Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
023 - SEASON 2


__ADS_3

Rachel menatap langit malam yang berwarna gelap. Sudah beberapa hari ini ia lalui dalam diam. Dia memilih berdiri di sudut, menjadi pengamat untuk keluarga Millian. Dalam hati, ia menyimpan rasa ingin tahu yang besar. Siapa dan apa aktifitas yang dilakukan keluarga Millian sebenarnya.


Setiap malam ia lalui seorang diri. Hubungannya dengan Maxen tak ada peningkatan sama sekali. Mereka tidur terpisah antara satu dengan yang lain. Komunikasi mereka terbatas hanya pada hal-hal mendasar saja.


Terlepas dari niat awal pernikahan ini, Maxen bertindak dermawan kepada Rachel. Dia selalu menjatah keuangan Rachel secara berkala, dan memaksa Rachel untuk menerimanya. Jumlah uang bulanan tersebut cukup fantastis dan bisa membiayai hampir semua keinginan terpendam yang dimiliki Rachel.


Meski demikian, Rachel enggan menggunakan uang tersebut. Dia merasa tak layak untuk memakainya. Bagaiamanapun juga, ia bukanlah istri sesungguhnya sehingga tak pantas menerima semua tunjangan yang Maxen berikan.


Malam ini, Rachel duduk di kepala ranjang sembari memikirkan banyak hal. Dia melalui banyak hari tanpa berita perkembangan mengenai Harry. Dalam hati, ia bertanya-tanya. Apa yang telah lelaki itu lalui sehingga memutuskan bersembunyi dalam gelap.


Rachel pernah bertanya pada Alice mengenai Harry. Alice mengatakan bahwa sesuai informasi William, Harry adalah salah satu orang kepercayan William. Hanya itulah informasi yang ia dapat. Mengenai kondisi dan keberadaannya, William tak bersedia membuka suara.


Klek


Suara pintu terbuka. Rachel segera waspada. Pintu selalu ia kunci. Jika ada yang membukanya, tak lain dan tak bukan orang itu pastilah Maxen. Lelaki itu selalu merasa kamar Rachel masih menjadi wilayahnya. Benar-benar membuatnya tak nyaman.


"Ada apa?" Mata Rachel menyipit tak suka. Dia melihat sosok maskulin yang memasuki kamarnya tanpa rasa bersalah.


Maxen melengkungkan ujung bibirnya, membentuk seringai kecil. Piyama silver tampak menawan membalut tubuh kekar miliknya. Dia berjalan perlahan, bak seorang pemangsa yang siap menerkam mangsa.


Rachel mulai merasa terintimidasi. Punggungnya menegang, waspada pada semua kemungkinan.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin melihatmu." Maxen berkatan ringan dan duduk di sisi lain ranjang.


Rachel menelan ludah dengan susah payah.


Melihatnya? Alasan macam apa itu.


"Kau sudah melihatku. Pergilah, Maxen. Jangan ganggu aku." Rachel berkata setengah berbisik. Permintaan yang ia lontarkan terdengar penuh permohonan. Sama sekali tidak mirip sebuah perintah.


"Jangan terlalu berlebihan. Kau tak bisa mengusir suamimu sendiri." Maxen menatap Rachel dengan mata berbinar. Kali ini ada kelembutan baru. Sesuatu yang baru saja Rachel lihat dari lelaki itu.


"Kau hanyalah suami di atas kertas, Maxen. Jangan mulai memainkan drama." Rachel keras kepala.


Jujur, dia tak mengerti apa tujuan Maxen sebenarnya. Dia hanya merasa kewaspadaanya perlu dikuatkan berkali-kali lipat saat ini. Lelaki itu, cukup misterius.


"Rachel, mungkinkah pernikahan di atas kertas tidak memiliki sedikit pun arti bagimu?" tanya Maxen tiba-tiba, membuat Rachel tersentak kecil.


Rachel mengerjapkan mata beberapa kali. Dia tak bisa meraba ke mana arah yang dituju Maxen kali ini. Mungkinkah lelaki tersebut mencoba memanipulasinya dan memancing informasi tentang keberadaan Harry? Jika demikian, Maxen harus menelan kekecewaan.


Rachel saja tak diijinkan untuk tahu, apalagi Maxen. Mustahil.


"Apa maksudmu, Maxen? Kau mulai memancing permainan denganku?" tanya Rachel penuh kecurigaan.


Hari demi hari, kecurigaan yang Rachel miliki untuk Maxen semakin berkembang di luar batas. Tak ada setitik kepercayaan pun untuknya.


"Rachel, sesuatu dalam hidup tak selalu berakhir buruk, meskipun memiliki permulaan yang buruk. Tidak selamanya orang sepertiku berminat untuk terus memasang permainan baru."


