
Setelah pembicaraan Jasmine dan William sore kemarin, akhirnya mereka berdua sepakat untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Alice pada malam harinya saat waktu makan malam tiba. Dengan hati-hati, Jasmine berusaha menjelaskan kondisi yang sebenarnya kepada temannya. Dia berharap Alice tidak merasa terkejut dan tidak merasa syok atas hal tersebut.
Jasmine menjelaskan apa itu Black Hell, dan langkah-langkah yang telah mereka lakukan untuk mendekati rumah ini yang hingga sekarang masih tidak diketahui apa motif sebenarnya. Jasmine dan William merasa hal ini merupakan kasus yang terkait dengan Klayver. Tetapi saat ini mereka tidak bisa mengkonfirmasi hal tersebut karena Klayver tidak berada di sini. Jadi, saat ini yang paling baik bagi mereka adalah waspada setiap saat.
Di luar dugaan, ternyata Alice menerima fakta ini dengan sangat baik. Dia terlihat dewasa dalam menyikapi masalah ini. Terbukti wanita itu tidak histeris sama sekali. Mungkin, Alice sudah mulai mengantisipasi hal ini sebelumnya. Instingnya telah berkembang lebih baik daripada sebelumnya berkat latihan yang diberikan oleh Jasmine. Sehingga ia bisa merasakan hal-hal yang tidak normal akhir-akhir ini, tanpa ia bertanya langsung kepada Jasmine maupun William.
William sangat bersyukur Alice bisa menyikapi semua peristiwa ini dengan sangat dewasa. Tadinya William sempat khawatir Alice akan merasa syok, takut, depresi, dan stres. Tetapi ketakutannya tidak terbukti benar. Apa yang dikatakan Jasmine tepat. Alice sudah siap dengan semua hal yang ada akhir-akhir ini. Inderanya bekerja dengan baik dan instingnya bekerja dengan tepat.
Setelah Jasmine dan William berhasil menjelaskan hal ini dengan sangat lancar, mereka berdua sepakat untuk mengawal kemana pun Alice pergi mulai saat ini.
Kebetulan besok adalah awal bulan. Alice berencana akan ke rumah Rachel kemudian berlanjut ke perusahaannya untuk melakukan meeting bulanan. Dia sudah lama tidak mengunjungi Rachel, sehingga Alice perlu melihat perkembangan temannya itu di rumahnya. Selain itu, dia juga perlu meluruskan beberapa hal kepada Rachel, agar Rachel tak perlu khawatir atas apa yang telah Ia beri tahukan kemarin kepada Rachel mengenai ketakutannya pada hal-hal yang baru saja dijelaskan oleh Jasmine.
Jasmine dan William sepakat untuk mengikuti setiap langkah Alice. Tetapi karena rumah ini juga perlu dijaga karena ada Axel, maka Jasmine dan William pun berbagai tugas. Jasmine bertugas untuk mengikuti kemanapun Alice pergi, dan William bertugas untuk menjaga rumah ini sehingga Axel tetap aman. Selain Axel, di sini juga ada Helena dan para pelayan. Mereka semua berhak untuk mendapatkan jaminan aman.
Keesokan harinya, dengan suasana yang tak berbeda jauh dari hari kemarin, Alice menuju rumah Rachel ditemani Jasmine dan dua orang bodyguard. Alice perlu berterimakasih kepada William. Lelaki itu memberi bodyguard yang penampilannya mudah dimodifikasi sehingga tak terkesan mencolok. Dua orang bodyguard tersebut, Leon dan Leo, si kembar berusia tiga puluhan tahun bertubuh kekar, tapi tak terlalu besar. Mereka merupakan orang kebangsaan Eropa dengan aksen yang kental.
Tinggi mereka sekitar seratus delapan puluh centi meter dengan garis wajah normal seperti pemuda pada umumnya. Karena Alice tak terlalu suka penampilam yang kaku, ia meminta mereka berdua memakai pakaian kasual berupa kemeja standar dan celana kain biasa. Dengan keras, Alice melarang mereka berpakaian serba hitam dengan aksesori kacamata hitam. Sungguh, hal itu terlalu menggelikan. Alice lebih suka menganggap mereka berdua sebagai teman dari pada pengawal kaku yang membosankan.
