Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
145 - SEASON 2


__ADS_3

"Kau harus melawan ketakutanmu sendiri dan cobalah berdiri sebagai pemenang di titik akhir!"


Kata-kata Alice terngiang kuat di benak Jasmine. Dalam hidup ini kita memang harus berani mengambil resiko untuk mendapatkan hasil yang kita mau. Tidak ada sebuah titik aman yang bisa selalu kita miliki jika kita menginginkan hasil yang baik. Memiliki tekad yang kuat dan kemauan yang tanpa batas terkadang perlu untuk menyuntik semangat kita.


Jika kita hanya berdiri di titik aman saja dan tidak keluar untuk melakukan hal baru, maka kita hanya akan terjebak dalam kehidupan yang monoton dan tidak bisa menghasilkan hasil yang baru juga. Jika memang Jasmine dihadapkan pada pilihan ini, mungkin saat Inilah dia harus memutuskan dengan mengambil semua resiko yang ada.


Jasmine sebenarnya bukanlah wanita yang anti terhadap resiko dan konsekuensi. Dia merupakan seseorang yang cukup sering mengambil resiko dalam setiap hal demi menghasilkan apa yang ia inginkan. Tetapi dalam pernikahan, itu merupakan hal yang berbeda. Pernikahan bukanlah suatu ikatan yang bisa kita buat dengan cara membutakan diri sendiri dan tidak melihat setiap hal yang bisa menjadi konsekuensi buruk bagi kehidupan kita selanjutnya. Karena itu, selama ini Jasmine selalu mengambil tindakan aman tentang masalah kehidupan dirinya. Terlebih lagi tentang masalah pernikahan. Dia pernah terluka dan dia pernah hancur secara emosional, sehingga Ia memiliki penilaian yang cukup buruk tentang perkawinan.


Daniel telah membuat Jasmine berada di titik dimana dia harus mengambil risiko yang ada. Untuk mempertahankan bayi yang tengah ia kandung, maka Jasmine harus berani menghadapi Daniel dan menerima pernikahan yang ditawarkan oleh lelaki itu. Setidaknya pernikahan yang ditawarkan Daniel lebih baik dari pada gugatan hak asuh yang pastinya akan dilayangkan untuk Jasmine setelah bayi ini lahir.


Mungkin dengan menikahi Daniel, Jasmine bisa memiliki waktu yang cukup untuk membentuk rencana-rencana baru untuk menyudutkan Daniel dan mengalahkan Daniel ke meja hijau. Sementara ini, langkah yang harus diambil saat ini adalah menyetujui apapun keinginan Daniel dan mencoba mengalah. Seorang pemenang bukanlah orang yang tidak pernah kalah sama sekali, tetapi dia yang akan berdiri di titik akhir dan menjadi satu-satunya yang berhasil bertahan. Karena itu, untuk mendapatkan tujuan utama, Jasmine harus bersedia merendahkan diri dan mengikuti permainan yang Daniel tawarkan untuknya. Jasmine akan membuktikan bahwa dalam pernikahan itu, dia bisa menjadi pihak yang cukup kuat dan tidak bisa menyerah begitu saja karena ditekan dan disudutkan.


Paginya, setelah jasmine berhasil tidak tidur semalaman demi untuk memikirkan apa yang harus ia lakukan ke depannya, dia memutuskan menelepon Daniel dan mengatakan keputusannya saat ini.


Jasmine berdiri sepuluh menit lebih di balkon dengan ponsel di tangan. Dia terlihat menimbang-nimbang lama. Memikirkan apakah keputusannya merupakan hal yang benar atau tidak.


Sebelumnya, Jasmine berpikir bahwa keputusannya merupakan sesuatu hal yang telah Ia pertimbangkan baik-baik. Tetapi saat ini, semua dilema yang dia rasakan semakin kuat dan membuat Jasmine merasa ragu-ragu untuk meneruskan apa yang ia rencanakan dengan matang. Ternyata, memberikan kepastian atas apa yang telah ia putuskan tidak semudah ketika ia mengambil keputusan. Semuanya semakin rumit dan meragukan.


Setelah berdiam diri cukup lama, Jasmine memantapkan tekad dan menekan ponselnya, mencari nama Daniel di phone book. Panggilan pertama tak diangkat. Jasmine harus menanggung kekecewaan dan terpaksa kembali mengumpulkan keberaniannya. Dia menatap halaman belakang dengan tatapan melayang. Beberapa kali Jasmine mencoba untuk mengatur nafas kembali dan mengumpulkan kepingan keberaniannya yang kembali tercecer.


