SIAPA KAMU

SIAPA KAMU
Hamil


__ADS_3

"Ada apa,mah?". Tanya Vanya,mulai membaik tidak meronta-ronta lagi.


"Kakakmu, Vanya! Jessica, sudah meninggal nak. Kakakmu, sudah meninggal". Kata Lena, menggenggam erat jemari tangan anaknya.


"Apa! Kenapa, seperti ini hidup kita mah? Apakah ini, semacam karma. Kita banyak melakukan kesalahan besar terhadap, Katrina. Sumpahnya benar-benar nyata mah,aku takut sekali. Kondisi seperti ini, bagaimana nasib kita". Vanya, memejamkan matanya dan membiarkan air matanya luruh sedari tadi.


"Maafkan mamah,nak. Sepertinya benar, sumpah Katrina terjadi kepada kita. Mamah, benar-benar menyesalinya nak". Lena, memegang kepalanya terasa sakit.


Mereka berdua saling menguatkan, menangis kesegukan. Menyesal tak ada artinya sekarang, kehidupan mereka benar-benar hancur.


Ceklekk...


Pintu rawat inap,terbuka lebar. Terlihat jelas seorang pria, kekasihnya Vanya dan membawa bingkisan buah di tangannya.


[30/6 16.15] Erlina: "Nak Andreas, akhirnya kamu datang. Vanya, mencari mu terus-terusan. Dia sangat membutuhkan mu,pahami keadaannya". Lena, mendekati Andreas dan satu-satunya harapan.


"Sayang,kamu kemana saja? Aku dan mamah, menghubungi terus-terusan. Tapi,kenapa ponselmu tidak aktif? Aku sangat membutuhkan mu,apa tidak kasian melihat kondisi sekarang?". Tanya Vanya,beruntun.


Andreas, memandang ke arah Vanya dan matanya tertuju pada kaki yang diamputasi sudah.


"Andreas, kamu berjanji akan selalu bersama ku dan dalam kondisi apapun. Ayo,kita menikah sayang. Cuman kamu bisa membahagiakanku,aku tidak mau menunda lagi. Kita nikah lari,aku siap seperti yang kamu ucapkan dulu". Vanya, tersenyum sumringah.


Andreas, memandang lekat wajah Vanya. Memang benar, dia duluan mengajaknya nikah lari. Karena orangtuanya tidak menyetujui hubungan mereka,namun apa daya. Vanya, selalu menolak karena mengejar karirnya.


"Andreas,kenapa diam nak?". Lena, mengelus lembut punggung Andreas.

__ADS_1


"Maafkan aku,mah, Vanya. Sebenarnya,aku ingin mengakhiri hubungan kita. Tidak bisa lagi, di pertahankan". Jawab Andreas, menundukkan kepalanya.


"Apa! Jangan berbicara macam-macam,sayang. Kamu bercandakan,gak mungkin kamu meninggalkan ku". Vanya, menggeleng kepalanya dan mencekal lengan kekasihnya itu.


"Nak Andreas, bukankah kamu sudah berjanji kepada anakku tidak akan mengecewakannya. Sekarang apa,yang telah kamu lakukan?". Lena, langsung memarahinya.


"Maafkan aku mah, Vanya. Aku tidak akan mengubah keputusan ku,tetap mengakhiri hubungan ini". Kata Andreas,masih nada pelan.


"Tidak! Aku tidak mau, Andreas. Apa kamu lupa,aku tengah hamil dan ini anak darah daging mu! Apa kamu mau,aku membongkar rahasia ini? Seluruh keluargamu akan malu,ingat itu". Ancam Vanya, langsung menarik lengan Andreas dan ingin meletakkan di perutnya.


Lagi-lagi Andreas, langsung menarik lengannya dan menjauhkan diri dari Vanya.


Sontak membuat Vanya dan sang ibu, terkejut atas perilaku Andreas yang tidak lemah lembut lagi.


"Apa! Kamu hamil Vanya, anaknya Andreas?". Tanya Lena,tak kalah terkejutnya mendengar ucapan anaknya. Ada rasa senang hati, karena Andreas tak akan meninggalkan anaknya.


"Kau dengarkan Andreas,apa yang di katakan anakku. Dia hamil, mengandung darah daging mu. Ini maksudnya kamu, ingin meninggalkan anakku, begitu? Apa kamu tidak memikirkan,konsekuensi yang di alami keluarga besarmu. Jika aku dan Vanya, mendatangi kediaman orangtuamu dan memberitahu bejat mu. Ayo, bagaimana Andreas?". Bentak Lena, menggoyangkan lengannya.


"Cukup! Aku tidak yakin,di dalam perut Vanya adalah anakku. Lihatlah, beberapa video seseorang mengirim kepadaku". Sorotan mata tajam Andreas, mengeluarkan ponselnya dan memutar video panas Vanya dengan pria lain. Bukan satu pria saja, melainkan gonta-ganti.