Beruntung, Leo dan Leon termasuk orang yang mudah berbaur dan bersosialisasi. Mereka cepat tanggap ketika diajak berbicara atau membahas hal-hal normal pada umumnya. Sekilas, mereka lebih tampak sebagai sekelompok teman dari pada majikan dan pengawal.
Leon dan Leo pun juga tak jauh berbeda. Dia lebih suka mendapatkan atasan yang sesantai Alice dan bersikap bersahabat layaknya teman. Dengan begini, mereka lebih merasa dianggap, katanya.
Alice memberi arahan kepada Jasmine sepanjang perjalanan menuju rumah Rachel. Jasmine yang memutuskan untuk membawa mobil. Mereka berempat membahas banyak hal dalam perjalanan, dari aset properti yang mudah dijual saat ini hingga masalah inflasi dollar. Ternyata Alice baru tahu Leon dan Leo merupakan orang-orang yang sangat cerdas. Mereka mungkin lulusan universitas dengan nilai akademik yang membanggakan.
"Leon, Leo, Kenapa kalian memilih profesi sebagai pengawal?" tanya Alice, tidak bisa menanggung rasa ingin tahu dirinya.
Kedua pemuda itu saling menoleh sebentar sebelum akhirnya tertawa kecil mendengar pertanyaan seperti ini.
"Karena mungkin ini sudah menjadi passion kami. Dulu, kami memiliki hobi bertanding dalam banyak event bela diri, baik nasional maupun internasional. Dari situ, kami memiliki ketertarikan tersendiri untuk mengembangkan apa yang kami miliki. Kami tidak ingin itu semua hanya menjadi hobi tanpa kejelasan." Leon menjelaskan dengan detail.
"Selain itu, kami juga menyukai hal-hal yang bisa mengasah adrenalin kami. Jadi, kami memutuskan untuk menekuni bidang ini sebagai pekerjaan bagi kami." Leo menambahkan.
Jasmine yang mendengar penjelasan dua orang itu hanya bisa tersenyum lebar. Dia tak menyangka lelaki pirang dengan wajah tampan dan mata biru bisa memiliki keinginan kuat dalam menekuni pekerjaan sebagai bodyguard dan pengawal pribadi.
__ADS_1
"Bagaimana jika setelah bahaya yang mengancam Alice selesai, kalian bekerja padaku saja sebagai bodyguard di tempat usahaku di Washington. Aku akan menggaji kalian dengan layak. Kalian tertarik? Oh, jangan lupa, aku juga akan memberikan ekstra bonus buat kalian untuk menggunakan beberapa pelayanan club milikku. Ya Tuhan, aku sudah lama tidak melihat club-clubku, entah bagaimana keadaan mereka." Jasmine mengusap keningnya, merasa melalaikan club-club itu.
Alice yang melihatnya sedikit merasa bersalah. Bagaimana pun juga, Jasmine berada di Manhatan ini selama enam bulan hanya untuk menjaga Alice. Demi Alice, Jasmine telah melakukan banyak pengorbanan dengan meninggalkan banyak usahanya di Washington. Meskipun sebenarnya Jasmine dibayar oleh Klayver untuk melakukan hal tersebut, tetapi sejatinya Jasmine cukup baik sebagai teman Alice dan dia cukup tulus untuk menjaga Alice. Karena itulah, Alice merasa berhutang budi dengan Jasmine.
"Maafkan aku, Jasmine. Karena kau harus menjagaku, kau jadi terpaksa menelantarkan bisnismu di Washington. Kau pasti berat untuk meninggalkan hal itu." Alice berkata dengan lirih, merasa bersalah mengakui hal tersebut.
Jasmine yang melihat rasa bersalah di manik mata Alice, dia merasa menjadi tak enak sendiri. Bagaimana pun juga, keputusan Jasmine-lah ia berada di sini. Bukan hanya semata-mata karena Alice.
"Kau Tak perlu merasa bersalah, Alice. Ini semua adalah keputusanku. Tidak ada paksaan dalam hal ini," jelas Jasmine menenangkan Alice.
Jasmine tak ingin Alice merasa bersalah. Bagaimanapun juga, Alice merupakan teman yang baik baginya, dan merupakan orang yang cukup memberi perhatian untuknya. Dia sangat beruntung bisa bertemu dengan Alice. Kesepakatan Jasmine dengan Klayver telah membuahkan pertemanan baru yang jarang Jasmine dapatkan dari orang lain.
