SIAPA KAMU

SIAPA KAMU
Penguntit


__ADS_3

 Jam dinding menunjukkan pukul 9 malam, tidak ada tanda-tanda kepulangan JJ Abrams.


"JJ Abrams,kemana kamu? Kenapa tidak aktif-aktif dari tadi,lalu anak-anak kita kabarnya bagaimana?".


Camelia,terus menghubungi nomor suaminya yang tidak aktif. Segera meraih kunci mobil, berniat untuk pergi ke Goa perasaannya tidak tenang.


"Nona,mau kemana?". Vika, langsung menghentikan langkah Camelia. Nona Camelia, pasti panik tidak ada kabar tentang anak-anaknya. Aku belum pernah melihat nona,sepanik ini meskipun Tuan JJ Abrams tidak ada kabar beberapa hari.


"Aku harus pergi ke Goa, JJ Abrams dan lainnya tidak bisa di hubungi. Aku harus ke sana untuk mencari tahu,jangan bilang-bilang dengan siapapun". Jawab Camelia, mengenakan sweater nya. "Masalahnya anak-anak ikut dengannya,ini yang aku khawatirkan jika JJ Abrams bersama anak-anak. Huufff...Dalam sekejap mata, mereka tidak ada kabar sama sekali, JJ Abrams tidak memikirkan perasaan ku bagaimana?". Camelia, mengigit jarinya dan gelisah gusar.


"Tapi, bagaimana bisa nona pergi ke Goa sendirian? Aku akan memberitahu pak Man, untuk menemani nona yah". Vika, khawatir dengan keadaan Camelia yang pergi sendirian."Takut kenapa-kenapa di jalan nona, tidak ada yang menemani".


"Jangan mengkhawatirkan keadaan ku,Vika. Aku akan menghubungi anak buahnya JJ di sana,aku harus pergi sekarang juga. Masalahnya anak-anak ikut dengan JJ Abrams, itu membuatku tak karuan". Ucap Camelia, segera keluar dan menuju ke mobilnya.


Vika, memandang kepergian Camelia yang tak bisa berbuat apa-apa. "Semoga si kembar tidak kenapa-kenapa". Gumamnya pelan,menutup pintu luar.


Camelia, menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan tinggi. Malam harinya yang sunyi,tengah di guyur hujan deras serta petir yang menggelegar seisi alam.


"JJ,kenapa kamu bawa anak-anak ke sana?". Gumamnya Camelia,menyeka air matanya kepikiran sang buah hati tak ada kabar tentang mereka. "Ya Tuhan,jaga mereka dalam keadaan apapun. Jauhkan dari marabahaya,atau seseorang yang ingin berbuat jahat". Air bening mengalir deras di kedua pipinya, sesekali menyeka sambil menyetir mobil.


Tak sengaja Camelia, melihat kaca spion mobil ada yang membuntutinya dari dalam. "Siapa yang mengikuti ku?". Katanya, harus berhati-hati dengan mobil di belakang.


Sekarang Camelia, melewati perbatasan menuju Goa melewati jalan yang sepi dan gelap gulita. Benar sekali,mobil tersebut semakin melaju kencang.


Bruukkkkk...


"Aaaaaa...!". Pekik Camelia,oleng setir mobilnya beruntung masih di kendalikan. "Sialan,mau main-main dengan ku! Siapa yang mengikuti ini,aku belum tau pemilik mobilnya siapa?".


Wouuusssss.....


Sesekali melirik ke kaca spion mobil, ingin tahu siapa yang menyetir mobil tersebut. "Brengseeekk.... Berani sekali macam-macam dengan ku, belum tau bagaimana kemarahan ku ini". Kata Camelia,geram dengan seseorang yang sok berani menghantam mobilnya.


Bruaakkkkkkk...

__ADS_1


Lagi-lagi mobil di belakang Camelia, menghantam mobilnya dari belakang. Dia mencari celah untuk menghindari,jika perlu melawan balik.


"Sialan, mobilku bisa mogok terus-terusan di hantamnya". Gumam Camelia,melajukan mobilnya dengan hati-hati.


Ketika mobil di belakang Camelia, ingin menghantam mobilnya dari samping. Dengan keyakinan, Camelia mendadak rem mobilnya untuk menghindari sasaran tersebut.


Ciiiiiitttt.....


Bruaakkkkkkk...


Mobil penguntit tersebut,oleng ke kanan dan menghantam pohon besar. Asap mobil bagian depan keluar sudah, tidak ada tanda-tanda seseorang yang keluar dari mobil tersebut.


"Aku harus cek ke sana,siapa yang mengusik ketenangan ku". Kata Camelia, menepikan mobilnya dan ingin cek siapa di dalam mobil tersebut. Hujan semakin deras, membasahi tubuhnya dan semakin dekat.


