
"Hehehehe... Nona Camelia,kau tidak tau maksudnya ku kan?". Ardan, memainkan kedua alisnya. "Nona,sebuah casino di bangun tak akan ramai kalau tidak di bumbui garam. Maksudnya seperti minuman keras,aku akan memberikan diskon khusus untuk mu. Tenang saja,ini resmi sudah mendapatkan izin dari pihak berwajib. Kadar alkoholnya sangat rendah nona, di jamin aman untuk disebarkan. Bahkan para anggota polisi, juga meminum dan tidak di ragukan. Ayolah, bagaimana nona?".
Camelia, berbinar seketika mendengar ucapan Ardan. Dia membayangkan pundi-pundi uang, berjatuhan di pelukannya.
JJ Abrams, menggeleng kepalanya melihat Ardan menjelaskan panjang lebar. Sang kekasih manggut-manggut mendengarnya, sesekali mengacungkan jempolnya.
"Tapi,aku harus mengeluarkan uang banyak untuk membangun casino". Kata Camelia, terduduk lemas.
Ardan, merangkul pundak Camelia di sampingnya dan melirik ke arah JJ Abrams tengah memijit pelipisnya. "Masalah biaya besar,kau tinggal membujuk dan menggoda Tuan JJ Abrams".
"Benar juga, bukankah dia tadi mengusulkan membangun hotel dan casino". Camelia, langsung bersemangat mendekati kekasih tersenyum semanis mungkin.
"Sayangku, lebih baik apartemen saja. Kau sibuk mengurus dua perusahaan besar,lalu ingin mengurus hotel dan casino. Aku tarik ucapan tadi,kalau kau banyak uang dan bisa-bisa aku tidak penting untuk mu lagi. Dengarkanlah perkataan sayang,jangan memikirkan macam-macam apa lagi bekerjasama dengan bocil Ardan". JJ Abrams, menangkup wajah Camelia dengan kedua tangannya.
"Hahahaha... Masalah itu, jangan kau pikirkan JJ Abrams". Ardan, langsung merangkul pundak JJ Abrams."Aku akan mencari seseorang untuk mengurus semuanya,orang yang bisa kita percayai. Kalau dia berkhianat,tinggal penggal kepalanya".
JJ Abrams, menoleh ke arah Camelia memasang wajah imutnya. Begitu juga Ardan, memohon-mohon untuk mengabulkan permintaan Camelia.
"Baiklah,jika membuat mu bahagia sayang". Jawab JJ Abrams,pasrah menuruti kemauan sang kekasih.
"Yes!Uang....Uang... Uang... Datanglah kepada kami, uang.... Uang...!". Camelia dan Ardan, menari-nari di hadapan JJ Abrams.
Mereka berdiskusi apa yang di rencanakan, hampir 4 jam lamanya. Keadaan ruangan semakin ribut,apa lagi suara Camelia dan Ardan memekik keras.
Kepala JJ Abrams, sudah nyut-nyutan mendengar diskusi mereka tak masuk akal.
__ADS_1
"Aku salah menilai kalian berdua, terkadang pintar merencanakan sesuatu dan terkadang bodoh sekali. Diam! Jangan ada ribut lagi,biar aku menyelesaikan semuanya. Kalian berdua duduk manis, tunggu jadinya saja". Bentak JJ Abrams, langsung membungkam mulut Camelia dan Ardan.
"Oke,kami tunggu bos". Jawab Camelia dan Ardan, secara bersamaan.
Mereka semua membubarkan diri, JJ Abrams pamit pulang dulu dan menenangkan pikirannya.
"Nona Camelia,aku tidak sabar bekerjasama dengan mu. Pasti nona akan mengalahkan casino milik Morgan,berasa di pinggiran kota dekat pelabuhan. Casinonya di dalam hotel nona, sangat ramai dan seru. Pastilah nona Camelia, tidak pernah bukan? Aku akan mengajak istri-istri ku sana, mereka pasti membawa nona. Bagaimana nona,mau ikut tidak? Ini adalah kesempatan untuk wawasan di masa depan,anggap saja contoh". Bujuk Ardan,dia memang suka jika berbau uang dan bisnis.
"Boleh, asalkan jangan mendadak memberikan informasi kapan ke sana. Minimal yah,hari sabtu dan minggu saja. Dimana aku tidak sibuk dengan perusahaan,oke!". Kata Camelia, langsung di acungkan jempol oleh Ardan.
Akhirnya mereka berpisah dan pulang ke kediaman masing-masing.
