
Siang ini, Alice sudah kembali ke rumah lagi. Dia dan Klayver memasuki halaman depan dengan sikap sedikit hangat. Meskipun lelaki tersebut tidak memberikan drama sentuhan dan pelukan, tetapi tatapanya berubah lembut sehingga cukup meyakinkan siapa pun bahwa hubungan mereka adalah sebuah kebenaran.
Susan dan Helena menyambut Alice dengan senyum cerah. Sementara William, lelaki itu memilih diam di dalam rumah dan baru menyambut mereka setelah Avery memasuki ruang tengah. Avery bisa melihat keengganan lelaki tersebut. Tetapi sikapnya tetap sopan terhadap Klayver.
Dari semua orang yang berada di rumah ini, William adalah satu-satunya orang yang mengetahui identitas Klayver sebenarnya. Karena itu Alice bisa memahami keengganan yang dirasakan oleh sang kepala pelayan. Siapa pun pasti akan sulit menerima keberadaan pembunuh bayaran di bawah satu atap yang sama. Reaksi William cukup wajar.
"Nyonya, Tuan, selamat datang di rumah ini kembali." William tertunduk dalam.
"William, terimakasih banyak." Alice mengangguk kecil.
"Nanti kita perlu berbicara, William." Klayver menatap William dengan tegas. Dia sudah membicarakan ini dengan Alice. Secepatnya Klayver harus membentuk ikatan yang kuat dengan William.
"Baik, Tuan." William mengangguk dalam dan mundur untuk segera pergi dari hadapan mereka.
Alice hanya bisa menatap punggung William yang semakin menjauh. Dia menatap William dan Klayver secara bergantian. Mereka butuh waktu untuk saling beradaptasi. Terutama William.
"Alice, ayo ke ruang makan. Aku sudah menyiapkan sajian istimewa untuk kalian." Susan menepuk punggung Alice dengan rasa sayang.
Semenjak kematian Anson, Susan dan Alice semakin dekat satu sama lain. Hingga keduanya tak ada batasan untuk saling memanggil dengan namanya masing-masing.
"Oh, Susan. Kau selalu tahu apa mauku." Alice membuntuti Susan di belakang. Klayver hanya menatap kepergian mereka berdua dengan mata yang memicing penuh kewaspadaan.
Susan sepertinya tidak sesederhana seperti apa yang terlihat. Insting Klayver mulai bekerja dengan cepat. Dia merasakan hawa membunuh yang jelas.
Dengan langkah pelan, Klayver menyusul ke ruang makan. Dia mengamati satu per satu perabotan yang tertata rapi dengan kualitas tinggi. Sepertinya Anson memiliki selera yang sama dengan miliknya.
Alice melihat Klayver memasuki ruang makan. Udara seolah berubah dingin dalam sekejap. Entah kenapa, ada tekanan tak terlihat setiap kali ia berada satu ruangan dengan Klayver.
"Kau harus menambah banyak berat badanmu, Alice. Apalagi setelah menikah, lihat! tubuhmu perlu ditambah di beberapa sisi." Alice menunjuk ke beberapa bagian tubuh Alice seolah kehadiran Klayver sama sekali tak berpengaruh baginya.
Dia berjalan dengan langkah-langkah mantap dan memutari Alice. "Tubuhmu terlalu kurus." Susan berkata tak senang. Wajah bulatnya mengerut di beberapa sisi.
"Oh, Susan. Dari dulu tubuhku memang seperti ini." Alice menggelengkan kepala karena geli. Dia menyeret salah satu kursi ke belakang dan duduk untuk mulai memakan salah satu sajian yang Susan buat.
Klayver mengambil duduk di sebelah Alice dan menghabiskan beberapa suap makanan tanpa sepatah kata pun. Suasana sedikit canggung bagi Alice. Ditambah lagi, tiba-tiba Axel mendatangi mereka dengan wajah khas bangun tidur.
"Mom, kau sudah pulang?" tanya Axel mengucek-ucek matanya.
Anak itu berjalan dengan takut-takut ke arah Alice. Matanya memandang Klayver dengan sedikit lirikan waspada. Mungkinkah Axel cukup peka dalam menilai situasi? Bagaimana pun, Klayver adalah sosok yang bisa membuat orang terintimidasi. Susan adalah sebuah pengecualian.
"Sapa Daddy, Sayang!" Alice menepuk pundak putranya dengan kedipan kecil. Dia mengingatkan Axel akan perjanjian sandiwara mereka tempo hari.
