
Setelah makan malam, Alice duduk mematung di sisi tempat tidur. Klayver telah pulang satu jam yang lalu. Kini ia tengah mengobrol bersama orang tuanya. Axel masih saja membuntuti Violin ke mana pun wanita tersebut pergi. Membuat Alice merasa jengkel karena gagal mengendalikan sikapnya.
Setelah makan malam, Alice merasa lelah dan memutuskan untuk kembali ke kamar lebih dulu. Kini, saat ia di kamar, matanya justru sulit untuk terpejam. Dia kembali teringat dengan banyak keajadian yang menghampirinya akhir-akhir ini.
Alice tak pernah merasa selemah ini sepanjang hidupnya. Ia seperti pengecut yang kalah dan hanya bisa berdiri di sudut ruangan. Apa lagi yang bisa ia lakukan?
Semua orang-orang di dekatnya mulai menjauh satu per satu. Karena Alice mengusirnya secara tidak langsung. Pertama Rachel, kemudian Susan.
Tanpa mereka, hidup Alice tak sempurna. Tetapi mendekati mereka juga tak mampu ia lakukan untuk saat ini. Melihat mereka, masih mengingatkan Alice pada duka yang mendalam.
Alice tak tahu ke mana Susan pergi setelah ia mengusirnya. Mungkinkah wanita itu masih memiliki tempat bernaung? Alice bahkan tidak memberi bayaran terakhir padanya. Apakah uang Susan cukup untuk bertahan hidup?
Pertanyaan-pertanyaan itu mulai muncul dalam benaknya sesaat setelah emosinya reda. Secara keseluruhan, Alice tahu ia tak bisa menyalahkan Susan sepenuhnya.
Hidup Anson sudah penuh dengan resiko. Dia menciptakan banyak masalah yang membuatnya dikejar bahaya tanpa kesudahan. Seandainya tak ada Susan, pasti ada wanita lain yang tetap saja akan Maxen susupkan. Beruntung Susan cukup peduli melindungi nyawanya. Jika wanita itu bukan Susan, mungkin Alice sudah terbunuh oleh Maxen lama sebelumnya.
Ngomong-ngomong mengenai Maxen, Alice juga tak bisa menyalahkannya secara langsung. Dia tergerak dendam lama sebagaimana ysng Alice lakukan juga. Kehilangan telah membuat seseorang mampu melakukan tindakan-tindakan buruk. Membuat kita menampilkan sisi lain yang kita punya.
Suara pintu terbuka membuat Alice menoleh cepat. Klayver berdiri menjulang, terlihat dominan. Senyum maskulinnya terbentuk sempurna di sudut bibir. Melihatnya membuat Alice merasa tenang dan damai.
"Tadi siang kau ke mana, Klayver?" tanya Alice penasaran.
"Mengurus Souvery, Adam, dan Andre."
Alice mengernyitkan dahi. Arti kata 'mengurus' menjadi lain ketika dikatakan oleh Klayver.
"Maksudmu ….?" tanya Alice ingin memastikan.
"Membungkamnya selamanya." Klayver duduk di sisi istrinya, melihat garis hitam di bawah kelopak Alice dan mengambil kesimpulan wanita itu pasti kurang tidur. Mengkinkah ia masih terbebani oleh masalah yang ada?
"Kau bermain bersih, kan?"Alice terlihat khawatir. Sudah terlalu banyak masalah menghampiri mereka. Alice tak ingin menambah banyak masalah lagi.
Alice memang mencoba memaafkan Maxen. Tetapi tentang ketiga orang tersebut, ia tak bisa menoleransinya.
Demi Rachel, ia mencona menata hatinya dan berdamai dengan lelaki yang telah membunuh mendiang suaminya.
"Tentu saja. Kemarin ada beberapa kendala sehingga anak buahku belum bisa melakukan tugas tersebut. Sekarang ketiga orang itu sudah kubereskan. Bagaimana kabarmu hari ini? Apakah ada masalah? Aku lihat Susan sudah tak ada lagi malam ini." tanya Klayver.
Masalah yang terjadi pada Maxen pasti telah tercium oleh Susan. Wajar jika wanita itu melarikan diri. Klayver tak keberatan mengejarnya jika Alice mau.
"Aku yang memintanya pergi." Alice berkata lirih. Ia menatap Klayver sedih dan menyandarkan kepalanya pada bahu lebar sang suami.
