
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Di belakang sekolah, Arsen dan Ryan. Tengah berkelahi dengan sengitnya,wajah mereka sudah babak belur dan berdarah.
Ryan, sangat marah karena sudah di bohongi Arsen dan Gladis. Rupanya selama ini,dia cuman di manfaatkan saja. Cintanya bertepuk sebelah tangan, itupun di dukung oleh Arsen.
Arsen, sangat marah karena Ryan tidak membela Gladis. Beberapa hari,dia tidak masuk sekolah dan tidak mencuri bukti-bukti tersebut.
"Sialan, aaaarrgghh...!". Ryan, tersungkur di tanah.
Arsen, sudah ngos-ngosan mengatur nafasnya."Gara-gara kamu, tidak becus melaksanakannya tugas yang diberikan Gladis. Sekarang kehidupan kami, benar-benar hancur.Ini semua salahmu, Ryan!".
"Aku salah, darimana aku salah ha! Kalian berdua munafik, asal kalian tau yah! Arsen dan Gladis, sudah lama menjalin hubungan diam-diam. Mereka memanfaatkan kebaikan Camelia, Arsen berpura-pura menyukai Camelia. Nyatanya mereka busuk!Hahahhaaha....Aku sudah membongkar rahasia kalian, rasakan itu!". Ryan,puas sudah. Apa lagi Gladis,masih dalam penjara.
Sedangkan Camelia, berpura-pura berakting. Seakan-akan dia adalah makhluk yang tersakiti,banyak dari murid-murid lainnya bersimpati. Sudah pasti mencaci maki habis-habisan terhadap Gladis dan Arsen.
Camelia, sudah tenang sekarang. Waktunya fokus dengan balas dendam,yang utama dulu.
Di sekolahan sudah beres, membasmi para musuh-musuhnya Camelia. Katrina,jadi leluasa memikirkan rencana selanjutnya.
"Haaa... Sungguh memuakkan, berpura-pura menangis". Gumam Camelia,membasuh mukanya dan memandang ke arah cermin.
"Wajah ini, sangat manis dan cantik. Pantesan saja, Jhonny menyukai keponakannya sendiri". Gumamnya pelan, takutnya ada yang mendengar.
Selesai dari toilet,dia sudah di jaga oleh Leo sang ketua OSIS.
"Misi,kak". Camelia, menundukkan badan dan melawati Leo. Ngapain tu,orang? Berdiri tegak di depan toilet perempuan,dia beneran laki-lakiian? Gak mungkin dalam celananya, beda jenis.hihihihi...
__ADS_1
"Tunggu, Camelia!". Ucap Leo, menghentikan langkah kaki Camelia dan berbalik badan.
"Maaf,ada apa kak?". Tanya Camelia, tersenyum manis. Loh, kenapa manggil aku? Mau kerjasama dengan ku, supaya jangan bilang sama siapapun. Karena sang ketua OSIS, berjenis kelamin perempuan.
"Ini adalah peraturan sekolah,harus di taati dan tidak memperdulikan dirimu dari kalangan manapun. Mulai hari ini,aku memberikan hukuman membersihkan perpustakaan selama 1 minggu. Atau bersihkan toilet ini,mau yang mana? Ingatlah,jangan membantah perkataan ku!". Tegas Leo, dengan wajah datar.
Camelia, mengerutkan keningnya. Masalahnya dia tidak melakukan kesalahan apapun, kenapa harus mendapatkan hukuman. "Maaf,kak Leo. Sebenarnya ada apa yah? Setahuku, tidak melakukan kesalahan apapun. Kenapa aku mendapatkan hukuman,telat sekolah tidak?". Nah..Nah..Ini ketua OSIS,mau pipis apa mimpi? Baru dua ngomong, sudah memberikan hukuman kepada ku.
"Kesalahan mu adalah membuat keributan di aula sekolah,paham!". Tegasnya lagi, dengan tatapan tajam. "Setiap istirahat, pergi ke perpustakaan dan bersihkan semuanya. Kau boleh ke kantin,dalam waktu 10 menit dan sisanya ke perpustakaan. Aku menunggu mu di sana nanti,lalu mengawasi gerak-gerik mu". Ucap Leo, langsung meninggalkan Camelia.
Camelia,menghela nafas panjang. "Baru saja,aku selesai dalam masalah. Sekarang dapat masalah baru, menyebalkan ketua OSIS itu. Ck,songong lagi. Ya sudahlah, mendingan bersih perpustakaan daripada toilet". Gumamnya pelan, menuju ke kelas. Sebentar lagi,jam pelajaran akan dimulai. Gila! Dia main kabur aja,Ck.
Camelia, menceritakan semuanya kepada teman-teman. Dia mendapatkan hukuman selama seminggu, sungguh menyiksa baginya.