"Siang, Dad." Axel menyapa dengan sedikit tergagap. Dia menatap Klayver pelan dan berbalik lagi pada ibunya seolah tertekan.
Klayver tersenyum kecil. Senyum yang tidak sampai pada kedalaman mata. Ia biarkan saja Axel bersikap canggung di dekatnya.
Alice sedikit meradang. Interaksi Klayver dan Axel sepertinya akan memiliki sedikit hambatan. Sikap intovert yang lelaki itu miliki tak bisa berubah bahkan untuk sekejap.
"Apakah kau baru saja bagun dari tidur siang, Axel?" Alice mengangkat putranya ke salah satu kursi dan menyiapkan sajian untuk dihabiskan Axel.
"Ya. Aku hari ini tidak sekolah, Mom. Helena bilang tak apa jika libur hari ini."
"Baiklah, tapi besok kau harus sekolah. Kau dengar?"
Axel mengangguk dengan patuh. Dia menghabiskan makanan di depannya tanpa sisa.
Susan cukup ramah menyambut Klayver. Meskipun dia jarang berbicara panjang lebar, tetapi tak menghentikan Susan untuk berinteraksi dengan baik.
__ADS_1
Diam-diam, Avery salut dengan keteguhan yang dimiliki Susan. Wanita itu tak pernah lelah menawarkan keramahan meskipun tak ditanggapi sama sekali. Setelah kepergian Klayver, dia menoleh pada Avery dengan kernyitan di dahi.
"Apakah suamimu robot? Ataukah hatinya terbuat dari es kutup? Dia bahkan tak berbincang secara normal selayaknya orang umum." Susan berdecik kesal. Wajah gelapnya semakin menggelap.
"Dia memang introvert, Susan. Kau harus terbiasa dengannya mulai saat ini." Alice berkata pasrah. Kata-kata itu juga ia tujukan untuk dirinya sendiri.
"Bagaimana kau bisa menemukan orang yang seperti itu?" tanya Susan menyelidik.
"Entahlah. Keberuntungan, mungkin. Kau tahu sendiri, bukan? Terkadang cinta hadir bisa untuk siapa saja, tak peduli bagaimana kepribadian dan karakternya."
Bagus. Saat ini Alice terdengar seperti seorang pujangga yang sedang kasmaran. Tatapannya berbinar dengan cahaya palsu yang menyilaukan mata.
"Apa pun itu, aku selalu berdoa yang terbaik untukmu, Alice. Bagaimana pun, Anson adalah sosok yang pernah berarti bagimu. Kehilangannya pasti cukup menampar dirimu luar dalam. Aku ikut bahagia jika kau cukup beruntung menemukan kebahagiaanmu kembali dari sosok lain." Susan menepuk pundak Alice, memahami setiap kondisi yang wanita ini alami.
Alice adalah wanita yang kuat. Susan sudah melihat banyak perkembangan yang ia saksikan sendiri tentang ketegaran Alice. Untuk ukuran seorang wanita, ia luar biasa.
"Mom, aku ingin bermain dengan Helena." Axel menyela dengan meraih ujung lengan Alice. Matanya penuh harap.
"Baiklah, cuci muka dulu sebelum kau bermain dengan Helena." Alice menuntun Axel keluar dari ruang makan dan membasuh wajah putranya di wastafel terdekat. Dia tersenyum melihat putranya sudah sebesar ini.
Sepeninggal Alice, Susan segera merapikan peralatan makan yang tersebar di atas meja. Dia bersenandung lirih seperti biasanya. Matanya menampakkan kilat lain.
…
Alice memasuki kamar. Dia terkejut mendapati Klayver telah berdiri di sisi tempat tidur. Dengan enggan, Alice memasuki ruangan berukuran enam kali enam meter.
"Dari mana kau bisa mengetahui letak kamarku?"tanya Alice terkejut.
"William yang menunjukkannya. Sudah kubilang kita akan sekamar."
Alice mengangguk tak berdaya. Dia duduk di kursi kecil menghadap keluar jendela.
Klayver membuka bajunya perlahan dan menyampirkan kemeja yang ia kenakan di atas kepala ranjang. Dia berdiri dengan bertelanjang dada. Celana denim gelapnya semakin tampak membalut indah kedua kakinya.