"Ya, tapi bagaimana pun juga aku tetap merasa bersalah untukmu." Alice berkata dengan sedikit tersipu.
"Kau ini sungguh sensitif. Berhentilah seperti itu. Leon, Leo, bagaimana menurutmu? Apakah kalian tertarik untuk melakukan kesepakatan bisnis denganku?" tanya Jasmine mengalihkan pembicaraan dan menatap kepada kedua pemuda tersebut di jok belakang.
"Mungkin, kita akan memikirkan hal ini. Jika bayarannya menggiurkan, aku tak keberatan. Bagaimana denganmu, Leon? Kau tertarik bekerja di Washington?" tanya Leo kepada saudaranya.
Leon menyipitkan mata sekilas dan tersenyum kecil. Dia sepertinya mudah terkena bujukan saudaranya sendiri.
Menjadi pengawal atau bodyguard merupakan suatu pekerjaan yang bayarannya cukup mumpuni. Jika Leon dan Leo menemukan orang yang tepat, maka mereka bisa mengumpulkan uang dalam jumlah yang banyak dan dalam waktu yang sedikit. Semua itu bukan hal yang mustahil. Bagaimana pun juga, Amerika merupakan sebuah negara yang menjanjikan banyak hal selama orang tersebut memiliki skill yang mumpuni. Leon dan Leo hanya harus memanfaatkan hal tersebut dengan baik.
"Kalian bisa memberikan apapun yang kalian inginkan, selama kalian bekerja dengan sungguh-sungguh kepadaku. Sebenarnya, aku bukan orang yang pelit. Jika kerja kalian baik, aku bisa memberikan kalian bonus tambahan dan banyak hal lainnya."
Leon dan Leo yang mendengar hal tersebut dari Jasmine, merasa sangat bahagia. Sepertinya, keputusan mereka untuk pergi ke Amerika menghasilkan hasil yang manis.
Negara sebesar Amerika merupakan sebuah negara yang memfasilitasi banyak penduduknya dengan cara yang beraneka ragam. Selama orang tersebut memiliki skill dan mau bekerja keras, maka tidak mustahil orang-orang itu akan mendapatkan hasil yang baik sesuai dengan kemampuan dan kerja kerasnya. Tetapi sebaliknya, siapapun yang malas hidup di negara yang sangat dinamis ini, maka orang itu akan bersiap-siap kelelahan mengejar kebutuhan sehari-hari.
"Leon, Leo, kalian masih muda. Gunakan waktu kalian dengan sangat bijak. Jika kalian memilih pekerjaan sebagai pengawal, maka lakukan hal itu dengan sepenuh hati. Cari atasan yang tepat, dan cari lingkungan yang tepat. Banyak pengawal-pengawal lain yang salah mencari atasan dan mereka berakhir mengenaskan di dalam tanah." Jasmin menasehati mereka.
Jasmine telah banyak melihat kasus-kasus serupa. Para pengawal dan bodyguard orang-orang dalam dunia gelap, mereka sering kali menggunakan pengawalnya sebagai tameng dalam setiap urusan. Mereka tidak menganggap penting setiap pengawal yang ada. Padahal, para pengawal itulah yang melindungi keberadaan mereka dan melindungi nyawa mereka.
Jadi, tak jarang banyak atasan yang mengorbankan pengawal-pengawal mereka dalam situasi genting. Akibatnya, para pengawal itu berserakan mati satu demi satu dengan cara mengenaskan. Meskipun pada akhirnya atasan itu membayar kepada pihak keluarganya berupa uang yang banyak, tetapi percuma saja jika uang didapat sementara nyawa mereka telah terlanjur melayang.
__ADS_1
"Baiklah. Sepertinya kami menyetujui tawaranmu." Leon berkata memutuskan. Dia menyadari bahwa apa yang dikatakan Jasmine merupakan sebuah kebenaran. Jasmine sepertinya wanita yang cukup baik. Bekerja untuknya bukanlah hal yang sulit. Bisa jadi, jika Leon dan Leo bekerja kepada Jasmine, mereka akan dijamin kesejahteraannya.