"Uang memang segalanya,bisa membeli apapun dan menundukkan kepala siapapun". Gumam Camellia,pelan dan menghirup udara dalam-dalam.
*********************
Deg!
Camelia, mengenali siapa dua orang yang sudah menunggunya di ruangan meeting. Kedua ayah Cika dan Rika, sudah pasti ingin menjalin kerjasama antara perusahaan.
"Sebenarnya,kami seringkali ingin menjalin kerjasama dengan perusahaan Allen dan Malik. Tetapi,Tuan Jhonny dan Tuan Jordan menolak karena proposal kami tidak menarik katanya. Nona Camelia,mana mungkin menolak kerjasama ini kan? Apa lagi,nona satu kampus dengan anak-anak kami dan kalian berteman". Ucap pak Eko, melirik ke arah pak Juniarto ayah Rika.
Camelia, sudah selesai membaca berkas yang di berikan pak Eko dan Juniarto. Dia menyunggingkan senyumnya, meletakkan berkas di atas meja.
"Nona Camelia, bagaimana dengan berkas kami? Pastilah di terima,iyakan? Mana mungkin di tolak, sedangkan nona berteman dengan anak kami. Tidak mau bukan, hubungan pertemanan hancur". Ujar pak Juniarto, seakan-akan mengancam.
__ADS_1
Camelia, terkekeh geli mendengar perkataannya ingin sekali tertawa terbahak-bahak. "Maaf,anda berani mengancam saya dengan sebutan pertemanan. Tanyakan kepada anak-anak pak Eko dan pak Juniarto. Apakah kami masih berteman, seperti dulu?".
Seketika wajah pak Eko dan pak Juniarto berubah masam dan tidak paham apa maksudnya.
Camelia,meminta mereka berdua untuk pergi dari perusahaannya karena tidak ada yang di bahas lagi. Dia duduk santai di bangku kebesarannya, menikmati suasana sekarang.
******************
"Jam berapa sekarang,Cika? Mana mungkin pergi kuliah, selarut ini baru pulang" Bentak pak Eko, menunggu anaknya sudah beberapa jam lalu. "Ponsel to aktif, percuma jika kamu memiliki ponsel tapi susah di hubungi. Lebih baik yah,kamu tidak perlu memiliki ponsel sekalipun".
"Mas,jangan membentak Cika. Dia baru datang pasti lelah,bisakan ngomongnya baik-baik" Sang istri, mencoba menenangkan pikiran suaminya.
Cika, langsung ketakutan melihat ayahnya sudah marah padam. Berlahan-lahan duduk di sofa dan kepalanya menunduk.
"Kau sudah besar Cika, berpikirlah dewasa sedikit dan kamu jangan terlalu memanjakan amak ini. Bagaimana bisa Cika,kamu tidak berteman dengan Camelia lagi?". Tanya pak Eko, menatap tajam ke arah anaknya.
"Itu,itu karena kami ada masalah ayah. Wajarlah kami bisa memiliki salah, emangnya kenapa?". Tanya Cika,tak berani menatap wajah ayahnya.
Brakkk
Pak Eko, mengebrak meja di ruang tamu dan membuat istri anaknya terkejut. "Gara-gara kamu, memiliki kesalahan terhadap Camelia. Ayah, tidak bisa menjalin kerjasama dengan perusahaan Allen maupun perusahaan Malik. Ini adalah kesempatan besar, bahkan mendapatkan keuntungan lebih jika ayah bisa menjalin kerjasama. Nyatanya tidak sesuai dengan keinginan, Camelia menolak ajakan ayah. Semua itu, gara-gara kamu Cika!". Bentak pak Eko, dadanya naik turun mengontrol dirinya.
Cika, meremas ujung bajunya dan semakin ketakutan mendengar perkataan ayahnya sendiri. Bukan Cika saja, melainkan Rika mendapatkan amarah dari ayahnya.
Malam hari ini, Cika dan Rika mendapatkan hukuman setimpal dan ayahnya menyita kunci mobil,ponsel, kartu atm-nya.
__ADS_1
Mereka berdua tak bisa berkutik apapun lagi, bahkan ibu kandungnya pasrah apa yang di lakukan anaknya. Satu-satu cara yang dilakukan Cika dan Rika, harus mengambil hati Camelia dan mau bekerjasama dengan ayah mereka.
Sedangkan di tempat lain, Camelia tengah makan bersama dengan para pelayan mansion dalam rangka merayakan pesta kecil-kecilan.