
"Gak perlu Leo,kami mau pulang kok". Alibi Cika,karena paham dengan pandangan Rika.
"Benar,kami sudah lama di sini". Sambung Camelia, tersenyum. Aku tau, Rika masih malu bertemu dengan Kaizam.
"Sayang,kamu di sini?". Ucap seseorang,di belakang Leo.
Sontak membuat Cika, gelabakan dan memegang erat tangan Camelia. Kenapa Malen,malah ke sini? Apa sih,maunya gak jelas banget.Batinnya,menatap sinis ke arah sang kekasih.
"E'ehmmm,ayang beb!". Kekehnya Rika, diikuti oleh Camelia.
"Apaan sih,gak jelas". Cika, memutar bola matanya.
"Ikut aku,kita selesaikan masalah ini". Kekasihnya Cika, mendekati dan menarik tangannya.
"Gak perlu dijelaskan lagi,kita putus". Cika, menghempaskan tangan dan berlalu melangkah pergi. Huuuff...Aku tidak tahan lagi, sampai kapan menahan rasa cemburu ku. Aku akui,dia terkenal Karena anggota geng motor DRX.
"Apa! Hey,tunggu!". Kekasihnya Cika,berlari menyusulnya.
"Kami pergi dulu, Leo!". Akhirnya Camelia dan Rika,menyusul Cika lumayan jauh.
Leo,cuman menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Mengangkat kedua bahunya, membalikkan badan dan bergabung dengan temannya lagi.
Dari kejauhan Camelia dan Rika, melihat temannya Cika beradu mulut dengan sang kekasih. Membiarkan mereka berdua, menyelesaikan masalah jangan sampai ada kesalahan pahaman.
"Gara-gara masalah itu,yah? Kamu masih gak mau, ketemu sama kak Kaizam". Kata Camelia, cengengesan.
"Hussssttttt...Jangan di ingat lagi, sumpah aku malu banget tau sama kak Kaizam. Mau taruh dimana wajah ku, meskipun aku gak sengaja". Gerutu Rika,masih terngiang-ngiang kejadian itu.
"Namanya rezeki loh". Kekehnya Camelia, menyenggol lengan temannya.
"Jangan di ingat lagi,aku yang salah kok. Asal masuk kedalam,terus...Aaaaa..". Rika, menggeleng kepalanya dan menghentakkan kakinya.
"Pasti kak Kaizam, sudah memaafkan mu kok. Dia gak kenapa-kenapa tuh, ketemu kamu loh. Eee..Malah kamu, yang menghindarinya". Kini Camelia, cekikikan menahan tawanya.
Rika,yang kesal dengan Camelia dan menggelitik pinggangnya.
Tiba waktunya Cika,datang dan sudah selesai masalah mereka berdua.
"Gimana,jadi putus?". Tanya Camelia, sedangkan Rika cekikikan tertawa.
Cika, senyum-senyum sendiri dan menggelengkan kepalanya. "Gak jadi, akunya yang salah paham. Kami sama-sama minta maaf". Jawabnya, terlihat jelas dari raut wajah merah merona.
__ADS_1
"Terus,gak mojok lagi?". Tanya Rika, menghentikan tawanya.
"Gak lah,mau gabung sama temannya. Hari minggu ini,aku di ajak jalan-jalan sama dia. Bahkan satu geng,ke puncak gunung". Kata Cika, sangat senang sekali.
"Wahhh.. Kejam yah,kita berdua gak di ajak?". Tanya Rika, memberikan tatapan tajam.
"Lah, emangnya kalian mau bermalam di puncak?". Tanya Cika, memandang ke arah temannya saling bergantian.
"Pengen banget camping di puncak, tapi di izinkan gak yah?". Kata Camelia, memegang dagunya.
"Kalau aku sih, pasti di izinkan. Apa lagi,kamu ada". Kekehnya Rika, mengerjapkan bola matanya.
"Aku punya ide,kalian bolehlah jemput aku. Pasti nenekku, izinkan pergi ke puncak. Meskipun ada pengawal sih,gak papa kan?". Tanya Camelia, memperlihatkan tatapan iba.
"Kalau masalah itu,aku bicarakan dengan pacarku. Takutnya gak bisa,kalian ikutan. Gak papakan,yah?". Bujuk Cika, bergelut manja di lengan dua sahabat ini.
"Gak papa sih, kamu tanyakan dulu". Jawab Camelia, tersenyum sumringah dan di angguki Rika juga.
