
Picik?
Alice menyebut Jasmine sebagai orang yang picik? Tidak salah? Harusnya Alice menghakimi Daniel dan memberi lelaki itu sumpah serapah. Tetapi yang terjadi adalah Jasmine yang dituduh picik. Benar-benar tak masuk di akal.
Alice berjalan ke belakang meja dan menarik pengait kecil untuk membuka gorden kamar Jasmine. Pemandangan taman belakang terlihat mengesankan.
Ingatan Alice jadi kembali ke beberapa bulan lalu ketika Jasmine pertama kali menginjak rumahnya. Kamar ini adalah kamar yang langsung disorot Jasmine karena memiliki pemandangan taman belakang dan menghadap ke arah timur di mana matahari terbit. Menatap cahaya dari ufuk timur menjadu salah satu hal yang Jasmine sukai. Dengan kata lain, wanita itu jatuh cinta pada pandangan pertama dengan kamar ini.
Tentu saja Alice tak keberatan. Kamar Alice sendiri juga memiliki pemandangan yang sempurna, menghadap ke halaman depan dan sisi barat bangunan ini sehingga ia bisa menatap senja. Siluet matahari terbenam merupakan satu dari sekian banyak kejadian alam yang Alice sukai. Alice bisa mengerti arti keindahan dan menghargainya. Sehingga ia pun sangat memahami kemauan Jasmine. Mereka sebenarnya memiliki jiwa yang sama. Tak jauh berbeda satu sama lain.
"Kau ingat dulu saat pertama kali tiba di rumahku, kamar inilah yang langsung kau pilih?" tanya Alice. Tatapannya melayang seolah pergi ke masa lalu, mengalihkan topik dari pembicaraan sebelumnya.
"Ya. Kamar ini memiliki pemandangan matahari terbit." Jasmine menanggapi Alice dan melupakan sejenak perdebatan mereka sebelumnya.
"Kamarku justru memiliki pemandangan matahari terbenam." Alice membalikkan badan dan tersenyum kecil. Wajahnya terlihat lebih lembut dari pada sebelumnya. Sinar matanya kembali tampak bersahabat. Sejenak, mereka melupakan tentang perdebatan yang terjadi.
"Pada dasarnya, kita memiliki beberapa persamaan yang sama. Hanya berbeda pada beberapa hal. Sudut pandang kita seperti dua koin yang menghadap ke arah berlawanan. Begitu pun juga saat ini, Jasmine. Baik aku dan kau masing-masing menginginkan yang terbaik untuk satu sama lain. Aku ingin kau mendapatkan akhir yang bahagia. Pernikahan kau dan Daniel adalah apa yang aku impikan akhir-akhir ini. Mungkin Tuhan menjadikan kehamilanmu sebagai sarana yang akan menyatukan kalian."
Jasmine menjadi tak senang lagi ketika pembahasan mereka sampai pada topik ini. Rupanya Alice kali ini memiliki pendapat yang berbeda dengan dirinya. Prinsip Jasmine yang coba ia genggam kuat-kuat terasa percuma untuk tetap dipertahankan di hadapan Alice yang mulai berpikir tentang romantisme.
Karena Alice sudah menikah dan memiliki cinta sempurna, dia menjadi sangat berhasrat dalam menerapkan rumus cintanya pada banyak orang di sekeliling. Seolah-olah Jasmine dan Daniel adalah sepasang insan yang dipersatukan alam melalui suatu kejadian tertentu. Pada akhirnya, dalam bayangan Alice, mereka akan menemukan cinta untuk satu sama lain.
Jasmine sudah hafal dengan drama-drama seperti itu. Terlalu sering cerita dengan alur yang sama dijadikan patokan kejadian nyata. Cinta yang ditemukan dalam pernikahan paksa. Wow Sangat dramatis. Persis judul film.
Tapi nyatanya, dunia nyata tak seindah itu. Tidak ada rumus klise yang terjadi begitu saja persis seperti cerita. Semua memiliki kemungkinannya masing-masing dan Jasmine berpendapat bahwa hidupnya sudah penuh masalah. Dia dan Daniel merupakan dua individu yang memiliki perbedaan mencolok satu sama lain. Tanpa orang lain tekankan, Jasmine tahu situasi yang ia alami ini hanya akan berujung kepahitan.
