
Jasmine setengah mati menahan minuman yang ia teguk agar tidak keluar lagi dari tenggorokan. Apa yang ia dengar dari Alice adalah hal yang tak pernah ia harapkan. Bagaimana mungkin?
Jasmine menejamkan mata, merasa kacau luar dalam. Dia berharap mampu menyimpan rahasia tentang ayah si jabang bayi sedemikian rupa. Biar saja rahasia itu menjadi miliknya seorang diri. Jangan ada siapa pun yang tahu siapa orang tersebut.
Banyak hal yang akan terjadi di luar keinginan Jasmine jika hal tersebut terbongkar. Bagaimana jika hal ini bisa menyeret pada hal-hal lain yang tidak ia inginkan?
Semua yang telah Jasmine rencanakan seperti hancur dalam waktu sekejap. Apa yang coba ia lindungi dari orang lain kini telah terbongkar. Masihkah rahasia memiliki nilainya jika tak lagi tersembunyi?
"Dari mana kau bisa menyimpulkan hal itu?" tanya Jasmine menutupi keterkejutannya dengan berdehem.
Alice menyingkirkan piring yang baru ia gunakan, meletakkannya di sudut meja dan menatap Jasmine dengan tatapan serius.
"Kehamilanmu berumur sekitar sebelas minggu. Ditilik dari usia kehamilanmu, bukankah saat itu Daniel yang menyentuhmu?" tanya Alice spontan.
Orang bodoh pun pasti bisa menebak hal ini. Selama berada di rumah Alice, Jasmine hanya keluar beberapa kali dalam beberapa malam. Salah satunya adalah malam ketika ia dan Daniel menghabiskan waktu bersama.
"Atau adakah orang lain? Mungkin tanpa sepengetahuanku, kau juga memiliki malam bersama dengan lelaki lain?" tanya Alice memastikan.
Meskipun setahu Alice hanya Daniel yang menyentuhnya, tapi tak menutup kemungkinan Jasmine tidak melakukan dengan lelaki lain. Hal itu bisa saja terjadi, bukan?
Bagaimana pun juga, Alice toh bukan orang yang mengetahui dengan detail apa saja yang Jasmine lakukan. Wanita itu bisa saja melakukan banyak hal yang tak ia ketahui.
Jasmine menutup mata sejenak, memikirkan jawaban apa yang seharusnya ia berikan. Berbohongkah? Jujurkah?
Alice adalah orang yang sangat bisa dipercaya. Mungkin, dia bisa menjadikan Alice sebagai tempatnya berkeluh kesah. Bukankah lebih baik seseorang memiliki teman curhat?
"Ya. Daniel ayah anak ini."
"Oh. Oh. Oke. huh. Jadi bagaimana?"
Mendengar jawaban Jasmine yang jujur, membuat Alice salah tingkah sendiri. Dia memang sudah memperkirakan ini. Tetapi mndengarnya langsung dari Jasmine masih saja memiliki efek yang berbeda. Seperti mendapat keterkejutan baru yang berada di luar dugaan.
"Bagaimana?" Jasmine mengulangi pertanyaan Alice dengam sedikit bingung. Memangnya mau bagaimana lagi? Jasmine sudah hamil. Mau tidak mau dia memang harus menerima fakta ini dengan lebih baik.
"Maksudku, Daniel sudah mengetahuinya? Langkah apa yang akan kau ambil? Musyawarah dengan Daniel pasti bukan hal yang buruk." Alice bertanya lebih mendetail.
Setelah jeda sedikit lama, Jasmine akhirnya menjawab peryanyaan Alice dengan jawaban lirih.
"Aku tak berniat untuk memberitahunya. Daniel pasti tak akan menyangka. Dia juga bisa saja tak percaya. Bagaimana pun juga, malam itu dia menggunakan pengaman. Kau tahu maksudku, bukan? Jadi, adanya janin ini merupakan hal yang tak diharapkan."
Alice membelalakkan matanya lebar, mencoba mencerna apa yang baru saja Jasmine sampaikan. Jadi wanita itu telah berniat untuk tidak mrmberitahu kehamilan ini dan menutupi fakta sebenarnya. Sepertinya hubungan antara Daniel dan Jasmine sedikit kurang baik. Mereka sekilas seperti tidak cocok satu sama lain. Entahlah. Alice sendiri juga bingung mengartikan sikap mereka.