Deg!


Camelia, tidak menemukan siapapun di dalam. Sepertinya sang sopir, sudah keluar terlebih dahulu.


"Kemana orangnya? Ck, rupanya sudah keluar dari pintu sebelah". Camelia, langsung membalikkan badannya dan tiba-tiba..


Kreseeekk.....


Kreseeekk....


Bruuuukk...


"Aaaah... Ssshhhhttt...". Camelia, merasakan punggung belakang terhantam pohon besar.


Dia, berusaha bangkit dan mencari keberadaan pria tersebut. Samar-samar cahaya petir,menyinari kegelapan di dalam hutan.


"Rrrggghhh....!". Pria itu,meringis kesakitan kepalanya mengeluarkan darah. "Cameliaaaaaa...! Kau akan mati di tangan ku!". Teriaknya sekeras mungkin. Beriringan dengan suara petir menggelegar seisi alam.


Duuuaarrrrr.

__ADS_1


Deg!


"Ck, rupanya kau pak Albino yang terhormat". Ucap Camelia, memegang bagian perutnya tekena tusukan kayu. "Aaakkhh...Aku terluka cukup parah, segera mungkin mencabut kayu yang menancap di perutku". Berusaha menahan rasa sakit, ketika tangannya mulai mencabut kayu tersebut."Aaaaaaaa...!" Teriaknya sekeras, sambil memejamkan mata merasakan sakit luar biasa. semakin banyak darah keluar bercucuran, secepatnya Camelia merobek pakaian dan menutup lukanya.


"Pak Albino! Pak Albino, dimana kau!". Teriak seseorang di atas sana.


"Huuu...Huuu...Aku harus bertahan sejauh mungkin,demi anak-anak ku". Gumamnya Camelia, mengetahui suara tersebut melainkan suara Kaizam dan Leo. "Rupanya kalian bertiga mengincar ku,ck".


"Nona Camelia,kau tidak bisa kabur kemana lagi. Kami bertiga akan memuaskan mu,lalu menyiksa mu sampai mati". Kata Albino, meringis kesakitan. "Hahahaha.... Hahahaha...Rasa sakit ini,akan di bayarkan bahkan dendamku bertahun-tahun akan lunas". Teriak Albino, calingukan melihat sekeliling.


Aku harus diam-diam mendekati pria brengsek itu, belum merasakan bagaimana rasa pukulan ku.Batin Camelia, samar-samar cahaya petir mengetahui keberadaannya Albino.


"Kaizam!Leo! Kalian harus turun kebawah, Camelia tengah terluka! Kaizam!Leo!". Teriak Albino, sambil cekikikan tertawa.


Camelia, mencari-cari sesuatu untuk bertahan berdiri dan menutup luka di bagian samping perutnya itu. Berusaha untuk tidak membuat suara,dalam keadaannya seperti ini kemungkinan kecil melawan bertiga.


Kaizam dan Leo, berhati-hati menuruni jurang lumayan tinggi. Mereka mencari-cari sumber suara, Albino yang terus-terusan memanggil mereka.


Albino, calingukan melihat sekeliling mencari keberadaan Camelia yang tiba-tiba hilang.


Bruukkkkk...


Albino, langsung tak sadarkan diri mendapatkan pukulan kayu dari Camelia. Kepalanya mengeluarkan darah segar, langsung terkapar di atas dedaunan kering.


"Ingin membunuhku jangan harap bisa,aku yang lebih dulu membunuh mu". Gumam Camelia, segera naik ke atas untuk melanjutkan perjalanannya.


Kaizam dan Leo, terkejut melihat kondisi Albino yang bersimbah darah dan tak sadarkan diri.


"Pak Albino! Pak Albino,bangun!". Ucap Kaizam, berusaha membangunkannya.


"Masih hidup". Kata Leo, memeriksa kondisinya. "Kita harus cepat membawa ke rumah sakit, untuk saat ini lepaskan Camelia dulu". Leo, segera membantu kakaknya membawa Albino.


Sedangkan Camelia,masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan tempat tersebut. Sekuat tenaga menahan rasa sakit di bagian perutnya, maupun di anggota tubuh lainnya juga. Pikirannya berkecamuk kemana-mana, mengkhawatirkan keadaan suami dan anak-anaknya itu.

__ADS_1


"Aaarghhh.. Aku harus mengobatinya lukaku, menggantikan pakaian yang kotor ini". Gumam Camelia, melepaskan pakaiannya dan merasakan perih di bagian lukanya.


"Sialan, lukanya lumayan dalam harus di jahit ini. Aaarghhh.... Sshhhhttt... Aku harus menghubungi Meli". Segera mengambil ponselnya menghubungi Meli, menyiapkan alat medis yang di perlukannya.


__ADS_2