Maxen mencoba memahami keengganan Rachel. Entah bagaimana Rachel tahu, wanita itu seperti telah mengetahui bahwa Maxen memiliki sisi lain. Sebuah sisi yang tak pantas untuk mereka bahas.


Mungkinkah Rachel mengetahuinya dari Harry? Apakah lelaki tersebut akhir-akhir ini berhasil menghubungi Rachel dan memberi peringatan agar ia menjauhi Maxen?


"Mungkinkah akhir-akhir ini kau bertemu dengan Harry?" tanya Maxen tak bisa menahan diri lebih lama.


Rachel mengedipkan mata dua kali. Dia teringat pesan Harry agar tak membocorkan pertemuan mereka. Dengan begitu, Rachel hanya bisa menggeleng kuat-kuat untuk menyangkal pertanyaan Maxen.


"Matamu tidak bisa berbohong, istriku," sahut Maxen lembut.

__ADS_1


Rachel adalah orang yang cukup lugu, meskipun emosinya sering kali tak terkendali. Itulah kenapa setiap ia berbohong, cahaya matanya menyinarkan kebenaran yang ada. Untuk lelaki yang peka seperti Maxen, hal-hal seperti itu jelas bisa ditangkap dengan mudah.


"Terserah jika kau tak percaya." Rachel masih mencoba mengelak, melindungi kebohongannya. Suasana hatinya sedikit kacau mendengar Maxen memanggilnya sebagai istri. Itu … terlalu ganjil.


"Baiklah, kau bisa menyimpan kebenaran itu untuk dirimu sendiri, Rachel. Hanya saja, jika kau bertemu Harry, apakah kau bertanya alasan apa yang ia miliki sehingga meninggalkanmu persis sebelum pernikahan?" tanya Maxen menyudutkan.


Rachel memijat pelipisnya. Dia tak ingin membahas topik ini sekarang dengan Maxen. Tetapi sepertinua Maxen cukup sulit untuk diusir begitu saja dari kamarnya.


"Jika dia memberikan alasan klise kepadamu seperti 'aku meninggalkanmu demi kebaikanmu. Karena aku terlalu mencintaimu' maka kau patut untuk bertanya pada diri sendiri. Sebesar apa kebaikan dan cinta yang ia tawarkan sehingga bisa meninggalkanmu dalam posisi kritis menjelang perkawinan.


"Jika aku menjadi dia, semakin aku mencintai seseorang, semakin aku tak sanggup meninggalkannya. Aku akan mencari cara dengan kekuatanku sendiri untuk melindungi perempuanku dan memberi kebaikan padanya. Pikirkan itu, Rachel. Mungkin dengan begini, kau bisa melihat Harry dari sudut pandang yang berbeda."


Rachel tak bisa berkata-kata. Kepalanya terasa berat untuk mencerna semua penjelasan Maxen. Semakin dipahami, semakin sulit dimengerti.


"Kau adalah orang yang terlalu mudah untuk dibodohi, Rachel. Berubahlah lebih pintar sedikit." Mexen mengatakan kebenaran.


Bagi Maxen, Harry tetaplah seorang pengecut di matanya. Lelaki itu tak akan pernah melarikan diri meninggalkan wanita ringkih di belakangnya jika ia sungguh mencintai Rachel. Tindakannya hanya menguatkan serendah apa keberaniannya.


"Jadi karena aku mudah dibodohi, kau juga membodohiku, bukan? Sebenarnya apa tujuanmu menikahiku?" Rachel meluapkan pertanyaan yang beberapa hari ini terpendam tanpa bisa ia ungkapkan.


"Kau bukanlah lelaki yang memikirkan nama baik di atas segalanya. Jadi apa sebenarnya alasanmu menikahiku? Jangan bilang hanya untuk menutup gosip."


Rachel telah memikirkan kata-kata terakhir Harry. Maxen bukanlah seseorang yang menjunjung tinggi moralitas dan bersedia menikah hanya karena harga diri keluarga.


Jadi, kesanggupan dirinya menikahi Rachel masih menjadi tanda tanya. Mungkinkah memang sekadar langkah untuk memancing keberadaan Harry?


Jika ya, nyatanya semua itu tak berefek apa pun. Toh, Harry tetap tak kunjung muncul secara terang-terangan sekali pun tahu pasanganya dalam kendali keluarga Millian. Dia seperti tawanan yang mustahil dibebaskan.


"Pikirkanlah semaumu, Rachel. Di matamu, aku adalah ********'. Jadi, mindsetmu terlanjur terbentuk secara otomatis bahwa aku jahat. Percuma juga aku menjelaskan." Maxen berkata apa adanya.


Rachel mengusap hidungnya. Dia mulai mengamati Maxen dengan lebih seksama. Pengakuan yang baru saja ia dengar bukankah itu artinya Maxen memang bukan orang baik-baik?


