
"Aaaaa... Shhhhht.... Aaaakkhh...!".
Byurrr...
Camelia, terduduk dan tubuhnya basah. Ketika mengangkat kakinya, pecahan kaca tertancap di telapak kakinya.
"Aaaaaaaaa...!". pekik Cika dan Rika,menutup mulutnya langsung.
"Aaakkkhh.... Sssshhhttt...Sial". Lirih Camelia, merasakan teramat sakit di telapak kakinya.
"Camelia,kau tidak apa-apa? Aku akan merobek bajuku,tapi bagaimana dengan beling kaca itu?". Rika, bergidik ngeri melihatnya.
"Apakah kita masih bisa melanjutkan perjalanan ini? Aku tidak mau tertangkap mereka,aku takut". Kata Cika, menoleh ke belakang. Seakan-akan Li Yun dan temannya, sudah dekat.
Camelia, berlahan-lahan menyentuh pecahan kaca yang menancap di telapak kakinya. "Aaaarrgghh....!". Camelia, mencabut pecahan kaca itu. Tak lupa mulutnya masuk kedalam air,agar suaranya tak terdengar oleh siapapun.
Darah segar mengalir deras, dengan cepat Camelia mengikatnya menggunakan pakaian Rika yang baru saja di sobek.
"Huuuu...Huuu...Huu...!". Camelia, mengatur nafasnya yang memburu. "Aku akan berjalan sendiri,kau bantu Cika saja". Perintah Camelia,kepada Rika. Bersusah payah berjalan berlahan, sambil berpegangan pada dinding terowongan.
"Aku mulai baikan Camelia,ayo kita jalan lagi". Cika dan Rika, menopang tubuh Camelia menulusuri terowongan pembuangan air. Lumayan sulit berjalan di dalam air, mereka baru sadar jika air semakin dalam dan samar-samar mendengar suara air jatuh.
"Sebentar lagi kayaknya kita keluar, dengarlah suara air terjun di sana". Rika, tersenyum sumringah dan melirik ke arah dua sahabatnya.
"Benar sekali,ayo". Kata Camelia, tersenyum manis. Astaga! Sakit sekali kakiku, semoga mereka masih jauh.
Sedangkan Jordan,di buat Camelia susah lagi-lagi membuka penghalang terowongan pembuangan air,karena kesal dia langsung mengarahkan pistol ke gembok.
Dor!
Dor!
Suara tembakan terdengar oleh Camelia, Cika dan Rika. Berarti mereka sudah dekat dengan mereka, menahan rasa sakit di bagian kaki. Tanpa ba-bi-bu lagi, mempercepat langkah.
"Aaaaaaaaa...!". Pekik mereka bertiga, refleks melihat kebawah. Akhirnya mereka sampai di ujung pembuangan,tapi mereka harus melompat dulu dan bisa ke tebing. Aliran sungai lumayan deras, airnya sangat jernih dari pegunungan.
"Apa kita akan lompat ke bawah,yang benar saja". Kata Rika, menepuk keningnya.
Dor!
"Aaaaaaaaa....!". Teriak mereka bertiga, langsung berjongkok. Rupanya Jordan, sudah dekat dengan mereka bertiga.
"Hahahaha... Akhirnya aku menemukan kalian bertiga, habislah kau Camelia". Seringai tajam, Jordan dan mengarahkan pistolnya.
"Paman, tunggu! Biarkanlah mereka pergi,ini adalah urusan kita". Camelia,mulai berdiri dan mengangkat kedua tangannya.
"Kita harus lompat,jangan lupa". Bisik Rika, memberikan kode. Cika, langsung mengangguk paham apa yang di maksud sahabatnya.
__ADS_1
"Tidak!Aku tidak peduli denganmu Camelia, sudah cukup lama aku bertahan dan mengalah". Bentak Jordan, menyeringai tajam.
"Paman Jordan,berikan berkas itu dan aku akan menandatanganinya karena seluruh kekayaan Malik dan Allen. Aku tidak membutuhkannya,aku bukanlah seorang serakah seperti paman". Kata Camelia, tersenyum smrik.
"Hahaha....Kau benar-benar perempuan yang licik, Camelia.Sebelum kau menandatangani berkas ini,ikut dengan ku bersama teman-temanmu juga.Kau pikir aku bisa dibodohi begitu saja.Oh....Tidak semudah itu,Camelia". Jordan, semakin mendekatinya.
Camelia,geram mendengar ucapan Jordan yang seenaknya saja. Dia yakin sekali, pasti ada sesuatu yang direncanakan.
"Aaaaaaaaaaaaa....!" Teriak Camelia, bersamaan dengan kedua sahabatnya. Dia tak menyangka bahwa Cika dan Rika, membawanya terjun ke bawah.
Byurrrrrr....
"Siaaaaallll...!". Teriak Jordan,dia langsung mengejar Camelia. Namun sayang,dia terpeleset karena licin dan ikutan jatuh ke bawah. Bukan hanya itu saja, pistol di tangannya terlempar jauh.
Byuurrrrr....
Camelia, Cika dan Rika secepatnya berenang ke tepian. Mengetahui jika Jordan, ikutan terjun juga.
