
Camelia, memijit pelipisnya karena bi Darla juga tidak tau.
Membuka handle pintu kamar Sandra,masuk kedalam dan duduk. Camelia, tersenyum manis sambil melirik neneknya yang tengah membaca majalah.
"Pasti nenek mengetahui, masalah ibuku dan mommy Dwi. Ceritakan semuanya nek, karena paman Jhonny tidak mau memberitahu ku. Bukan maksudku tidak, melainkan ada syaratnya". Kata Camelia, menoleh ke arah Sandra.
"Nenek, tidak banyak tau soal itu. Yang tau adalah Jhonny,karena ayahmu menceritakan semuanya. Kau tau,ibumu sangat tertutup kepada nenek karena menantu di mansion ini. Kami berbicara cuman seadanya,ibumu baik dan dia wanita yang pantas untuk anakku yaitu ayahmu. Pernah sekali nenek,mendengar orangtuamu bertengkar hebat dan ibumu keluar dari kamar marah-marah. Ibu pergi meninggalkan mansion, begitu juga ayahmu menyusul. Berselang beberapa jam, orangtuamu baikan seperti biasanya". Sandra,mengelus pucuk kepala anaknya.
"Lalu,apa yang mereka bicarakan nek? Pasti ibu dan ayah ada mengatakan sesuatu". Camelia, semakin penasaran dibuatnya.
"Nenek cuman mendengar ibumu marah-marah, mengatakan egois, tidak percaya. Hanya itu,ibumu berulangkali mengatakannya. Sedangkan ayahmu, cuman mengatakan sayang kamu salah paham. Percayalah,ini cuman salah paham ujian di rumah tangga kita. Hanya itu Camelia,dan mereka tidak menceritakan apapun kepada nenek. Setelah kejadian itu,nenek tidak pernah melihat mereka bertengkar lagi. Bahkan semakin romantis, sampai akhir hayat mereka. Camelia,dalam rumah tangga pasti ada masalah. Selesaikan dengan kepala dingin, berbicara baik-baik pasti ada jalan keluarnya. Ini adalah nasehat untuk ke depan nantinya,ingat baik-baik kata nenek". Ucap Sandra, langsung di angguki Camelia.
"Lalu, mommy Dwi nek? Jujur yah, mommy Dwi sikapnya itu tidak wajar sekali. Apa lagi Tante Janeta, berbicara macam-macam kemarin". Kata Camelia, dengan tatapan sendu.
"Setau nenek, Dwi pernah hamil adiknya Leo. Nenek dengar-dengar anaknya perempuan, kehamilan beranjak 6 bulan kalau gak salah. Tetapi, mengalami keguguran dan anaknya tidak selamat. Dwi, pernah di rawat karena depresi kehilangan anaknya. Bisa jadi, Dwi sudah menganggap dirimu sebagai anaknya. Lalu, posesif terhadap mu agar waktumu cuman untuknya saja". Jelas Sandra, terlihat Camelia terkejut mendengarnya.
"Kasian sekali mommy Dwi,dia mengalami trauma atas kehilangan anaknya". Kata Camelia, tersenyum kecil. Aku masih penasaran dengan maksud Tante Janeta, pasti ada masalah lainnya.
"Bisa jadi, dia posesif terhadap mu karena kau seorang perempuan. Makanya Jhonny, meminta mu untuk tidak terlalu dekat dengan Dwi. Camelia,ada benarnya yang di katakan Jhonny". Sandra, mengelus pipi cucunya.
Tok...Tok...
Bi Darla, mengetuk pintu dan Camelia membukanya.
"Bu Dwi, tengah mencari Camelia nyonya Sandra". Kata bi Darla, membuat Camelia gelisah gusar.
"Camelia,kamu diam saja di sini. Biar nenek yang berbicara, ayo bi". Sandra, langsung turun ke bawah meninggalkan Camelia.
"Camelia! Camelia,keluar nak! Ini mommy,keluar!" Teriak Dwi, cukup keras di mansion.
Sandra, memerintahkan kepada Mun untuk menghubungi Jhonny agar pulang.
"Dwi,kenapa kamu berteriak-teriak memanggil Camelia. Dia adalah cucuku,bukan anakmu". Kata Sandra, mendekati Dwi sudah marah padam.
__ADS_1
"Tidak! Camelia anakku,bukan anak Vina. Nyonya Sandra,anda tidak tau apa-apa soal itu. Aku ke sini mengambil hak ku,dia adalah anakku!". Teriak Dwi, matanya memerah manahan amarahnya. "Camelia,ke sini nak. Ini mommy nak, tempat tinggal mu bukan di sini. Ayo, pulanglah sama mommy nak!".
"Dwi,kamu sadar apa yang kamu lakukan ha? Camelia, cucuku dan anakmu tidak selamat karena kecerobohan mu sendiri". Bentak Sandra, lumayan keras.
"Mommy,ayo kita pulang. Jangan membuat malu mom,ayo kita pulang". Leo dan Kaizam, menarik lengan Dwi.
"Tidak, Camelia adalah adik kalian. Kita harus membawanya pulang, Kai, Leo!". Dwi, menghempas tangan anak-anaknya.
"Diaaaaammmm...!". Teriak Jhonny,baru saja datang.