"Kau tidak bisa bersabar ya? Jika kita terlalu cepat bergerak, langkah kita akan mudah diantisipasi banyak pihak. Sudah kubilang rumah ini memiliki orang yang menyusup dari pihak luar. Akan lebih baik kita menenangkan diri selama dua atau tiga bulan tanpa melakukan apa pun. Biarkan aku mengurusi urusanku dulu. Pihak-pihak yang mengejarku semakin tak terkendali."
Klayver menatap reaksi Alice yang sulit untuk menerima penjelasan darinya. Wanita itu terlalu gegabah dan bertindak sesuka hati. Dia belum memahami arti kekuatan dari kesabaran.
Dalam dunia gelap, Klayver sudah melalui banyak hal. Terjebak dari tragedi satu ke tragedi lain. Terlempar dari bahaya satu ke bahaya lain.
Salah satu kekuatan yang terus ia kembangkan untuk mengecoh musuh adalah diam dan tidak bergerak sama sekali. Diam di sini tidak semata-mata secara harafiah. Tetapi lebih kepada kemampuan untuk menahan diri melakukan sesuatu yang bisa membuat orang curiga akan keberadaan kita.
Alice sepertinya belum memahami prinsip ini. Baginya, apa yang ia inginkan akan ia lakukan secara langsung tanpa mempertimbangkan konsekuensinya.
Pantas saja wanita itu datang padanya dan menyetujui pernikahan mereka sebagai syarat bagi kepentingan mereka bersama. Wanita itu terlalu gegabah, berani, dan impulsif.
"Baiklah. Kita akan diam di rumah ini selama dua hingga tiga bulan. Setelah itu, apa yang kau rencanakan?" Alice kembali bertanya dengan tak sabar.
"Aku akan mengunjungi Mr. Souvery Kinston. Mungkin di sana akan ada sedikit petunjuk."
Alice mengangguk, mencoba menerima peraturan situasi ini.
"Bukankah kau mencurigai Anson diracun? Tidak bisakah kita mengambil jenazahnya dan melakukan otopsi lagi?"
Jenazah Anson pernah diotopsi sehari setelah kematiannya. Tetapi saat itu tak ada hasil yang mencurigakan. Mungkin orang-orang tersebut entah bagaimana disuap oleh pembunuh Anson sehingga mereka bungkam.
Alice mulai berandai-andai. Jika ia bisa membawa jenazah Anson ke tempat lain, mungkin ia bisa menemukan zat lain sebagai penyebab kematian suaminya melalui otopsi.
__ADS_1
"Bagaimana jika kita melakukan otopsi ulang?" Alice mulai memikirkan kemungkinan ini.
Namun, Klayver menatap Alice dengan wajah tak suka. Wanita itu unik. Cara berpikirnya terburu-buru, hanya ingin mendapatkan sebuah tujuan tapi tak berpikir banyak tentang efek yang menyertainya.
Klayver selama ini selalu berpikir sendiri dan bertindak sendiri. Dia mengumpulkan informasi, membuat analisis dasar, dan mulai mencatat daftar secara manual ke dalam otaknya tentang langkah-langkah apa yang akan ia ambil, manfaatnya apa, dan efeknya apa.
Mendengar usulan Alice yang begitu saja dilontarkan membuat Klayver mendengus kecil. Dasar wanita.
"Apakah ada yang salah dengan usulku?" tanya Alice tak mengerti. Menurut Alice, dia sudah memberikan solusi masuk akal. Lucu jika Klayver menolaknya.
"Alice. Coba kau posisikan sebagai pembunuh Anson. Jika kau melihat istri dari korbanmu mengais-ngais kembali informasi dan mengangkat topik tentang otopsi ulang, kira-kira apa langkah yang akan kau ambil?" Klayver bertanya dengan sabar, menggiring Alice agar bisa berpikir secara kritis.
Alice menutup matanya dan merasa kesal dengan dirinya sendiri. Klayver benar. Jika ia mengambil mayat Anson dan melakukan otopsi ulang, kemungkinan para pembunuh Anson akan menyelidiki tindakannya dan jika mereka curiga pada langkah yang Alice ambil, mereka kemungkinan akan membungkam Alice juga. Selamanya.
"Baiklah. Aku salah. Jika aku melakukan itu, mereka bisa langsung menargetkan aku sebagai korban selanjutnya." Alice menyerah kalah. Dari segi mana pun, pemikiran Klayver selalu satu langkah lebih dulu darinya. Lelaki itu selalu menemukan celah dari setiap pemikiran Alice yang cacat.