Keputusan Jasmine sekarang tak jauh berbeda dengan Alice. Dulu, saat ia hamil Axel, Alice sempat berpikir untuk menymbunyikan kehamilan miliknya. Ada banyak alasan yang melatar belakangi. Salah satunya adalah takut hal tersebut bukanlah hal yang bisa Anson terima. Meskipun akhirnya Anson bisa menerimanya, tetapi banyak masalah yang terjadi saat itu. Tentang perebutan Axel yang menyulitkan dan banyak hal lainnya. Itulah yang mendasari Alice memiliki pikiran seperti itu.
__ADS_1
Melihat Jasmine yang seperti ini, Alice sedikit banyak memahami situasi Jasmine. Sebagai wanita bayaran, pasti tak mudah bagi Jasmine untuk bisa mengandung benih lelaki. Konsekuensi yang menyertainya cukup banyak.
Dengan penuh pengertian, Alice mengangguk, mencoba untuk tidak menghakimi perbuatan Jasmine. Setiap orang memiliki sisi lain yang sering kali tak dipahami orang lain. Satu-satunya hal yang bisa Jasmine lakukan saat ini adalah menerima dengan baik apa pun keputusan yang temannya ambil. Jasmine sudah dewasa. Dia tak perlu dihakimi dan dihujat.
"Aku hanya bisa mendukung apa pun keputusan yang kau ambil saat ini, Jasmine. Semoga keputusan yang kau ambil adalah yang terbaik menurutmu."
Setiap orang memiliki sisi lain dan rahasianya masing-masing. Alice hanya ingin menghargai apa pun yang telah temannya putuskan. Baik dan buruknya, setiap orang pasti sudah memikirkan konsekuensinya. Toh, Alice hanya bisa merangkul. Dia tak mengalami sepenuhnya apa yang Jasmine alami.
"Kau tidak menghakimiku?" Jasmine terlihat tak percaya.
"Tidak. Untuk apa? Kau memiliki alasan tersendiri untuk semua ini, bukan? Hanya saja, jika nanti Daniel bersikap baik, bisakah kau mengubah keputusanmu dan memberitahunya? Kupikir, Daniel adalah orang yang cukup baik selama menyangkut tentang hal-hal penting," bujuk Alice pelan-pelan.
Jasmine menatap Alice dengan sorot mata tak terima. Benar saja. Baru saja Alice bersikap bersahabat, sekarang dia mulai membujuk Jasmine melakukan apa yang tak ia inginkan.
Jasmine sedikit merasa kesal dengan kenyataan ini.
"Tidak, Alice. Aku sudah lama tak mempercayai lelaki. Mereka yang bersikap baik kebanyakan hanya menampilkan cover saja. Isi hatinya tak jauh berbeda dengan kebanyakan lelaki lainnya!" ketus Jasmine sedikit emosi.
"Jasmine, maksudku—"
"Sudahlah, Alice. Bayi ini adalah areaku, keputusanku!" Jasmine segera berdiri dan berjalan pergi meninggalkan ruang makan. Dia tak lagi peduli dengan panggilan-panggilan Jasmine yang terdengar samar di belakang.
Jasmine berpapasan dengan William. Wanita itu tak menyapa sama sekali kepala pelayan dan pergi berlalu begitu saja. Setibanya di ruang makan, William menatap Alice dengan pandangan penuh tanya.
"Biarkan saja, William. Jasmine sedang dalam suasana hati yang tak baik. Dia perlu beristirahat sepertinya." Alice mengangkat bahu, mencoba tak membahas topik ini lagi.
Jasmine berhak mendapatkan kebebasan. Alice hanya berusaha memberi ruang yang cukup untuknya. Jika nanti Jasmine berubah pikiran, biar dia sendiri yang memutuskannya.
"Oh, wanita memang selalu seperti itu. Suasana hati yang tak rasional." William menggerutu. Dia berjalan cepat menuju dapur untuk melihat persediaan makanan yang ada. Dia perlu membuat daftar belanja bulanan untuk membantu Caterine sebelum wanita itu terbiasa.
"Memang begitulah kami adanya, William. Kau hanya harus memahami keadaan kami." Alice terkekeh geli, merasa lucu mendengar gerutuan William.
Keduanya saling tertawa bersamaan. Mereka mengisi keheningan ruang makan dan dapur ini dengan keceriaan. Sejenak, tak ada kesepian lagi untuk hati Alice yang ditinggal oleh Klayver. Semuanya tertutupi dengan adanya teman-teman setia di sampingnya.