"Memang benar sih, sekolah ini terkenal dengan peraturan. Yang sabar yah,". Cika, mengelus-elus pundak Camelia.
"Masalahnya dia mengizinkan ku ke kanti,dalam 10 menit. Mana mungkin kan,aku bisa menghabiskan makanan ku. Dasar ketua OSIS menyebalkan sekali,cuman segitu doang. Malah memberikan hukuman yang aneh-aneh". Gerutu Camelia, bersandar pada bahu Rika.
Plak!
"Idihhhh...Ogah banget,mau sama dia. Yang ada menyebalkan sekali, ingin aku injak-injak dia". Camelia, bergidik geli.
"Yakin,gak mau? Dia ketua OSIS, terpopuler sekolah ini. Hati-hati dengan Vania, Larissa,yang lainya. Takutnya kamu dapat masalah,". Bisik Cika, memainkan kedua alisnya.
Memang benar, seorang ketua OSIS. Pasti ada anggota lainnya,yang sok belagu,sok cantik, pokoknya banyak lainnya. Tidak suka dengan wanita,yang menyukai ketua OSIS.Batin Katrina, pasti akan mengalami masalah baru lagi.
*****************
Istirahat pun tiba,, Camelia berlarian ke kantin. Secepatnya dia,membeli beberapa roti, cemilan dan air minum. Sepanjang perjalanan ke perpustakaan, mulutnya tak henti-henti mengunyah.
Tepat di depan pintu perpustakaan, dia sudah di jaga anggota OSIS. Camelia, langsung membuang sisa roti di tangannya ke bak sampah.
__ADS_1
Seorang wanita mendekati Camelia, tatapannya sulit di artikan. Karena dirinya sudah telat, beberapa menit.
"Kau tau,apa salahmu?". Tanya Anya,sang sekertaris anggota OSIS.
Camelia, mengangguk kepala dan cengar-cengir tidak jelas.
"kalian pergilah sana,aku yang akan mengurusnya". Kata Leo, membuat Anya terkejut dan tidak suka dengan sikap Leo.
Tanpa sepatah katapun, Anya dan lainnya langsung pergi. Sedangkan Camelia,masuk kedalam perpustakaan lumayan luas. Mulutnya ternganga lebar, rak-rak buku berjejer dan tinggi-tinggi.
"Ambil ini". Kata Leo, memberikan kemoceng ke arah Camelia. "Bersihkan semuanya, rapikan buku. Satu lagi,jangan acak-acakan". Tegasnya, melongos melewati Camelia dan duduk manis sambil membaca buku.
Camelia, menghentak-hentakkan kaki dan mulai bermain dengan kemocengnya. Merasa jauh dari Leo,dia membuka cemilan dan diam-diam memakannya.
"Aku Katrina, masalah ini gampang. Ketua OSIS,memang mudah di bodohi". Kata Camelia, menikmati cemilannya.
Beberapa menit kemudian, Camelia terduduk di kursi dan memandang ke arah murid-murid lainnya. Satu persatu mereka mengambil buku-buku, alhasil jadi berantakan lagi.
"Wouy! Kalau ambil buku, pelan-pelan dong! Loh,pada gak mikir apa? Gue capek merapikan semua buku ini,paham!". Teriak Camelia, kesabaran sudah meluap.
"maaf,maaf, maaf kak. Kami rapikan lagi". Ucap mereka, tertunduk ketakutan.
"Bagus,bagus! Pertahankan yah,jangan main-main,". Tegas Camelia, sambil berkacak pinggang.
Leo, menggeleng kepalanya melihat sikap Camelia. Tetapi,dia tersenyum karena ketegasannya. "Menarik". lirihnya pelan,fokus kembali membaca buku.
"Camelia,jangan berbisik! Ini adalah perpustakaan,sama saja kamu mengganggu ketenangan mereka". Leo, mendekati Camelia dan menegurnya.
"Gimana gak ngamok,aku capek-capek membereskan semuanya. Eee..Malah seenak jidat, di berantakin. Sudahlah, aku mau pergi karena hukuman ku sudah selesai". Camelia,menaruh kemoceng di meja. Baru selangkah saja, Leo sudah mencekal lengannya.
"Mau kemana,hemmm? Lihatlah di meja sana, masih ada tumpukan buku-buku. Cepat kerjakan,taruh buku-buku itu dan sesuaikan dengan lainnya". Perintah Leo, langsung melepaskan cengkalan tangannya.
__ADS_1
"Menyebalkan sekali,". Sungut nya Camelia,mendelik tajam ke arah Leo. Sialan,sejak kapan buku-buku ini ada. Perasaan tadi,gak ada deh. Huuu...