Jasmine dan Daniel jelas tak akan pernah bisa saling mencintai. Terlalu banyak perbedaan. Terlalu banyak hal yang mereka pertentangkan. Satu-satunya hal yang akan mereka lewati adalah permusuhan bersama tanpa ujung dan tanpa batas waktu.
Itulah kenapa Jasmine tidak berniat menyambut tawaran pernikahan Daniel. Karena dari awal saja ia sudah tak yakin akan jadi seperti apa kehidupan rumah tangganya. Bisa-bisa Jasmine hanya akan menjadi tawanan penuh Daniel yang bisa dimanfaatkan begitu saja.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak bisa mempercayai pernikahan lagi, Alice. Pengalaman hidupku sudah memberi banyak pelajaran. Aku bukan wanita bodoh yang mau mengulangi kesalahan yang sama! Tidak akan!" Jasmine menolak dengan keras kepala. Dia memahami mungkin Alice belum pernah mengalami hal serupa, sehingga pernikahan bagi Alice terlihat seperti ikatan yang suci tanpa masalah sedikit pun. Tetapi bagi Jasmine yang pernah merasakan semua kepahitan itu, ia benar-benar sudah kenyang dimanipulasi dalam bentuk pernikahan.
"Bukankah kau bilang Daniel akan tetap menggugat anak itu setelah kau melahirkan? Daniel bisa menjadi orang yang sangat keras kepala. Dia sangat mungkin menyudutkanmu di meja pengadilan dan menunjukkan bukti-bukti yang akan memberatkanmu. Aku tahu kau memiliki kekuatan dan koneksi yang bagus, Jasmine. Hanya saja, lawanmu kali ini adalah Daniel. Dia lebih dari mampu menentangmu. Jika kau keras kepala, kau hanya akan kehilangan anakmu. Saat kau memilih menerima tawaran pernikahan Daniel saat itu, keadaan sudah berbeda. Sudah terlambat bagimu untuk menyerah dan mengibarkan bendera tanda damai. Jadi, kusarankan, terimalah tawaran Daniel untuk menikah sebelum semuanya terlambat." Alice mengusap lembut tangan Jasmine. Kedua matanya menunjukkan keseriusan.
Alice ingin Jasmine memahami situasinya saat ini. Tidak selamanya wanita itu memiliki kendali dalam segala situasi. Terkadang kehidupan mampu membantai kita hingga tak menyisakan apa pun lagi. Jika itu yang terjadi, bukankah sebaiknya kita menyerah sejak awal dan membiarkan waktu menentukan segalanya? Apa sulitnya menerima perdamaian dengan menurunkan sedikit harga diri kita?
"Kau membelanya?"
Jujur, Jasmine merasa dikhianati mendengar penuturan Alice. Seolah-olah wanita itu memang sengaja menyudutkan dirinya dan membela Daniel secara tidak langsung. Bagaimanapun juga Alice adalah teman Daniel sejak lama. Bukan hal yang mengejutkan jika mereka saling mendukung satu sama lain.
"Aku tidak membelanya. Aku memberikanmu gambaran yang masuk akal. Kau akan dituntut dengan banyak gugatan setelah kelahiran anakmu. Tidak bisakah kau melihat situasi ini dengan lebih seksama?"
Benar-benar melelahkan untuk berbicara dengan Jasmine saat ini. Dia bukan hanya keras kepala, tetapi juga sulit memahami kenyataan yang sesungguhnya.
"Aku ingin mempertahankan bayi ini dengan segala cara!"
Benar saja. Jasmine sangat sulit untuk diajak melihat situasi sesungguhnya. Posisi Jasmine saat ini sulit. Dia terancam kehilangan anak itu sepenuhnya jika tetap bertahan dengan kemauannya. Daniel bisa menjadi sangat kuat jika mau. Dalam hal ini, Jasmine bukanlah lawan yang seimbang.