Sialan memang. Jasmine tak pernah dibuat sekacau ini sebelumnya oleh lelaki. Dia adalah wanita yang terstruktur dan tak mudah dipengaruhi. Berapa pun jumlah lelaki yang mendekatinya, Jasmine selalu bisa mengendalikan situasi. Tak akan ia biarkan kendali permainan ada di pihak lawan. Jika ingin mencapai keuntungan maksimal, maka seseorang haruslah pintar mengontrol situasi. Ini adalah pertama kalinya Jasmine mulai kehilangan pijakan. Daniel berhasil mengacaukan ketenangan dirinya yang terancam menipis sewaktu-waktu.


Belum sempat Jasmine mencoba menghubungi Daniel lagi, ponselnya lebih dulu berdering. Ada nama Daniel terpampang jelas di layar utama. Lelaki itu pasti baru menyadari panggilan dari Jasmine sebelumnya dan kini memastikan apa kepentingan Jasmine sebenarnya.


Detak jantung Jasmine kembali berpacu tak karuan. Dia merasa rongga dadanya menyempit seketika, tak membiarkan Jasmine bernafas dengan normal. Dengan lemah, Jasmine mencoba mengatur kembali ketenangan dirinya dan mengangkat panggilam tersebut dengan menggeser layar ke arah samping kanan.


"Daniel?" sapa Jasmine dengan suara yang cukup santai. Di permukaan Jadmine memang terdengar santai, tetapi jauh di hatinya Jasmine mati-matian mengendalikam emosi.


"Kau mencoba menghubungiku sebelumnya ya? Ada apa, Jasmine?" tanya Daniel dengan suara serak. Mungkin lelaki itu baru saja terbangun dari tidur. Hari masih pagi. Matahari baru saja keluar dari peraduannya. Tak mengejutkan jika Daniel masih terjebak di atas ranjang, mencoba mengembalikan kesadarannya yang masih tercecer.


"Aku menghubungimu untuk menyampaikan sebuah keputusan!" Jasmine memutuskan untuk berbicara langsung ke topik utama. Dia perlu menyampaikan keputusannya secepat mungkin sebelum tiba-tiba berganti pikiran dan mundur karena satu dan lain hal.


"Keputusan?"

__ADS_1


"Tentang tawaranmu sebelumnya. Aku bersedia menikah denganmu, selama kau berjanji akan membiarkan aku ikut merawat anak ini secara penuh."


...


Daniel tidak pernah seterkejut Ini mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Jasmine. Dia sama sekali tak menyangka wanita itu akan memilih menyerah dan mengikuti permainannya. Tadinya, Daniel menyangka Jasmine pasti wanita yang sangat sulit untuk ditaklukkan dan sangat keras kepala sehingga butuh banyak usaha untuk mengalahkan wanita itu seperti yang ia inginkan.


Bekerjasama dengan menemukan titik tengah dari solusi mereka merupakan hal yang sebelumnya sulit untuk Daniel bayangkan. Nyatanya, baru saja Jasmine menghubunginya dan mengatakan bahwa ia bersedia menikah dengan Daniel.


Daniel memastikan beberapa kali apakah keputusan Jasmine tersebut memang benar-benar diambil serius. Beberapa kali pula Jasmine memastikan bahwa keputusannya memang benar-benar serius dan bukan hanya gurauan sesaat.


Saat ini, Daniel merasa bingung dan tidak tahu harus bagaimana. Sebelumnya dia memang mengancam Jasmine dengan dua pilihan. Antara menikah atau menggugat Jasmine secara langsung di pengadilan atas hak asuh anak mereka. Nyatanya, saat sekarang Jasmine menyetujui dengan pilihannya untuk menikah, Daniel justru merasa syok dan tidak menyangka sama sekali.


Bayangan menikah merupakan sebuah bayangan yang belum pernah Daniel alami. Meskipun akhir-akhir ini Daniel pernah memikirkan tentang kehidupan masa depannya beberapa kali, tetapi ia masih belum jelas ke mana arah tujuan yang ia inginkan. Pernikahan masih menjadi suatu teka-teki dan masih menjadi hal yang sangat abu-abu baginya.


Menikah juga merupakan suatu ikatan yang sangat sakral. Ikatan dua insan yang saling mengadu janji di depan Tuhan untuk bersama sepanjang hidup mereka dan menerima kekurangan juga kelebihan masing-masing pasangan. Menikah juga menjadi bentuk deklarasi pernyataan cinta bagi dua orang yang saling memiliki perasaan satu sama lain. Menikah adalah sebuah ikatan suci yang tidak bisa dipermainkan dan juga memiliki kedudukan yang tinggi di depan hukum. Karena itu, ketersediaan Jasmine untuk menikah dengan Daniel berhasil membuat Daniel merasa syok dan hilang arah.


Daniel tidak tahu apakah pernikahan mereka berdua nanti akan menjadi sebuah pernikahan yang seperti pada umumnya atau tidak. Jasmine dan Daniel merupakan orang yang saling bertolak belakang. Mereka cenderung menyerang satu sama lain. Daniel tak tahu apakah masa depan mereka cukup menjanjikan atau tidak.


