SIAPA KAMU

SIAPA KAMU
Digantung


__ADS_3

Camelia, memerintahkan salah satu anak buahnya Jhonny yang menjaga dari kejauhan. Dia meminta bantuan, untuk melepaskan pakaian Doni dan Rendy.


Anak buah Jhonny, bergidik ngeri melihat penyiksaan Camelia. Lebih kejam dari Jhonny lagi,tak segan-segan menghukum musuhnya dengan santai dan tertawa lepas.


Setelah itu, Camelia mulai bermain-main dengan mereka.


"Aaaaaaaaa.....Aaaaaa...!"


"Aaaaaa....Aaaaaa... Aaaaaaaaa....!".


Doni dan Rendy, berteriak-teriak histeris. Tubuh mereka penuh dengan luka-luka,di tusuk dengan besi runcing,tajam dan di bakar api yang membara.


"Paman Doni, anggap saja pembalasan dendam dari orangtuaku yang telah kalian bunuh. Bibi Linda, akan menyusul penyiksaan ini. Termasuk anak kalian, tidak tertinggal dengan keluarga Rendy". Kata Camelia, tersenyum sumringah.


Byurrrrr...


"Aaaarrgghh.....!". Doni dan Rendy, meringis amat terasa perih sekali.


Camelia, menyiram mereka berdua dengan minyak bensin.


"Kalian, gantung mereka berdua di atas tumpukan kayu itu. Aku ingin memanggang mereka berdua hidup-hidup, sampai ajal menjemput mereka. Hahahaha... Hahahaha..!". Dia tertawa terbahak-bahak,tanpa memperdulikan tatapan iba dari Doni dan Rendy.


Kata maaf dan ampunan,tak mampu meluluhkan hati Katrina. Karena hatinya di selimuti amarah dan dendam. Menyesal pun, tidak ada gunanya lagi.


"Aaaaaa....Tidak! Ampunilah aku, Katrina!Ampun,jangan di bakar! Ampun!Ampun!".


Doni dan Rendy, berteriak-teriak sampai merenggang nyawanya.


Camelia, terduduk lemas dan menangis kesegukan. Apa yang di lakukannya sekarang, tidak akan mengembalikan kehidupan sebelumnya.


Dengan langkah gontai, menuju mobil dan meninggalkan villa. Malam semakin larut, sepanjang perjalanan di temani air mata.


30 menit kemudian, mobilnya berhenti dipinggir pantai.

__ADS_1


Malam yang gelap,di sinari cahaya lampu mobil. Suara ombak di pantai, terdengar jelas.


Camelia, terduduk dan bertumpu pada lututnya.


"Aaaaaaaaaa.....!". Camelia, berteriak keras untuk meluapkan sesak di dadanya. Tangannya menggenggam erat di atas pasir, membiarkan ombak kecil membasahi tubuhnya.


Air matanya mengalir deras, meskipun menghabisi nyawa mereka. Tetap saja, kesedihan yang mendalam tak akan bisa menghapusnya.


Jhonny, berlarian ke pinggir pantai dan memeluk erat tubuh ramping yang tengah menangis.


"Jhonny". Lirih pelan Camelia, tangisnya langsung pecah di peluk Jhonny. Hatinya terasa hangat, tidak seperti tadi.


Mendapatkan informasi dari anak buahnya, Camelia pergi dari villa. Jhonny, langsung bergegas menyusulnya Camelia. Rupanya Camelia, pergi ke pantai untuk meluapkan rasa sesak di dadanya.


Jhonny, memerintahkan anak buahnya jasad Doni dan Rendy. Lakukan skenario kecelakaan tunggal,demi keamanan Camelia dan jangan sampai tau oleh siapapun.


*******************


Esok harinya, berita tentang kematian Doni dan Rendy tersebar luas. Penyebab kematian mereka berdua, kecelakaan tunggal dan mobilnya terbakar.


"Kuburkan saja, tidak perlu otopsi pak". Kata Linda,yang sudah kecewa dengan suaminya itu.


"Iya,pak. Kami sekeluarga ikhlas,atas kematian mereka. Bukankah sudah jelas,ayah kami kecelakaan dan mobilnya terbakar". Sambung Clara, sambil menutup wajahnya masih buruk rupa.


"Vanya,kamu ada uangkan? Untuk otopsi kematian kakakmu, pasti ada sesuatu yang tidak beres". Bisik Lena,kepada anaknya.


"Hussssttttt... Tidak perlu mah,aku mana ada uang. Biarkanlah kak Rendy, langsung di makamkan. Ini semua salah mamah,loh". Jawab Vanya, melenggang pergi meninggalkan ibunya.


"Bagaimana, dengan pihak keluarga Rendy?". Tanya seorang polisi, menyelidiki kasus ini.