"Tidak! Itu,tidak benar! Andreas,itu bukan aku! Percayalah kepadaku,aku cuman mencintaimu. Jangan percaya dengan video itu, Andreas!". Vanya, meronta-ronta dan menggelengkan kepalanya.


Lena, mengelus dadanya yang terasa sesak. Air matanya mengalir deras, tidak percaya sepenuhnya apa yang di lakukan sang buah hati.


"Tidak! Mamah, percayalah kepadaku. Itu,bukan aku mah! Bukan aku! Aaaarrgghh....!". Teriak Vanya, sekeras mungkin.

__ADS_1


"Benar kata orangtuaku,kau bukan wanita baik-baik. Seandainya saja,orang itu tidak mengirimkan bukti-bukti ini. Bisa jadi,aku penuh penyesalan karena tidak mendengar ucapan kedua orangtuaku yang sudah sepenuhnya membesarkan. Tetapi,aku bodoh sekali dalam urusan percintaan. Akhirnya ada seseorang, membukakan kedok licik mu Vanya. Aku benar-benar kecewa kepada mu, sudah berani melawan orangtua ku sendiri. Nyatanya aku salah menilai mu,aku malu Vanya! Sangat malu, menaruh wajahku di hadapan orangtuaku!". Andreas, menggeleng kepalanya.


"Tidak! Aku tidak pernah membohongi mu, Andreas. Percayalah kepadaku, anak ini adalah anakmu". Vanya, memohon meminta iba kepada Andreas.


"Tidak berbohong begitu,aku sudah menemui sutradara yang bermain panas dengan mu. Kalian seringkali melakukannya, pantesan saja. Kamu sangat mudah,menaikan ranting di dunia hiburan. Rupanya kamu bermain licik,menjual tubuhmu kepada sutradara film lainnya. Kurang ajar sekali kamu, Vanya! Sudah mempermainkan perasaan ku, selingkuh di belakang ku. Aku tidak perduli lagi, bagaimana keadaan mu ini!. Mulai sekarang, detik ini juga. Kita tidak pernah memiliki hubungan apapun, jangan pernah menemui ku!". Tegas Andreas, meninggalkan ruang Vanya.


"Tidak! Jangan pergi, Andrews! Aku minta maaf, ampunilah aku. Berikanlah kesempatan satu lagi, maafkan aku! Andreas,jangan tinggalkan aku! Andreasssss....!". Teriak Vanya, lagi-lagi meronta-ronta tak bisa di tangani.


Lena, keluar dari ruangan dan memanggil dokter dan perawat untuk menyuntikkan obat penenang kepada anaknya.


Di sudut lainnya, Camelia tersenyum sumringah karena berhasil menyakiti Lena dan Vanya. "Hmmmm... Senangnya aku, sudah berhasil membuat mereka semakin menderita. Vanya,aku tidak tau bagaimana menjalani kehidupan mu? Sudah hamil,kaki diamputasi, astaga! Akankah kau akan bunuh diri, sekarang aku tinggal menunggu balas dendam kelanjutannya".


Camelia, melenggang pergi meninggalkan rumah sakit. Dalam keadaan perasaan sangat bahagia luar biasa, tunggu balas dendam kelanjutannya nanti.


*******************


Plakkk...


Plakkk...


Lena,yang sudah marah padam terhadap anaknya. Melayangkan dua tamparan sekaligus,di kedua pipinya Vanya.


Vanya,duduk dan baru sadarkan diri. kepalanya tertunduk,tak berani menatap wajah ibunya.


"Sekarang apa, Vanya? Kamu anak kurang ajar,mamah sudah bilang kepada mu ha! Jangan mengikuti jejak kakakmu, sekarang kamu sudah melakukannya. Cukup, kakakmu terjerumus dalam hubungan terlarang antara sutradara. Sekarang kamu melanjutkannya,ini akibatnya Vanya! Semuanya hilang dalam sekejap,mamah tidak tau lagi. Jika video panas itu, tersebar di seluruh dunia. Mau taruh dimana wajah mamah,kamu juga menanggung malu. Apa lagi sekarang,kamu tengah hamil! Hamil Vanya, anak siapa ini? Katakan Vanya!". Sang ibu, benar-benar memarahi anaknya yang diam tanpa bersuara apapun.

__ADS_1


"Jangan bilang,kamu tidak tau anak siapa ini? Astaga, Vanya! Apa kamu tidak memikirkan sebelumnya,ha? Lihatlah, kakakmu Jessica sudah melakukan masalah besar. Sampai mati di dalam penjara,itu semua karena kesalahannya sendiri!". Bentak Lena, mencekram lengan anaknya.


Vanya, menggeleng kepala dan menangis saja. Tak berani menjawab pertanyaan sang ibu, yang sudah marah besar terhadapnya.


__ADS_2