Daniel duduk bersandar di ranjang kebesarannya. Jam sudah menunjukkan waktu menjelang siang. Hari ini adalah akhir pekan. Daniel baru saja tertidur dini hari tadi dan hanya terlelap selama dua jam sebelum akhirnya dering ponsel dari Jasmine mengganggu mimpinya.


Insomnia Daniel masih saja sulit untuk ia hilangkan. Daniel berusaha mati-matian beristirahat di waktu-waktu normal hanya agar tubuhnya mendapatkan jatah tidur cukup. Tetapi percuma. Semakin ke sini semakin parah. Daniel sering kali bisa terlelap setelah beberapa hari. Sisanya, dia hanya bisa berguling-guling di ranjang seperti anak kecil dengan pandangan nyalang.


Setelah menggerakkan tangannya beberapa kali untuk melemaskan persendian, Daniel bangkit dari ranjang dan berjalan pelan menuju halaman belakang di lantai dasar rumahnya. Dia perlu menenangkan diri sambil berpikir. Mungkin dengan secangkir kopi dan beberapa kudapan.


Satu jam lebih Daniel duduk di halaman belakang rumah. Sudah tiga cangkir kopi yang ia habiskan. Beberapa potong pai apel dan waffle telah ia makan juga. Tetapi pikirannya masih juga kacau. Tidak ada satu hal pun yang bisa menenangkan dirinya.


Setelah setengah jam kondisi suasana hati Daniel tak juga membaik, dia bertekad memutuskan untuk menghubungi pengacaranya. Dia harus segera mengurus masalah ini secepatnya.


"Ya, Daniel? Ada sesuatu yang bisa aku bantu?" tanya Johnson Mcqueen, sang pengacara dari seberang sana.


"Johnson, aku ingin menikah dalam waktu dekat ini."


Hening sejenak. Taka ada suara Johnson yang biasanya mudah menyahut dengan nada menggelegar. Kening Daniel mengernyit, merasa tak nyaman dengan keheningan ini.

__ADS_1


"Johnson? Kau masih di sana?" tanya Daniel dengan nada yang sedikit meninggi.


"Oh. Oh ya. Aku mendegarkanmu. Maksudku, kau ingin menikah? Melakukan ikatan suami istri secara hukum, begitukah?"


Tak biasanya Johnson bersikap seperti orang idiot. Dia adalah lelaki berusia empat puluhan dengan otak cerdas dan cepat tanggap. Kali ini lelaki itu perlu waktu lama untuk menanggapi berita yang disampaikan oleh Daniel.


"Kupikir itulah definisi yang akurat dari menikah."


"Oh, Ya Tuhan."


Jelas kali ini keterkejutan Johnson tak bisa ditutupi lagi. Lelaki itu menunjukkan reaksi kaget.


Daniel dan Johnson adalah dua orang yang cukup dekat satu sama lain. Mereka pernah membahas tentang keengganan Daniel menikah. Johnson bahkan pernah menawarinya secara bergurau untuk menyomblangkan Daniel dengan beberapa wanita lain. Nyatanya, setiap usaha Johnson tak berhasil membuahkan hasil.


Tiba-tiba, tanpa petunjuk dan tanpa tanda-tanda apa pun Daniel menyatakan diri untuk menikah. Siapa yang tidak terkejut?


"Ada apa dengamu, Johnson? Apakah kepalamu pagi ini terpukul sesuatu sehingga otakmu perlu waktu lama untuk mencerna perkataanku?" tanya Daniel mulai kesal.


Daniel sangat tak suka jika perkataannya mulai diragukan. Memang apa salahnya dengan menikah? Mendengar kabar Daniel menikah seperti mendengar hal yang aneh saja.


"Tidak! Tidak! Maksudku, itu hal baik jika kau memutuskan untuk menikah. Maksudku, aku ikut bahagia. Maksudku, itu sangat wajar. Mak—"


"Sudahlah, Johnson. Katakan saja terus terang jika kau terkejut dengan kabar ini."


Terdengar kekehan dari seberang sana, menunjukkan bahwa tebakan Daniel memang benar.


"Memang sedikit mengejutkan. Jadi, apa yang kau ingin aku lakukan saat ini? Menbuatkan janji pranikah atau senacamnya? Kau ingin memberikan poin-poin tertentu untuk istrimu nanti?"


"Tidak. Tidak perlu dibuatkan perjanjian pranikah. Bantu aku untuk mengurus berkas-berkas yang dibutuhkan dan buat pernikahan ini bisa segera terlaksana."


Daniel memejamkan mata sejenak. Jasmine adalah wanita yang memuja kebebasan. Sulit bagi Daniel untuk mengekang wanita seperti itu.


__ADS_1


__ADS_2