"Kau sudah membicarakan semuanya?" tanya Klayver ragu.
"Ya."
"Dan kau memaafkannya?"
"Ya. Apakah aku bodoh?" tanyanya.
"Tidak. Terkadang maaf akan menjadi jalan yang baik. Selama kau memberikannya pada orang yang tepat."
Alice tersenyum, merasa bahagia.
"Alice," panggil Maxen tiba-tiba. Wanita tersebut mendongak.
"Ada kabar bagus yang perlu kau dengar." Klayver meraih tangan Alice dan mengecupnya lembut.
"Oh ya? Apa?"
"Kondisi Rachel membaik. Dan dokter tidak jadi mengangkat rahim Rachel. Ada seorang dokter yang memiliki pendapat berbeda. Dia ngotot mengatakan rahim Rachel masih bisa diselamatkan pada detik-detik terakhir setelah Maxen menandatangani surat pernyataan. Maxen mengikuti pendapat dokter baru itu dan memilih menyelamatkan rahim istrinya. Hasilnya, temanmu tetap bisa hamil tanpa kendala sama sekali."
__ADS_1
Alice tersentak. Dia menatap Klayver tak percaya dengan mata yang berbinar.
"Benarkah?" tanyanya.
"Benar. Aku mengeceknya sebelum kembali ke rumah petang ini. Aku juga sempat berbicara pada Maxen. Tebak dia mengatakan apa!"
Alice melongo bingung, tak bisa menebak informasi suaminya.
"Dia akan menyerahkan diri ke polisi terkait dengan pembunuhan Anson. Tapi itu akan ia lakukan setelah Rachel sembuh dan keadaannya stabil."
Alice mengerjap tak percaya. Dia menyentuh sisi wajahnya untuk meyakinkan diri dan tersenyum kecil.
"Apakah kau yakin ini tidak apa-apa, Klayver?" tanyanya sedikit khawatir.
"Tidak apa-apa. Setiap tindakan selalu membutuhkan konsekuensi. Hukum tetap berjalan. Biarkan lembaga berwenang mengurusnya. Untuk saat ini, kita tutup riwayat lama. Mari kita hidup dengan lembaran baru dan menikmati banyak hal."
Alice tersemyum hangat. Dia menjatuhkan diri dalam pelukan suaminya. Lelaki ini, telah menjadi tempatnya untuk pulang. Dia menawarkan keindahan baru yang tak bisa Alice tolak.
"Dan Alice, ada baiknya besok kita menjenguk Rachel. Dia perlu kehadiranmu."
Alice membeku untuk sesaat. Dia tak yakin Rachel bisa menerimanya kembali setelah semua hal yang Alice lakukan.
"Alice, hadapilah kenyataan. Aku akan menemanimu besok." Klayver menenangkan istrinya. Ia tahu, pasti sulit bagi Alice menghadapi Rachel. Ada banyak rasa bersalah di matanya. Tetapi jika Klayver tak berusaha untuk membantu memulihkan kondisi, istrinya hanya akan menjadi orang yang bersembunyi dalam kegelapan.
"Baiklah, Klayver. Kau menang kali ini." Alice berkata lirih. Dia menatap lantai dengan harapan yang mulai menari-nari dalam matanya.
"Besok, Axel bisa kau titipkan dulu pada Mom saat kita ke rumah sakit."
Klayver tersenyum sendiri mengingat ulah Axel yang tidak ada habisnya setiap kali berada di sisi Violin. Anak itu sangat aktif. Benar-benar di luar dugaan semua orang.
"Bagaimana bisa Violin mudah akrab dengan anak-anak sementara ia sendiri berjarak padaku? Apakah ibumu itu punya kelainan tertentu?" Alice merasa jengkel. Baru satu hari Violin di sini, tingkah Axel sudah tak karuan. Mertuanya memanjakan Axel habis-habisan. Entah dari mana sifat seperti itu berasal.
"Sudah kubilang, ibuku jago menjaga anak." Klayver berkata jujur.
"Jangan bilang Violin." Alice bergidik tak percaya.
"Ibuku itu serba bisa!" Klayver menepuk paha Alice sedikit keras, membuat istrinya menjerit tak terima.
"Jadi kau selama ini anak mama ya? Benar-benar di luar dugaan." Sindir Alice menjulurkan bibirnya, merasa memiliki ide untuk mengolok-olok suaminya.
