
Daniel duduk di depan komputer. Dia menghabiskan satu jam di ruang kerja meneliti banyak laporan dan ide-ide brilian dari anak buahnya.
Musik lawas sembilan puluhan mengalun lembut dari sound di sudut ruangan. Daniel menopangkan sebuah tangan ke sisi wajah dan menatap kosong layar di depannya.
Daniel hilang arah. Itulah sebutan yang cocok ia sematkan untuk dirinya sendiri. Semua bermula sejak kemarin malam ia menawarkan diri untuk meminta satu malam dari Jasmine. Dari semua reaksi yang Daniel harapkan, dia ternyata ditolak terang-terangan oleh Jasmine.
Tadinya Daniel pikir wanita seperti Jasmine akan menerima setiap tawaran yang ada. Nyatanya, dia memilih menolak dirinya.
Sebagian diri Daniel merasa terluka. Ada sisi dirinya yang masih tergores saat harga diri Daniel ditolak oleh Jasmine secara langsung.
Entah alasan apa yang disimpan Jasmine. Daniel tidak mengetahuinya. Tetapi hal itu semakin terasa mengganjal di hatinya. Sebenarnya apa yang mendasari Jasmine menolak? Mungkinkah karena ketidaksukaannya yang cukup jelas ketika mereka bersama? Siapa pun bisa melihat antara Daniel dan Jasmine tak ada kecocokam sama sekali.
Selalu ada pertentangan dan perdebatan. Salah satu yang lain selalu merendahkan yang lainnya. Bisa saja itu faktor yang mendasarinya.
Jadi, sungguh lucu tiba-tiba Daniel mengatakan permintaan itu secara langsung.
Daniel berdiri bingung, dan memikirkan apa yang harus ia lakukan.
Hasrat yang dimilikinya untuk Jasmine terlalu besar dan tak bisa dikendalikan. Bayangan tentang wanita itu mampu merusak seluruh fokusnya bahkan saat daniel bekerja pun hal itu tak bisa hilang.
Daniel harus melakukan sesuatu untuk menenangkan dirinya. Dia butuh penetral. Satu-satunya hal yang bisa ia pikirkan untuk meredam gairahnya adalah memiliki Jasmine untuk satu malam. Mungkin, dengan satu malam itu semua hal gila yang mengganggunya bisa terangkat. Fokus Daniel kembali ke semula dan hari-hari Daniel lebih baik lagi.
Terkadang, sebuah obsesi itu akan terus membesar dan membesar, menuntut untuk dipuaskan. Padahal, jika sekali saja obsesi itu dipuaskan, dahaga tersebut akan hilang untuk selamanya.
Daniel mendesah lirih, mengutuk dirinya sendiri yang memiliki obsesi gila pada wanita bayaran seperti Jasmine.
Apa bagusnya Jasmine? Cantik? Banyak wanita baik-baik di luar sana yang lebih cantik. Pintar? Ada ribuan wanita lain yang kapasitas kecerdasannya lebih baik dari Jasmine. Kaya? Jasmine bukan satu-satunya wanita yang memiliki kekayaan tinggi.
Jadi, kenapa kecenderungan Daniel tetap jatuh pada wanita itu?
Gila. Itu adalah jawaban Daniel yang masuk akal. Karena akal sehat Daniel mulai tergerogoti jam kerja yang tak beraturan sehingga tak lagi bisa memilih mana wanita baik-baik dan bukan. Itulah masalahnya.
__ADS_1
Jika hal ini terus mengganggunya, Daniel tergoda untuk mendatangi seorang psikolog.
Dengan kesal, Daniel mematikan komputer di atas meja kerja dan menyingkirkan beberapa map yang tak teratur. Besok hari selasa. Jam kerjanya yang tak beraturan akan dimulai lagi
…
Jasmine duduk terpekur di ranjang kamar, menatap layar laptop yang menampilkan banyak email masuk. Jasmine berniat untuk merespon beberapa email penting. Tetapi lebih dari setengah jam ia di sini, hanya ada dua kata yang baru saja ia ketik dan kemudian ia hapus lagi.
Pikirannya kosong. Otaknya kacau.
Satu-satunya yang ia pikirkan saat ini adalah permintaan Daniel yang tiba-tiba untuk melakukan kesepakatan satu malam degannya.
Jasmine tahu jenis lelaki seperti apa Daniel. Dia bukannya tak tertarik, hanya saja dia tak ingin menjadi benda yang dipakai hanya untuk diolok-olok.
Tujuan Daniel melakukan hal tersebut sudah jelas. Hanya untuk merendahkan Jasmine dan memberi tahu posisi Jasmine yang jauh dari pantas.
