
"Hoaaammm.... Nek, Camelia mau ke taman sana yah! Gak mau ikut ke dalam,". Rengeknya Camelia,tiba di rumah sakit ternama di kota ini.
"Baiklah,nanti nenek hubungi kamu. Kalau sudah selesai dan mau pulang". Sandra,mengelus pucuk kepala cucunya.
Dengan senyuman manisnya, Camelia mengangguk pelan.
Pintu terbuka lebar,di buka oleh sang sopir. Sandra,keluar dan masuk kedalam rumah sakit. Tak lupa di iringi sang sopir pribadinya, meninggalkan Camelia masih calingukan melihat sekeliling.
"Akhirnya aman, waktunya bermain-main sayang". Gumam Camelia, melancarkan aksinya dan menyamar agar tidak ketahuan. "Jangan lupa pakai tompel di sini, rambut kribo sudah pas, kacamata juga pas. Tampilan sangat sempurna,". Kekehnya Camelia, tersenyum manis.
Setelah selesai, barulah masuk kedalam rumah sakit. Melenggang pergi begitu santai, tanpa gugup sekalipun.
Tibalah di ruangan anak Rendy yang di rawat dan masih koma. Langkahnya terhenti,karena ada yang menjaganya sang nenek. "Sialan nenek sihir yang menjaganya,huuu...". Gerutu Camelia, mencekram handle pintu.
Lanjut ke ruangan Bella, istri Rendy. Membuka handle pintu berlahan-lahan, beruntung sekali tidak ada yang menjaganya.
"Jika aku tidak bisa melakukannya kepada anak kalian,tapi Tuhan masih berpihak kepadaku dan melakukannya dengan mu". Gumam Camelia, tersenyum sumringah.
Berlahan-lahan Camelia, mendekati Bella yang berbaring di atas ranjang pasien. Mengeluarkan suntik yang sudah berisi cairan, sangat mudah mendapatkannya secara ilegal. Semasa hidup Katrina, masalah obat-obatan cukup berpengetahuan. Karena cita-citanya menjadi seorang dokter,namun cita-cita pupus karena mengurus perusahaan Sean.
Mata Bella, terbuka lebar karena merasakan seseorang datang. "Siapa kamu?". Bella, sangat ketakutan dan tidak mengenali siapa di dekatnya.
Degggg...
Camelia,sontak terkejut karena Bella sudah siuman. Sialan, rupanya dia sudah bangun.Batin Katrina, tersenyum smrik.
"Siapa,kamu?". Teriak Bella,dia ketakutan melihat seringai tajam Camelia.
__ADS_1
"Kau tidak perlu tau,siapa aku". Ucap Camelia, tersenyum manis.
"Apa yang kamu lakukan,ha? Toloooong.... Toloooong...". Bella, berteriak-teriak keras. "Apa yang kau....". Enteh kenapa, Bella tidak bisa berkata lagi? Mulutnya tiba-tiba mengeras,susah di bungkam.
Apa yang di suntikan tadi,kenapa aku tidak bisa bicara?.Batin Bella,terdiam dan berbaring lemah.
Plakkkk...
Camelia,yang geram langsung menampar wajah Bella. "Berisik!". Bentak Camelia, dengan tatapan tajam.
Dia selesai menyunting sesuatu di selang infus, entah cairan apa itu.
"Terimakasih, sampai jumpa lagi". Camelia, melambaikan tangannya.
Merasakan sesuatu yang aneh,di rasakan Bella. Dia tidak bisa bergerak sedikitpun, mulutnya terbuka namun tidak bisa bersuara.
Suaraku hilang,kenapa ini? Tubuhku tidak bisa digerakkan,mas Rendy! Mas Rendy,tolong aku! Mas, tolong!". Batin Bella, buliran bening mengalir di pipinya. Tidak ada siapapun yang menolongnya,cuman bisa berbaring lemah.
Terduduk lemas di taman rumah sakit, matanya tertuju pada seseorang wanita dari kejauhan.
"Bukankah dia Gladis, kesempatan untuk menakuti-nakuti dia". Gumam Camelia,betapa senangnya hari ini.
Baru beberapa langkah,dia cepat-cepat bersembunyi. Rupanya Gladis, tidak sendirian melainkan dengan Arsen.
"Baguslah,sekali tepuk dapat dua. Hmmm... Nguping dulu ah,". Kekehnya Camelia, diam-diam mendekati mereka dan ingin mendengar apa yang mereka bicarakan.
Arsen, duduk di bangku taman. Matanya tertuju ke arah lain, Gladis menyentuh punggung tangan Arsen. Tetapi, langsung di tepis oleh sang empunya.
__ADS_1
"Bodoh sekali! Sekarang apa Gladis,mengaku saja kejahatan mu. Apa kamu mau, melihat keluargamu hancur berkeping-keping ha? Katakan Gladis,aku tidak bisa menolong mu". Arsen,mengusap wajahnya dengan kasar.