Klayver sulit memiliki celah untuk Alice komentari. Yah, setiap sisinya memiliki standar di atas rata-rata. Sialan memang. Tuhan tak adil karena memberikan banyak anugerah kepadanya. Jadi, ketika dia memiliki kesempatan untuk mengolok-olok, tentu saja ia tak akan melepaskan kesempatan tersebut.
"Memangnya ada yang salah dengan anak mama?" Klayver mengerjap dengan mata polos, membuat Alice ingin tertawa lebar.
"Kau tak tahu anak mama itu manja?" Alice balik bertanya.
Klayver hanya tersenyum kecil, memeluk istrinya tercinta. Dia terlalu bahagia saat ini. Apa yang ia miliki sulit untuk ia raih. Karena itu, selama waktu mengijinkan, Klayver ingin memanfaatkan setiap detik yang ia punya untuk bersama Alice.
"Kau keberatan memiliki suami manja?"
"Ehh …." Alice mundur, melihat sisi lain Klayver yang mulai lelaki tersebut tampakkan.
"Tidak. Kau sendiri juga tak keberatan memiliki istri seorang janda," sahut Alice tulus. Ia merengkuh suaminya dengan rasa sayang dan menggelayut manja. Aroma Klayver, selalu menjadi candu kuat baginya.
"Aku tak peduli kau janda atau tidak. Bagiku, apa yang ada dalam dirimu itu sangat istimewa. Tidak sembarangan wanita bisa sepertimu."
…
Pagi ini, Alice berpamitan kepada Axel dan menitipkannya ke Violin selama ia ke rumah sakit. Tetapi tebak apa yang dilakukan anaknya. Dengan santainya, Axel tak menganggap Alice sama sekali dan sibuk bermain dengan Violin.
Alice sudah nyaris kehilangan kesabaran melihat putra semata wayangnya melupakan dirinya. Tetapj Klayver menahan Alice dan hanya tersenyum kecil. Dia mendorong Alice keluar dan melambaikan tangan pada seluruh penghuni rumah yang tersisa.
__ADS_1
"Mom, aku dan Alice pergi dulu. Ingat, kau jangan terlalu memanjalan Axel. Nanti dia jadi berubah karakternya karena dirimu."
"Pergilah, Klayver. Kau putraku. Kau tak berhak mendikte tindakanku." Violin menoleh ke arah Axel dan berkata lembut. "Axel, bagaimana jika hari ini kita jalan-jalan ke pusat perbelanjaan? Kau pasti butuh permainan baru."
Axel meloncat-loncat senang dan memeluk Violin penuh rasa sayang. Sikap dingin anak itu hilang seketika setiap kali berhadapan dengan neneknya. Mereka seperti dua orang yang ditakdirkan bersama oleh alam.
"Kau lihat sendiri, bukan? Ibumu pasti memiliki sisi lain yang tak normal. Keramahannya pada Axel terlalu menakutkan!" Alice menggerutu.
Klayver terkekeh pelan, merasa istrinya mulai tak masuk akal. Ibunya memang menyukai anak-anak. Mungkin sebenarnya, dia sudah merindukan cucu kandung. Pasti kondisi rumah akan semakin semarak.
Setelah kepergian Alice, James menatap Violin dan menggeleng-gelengkan kepala. Sebuah koran tergeletak di pangkuannya. Secangkir kopi hangat terletak di meja tak jauh dari jangkauannya.
"Alice benar. Kau terlalu memanjakan Axel, Sayang." James berkata jujur. Dia berdecak beberapa kali, heran dengan tingkah laku istrinya sendiri.
"Diamlah, James. Jangan rusak kebahagiaanku!" Pinta Violin galak. Matanya melotot ke arah suaminya tak terima. James yang melihat sisi kekanak-kanakan istrinya hanya bisa tertawa lebar.
"Anak itu benar-benar telah menyihirmu."
…
Pintu ruang rawat terbuka. Alice memasuki ruangan dengan sedikit tak nyaman. Klayver berdiri di belakangnya dengan tangan yang siap menopang Alice kapan pun istrinya butuh.
"Alice," panggil Rachel lemah. Wanita tersebut berbaring di ranjang pesakitan dengan berbagai alat bantu. Slang infus dan sebuah mesin yang entah fungsinya untuk apa berada di sisinya.
Maxen yang berada di sudut ruangan, tersentak berdiri dan memutuskan untuk keluar. Situasi akan semakin canggung saat mereka semua berkumpul dalam ruang yang sama. Akan lebih baik Maxen mengalah.