Dengan berat hati, Lena langsung membiarkan anaknya di makam tanpa otopsi. "Di makan kan langsung pak, tidak perlu otopsi segala. Kami sudah jelas penyebab kematiannya, biarkanlah anakku tenang di sana". Jawabnya Lena,menyeka air matanya.


"Ck,aku senang selingkuhan mu mati bersama anakmu itu. Atau jangan-jangan anakmu menyetujui hubungan antara kalian,hebat sekali". Kata Linda, mendekati Lena yang memandangnya dengan sinis.

__ADS_1


"Tante, memang pantas untuk papah yang kere. Modal cinta tak ada gunanya Tante,kenapa gak ikutan mati saja? Kami malah senang sekali,". Sambung Clara, tersenyum smrik.


"kalian apa-apaan ini? Menyudutkan mamahku, begitu? Ayah kalian lah,yang salah dengan kami. Baguslah,buaya itu mati juga". Ucap Vanya,baru datang dan membela ibunya.


"Vanya,ayo kita pulang. Kita menyiapkan pemakaman kakakmu,biar mereka urus pemakaman Doni". Lena,menarik lengan anaknya.


Linda dan Clara,mencibik bibirnya dan menatap kepergian mereka berdua.


Ryan, sedari diam dan benar-benar kehilangan ayahnya. Di sisi lain,dia masih terngiang-ngiang kematian ayahnya. persis dengan kematian, Katrina.


"Mah,kak, apakah kematian papah? Ada sangkut pautnya dengan Katrina, kematian papah sangat mirip dengan kematian Katrina". Tanya Ryan,sontak membuat mereka berdua terkejut.


Degggg...


"Ryan, hussssttttt....Kamu ngomong apaan sih, Ryan? Bahaya kalau ngomong sembarangan,gak jelas". Bentak Linda, dengan nada pelan.


"Ayo,kita pulang dan menyiapkan segalanya. sebentar pagi, jenazah papah akan datang". Clara, mengalihkan pembicaraan ibu dan adiknya. Tiba-tiba saja,bulu kuduk seketika berdiri.


Tiba di mobil, Ryan masih gelisah gusar. Kematian ayahnya benar-benar mengguncang hidupnya, pikirannya berkecamuk kemana-mana.


"Kamu kenapa, Ryan? Dari tadi gelisah,kaya gak tenang". Tanya Linda, menoleh ke arah anak bungsunya.


"Aku masih kepikiran kematian papah,mah. Kemarin ada seseorang mengirim pesan singkat kepadaku,atas nama Katrina". Jawab Ryan,akan tetapi mendapatkan tatapan tajam dari ibunya.


"Cukup! Katrina! Katrina! Katrina,terus! Dia sudah mati, Ryan! Apa kamu kira,dia bangkit kembali dan membalas dendam kepada kita ha? Kematian ayahmu, tidak ada sangkut pautnya dengan Katrina! Paham kamu,jangan membahas namanya lagi!". Bentak Linda, langsung.


"Mah,jika beneran dari Katrina. Bagaimana,mah? Kita bakalan di habisinya,apa lupa dengan sumpahnya Katrina. Semua ini, gara-gara ide gila kalian. Sudah membunuh Katrina,yang tidak bersalah apapun". Sahut Clara, sambil fokus menyetir mobil.


"Diam! Kamu menyalahkan mamah, begitu? Kalian tidak akan pernah menikmati kemewahan,kalau bukan mamah dan papahmu. Paham itu!". Bentak Linda, dadanya naik turun mengontrol dirinya.


"Iya, awalnya kita menikmati semua kekayaan Katrina. Sekarang apa,mah? Kita mendapatkan karmanya,kenapa sih? Katrina,harus di bunuh. Tidak bisakah,di kurung di kediaman Sean,jangan di biarkan keluar kemanapun. Pasti kita baik-baik saja,". Clara,memukul setir mobilnya meluapkan sesak di dada.


"Jangan nyalahin mamah, dong. Yang salah itu, keluarganya Rendy. Tidak bisa menjalankan rencana, belum apa-apa sudah ketahuan kedok kita. Yang salah papahmu,kenapa selingkuh dengan Lena. Kamu juga salah, tidak bisa berjuang lebih keras lagi. Masa menggoda Jhonny dan Jordan,gak becus. Salah kamu juga,gak hati-hati dan berwajah jelek begitu. Nyesal mamah, pernah melahirkan kamu yang buruk rupa". Ucap Linda, meluapkan semua unek-uneknya.

__ADS_1


Clara, menghapus air matanya. Hatinya terasa teriris-iris, mendengar sang ibu menjelekkan wajahnya.


Ryan, tertunduk karena bersalah sudah membahas ini. Ibu dan kakaknya,malah bertengkar lagi. Tidak ada pembicaraan antara mereka bertiga, masing-masing terdiam dan sampai di apartemen.


__ADS_2