Sekarang aku nampak jijik dengan Gladis? Wajahnya ikutan terbakar, memangnya Gladis sedang apa di rumah itu?Kenapa orangtuanya, tidak menceritakan apapun. Apakah ada sesuatu yang di sembunyikan, Gladis?Benar sekali,aku harus menyelidikinya.Batin Arsen, menaruh rasa curiga kepada Gladis.
"Tenanglah Arsen,dua hari lagi acara lamaran di kediaman Allen. Ryan, mendapatkan kesempatan untuk mencuri bukti-bukti itu. Pasti Camelia dan pamannya, tidak bisa berkutik apa-apa lagi". Gladis,kesal kepada Arsen. Bukannya membantu masalahku,malah menyuruhnya untuk mengakui begitu saja. Mau taruh dimana wajahku,jika 1 sekolah mengolok-olok diri ku ini. Pastilah Camelia, tersenyum lebar bersama orang miskin itu.
"Yumna, sudah menceritakan semuanya kepada ku. Kalian membayar hacker, buktinya mana ha? Sia-sia saja, seorang hacker tidak bisa berbuat apa-apa. Sok-sokan Ryan,yang tidak waras itu". Arsen, menatap lekat ke arah Gladis. Aaarghhh....Kenapa aku ikut-ikutan, dalam masalah Gladis? Sekarang Camelia, malah membenci ku. Pasti gara-gara Gladis, berbicara sembarangan kepadanya.
"Arsen,kamu kenapa sih? Memintaku untuk mengakuinya,aku ini kekasih mu loh. Mau melihatku di permalukan oleh, Camelia? Sialan,dia benar-benar berubah setelah bangun dari koma. Kenapa bangun lagi, lebih baik mati saja?". Gerutu Gladis,karena kesal tidak berhasil melenyapkan Camelia.
"Lebih baik kamu mengakuinya, Gladis. Kalau tidak mengakuinya, siap-siaplah keluarga kita hancur. Aku tidak perduli dengan mu lagi, hubungan kita berakhir. Apa susahnya mengakui perbuatanmu,demi kebaikan bersama. Jangan egois Gladis,ini membahayakan kita semua dan menyangkut keluarga". Arsen, sedikit membentak keras.
"Cukup,Arsen! Sampai kapan pun,aku tidak akan mengakuinya. Bukankah dia sangat mencintaimu, coba kamu bujuk rayu dia". Kata Gladis, sebenarnya dia memang khawatir masalah ini.
"Aku sudah membujuknya, bahkan mengatakan cintaku. Tetapi,aku di tolak mentah-mentah. Pasti gara-gara kamukan, berbicara macam-macam. Sudah aku katakan kepadamu, hubungan kita jangan sampai ada yang tau. Sekarang begini akhirnya, menyebalkan sekali". Arsen, menjadi serba salah.
"Aku tidak berbicara apapun dengan, Camelia. Bahkan tidak ada yang tau, tentang hubungan kita. Sebenarnya aku capek dan cemburu,ketika Camelia mendekati mu. Maka dari itu,aku mendorongnya dan jatuh ke bawah. Aku kira dia benar-benar mati, tetapi koma doang. Jika ada kesempatan untuk membunuhnya, sudah aku bunuh di saat koma. Namun sayang, pamannya menjaga ketat". Ucap Gladis,karena cemburu buta dan gelap mata mendorong Camelia.
"Bodoh,kamu memang bodoh! Sudah aku katakan, bahwa aku cuman mencintaimu saja. Camelia, mendekati karena ingin memanfaatkannya saja. Dia bisa membujuk pamannya, untuk mengembangkan perusahaan keluargaku dan menyelamatkan dari kebangkrutan. Meminta bantuan keluarga mu,mana mungkin Gladis. Tetapi,aku malah benar-benar menyukai Camelia saat ini. Aku tidak tau,apa wajahmu secantik dan semulus dulu". Arsen,menoleh ke arah sang kekasih.
Gladis, terperangah mendengar ucapan Arsen. "Apa! Kamu ingin meninggalkan ku,Arsen? Tidak,aku tidak mau! Kamu cuman milikku aku, Arsen!". Kata Gladis,dia tidak mau kehilangannya.
"Akui perbuatan mu,atau kita putus! Aku lebih baik kehilangan mu, dibandingkan melihat keluarga ku hancur". Tegas Arsen, melangkah pergi meninggalkan Gladis yang sudah menangis kesegukan.
"Arsen!Arsen,kembali! Aku mohon, Arsen!". Teriak Gladis, memanggil nama sang kekasih. Tetapi, Arsen tidak menghiraukan panggilan Gladis.
Prok!prok!prok!
__ADS_1
Seseorang bertepuk tangan di belakangnya, Gladis langsung memutar kursi roda.
Degggg....