"Bagus. Kita akan membahas hal ini lagi jika masalah Alice sudah beres dan Klayver berhasil kembali secepatnya." Jasmine tersenyum kecil, merasa berhasil membujuk mereka.
Tidak Berapa lama kemudian, mereka semua tiba di rumah Rachel. Alice merasa sangat bahagia akhirnya bisa mengunjungi temannya. Rachel menyambut mereka semua di depan rumah yang berhalaman luas. Di sisinya, berdiri suaminya, Maxen.
Melihat Maxen, Alice sedikit merasa canggung. Lelaki itu pernah memiliki sedikit masalah dengannya. Sehingga mau tak mau Alice sedikit merasa terganggu.
Alis menatap Maxen sekilas dan menilai penampilan lelaki itu. Beberapa bulan di penjara telah membuat Maxen kehilangan beberapa kilogram bobot tubuhnya. Terbukti dari tubuhnya yang sedikit kurus, dan kedua pipinya yang terlihat cekung. Tetapi Meskipun begitu, Maxen masih tak kehilangan aura dominan dan masih saja terlihat kekar. Alice tertawa dalam hati. Lelaki itu masih sama saja. Tidak ada perubahan yang mendasar, hanya fisiknya saja di beberapa tempat.
"Hai, Alice. Akhirnya kau sampai juga ke sini," sambut Rachel dengan senyum lebarnya. Wanita itu merentangkan tangannya untuk menyambut Alice ke dalam dekapan hangat sebagai teman.
Alice menerima pelukam tersebut dan menyesap dalam-dalam aroma khas milik Rachel. Aroma seperti vanili.
"Bagaimana kabarmu?" Alice menyentuh sisi wajah Rachel dengan keakraban. Berbeda dengan Maxen, Rachel justru terlihat lebih berbobot. Pipinya tampak sediki tembem dan tubuhnya lebih berisi. Rachel hanya tidak ke rumah Alice selama satu bulan, tetapi ia sudah mengalami perubahan.
"Baik. Sangat baik. Kemarilah. Masuk ke dalam. Aku buatkan pai apel untuk kalian. Painya masih hangat. Cocok untuk cuaca dingin seperti ini." Rachel mengarahkan Alice dan Jasmine ke ruang dalam. Saat ia melihat dua orang berpakaian kasual di belakang Alice, Rachel sedikit heran. Dia menatap Alice dan Jasmine secara bergantian.
"Mereka … emh … teman sekaligus pengawal. Bisakah mereka masuk juga?" Alice menjawab dengan sedikit canggung.
Maxen menatap interaksi yang terjadi di depannya dengan reaksi datar. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi sama sekali. Melihat raut lelaki ini, Alice jadi teringat Klayver. Suaminya itu juga sering berkespresi seperti Maxen.
"Oh, tentu saja! Aku membuat banyak pai dan lemon tea hangat. Kemarilah." Rachel memimpin mereka berdua menuju ruang tengah.
"Aku akan berada di luar sejenak, Rachel," ujar Maxen memberitahu istrinya. Lelaki itu cukup peka. Alice pasti tak akan nyaman jika ia ikut masuk ke dalam. Lagi pula, Maxen bukan lelaki yang suka mendengarkan celotehan perempuan yang panjang lebar dan tak penting.
"Oh, Baiklah, Sayang. Aku akan memanggilmu jika membutuhkan sesuatu." Rachel melambaikan tangannya sekilas, memahami alasan Maxen.
Mereka semua berjalan beriringan menuju sebuah ruangan yang didominasi lukisan ternama. Alice tak henti-hentinya mengagumi lukisan ini meski ia sudah berkali-kali datang ke rumah Rachel. Sepertinya, Alice terpaksa mengakui Maxen memang memiliki selera yang tinggi dalam memilih koleksi perlengkapan rumah. Pantas saja. Lelaki itu memiliki uang yang tak terbatas.
"Apakah mereka kembar?" bisik Rachel melirik kedua pengawal tampan yang berusia tak jauh dari usia mereka.
"Ya. Kau tertarik menyewa pengawal seperti mereka?" tawar Alice blak-blakan.
__ADS_1
"Yang benar saja. Maxen sudah cukup menjadi pengawalku dua puluh empat jam non stop." Rachel terkekeh kecil, menampilkan ekspresi bahagia.
…