Wajah Alice menunjukkan kelelahan. Berbicara dengan Jasmine sangatlah menguras tenaga. Alice berjalan ke sisi ranjang dan dengan nyaman mulai duduk di sana. Sebuah bantal besar berwarna violet ia ambil begitu saja dan dijadikan sebagai penopang tangan. Tangan kanan Alice melambai kecil, memberi isyarat agar Jasmine duduk di sampingnya. Sepertinya malam ini mereka perlu membahas topik ini lebih dalam lagi.
"Begini, Jasmine. Perlu kuingatkam meskipun Daniel bukan penjahat kelas kakap, tetapi ia memiliki kemampuan meretas data dan mencari keberadaan orang lain. Aku benar-benar tak bisa merememehkan kemampuan Daniel dalam hal pencarian seseorang. Kau pikir, jika kau menyembunyikam anakmu nantinya, Daniel tak bisa mencari keberadaannya? Jika kau berpikir bisa mengakali Daniel, maka kau perlu melihat Daniel lebih jeli lagi."
Bagaimama bisa Jasmine tak mengerti tentang semua itu? Sudah dari awal Alice mengingatkan Jasmine jika Daniel memiliki kemampuan dalam bidang teknologi dan pemograman komputer. Menjadi hal umum bagi Daniel untuk mencuri data, mencari keberadaan seseorang, dan menyusupi sistem lain yang berkeamanan kuat. Jika Jasmine berpikir bisa mengelabui Daniel dalam menyembunyikan anaknya kelak, wanita itu perlu disadarkan lebih awal. Sangat tak mudah untuk membohongi Daniel. Kecuali jika lawannya sekuat Klayver, baru Alice yakin usaha Jasmine berhasil. Tetapi memasukkan Klayver dalam kasus kali ini juga tidak mungkin. Suami Alice adalah orang yang tidak mau mencampuri urusan orang lain, apalagi masalah tentang anak yang pada dasarnya menjadi urusan privasi masing-masing orang.
"Oh, aku terkadang lupa lelaki itu ahli dalam meretas data dan memburu keberadaan orang lain." Jasmine membaringkan tubuhnya dengan tatapan pasrah. Dia menjadikan sebelah lengannya sebagai penopang kepala. Rambut pirangnya terlihat semakin berantakan dengan ujung-ujungnya yang mencuat ke mana-mana. Penampilam Jasmine benar-benar kacau. Alice baru pertama ini melihat Jasmine dalam keadaan tak karuan. Jauh dari reputasi Jasmine sebelumnya yang dikenal sangat memperhatikan kecantikan.
"Kau perlu tahu bahwa untuk ukuranmu, melawan Daniel adalah hal yang cukup sulit."
Beberapa tahun yang lalu Daniel hanyalah peretas biasa dengan perusahaan yang sedang berkembang. Tetapi sekarang Daniel berhasil berkembang dengan cukup signifikan. Perusahaannya semakin membesar dan memiliki banyak cabang. Tendernya selalu menang di mana-mana. Karyawannya beranak pinak tak terhitung jumlahnya. Satu lagi. Program keamanan dan jasanya semakin diketahui banyak orang dan kemampuannya bertambah sebanding dengan pertumbuhan bisnisnya.
__ADS_1
Dengan kata lain, Daniel adalah orang yang berhasil meniti karir dengan cemerlang. Grafik bisnisnya semakin menanjak menggiurkan investor mana pun. Dia merupakan aset yang sangat langka.
Andai dulu nama Daniel sebesar dan sekuat sekarang, Anson pasti memiliki lawan yang cukup kuat. Saat itu Daniel masih memiliki harapan untuk mengejar Alice. Beruntung dulu Daniel tak sebesar sekarang. Setidaknya Anson dan Daniel tak perlu berhadap-hadapan saling melawan satu sama lain. Hanya ada kehancuran jika kedua orang yang memiliki kekuatan besar saling bertanding memperebutkan sesuatu.