Setelah Maxen berlalu pergi, Alice mendekati temannya dengan sikap kikuk. Dia berdiri canggung dan tak bisa berkata apa-apa. Air matalah yang berbicara. Alice terisak pilu di sisi Rachel. Merasa hancur melihat kondisi temannya.
"Sshhht jangan menangis. Kau membuat ranjangku bergetar. Itu benar-benar tidak nyaman." Rachel meraih lengan Alice dengan tangannya yang bebas dan mengelusnya lembut.
Klayver yang berdiri di samping Alice menepuk bahu istrinya dan mengikuti jejak Maxen untuk pergi dari ruangan. Mereka butuh waktu untuk berdua. Keberadaannya hanya akan menjadi pengganggu bagi mereka.
"Aku benar-benar keterlaluan telah melakukan semua ini padamu, Rachel. Aku membuat janinmu hilang." Alice berkata frustasi.
Rachel menggeleng pelan, menolak rasa bersalah yang Alice berikan.
"Akulah yang telah menerjunkan diri dalam masalah itu, Alice. Tidak ada yang patut untuk dipersalahkan. Kita hanya dua orang yang saling terjebak keadaan. Asal kau tahu, Alice. Rahimku tidak jadi diangkat. Jadi aku tetap bisa memiliki anak lagi. Kau tak perlu merasa bersalah seperti itu. Duduklah dan akan aku ceritakan sesuatu."
Alice tertegun lama. Dia memgambil bangku putih yang disediakan rumah sakit dan menyeretnya di dekat Rachel. Dengan pelan, Alice duduk di atasnya.
"Alice, terkadang kita memiliki keadaan-keadaan yang membuat kita bertentangan satu sama lain. Tetapi, di dalam hatiku, kau tetaplah temanku. Selamanya tak akan pernah berubah. Jadi, bisakah kau berdamai dengan keadaan dan mencoba kembali seperti semula? Aku benar-benar msmbutuhkanmu," ungkap Rachel apa adanya. Dia tersenyum kecil, menampakkan ketulusan.
"Kau benar-bebar memaafkanku, Rachel?" tanya Alice gemetar.
"Sudah kubilang tak ada yang perlu dimaafkan. Semuanya memiliki peran masing-masing dalam masalah ini. Aku hanya mencoba mengembalikan sesuatu seperti keadaan semula. Ngomong-ngomong masalah Maxen, kami sudah membicarakannya bersama. Dia akan menyerahkan diri ke polisi setelah aku sembuh. Kuharap langkah ini bisa mengurangi sedikit kepedihanmu karena kehilangan Anson."
Rachel masih saja tersenyum kecil. Setelah ia sadar dari situasi kritis, Rachel memikirkan banyak hal. Termasuk semua kesalahan suaminya di masa lalu. Dengan bijak, Rachel menyarankan Maxen untuk menyerahkan diri.
Hukum harus ditegakkan. Dia ingin suaminya bertindak tanggung jawab. Rachel tegar jika ia harus melihat suaminya di penjara. Setidaknya, itu lebih baik dari pada ia kehilangan Maxen untuk selamanya.
"Tadinya aku berpikir untuk memaafkan Maxen. Tetapi jika ia sendiri tak keberatan untuk menyerahkan diri. Aku pikir itu boleh juga." Alice tersenyum lega, merasa bahagia akhirnya hubungannya dengan Rachel kembali pulih.
Rachel adalah orang yang sangat berharga. Tanpanya, Alice akan merasakan kehilangan yang mendalam. Tentu saja ia tak sanggup jika harus mengalami semua itu.
…
…
Berhubung ada kebijakan baru dari pusat mengenai sistem kontrak yang sedikit banyak membuat hasrat menulisku berkurang, saya harap kalian yang setia menemani cerita ini tetap support dengan like dan komentar. Jujur, itu semua menguatkan semangat dalam menulis lagi.
Satu komentar dari kalian, itu bisa membuat nyawa tulisanku bertambah. Dont be a sider, please.
__ADS_1
Terimakasih buat kalian yang memberikan apresiasi selama ini. Buat kk siapa, aduh aku lupa, #plak# yang memberikan masukan untuk memasukkan Maxen ke penjara, itu masukannya bagus banget. Jadi aku pake. Makasih ya kk. Big love.
❤❤❤