Daniel adalah lelaki yang sangat keterlaluan. Tidak masalah Daniel membenci Jasmine. Tidak masalah Daniel membenci profesi yang Jasmine lakukan. Tetapi tidak seharusnya lelaki itu melakukan penawaran hanya untuk menjatuhkan Jasmine.
Kini, entah demi untuk memuaskan rasa penasaran atau demi untuk semakin menjatuhkan Jasmine, Daniel menawarkan transaksi dengannya.
Sayangnya, ada sisi rapuh yang bisa Daniel bangun di bagian hati Jasmine. Jika ia menerima tawaran tersebut, Jasmine takut ada hatinya yang akan hancur ketika Daniel nanti menjatuhkan Jasmine lebih rendah lagi.
Jasmine hanya memiliki bisnis. Hati dan jiwanya sudah lama ia gadaikan. Kini, kedatangan Daniel yang tiba-tiba dengan cara yang tak sengaja membuat Jasmine merasa was-was. Wanita itu khawatir, entah bagaimana Daniel nanti pasti akan melukainya
Aneh memang. Tetapi Jasmine merupakan orang yang sangat memperhatikan instingnya sendiri. Dia mengandalkan hal ini selama bertahun-tahun. Lama-lama insting yang ia miliki menajam seiring bertambahnya usia.
Suara ketukan pintu terdengar nyaring. Jasmine mengerutkan kening dan membuka pintu kamar yang telah ia kunci. Di balik pintu, Alice berdiri menatapnya dengan menggenggam gagang telepon.
"Ada panggilan dari Daniel untukmu." Alice mengangsurkan benda tersebut kepada Jasmine dan berlalu pergi.
Jasmine menatap benda yang kini ia pegang. Keningnya mengernyit dalam. Hatinya mulai bertanya-tanya.
__ADS_1
Daniel menghubunginya? Untuk apa?
"Ya? Ada apa, Daniel?" Jasmine menutup pintu kamar dan berjalan ke arah ranjang. Dengan hati-hati, dia mematikan laptop dan meletakkannya di atas meja nakas.
"Aku ingin membahas tentang tawaran kemarin." Terdengar suara Daniel yang berat.
Jasmine membeku untuk sesaat dan mendengarkan dengan seksama. Mungkinkah Daniel akan menawarkan kembali kesepakatam itu padanya hanya untuk memperolok Jasmine?
Lelaki terkadang pikirannya sulit untuk diraba. Membuat kita hanya bisa mengira-ngira saja.
"Ada apa?" Jasmine mengulang kembali pertanyaanya.
"Kenapa kau kemarin menolak tawaranku, Jasmine? Dengan cara apa supaya kau mau menerima tawaran itu dariku?"
Pertanyaan itu membuat Jasmine mematung untuk beberapa saat lamanya. Jasmine tak tahu harus menanggapi seperti apa. Di lubuk hatinya yang terdalam, Jasmine tahu ini hanyalah permainan kaum jenset seperti Daniel untuk menjatuhkannya.
Jika Daniel memang menginginkan wanita, kenapa harus Jasmine? Tidakkah ada wanita lain yang bersedia? Lelaki muda dan mapan seperti Daniel mudah untuk mencari pasangan. Sangat tak masuk akal jika ia justru menginginkan Jasmine. Kecuali memang untuk suatu tujuan buruk yang lebih dari pada itu.
"Aku tak butuh direndahkan olehmu, Daniel. Jadi simpan rencana licik milikmu itu. Jika kau serius ingin menyewa wanita, aku akan menberikannya, dengan tarif normal tentunya. Bagaimana?" tawar Jasmine bersikap rasional.
Daniel terdiam sebentar. Dia kemudian menyampaikan sesuatu.
"Bagaimana jika aku berjanji tidak akan membuat hal ini sebagai sesuatu yang akan merugikanmu nantinya. Aku tidak memiliki tujuan apa pun. Aku hanya murni ingin melakukan transaksi denganmu. Hanya kamu. Kau masih tetap menolakku? Ini adalah permintaan terakhirku tentang kesepakatan bersama. Bagaimana jawabanmu?"
Jasmine menggenggam gagang telepon semakin erat. Dia merasa dilema. Daniel sepertinya memang tak memiliki niatan buruk untuk menjadikan kesepakatan yang ia tawarkan sebagai olok-olok. Munkinkah Jasmine berani maju mengambil tawaran ini?
"Jasmine?" Daniel menginginkan kepastian.
Mulut Jasmine sulit untuk ia gerakkan. Dengan pelan, dia mengatakan sesuatu.
"Baiklah. Tapi aku harus menjaga Alice. Kau memiliki usul di mana kita akan melakukannya?"
__ADS_1
…