"Maxen," panggil Rachel dengan suara lirih.


"Siapa kau sebenarnya? Orang seperti apa dirimu?"


Atmosfir ruangan menjadi berubah setelah pertanyaan itu terlontar dari mulut Rachel. Hanya detak jam dinding yang menjadi latar suara.


Pertanyaan tersebut sederhana. Tetapi terlalu dalam. Rachel telah menanyakan tentang siapa diri Maxen. Suatu hal yang tak pernah duga lelaki itu sebelumnya.


Lama, Maxen tak menanggapi apa pun. Dia berdiri, mengambil langkah demi langkah menuju jendela raksasa di sisi kamar, dan menyibakkan tirainya. Membuat pemandangan malam terhampar apik pada mereka.


Langit terlihat indah malam ini Bulan dan bintang tersebar di angkasa, membentuk cahaya yang menyenangkan mata. Di sana, malam seolah menawarkan ketenangan dan kehangatan.


Maxen menatap langit malam dengan emosi yang tak terbaca. Dia sudah sering mengamati malam. Selalu gelap. Tak ada yang berubah. Jika pun ada bintang seperti saat ini, itu hanya terjadi beberapa hari dari seluruh hari yang ada.


Terang dan gelap. Adalah suatu intesitas yang hakiki. Keduanya selalu ada, saling berlawanan, tetapi saling melengkapi. Tidak ada terang tanpa adanya gelap. Tidak akan disebut terang jika tak ada yang disebut gelap.


Ukuran gelap karena adanya terang. Jika keberadaan salah satunya lenyap secara total, maka yang satu juga tak lagi memiliki arti. Kesinambungan yang unik.


"Aku … adalah sebuah kegelapan itu sendiri. Seseorang yang sudah lama terperosok tanpa cahaya. Sekali pun aku pernah melihatnya, cahaya hanya sesuatu yang tampak jauh dari jangkauan. Sulit tergapai."


Maxen kembali terdiam. Jawaban itu adalah jawaban yang sebenarnya. Seharusnya Rachel sudah bisa menangkapnya.


Rachel memang sudah menduga hal ini. Semua yang ada pada Maxen bukanlah sesuatu yang sederhana. Lelaki itu terlalu kompleks. Ibarat warna, dia adalah pencampuran semua warna.


Namun, mendengar pengakuan ini tak urung hatinya merasa simpati. Seseorang yang sudah lama hidup dalam gelap, pasti cukup tersiksa.

__ADS_1


Pada dasarnya, yang membutuhkan cahaya bukan hanya tubuh. Tetapi jiwa pun juga. Cahaya adalah sesuatu yang sangat krusial. Kehilangannya, adalah suatu proses pembinasaan diri.


Rachel berdiri, berjalan mendekat ke arah Maxen dan ikut mengamati langit malam.


"Bahkan dalam kegelapan, akan selalu ada cahaya setelahnya. Tuhan tidak mungkin kejam membiarkan orang terjebak tanpa cahaya selamanya. Setiap hal pasti memiliki ujung. Setiap sesuatu pasti memiliki akhir. Tidak ada siklus yang tak berhenti. Ujung gelap adalah terang. Kau harus yakin itu." Rachel menepuk punggung Maxen dengan mantap. Dia ingin membagikan sedikit keyakinan yang ia miliki pada lelaki itu.


Jujur, Maxen tak menyangka Rachel akan memberi dorongan dengan kata-kata seperti ini. Dia sudah lama menyimpan semuanya seorang diri. Tak ada simpati apa pun yang ia terima Tak ada bentuk kepedulian apa pun yang ia dapatkan. Jika pun ada, mungkin hanya bentuk penghakiman tanpa akhir.


Harry adalah salah satunya. Lelaki yang sekaligus menjadi adiknya itu selalu menghakiminya hingga akhir. Itulah kenapa mereka saling bertentangan dari awal. Mereka adalah dua orang yang berbeda dan sama-sama ingin menahkodai kapal yang sama.


Sayangnya, kekuatan Maxen terlalu besar untuk ia tentang. Harry selalu kalah dalam prosesnya dan memilih pergi menyelamatkan semua moralitas yang ia miliki. Lelaki itu memiliki sisi pengecut karena hasratnya hanya melarikan diri, tanpa bersedia bertempur hingga berdarah-darah. Meskipun dia sesumbar untuk melindungi moralitas, tetapi cara yang ia lakukan tak mememiki keberanian sama sekali.


"Begitukah menurutmu, Rachel?" Maxen menoleh, menatap lama wanita yang berdiri di sisinya.


"Ya. Semua tergantung dirimu. Apakah kau akan menyambut cahaya atau tidak. Di ujung malam selalu ada fajar, Maxen. Kaulah yang memilih akan menyambut siang, atau tetap menanti malam."