…
Klayver berjalan menuju halaman mansion mewah di kawasan London milik mantan hakim yang memiliki masa akhir jabatan beberapa tahun yang lalu. Dia mengawasi gerbang tinggi yang mengelilingi mansion. Jalan lebar yang ada di depannya hanya menjadi pemandangan kecil jika dibandingkan mansion raksasa yang dibangun oleh Arnold Murdock.
Sistem keamanan canggih. Banyak security dan pengawal berpakaian hitam yang berlalu lalang mengelilingi bangunan ini, berjaga dengan jam yang teratur. Camera CCTV berada di banyak sudut. Baik yang terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi. Mungkin, dalam hitungan kasar, bisa jadi seluruh mansion dipasangi seratus CCTV. Sesuatu yang amat menggelikan sebenarnya.
Bibir Klayver tertarik ke ujung, membentuk senyum sinis. Mantan pejabat itu telah mengalokasikan dana dari hasil korupsi dengan sangat bijak. Dia mempertahankan keamanan diri dengan baik dan tak bercela. Setiap celah ditutup dengan keamanan yang sempurna.
Arnold adalah mantan hakim yang dulunya menggunakan jabatan yang ia miliki untuk mendapatkan uang dari para calon nara pidana. Dia memfasilitasi secara samar para pengedar narkoba dari banyak organisasi besar untuk meloloskan setiap tindakan kriminal mereka. Tak mengherankan jika banyak kasus yang Arnold bebaskan di meja hijau hanya karena dia menerima uang di belakang layar.
__ADS_1
Beberapa orang telah mengetahui operasi yang Arnold lakukan. Tetapi mereka tak bisa berbuat apa-apa. Arnold memiliki orang-orang yang sangat kuat sehingga ia sulit untuk digulingkan begitu saja.
Setiap kali Arnold membebaskan seorang tersangka dengan dakwaan berat, sebagai gantinya, dia membutuhkan kambing hitam untuk melemparkan kesalahan tersebut. Tak jarang, banyak pihak-pihak terkait yang sengaja diumpankan hanya demi menyelamatkan orang-orang yang seharusnya bersalah.
Sayangnya, dari semua tindakan Arnold, dia memiliki kekurangan. Dia hanya berfokus untuk menyelamatkan orang-orang yang menbayarnya, tanpa berfokus untuk meneliti siapa kambing hitam yang coba ia korbankan. Akibatnya, dia mengorbankan beberapa orang yang salah. Salah satunya, adalah putra penyelundup gelap paling tersohor di wilayah Amerika, Ron Stewart.
Karena kemarahan yang tak berkesudahan atas tindakan sembrono Arnold, Ron menyewa jasa Klayver dan beberapa orang lainnya agar ia menghabisi putra Arnold, sebagai balasan atas kematian putranya sendiri.
Klayver pun menerima tawaran itu. Masing-masing sari pembunuh yang disewa Ron memiliki tanda tersendiri ketika ia berhasil membunuh putra Arnold. Ada jejak yang mereka tinggalkan untuk menandai siapa yang berhasil membunuhnya. Karena Klayver identik dengan kuntum melati, dia melakukan kesepakatan dengan cara memberikan jejak berupa satu kuntum melati pada jasad putra Arnold, sebagai bukti keberhasilannya membunuh.
Akhirnya, seperti yang semua orang duga, Klayver-lah yang berhasil membunuh putra Arnold. Dia meminggalkan jejak sekuntum melati seperti yang ia janjikan pada Ron Stewart.
Karena hal inilah Klayver kemudian diburu habis-habisan oleh Arnold. Lelaki itu sangatlah pendendam. Bukan hanya Ron saja yang diburu, bahkan Klayver yang hanya melakukan tugas bayaran pun juga ikut dkejar hingga kini.
Tak ada hal lain yang bisa Klayver lakukan selain membungkam Arnold. Jika ia tak segera menghabisinya, maka nyawa Klyaver-lah yang terancam. Tidak apa-apa jika Klayver yang menanggung akibatnya. Jika Alice dan anak-anaknya ikut terseret, Klayver pasti akan menyesal dengan sangat.
Demi Alice, Klayver harus membereskan semua masalah yang bisa memicu bahaya. Kehidupan yang Klayver miliki penuh warna. Banyak perburuan dan aksi berdarah. Sebisa mungkin, ia ingin melindungi keluarganya akan tetap aman. Hanya inilah satu-satunya cara agar dia merasa tenang. Menghabisi musuh-musuhnya satu demi satu layaknya psikopat.