Mereka bertiga tidak jadi pulang,malah menuju ke arah kuliner lagi. Berbagai macam makanan,yang mereka beli dan cari tempat duduk santai.
"Mereka ini, termasuk balap liarkan?". Tanya Camelia, penasaran. Pasalnya tidak ada tanda-tanda, polisi atau satpol PP yang membubarkan mereka yang balapan liar.
Byurrr....
Uhuk... Uhuk...Uhuk...
Camelia, terbatuk-batuk mendengar jawaban Rika, benar-benar terkejut.
"Loh,kamu gak papa Camel?". Cika dan Rika, menjadi khawatir dengan keadaan Camelia.
"Gak papa,aku cuman kaget loh. pantesan saja, tidak ada satpol PP atau polisi yang membubarkan mereka". Jawab Camelia, tersenyum manis.
"Kamu gak tau yah, orangtuanya Li Yun memiliki tambang emas terbesar di kita ini". Bisik Rika, sontak membuat Camelia semakin terkejut.
"Waw... Beruntung tuh, pacaran sama Li Yun. pasti dia gak segan-segan mengeluarkan uang, untuk sang kekasih yang di cintainya". Kekeh Camelia,karena jiwanya Katrina yang menyukai uang.
"Edehhh...Ingat Camelia, kamu itu keturunan keluarga Allen. Masa iya, memikirkan uang dan mau memeras juga". Rika, menepuk keningnya.
"Iya lah,aku suka uang dan uang". Jawab Camelia, dengan santainya.
"Memang benar,uang adalah segalanya bagi perempuan". Sahut Li Yun, yang datang dengan temannya.
__ADS_1
Camelia, Cika dan Rika sampai tidak mengetahui kedatangan mereka. Saking asyiknya, berbicara dan berbisik.
"Li,sama sajakan mereka perempuan matre". Sahut lainnya,yang di iringi tertawa terbahak-bahak bersamaan.
Braakkkk...
Camelia, menggebrak meja karena sudah emosi dengan perkataan mereka. "Kalau saya memang suka uang,apa masalah anda? Oh, mungkin saja cowok itu kere". Camelia, tersenyum smrik dan berhadapan langsung dengan mereka.
Cika dan Rika, sudah merasa ketakutan berhadapan dengan geng motor DRX. Sangat bahaya sekali,jika menyinggung perasaan mereka.
"Huusshhhhh....Li Yun,dia adalah teman sekelas ku. Dia keluarga Allen". Bisik Leo,kepada yang lainnya.
Li Yun dan lainnya terkejut, mereka berhadapan dengan orang yang bukan kalang biasa.
"Maaf, sudah menyinggung perasaan mu nona". Kata Li Yun,membuang muka ke arah lain.
Namun, Camelia mengambil tas melongos melewati Li Yun dan teman-temannya. Cika dan Rika, bergegas menyusul Camelia berlari kecil.
Kepergian Camelia,tanpa sepatah kata pun menjadi pusat perhatian Li Yun dan lainnya. "Apa seperti itu, dia bersikap sombong?". Tanyanya kepada Leo, Karena penasaran.
"Tidak, mungkin dia tidak menyukai kamu. Makanya bersikap acuh,dia susah di taklukkan hatinya. Aku pulang dulu,". Pamit Leo, menepuk pundak Li Yun.
Sedangkan mobil Camelia, sudah meninggal tempat itu. Di dalam mobil, semakin heboh karena mereka bertiga berbicara tak karuan. Pak Muin,sang sopir merasakan gendang telinganya mau pecah.
"Astaga! Jantungnya berdegup kencang karena geng motor DRX mendekati kita". Kata Rika, memegang dadanya.
"Yeee..Biasa aja,malah kesel liat wajahnya sok suci itu". Sahut Camelia, menyunggingkan senyumnya.
"Jangan gitu lah,siapa tau kamu jatuh cinta".
"Iiiyyy..Ogah banget,kamu aja kali".
"Yeee...Mana bisalah, aku tak secantik dirimu dan tak sederajat dengannya".
"Kalau cinta,gak mungkin memandang derajat. Bahkan tai sapi aja,kaya rasa pizza. Kalau sudah cinta kebangetan".
"Mana ada, emangnya kamu pernah apa? Makan tai sapi rasa pizza, aneh-aneh saja. Dapat ide darimana pula,kamu Camel?"
"Yehhh...Ada kok,nanti Cika bikin resepnya dan di bikinkan lalu kau makan".
Cika, menggeleng kepalanya mendengar mereka berdua berdebat masalah tai sapi rasa pizza.
__ADS_1