Sorot mata Rachel penuh keseriusan. Tanpa sadar, dia menyentuh lengan Maxen untuk menguatkan. Tetapi tangannya ditangkap Maxen secepat kilat dan dikecup bibir Maxen yang lembut.


Sesaat, Rachel menegang. Dia bahkan lupa untuk menarik tangannya. Pandangannya hanya terfokus pada lelaki tersebut.


Netra gelap Maxen membara penuh makna. Sorotnya tak lagi dingin. Ada aura kental yang sangat menggoda darinya. Rachel terkejut. Dia merasa, lelaki ini terlalu rumit. Di detik sebelumnya ia bisa mengambil simpati Rachel, detik setelahnya ia sanggup mengancam Rachel.


Sekali lagi, Maxen mengecup ujung jemari tangan Rachel yang terasa lembut dan halus. Gerakannya pelan, tetapi membawa efek yang luar biasa. Bibirnya yang basah seperti membawa rasa panas di atas kulit Rachel. Wanita itu mulai meremang. Setiap tubuhnya berteriak penuh antisipasi.


Seharusnya Rachel menarik diri, seharusnya ia mundur dari sosok lelaki ini. Tetapi entah kenapa, kedua kakinya seperti terkunci dan tak bisa ia gerakkan. Semua sendinya memilih diam menyambut apa pun yang dilakukan Maxen.


Maxen melihat netra Rachel dan menilai situasi. Dia perlu tahu apakah wanita ini menolak dirinya atau tidak.


Wajah Rachel menampakkan kebimbangan. Sinar matanya tak yakin. Tetapi jelas ia tak kuasa menolak apa yang mulai dilakukan Maxen.


Rachel tak pernah tahu bahwa sebuah sentuhan mampu terasa sangat memikat. Secara resmi mereka suami istri. Tetapi hubungan mereka bagaikan perang dingin sepanjang hari. Baru kali ini Rachel dihadapkan pada kebimbangan.


Maxen tak menunggu lama. Dia merengkuh Rachel dan menjebaknya dalam pelukan hangat. Dada bidangnya seolah siap menopang Rachel, menawarkan kekuatan yang ia butuhkan.


Dengan lembut, Maxen mengusap-usap punggung wanita ini. Nafas lelaki itu menerpa sebagian sisi wajahnya. Sebelah tangannya mulai menyentuh surai pirang Rachel dan mengurainya lembut.


Gerakannya pelan, namun pasti. Dia menyurukkan wajahnya di lekuk bahu Rachel, menyesap aroma familiar seperti bunga lili. Aroma lembut yang sanggup memabukkan diri.


Rachel adalah nama lain dari keindahan. Maxen memberi kecupan pelan pada sisi leher istrinya dan menggoda cekungan kecil di bahu, yang menjadi titik sensitif wanita itu.


Kedua tangan Rachel masih terkulai lemas di di sisi tubuhnya. Sorot matanya semakin tak terdeteksi. Nafasnya pendek-pendek. Dia menatap Maxen dan mengerjapkan matanya perlahan.


Melihat Rachel seperti ini, membuat Maxen hilang kendali. Dia mengusap ujung bibir Rachel yang penuh dan mulai menciumnya. Manis. Ciuman ini terasa indah. Lebih baik berkali-kali lipat dari dugaanya selama ini.


Maxen melepaskan ciumannya dan menatap Rachel tanpa kata. Tangannya mulai menyusup pelan di balik piyama yang Rachel kenakan. Saat itulah Rachel tersentak dan mundur menjauh. Kabut di matanya hilang, mengembalikan kesadaran yang ia miliki.


"Keluar! Kau tak bisa memanfaatkan aku, Maxen." Mata Rachel menyala-nyala, penuh amarah.


Rachel berbalik dan berjalan dengan cepat menuju kamar mandi di ujung ruangan. Terdengar brak keras saat Rachel membanting pintu. Di balik pintu, Rachel menyandarkan tubuh ringkihnya. Tanganya memegang dada yang kini terasa bagaikan genderang perang. Nafasnya masih terputus-putus. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Reaksi ini terlalu menakutkan.


Bahkan, dengan Harry saja Rachel tak pernah merasa seperti ini. Ada apa dengan tubuhnya? Kenapa setiap kali di hadapan Maxen semua fungsi tubuhnya bagaikan pengkhianat sejati.


Di luar ruangan, Maxen menatap kepergian Rachel dengan pandangan penuh arti. Meskipun wanita itu menolak, terapi ia cukup paham tubuh Rachel merespon dirinya. Kenyataan ini, membuat Maxen tersenyum kecil.


Dalam akhir tahun kesepakatan mereka, akan ia buat wanita itu mengandung anaknya.


__ADS_1


__ADS_2