"Bagus jika kau cukup cerdas untuk memahami. Selain itu, efek dari racun Novihock sulit untuk terdeteksi. Aku tak yakin medis bisa menemukan kejanggalan yang ada."
Meskipun Klayver jarang mendengar tentang racun ini, tapi sumber yang ia dapatkan mengatakan bahwa racun tersebut sangat unik. Sulit terdeteksi dan efeknya mematikan.
"Baiklah. Jadi apa saranmu?" Alice mulai merasa pusing memikirkan masalah ini. Ternyata tak mudah untuk menguak kasus di balik kematian mendiang suaminya.
"Sudah kukatakan. Jangan bertindak apa-apa selama dua hingga tiga bulan ini. Pergerakanmu sedang diawasi oleh mereka. Sedikit saja kejanggalan, mereka akan waspada dan semakin sulit bagi kita mengorek kasus ini."
Klayver mencoba mengingatkan. Jujur, dia khawatir Alice akan melakukan banyak tindakan yang bisa memancing kecurigaan mereka. Wanita itu terlalu labil.
"Baiklah, Klyaver. Aku akan melakukan apa yang kau sarankan."
Alice menatap punggung Klayver yang lebar. Di tengahnya terdapat tato khas yang pernah ia lihat dulu. Dalam hati, ia mulai bertanya-tanya apa makna dari tato tersebut. Mungkinkah ada filosofi yang terpendam di baliknya?
"Sudah seharusnya, istriku …."
Alice mengedipkan mata. Dia tersentak saat Klayver memanggiknya sebagai istri. Kedengarannya seperti cukup asing.
"Selama rentan waktu ini, aku akan mulai memanfaatkan organisasi milik William untuk menyerang musuh-musuhku."
Sebenarnya Klayver tak perlu menjelaskan semua ini pada Alice. Tetapi entah kenapa dia tergerak untuk membagi rencana yang ia miliki pada wanita tersebut. Sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya pada siapa pun.
Klayver sudah lama bertindak dalam gelap seorang diri. Tidak ada mulut yang ia minta untuk memberi usul. Tidak ada telinga yang tersedia untuk mendengarkannya.
Namun, sebuah perubahan kecil mulai terbentuk. Komunikasi ini terjalin dengan sangat pelan tapi pasti.
"Kumohon, tolong jaga organisasi William. Orang-orangnya sangat setia dan sangat menjaga sumpah. Aku tak ingin mereka banyak mengorbankan nyawa dengan sia-sia."
Alice meminta penuh permohonan. Klayver adalah seorang pembunuh. Di matanya, nyawa bukanlah sesuatu yang penting. Alice takut dia akan membawa bencana pada William dan orang-orang di belakangnya. Bagaiamanapun juga, Mereka bukanlah pion dalam sebuah catur yang bisa dikorbankan begitu saja.
"Kau khawatir pada mereka?" Klayver berjalan mendekat. Sosoknya tampak kian mendominasi. Tanpa sadar, Alice berjalan mundur. Kedua matanya menampakkan ketakutan.
"Tentu saja, aku bukan orang yang berhati dingin dan tidak berperasaan sepertimu. Bagiku, nyawa adalah berkah terbesar yang diciptakan Tuhan untuk kita. Dosa besar jika kita mengambil anugerah Tuhan tanpa suatu alasan jelas."
Klayver menatap istrinya dan semakin menghilangkan jarak di antara mereka. Ia menatap helai-helai surai Alice yang berwarna merah gelap dan meraihnya sebagian.
Selembut sutra. Sesuai dugaan Klayver. Helai-helainya melingkar indah di jemari lelaki tersebut. Sementara Alice, ia menahan nafas cukup lama, tak bisa memprediksi bagaimana emosi Klayver sebenarnya. Bagi Alice, hidup bersama seorang pembunuh bayaran cukup menguras mental. Harus menjaga instingnya dua puluh empat jam non stop.
"Klayver?" Alice ingin mundur, namun tertahan tembok. Dia terjebak dalam ketidakberdayaan bersama lelaki ini.
Jantung Alice mulai berdetak. Nafasnya tak beraturan. Di dalam sini, dadanya bagaikan genderang perang yang siap bertempur.
__ADS_1
"Kau wanita pertama yang kubiarkan hidup setelah melihat dan mengenalku, Alice."
…