpikir tak akan lama. Tetapi ternyata hingga kini dia belum juga kembali.
"Dia semalam berpamitan akan … emh … sedikit bersenang-senang. Sepertinya wanita itu lupa waktu." Willaim berdehem tak nyaman. Dia menatap lantai dan berpikir kira-kira di mana Jasmine berada.
"Tidak apa-apa, William. Biarkan saja. Jasmine berhak untuk bersenang-senang sesekali. Dia juga sudah terlalu sering berada di sekitarku untuk menjagaku selama ini." Alice tersenyum penuh pengertian. Untuk wanita seperti Jasmine, pasti tak mudah baginya hidup tertutup dan terlalu sering berada di rumah seperti Alice. Wanita itu butuh pelepasan untuk sesekali melihat dunia luar.
"Baik, Nyonya." William menunduk dalam dan berlalu pergi dari hadapan Alice. Dia membawa setumpuk map tentang laporan pengeluaran bulanan rumah tangga. Dia sedang berpikir untuk menambah anggaran rumah tangga untuk meningkatakan keamanan rumah. Entah kenapa, akhir-akhir ini dia merasa keamanan rumah Alice perlu ditingkatkan. Kejahatan bisa terjadi sewaktu-waktu. Alangkah lebih baik ia waspada dari dini. Biasanya insting William termasuk tajam untuk memahami situasi.
Alice berjalan pelan menuju halaman belakang dan menatap kolam yang memiliki banyak koleksi ikan. Dia mengagumi setiap gerakan makhluk bersirip itu yang berenang ke sana ke mari membuat air beriak tak beraturan.
Betapa bebasnya binatang itu. Apakah menjadi hewan membuka jalan bagi kebebasan baru? Seolah-olah hidupnya ringan dan tak ada beban. Alangkah indahnya jika manusia memiliki hal itu.
__ADS_1
Alice merenung lama. Dia duduk di pinggir kolam, meresapi angin musim gugur yang terasa sejuk. Kehidupan telah lama memberinya banyak pelajaran. Dia telah hidup tiga puluh satu tahun. Banyak warna dan hal yang ia lewati.
"Alice." Suara Jasmine mengejutkan Alice. Dia berbalik dan terkejut mendapati wanita itu berada di belakangnya dengan memakai … kemeja laki-laki?
Kedua mata Alice menyipit tak mengerti. Sejak kapan Jasmine memiliki pakaian lelaki seperti ini? Setahu Alice, seluruh koleksi pakaian Jasmine hanya berupa baju mini dan seksi yang menonjolkan tubuhnya. Celana yang ia pakai sekarang juga … seperti laki-laki.
Sebuah kesimpulan mulai terbentuk di kepala Alice. Hanya ada satu kemungkinan Jasmine memakai pakaian seperti ini. Entah bagaimana, dia pasti telah menginap di kediaman lelaki semalam dan memakai pakaian sang lelaki.
"Sepertinya kau semalam bersenang-senang." Alice tersenyum maklum, memahami apa yang terjadi semalam tanpa perlu diungkapkan oleh Jasmine.
Raut wajah Jasmine menggelap dengan tiba-tiba. Tak ada raut senang dari ekspresinya. Sepertinya malam tadi bukan merupakan malam yang baik baginya.
Jasmine menggerutu dalam hati. Andai ia tak terpaksa, mana mau dia memakai pakaian milik Daniel.
Dressnya sedang dicuci oleh Daniel. Mustahil dia akan mengenakan jubah mandi milik lelaki tersebut. Apa jadinya jika ia pulang dengan baju seperti itu?
"Semalam sedikit di luar perkiraanku." Jasmine tersenyum kecil. Dia memegangi perutnya, merasa mual yang ia rasakan dari sisa semalam kembali menjelma.
"Lupakan. Aku benar-benar tak ingin mengingat tentang hal itu." Jasmine mengedikkan bahunya ringan. Dia merasa malas mengingat tentang kejadian malam tadi. Daniel lagi-lagi menjadi topik yang ingin ia hindari. Hanya saja, terkadang yang ingin dihindari justru muncul secara terus-terusan.
"Kau sedang apa, Alice?" tanya Jasmine mengalihkan pembicaraan. Dia duduk di kursi batu di samping Alice dekat kolam, ikut menatap ikan yang tengah sibuk berenang ke sana ke mari.
"Menikmati suasana. Aku bosan di kamar saja. Axel saat ini sedang di bawa Helena ke taman kota. Sepertinya entah kenapa pagi ini aku merasa sedikit kesepian." Alice meringis, menatap Jasmine dengan pandangan menyedihkan.
Siapa wanita di dunia ini yang tidak kesepian ditnggal sang suami dan menjalani hari seorang diri? Siapa pun pasti merasa berat untuk melaluinya. Jasmine bisa memahami hal ini dengan baik. Dia menatap Alice, menepuk lenganya dengan pelan dan memahami apa yang tengah temannya itu rasakan.
Memang begitulah makna dari kesepian. Saat seseorang merasa sendiri karena fokus utama kepada orang lain telah tiada. Meskipun ketidakhadiran Klayver belum terlalu lama, bagi mereka yang menyimpan kerinduan, hal itu sudah menjadi cobaan tersendiri. Jasmine hanya bisa berharap Alice cukup kuat melewati situasi semacam ini.