"Jadi, apa yang kau sarankan?" tanya Jasmine lemah. Dia membuang lengannya ke samping, membiarkan kepalanya menatap langit-langit kamar tanpa alas kepala sama sekali. Lampu kamar ini berwarna orange samar-samar, menampilkan sisi lembut. Biasanya Jasmine akan merasa nyaman berada di ruangan ini. Tetapi untuk sekarang, suasana hatinya cukup kacau luar dalam.
"Menerima pernikahan yang ditawarkan Daniel."
"Kau gila ya?!" Jasmine secepat kilat menolah dan menatap wajah Alice yang menampakkan keseriusan.
"Tidak. Hanya berpikir lebih realitis dari pada dirimu." Dada Alice terlihat naik turun, mencoba bersikap sabar selama mungkin dalam menghadapi Jasmine yang sulit diarahkan. Apa susahnya menikah dengan Daniel? Lelaki itu cukup logis untuk bersikap baik dan kemungkinan bisa menerima Jasmine secara perlahan.
"Pernikahan seperti apa yang bisa aku miliki dengan lelaki seperti itu, Alice? Kau tahu aku wanita malam dam kau juga tahu Daniel lelaki dengan latar belakang yang baik. Pernikahan bukan sebuah permainan puzzle yang bisa dipasang dan cocok dengan mudah! Jika nanti kami tidak cocok, tetap saja akan bercerai. Untuk apa juga mencoba menikah jika akhirnya hanya berpisah? Itu jika masalahnya sekadar ketidakcocokan. Bagaimana jika masalahnya adalah aku ditekan secara psikis dan disudutkan terus menerus? Siapa yang akan membelaku nantinya?"
Alice memilih untuk tak menjawab pertanyaan Jasmine. Dia saat ini malah memejamkan mata, membiarkan Jasmine berpikir semaunya sendiri. Tak disangka Jasmine adalah orang yang sangat paranoid. Semua hal yang berhubungan dengan pernikahan selalu dikaitkan dengan keburukan demi keburukan. Seolah-olah pernikahan memang gudangnya penyiksaan mental.
"Bagaimana jika kau mencobanya terlebih dahulu? Menikahlah dengan Daniel setidaknya sampai lima tahun ke depan. Selama lima tahun itu, kau bisa menunjukkan reputasi yang baik sebagai seorang ibu. Mungkin kau bisa mengurangi bisnis kotormu secara pelan-pelan dan menunjukkan perkembangan dalam sikap dan perilaku. Dengam begini, jika kau nanti tidak nyaman dan berniat menggugat cerai, kau memiliki kedudukan yang seimbang dengan Daniel di depan pengadilan. Saat itu, kemungkinanmu untuk mendapatkan hak asuh anak, sama besarnya dengan Daniel."
"Tetapi selama lima tahun itu …."
"Anggap saja sebagai pengorbanan yang harus kau lakukan demi anakmu. Bukankah dengan begini lebih baik? Kau tak perlu dituntut untuk menyerahkan hak asuh bayimu dan kau juga bisa mencoba mencecap pernikahan lagi? Setidaknya, jika pernikahanmu buruk, toh kau masih bisa mengakhirinya. Jika ada apa-apa, misal Daniel mengancammu dengan pembunuhan dan kekerasan rumah tangga misalnya, sesuatu yang aku yakin tak akan terjadi sebenarnya, ini hanya perandaian saja. Kau bisa mengatakannya padaku dan aku akan memaksa Klayver untuk membantumu. Bagaimana?"
Kata-kata yang baru saja dikatakan oleh Alice diserap dengan baik oleh Jasmine. Kelihatannya wanita itu mulai memikirkan semuanya dengan lebih hati-hati. Jasmine seperti tengah mengalami pertentangan batin. Dengan perlahan, satu per satu saran Alice dipilihnya dengan penuh kehati-hatian.
"Tapi pernikahan itu adalah sebuah tindakan yang penuh resiko."
"Hidup memang harus mengambil resiko sesekali, Jasmine. Apa gunanya hidup jika kau hanya menjalani semuamya secara monoton?"
"Tapi—"
__ADS_1
"Kau harus melawan ketakutanmu sendiri dan cobalah berdiri sebagai pemenang di titik akhir!"
...