"Menyingkir kamu Jhonny,kau tidak bisa menghalangi ku untuk mengambil alih Camelia!". Dwi, mendorong tubuh Jhonny.
"Cukup! Bawa ibumu kalian pergi dari sini,bawa pergi!". Teriak Jhonny, dengan suara menggelegar.
"Tidak, lepaskan aku! Lepaskan aku, Camelia tolong mommy! Camelia, tolong mommy nak! Lepaskan aku, Camelia adalah anakku! Vina dan Malik jahat, mereka mengambil anakku. Camelia anakku,bukan anak mereka!". Dwi, meronta-ronta ketika anak buah Jhonny memegangnya.
Ketika dokter dan perawat datang, mereka bertindak dan menyuntik obat penenang.
"Jelaskan semuanya,apa yang terjadi". Kata Camelia, sudah turun ke bawah.
"Nenek sudah menjelaskan semuanya kepada mu tadi, itulah cerita yang sebenarnya". Sahut Sandra, langsung.
"Lucu sekali,apa yang di katakan Jhonny kepada nenek. Aku tau, semuanya bohong semata. Tidak mungkin mommy Dwi, depresi berat seperti ini. Dia berteriak-teriak memanggil nama ku,lalu mengatakan bahwa aku anaknya. Ada sesuatu yang tidak beres, bahkan aku tidak percaya dengan ucapan kalian". Camelia, tersenyum sumringah dan melirik ke arah Leo, Kaizam.
"Yang kami tau, mommy kehilangan anaknya. Mungkin mommy, memiliki ganggu jiwa dan kamu anaknya. Camelia,cuman kamu yang bisa menyembuhkan mommy". Kata Leo, dengan tatapan sedih.
"Kami tidak mau kehilangan mommy,cukup kehilangan ayah kami". Sambung Kaizam,menyeka air matanya.
"Aku di sini,cuman minta apa yang sebenarnya terjadi. Paman Jhonny, pasti tau dan nenek. Apa jangan-jangan benar, aku anak mommy Dwi? Mereka merampas dari mommy Dwi, setahuku ibuku dan ayah mengalami kecelakaan. Apa ini, dinamakan sebuah karma". Ucap Camelia, membuat Jhonny marah padam.
"Tutup mulutmu Camelia,ibumu bukan dia. Orangtuamu meninggal memang benar kecelakaan, tidak pantas kamu berbicara seperti itu. Apa kamu tidak kasian kepada nenek,sama saja kamu menyakiti perasaannya. Karena ayahmu adalah anak nenek,kau paham!". Teriak Jhonny, menunjukkan jarinya tepat di depan Camelia.
Sandra, sudah menangis kesegukan mengingat anaknya sudah tiada. "Camelia,kamu mempercayai ucapan wanita itu? Tidak memperdulikan perasaan nenek". Kata Sandra,dalam isak tangisnya.
__ADS_1
"Aku tidak mempercayai siapapun nek,aku cuman minta penjelasan semuanya. Aku tau nek, diam-diam paman dan nenek bekerjasama. Apa salahnya menceritakan semuanya,agar aku paham dan tidak penasaran lagi". Camelia,mengusap wajahnya dengan kasar. keluarga macam apa ini? Pasti Jhonny, menekan mereka agar tidak mengatakan sebenarnya. Dia ingin aku memohon kepadanya, menuruti apa syarat yang di ajukan kepadaku. Kau benar-benar licik Jhonny, sangat licik. Pasti kamu memanfaatkan mommy Dwi,dalam situasi saat ini.
"Aku kecewa dengan mu,dia berbohong kepada mu Camelia. Dia depresi karena kehilangan anak perempuannya,akan tetapi kamu menuruti kemauannya. Lalu,dia kehilangan akal sehat cuman ingat kamu adalah anaknya yang hilang itu". Ucap Jhonny, tersenyum smrik.
"Benar Camelia, mommy selalu memandang fotomu dan di pajang dalam kamar". Sahut Kaizam, menatap ibunya berbaring lemah.
"Kau ingin tau,apa kebenarannya". Bisik Jhonny, menyunggingkan senyumnya. "Tapi,ada syaratnya baru aku beritahu. Satu lagi Katrina,ini sangat menarik yaitu, menyangkut ibumu yang tercinta"
Degggg....
Camelia, mengepalkan kedua tangannya mendengar bisikan Jhonny. Benar dugaannya itu, Jhonny memanfaatkan situasi saat ini.
***************
Sedangkan di tempat lain, JJ Abrams tengah sibuk menghias suatu ruangannya untuk besok demi sang kekasih. "Bos, semuanya sudah beres". Kata anak buahnya, langsung di angguki JJ Abrams tengah senyum-senyum sendiri
"Sepertinya bos kumat lagi"
"Hussssttttt.... Sudah kumat dari tadi, buktinya senyum-senyum sendiri sedari tadi".
"Ini yah,dinamakan jatuh cinta"
"Benar,kata pepatah pizza rasa tai sapi".
Ueekk....Uueekkk...Ueekkk...
"Lah,kalian pada kenapa?".
"Bodoh,kita lagi makan pizza dan jangan-jangan ini terbuat dari tai sapi".
"Aaaaaaaaaaaaaaaa....!"
Anak buahnya JJ Abrams, berteriak lagi dan langsung di bentak keras oleh bos besarnya.
__ADS_1