Kalyver meninggalkan mansion tersebut dan berlalu pergi begitu saja. Penampilannya yang sederhana dengan kemeja kebesaran dan celana kain kedodoran membuat keberadaannya tak dicurigai sebagai mata-mata atau pun sosok yang berbahaya.
Cara Kalyver berjalan sedikit canggung, menunjukkan dia adalah orang yang cukup kaku dan introvert. Tetapi meskipun penampilannya seperti itu, otaknya berjalan dengan sangat canggih. Dia tengah memikirkan bagaimana caranya memasuki keamanan mansion Arnold yang sangat kuat. Mungkinkah dia harus meneliti saluran air? Ventilasi udara? Perlukah ia menyamar sebagai pelayanan service listrik? WC?
Sepertinya aksi kali ini akan sedikit sulit. Arnold adalah orang yang sangat kuat ketika ia berada dalam kediamannya. Semua security, pengawal, dan banyak teknologi canggih melindungiya dengan sempurna.
Para pengawal dan security, serta pelayan yang memasuki kediaman ini harus melalui pintu khusus untuk dipindai sidik jari dan pupil matanya. Sulit untuk menyusupi mansion ini.
Satu-satunya kesempatan bagi Klayver untuk mendekati Arnold adalah menunggu dia berada di ruang terbuka. Lelaki itu pasti akan membawa banyak pengawal setiap kali akan keluar mansion. Entah untuk pertemuan bisnis atau pun sosial. Tetapi setidaknya menyerangnya di tempat terbuka memiliki kemungkinan peluang yang lebih besar dari pada menyerang di mansion. Ibaratnya, ular akan lebih berbahaya jika diserang di kandangnya dari pada di jalanan. Klayver harus pintar-pintar dalam memanfaatkan keadaan.
Setelah berpikir cukup lama dalam perjalanan kembali ke motel murahan, Klayver akhirnya menyimpulkan sesuatu. Dia harus segera mencari tahu semua kegiatan rutinitas Arnold saat keluar dari mansion. Dia pernah mendengar Arnold menyimpan wanita di ujung kota ini yang akan ia datangi setiap beberapa minggu sekali. Mungkin ia bisa memanfaatkan kesempatan ini.
Klayver harus mencoba menyusup ke dalam email dan fasilits teknologi milik Arnold. Dari sana, mungkin ia akan menemukan informasi-informasi penting seputar agenda-agenda yang Arnold miliki. Dari acara sosial, amal, hingga lain-lain.
Setelah memiliki rencana ini, wajah Kalyver sedikit tenang. Bukan tidak mungkin untuk mengalahkan Arnold. Setiap orang memiliki celah. Kita hanya harus mencari tahu di mana celah itu dan menyusupi setiap jalan yang ada demi menembus kelemahan orang tersebut.
Sekuat-kuatnya predator, dia tetap memiliki sisi lemah. Sisi di mana ia mudah diserang dan mudah dilumpuhkan. Mustahil Tuhan menciptakan makhluknya tanpa kelemahan sama sekali. Bahkan setiap tokoh pahlawan saja memiliki kekurangan. Apalagi penjahat. Iblis tidak selamanya selalu berada di posisi menang.
Klayver tiba di kawasan kumuh yang ia tinggali untuk sementara waktu. Tak jauh dari mansion milik Arnold, ada sebuah blok yang terpinggirkan. Blok ini adalah kawasan kumuh dan mudah disusupi penjahat. Memang mengenaskan. Di balik kemewahan gedung-gedung yang bak istana, di belakang rumah-rumah megah bak raja, tersimpan kebobrokan kawasan milik orang-orang miskin yang hidupnya saja terbengkalai dan tak terurus.
Kemanusiaan merupakan bisnis yang sering kali palsu. Mereka yang berkoar-koar akan kepedulian terhadap orang menengah ke bawah, kebanyakan adalah oknum-oknum pejabat yang memiliki nilai kepentingan tertentu demi menaikkan popularitas. Setelah popularitas naik, mana mau mereka memikirkan nasib rakyat jelata yang untuk makan saja susah.
Orang-orang yang sungguh peduli terhadap kemanusiaan dan kehidupan sesama, sering kali justru tenggelam dan tak terkespos. Mereka yang seperti ini menyumbangkan dalam diam setiap hal yang mereka punya, tanpa disorot oleh media sedikit pun. Mereka telah berikrar dan bersumpah pada nurani. Hal-hal yang berkaitan dengan ketulusan sering kali tersembunyi dan tak naik ke permukaan untuk dipuja-puja.
…
__ADS_1