"Alice, aku yakin entah bagaimana Tuhan akan mengatur di atas sana, tapi Klayver pasti akan baik-baik saja. Dia lelaki yang kuat. Bagaimana pun juga, dia cukup lihai dalam mengatasi banyak hal."
__ADS_1
Alice tersenyum kecil. Sinar matanya meredup, memikirkam sesuatu.
Sekuat apa pun manusia, sejatinya tetap saja makhluk. Tuhan menciptakan makhluk didesain mengalami banyak kekurangan di sana-sini. Tidak ada orang yang akan selalu selamat, sekuat apa pun dirinya. Setiap orang hanya membawa keberuntungannya sendiri. Alice berharap, keberuntungan yang dimiliki suaminya tidak akan habis tergerus jaman.
Tidak ada hal yang abadi. Setiap sesuatu diciptakan memiliki dua sisi. Kuat dan lemah. Kelebihan dan kekurangan. Mustahil seseorang hanya memiliki sisi kuat saja tanpa memiliki kelemahan. Begitulah hukum di dunia ini untuk menstabilkan alam.
"Aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuknya setiap hari sesuai yang aku mampu, Jasmine. Hasil akhirnya selalu berhenti pada Yang Kuasa. Di sini, peranku hanyalah sebagai seorang istri dan seorang penunggu. Jika ia pulang, aku akan menyambutnya kembali. Jika tidak, maka Tuhan yang akan menyambut dirinya. Bukankah begitu? Tidak ada hal yang pasti di dunia ini, sekali pun aku berharap sebaliknya. Aku hanya mencoba untuk bersikap realistis."
Memang demikianlah fungsi Alice sesungguhnya. Dia tak lebih dari sekadar penunggu yang setiap nasibnya sudah terlanjur ditentukan. Tak mungkin baginya untuk memaksakan kehendak Tuhan. Dia hanya bisa merayunya dalam setiap doa yang ia panjatkan. Tetapi sejatinya Tuhan bukanlah dzat yang bisa didikte sesuai kemauan kita. Kuasa-Nya dan Kehendak-Nya melampaui harapan kita semua. Entah itu hal buruk, atau hal baik sekali pun.
"Alice, kau hanya harus percaya Klayver pasti akan kembali. Dia pasti tak suka jika kau mulai putus asa seperti ini." Jasmine mengingatkan temannya.
Klayver membutuhkan pendamping yang kuat, yang tetap akan menantinya meskipun dalam situasi yang mustahil. Tak seharusnya Alice meragukan kemampuan suaminya. Dia perlu diyakinkan kembali jika kemampuan Kalyver cukup mumpuni untuk mengurus semua hal.
"Aku tidak putus asa, Jasmine. Aku hanya mencoba membuka mata. Aku tetap akan menunggunya, selama apa pun itu. Aku hanya berharap penantianku berujung pada hal baik. Tetapi, jika pun ada ketidakpastian darinya, aku toh tetap akan menunggunya juga. Aku sudah tak lagi memiliki ruang untuk membuka diri pada lelaki lain lagi, Jasmine. Dia adalah yang terakhir untukku." Alice tersenyum kecil. Dia menatap langit pagi yang tak terasa panas dan membiarkan sebelah wajahnya tersirami cahaya di satu sisi sehingga membentuk siluet yang sempurna. Sudut ini membuat Alice terlihat seperti dewi. Sangat suci dan murni.
Mungkinkah orang semurni Alice akan mengalami rasa luka lagi yang diakibatkan oleh penantian dan harapan? Mungkinkah akan ada rasa perih yang harus ditanggungnya?
Hidup ini merupakan judi yang paling besar. Setiap orang bisa bertaruh, setiap orang bisa beruntung, dan setiap orang juga bisa kehilangan. Tinggal bagaimana permainan itu akan terjadi. Kita hanya harus berani menghadapi setiap resiko yang ada.
"Alice, kau wanita yang cukup baik. Tuhan tidak mengkin mengabaikan setiap doa yang kau panjatkan dan hanya dibiarkan sia-sia." Jasmine mengusap punggung temannya.
Jika ada kebahagiaan yang berhak didapatkan seseorang, maka Alice sangatlah berhak menerimanya. Dia wanita yang sangat luar biasa hebat, kuat, dan memiliki keyakinan tinggi. Jasmine terkadang iri dengannya. Garis tangan wanita itu seolah memiliki keberuntungan sendiri.
Takdir tak akan pernah sekejam itu mempermainkan seseorang. Jasmine berharap segalanya baik-baik saja.
"Kita tak akan pernah tahu jalan apa yang Tuhan suguhkan di depan, Jasmine. Baik atau buruk, mudah atau pun sulit, pada akhirnya, kita hanya sanggup menerimanya dengan lapang dada. Begitulah kehidupan berlangsung."
Karena terlalu sering banyak harapan yang tak dijadikan kenyataan, karena terlalu sering impian yang tak terwujud, pada akhirnya manusia hanya bisa menggantungkan harapan pada Tuhan. Dia-lah yang memiliki kewenangan tertinggi dalam segala sesuatu. Semua upaya kita tak akan pernah membuahkan sesuatu jika ia sendiri tak mengijinkan.
__ADS_1
"Kau benar, Alice." Jasmine menunduk, terpekur dalam.
…