"Hap...Hap...Hap...!" Cika, kesulitan berenang dan di bantu Camelia.
Jordan, mempercepat berenang dan mendekati Rika. Dia menarik kaki Rika,lalu menekan kepalanya ke dalam air.
"Aaaaaaa....Hap....Tolong! Tolong!". Teriak Rika, berusaha melepaskan diri dari Jordan.
Camelia, langsung membantu Rika dan memukul Jordan menggunakan batu.
Bughhh....
"Aaaarrgghh...!". Jordan, merasakan kepalanya sangat sakit sekali. Ini adalah kesempatan Camelia dan Rika, menjauhkan diri dari Jordan.
"Aku akan menangkap mu, Camelia!". Teriak Jordan, calingukan mencari senjatanya yang jatuh kemana.
"Ha...Ha...Ha..Ha..!". Camelia dan Rika, ngos-ngosan mengatur nafasnya. Sama-sama kelelahan sudah,tenaga mereka terkuras habis.
Cika, bersandar pada batu besar dan menatap ke arah dua sahabatnya dan mengacungkan jempolnya.
Jordan, mulai beranjak berdiri dan mendekati Camelia mengundurkan tubuhnya ke belakang.
"Hahahhaaha...Kau mati di tanganku, Camelia!". Teriak Jordan, diselimuti amarahnya.
"Eenggg....Rrrggghhh...!". Camelia, berusaha melepaskan diri. Merasakan tenggorokan terasa sakit, Jordan terlalu erat mencekik lehernya.
"Aaaaaaaaa.....!". Teriak Rika, mengarahkan batu besar kebelakang tubuh Jordan.
Buughh...
"Tak akan aku biarkan paman Jordan,membunuh sahabat ku!". Teriak Rika, mengarahkan batu besar itu lagi.
__ADS_1
Buughh...
Dengan cepat Jordan, menginjak perut Rika dan terjungkal ke belakang.
"Aaaarrgghh... Sssshhhttt...!". Rika, meringis kesakitan di bagian perutnya. Dia tersungkur di bebatuan,seluruh tubuhnya terasa sakit.
"Uhuk... Uhukk...Uhuk...!". Camelia, terbatuk-batuk sambil menahan lehernya. Sedangkan Cika, berusaha tidak mau tinggal diam saja.
Jordan,mulai bangkit kembali dan menindih tubuh Camelia. Dia langsung mencekik leher Camelia, penuh dengan semangat.
"Hahahahha...Mati kau Camelia,ini adalah hadiah untuk mu. Hahahaha....! Matilah Camelia!". Teriak Jordan, sekencang mungkin.
"Camelia, bertahanlah". Teriak Cika, mengambil batu untuk memukul Jordan.
Tangannya Camelia,mencari sesuatu di sekitarnya. Dia mendapatkan batu lumayan besar, siap melayangkan batu tersebut ke bagian kepala Jordan.
Bughhh....
Bughhh...
"Aaaaaaaaa...Sialan kau, Camelia! Awas kamu!". Teriak Jordan, tubuhnya berbaring di samping Camelia. Menahan kepalanya yang sudah keluar darah, lumayan banyak sekali.
Sedangkan di tempat lain, Li Yun dan temannya menemukan jalan keluar. Namun sayang, bukannya Camelia yang mereka temukan. Melainkan anak buahnya JJ Abrams, sudah menghadang mereka.
Adu tembak pun,tak bisa di hindari lagi. Li Yun dan temannya, kehabisan peluru sudah. Satu harapan mereka adalah berlari dan masuk kedalam lagi.
JJ Abrams,terus berteriak-teriak memanggil nama kekasihnya itu. Berjalan melewati pepohonan menjulang tinggi, rerumputan dan bebatuan. Tibalah mereka di pinggir sungai,lalu menelusuri sampai ke arah pembuangan air.
Keadaan Jordan,jangan di tanyakan lagi. Entah keajaiban mana, memberanikan Cika dan Rika memukul Jordan sampai tak sadarkan diri.
Darah segar muncrat ke tubuh mereka, membuat Cika dan Rika tersadar apa yang sudah dilakukan.
"Sudahlah,kita tidak salah jangan takut". Camelia, memeluk kedua sahabatnya itu. kemungkinan besar, Cika dan Rika mengalami trauma berat.
"Apakah dia mati, Camelia? Kami bukan pembunuh Camelia,kami cuman menolong kamu". Rika, menggeleng kepalanya dan menangis kesegukan.
"Camelia! Camelia!". Teriak JJ Abrams, berlarian secepat mungkin.
Camelia, bangkit ke arah sumber suara tersebut. "Suara JJ Abrams,kita selamat! JJ,kami di sini! JJ,kami di sini!". Teriak Camelia, melambaikan tangannya.
"Camelia! Camelia, akhirnya aku menemukanmu sayang!". Teriak JJ Abrams, berlarian ke arah Camelia. Meskipun dirinya hampir jatuh,karen melewati bebatuan.
Camelia, tersenyum sumringah dan berlari menuju JJ Abrams juga. Tiba-tiba saja, sesuatu yang terjadi.
Dor!
"Cameliaaaaaaaa!".
__ADS_1