
"Tidak ada makanan?". Tanya Ryan, memandang ibu dan kakaknya saling bergantian. Dia lelah baru pulang sekolah, setelahnya istirahat sebentar sebelum ke kafe untuk bekerja. Astaga!Aku tidak sabar lagi, menghadapi mereka yang tidak pernah memperdulikan perasaan ku. Rupanya mamah dan kak Clara, memesan makanan di luar. Aku yang cakep kerja, cuman nasi dan telor ceplok. Ini tidak sekali, tetapi berkali-kali terjadi.
"Oh,nasinya habis yah. Tinggal masak,bikin telor ceplok beres". Sahut Clara,yang bersantai di nonton televisi. Enak saja,mau di sediakan kaya majikan. Rasakan tuh,gak perlu makan sekalian.
"Jangan manja kamu, pulang kerja nanti mamah minta uang. Sudah lama tidak shopping, jalan-jalan segala". Kata Linda, sambil menikmati cemilan di tangannya.
Ryan, menghela nafas berat. Sesak rasanya di dada, mendengar ucapan ibu dan kakaknya. Dia mati-matian untuk berhemat, bekerja, nyatanya mereka tidak pernah perduli.
"Mah,tau sendirilah berapa bayaranku kerja di kafe. Kita harus berhemat,buang niat mamah shopping dan jalan-jalan. Untuk makan sehari-hari kita,masih untung. Apa kalian sadar,jika aku terus berusaha sendirian. Lihatlah,kak Clara diam saja tanpa memikirkan bagaimana keadaan kita!". Akhirnya Ryan, mengeluarkan unek-uneknya selama ini. "Aku tidak bisa memenuhi keinginan mamah, untuk makan syukur kita". Sambungnya lagi, berharap sang ibu paham.
Brakkk....
Linda, menggebrak meja dan tajam ke arah anak bungsunya. "Kamu itu,masih kecil Ryan! Jangan sok-sokan nasehati mamah,aku pusing terus-terusan mengurung diri di apartemen. Mamah,mau refreshing untuk menghilangkan stress!". Bentak Linda, dadanya kembang kempes menahan diri.
"Jangan sok nasehati aku, Ryan. Masih untung kamu bisa tinggal di apartemen,kalau tidak? Kamu mau,jadi gelandangan ha?". Sahut Clara,juga. Baru saja kerja di kafe,sok nasehati aku segala. kamu kira aku tidak mengerti sama sekali,apa itu bekerja.
"Oke,aku capek mah,kak. Sepulang sekolah,bukan ada sarapan di meja makan. Ini malah kosong melompong,aku tidak masalah bekerja untuk kehidupan kita sehari-hari. Cukup makanan di meja makan,aku senang sekali. Mana uang yang aku kasih mah, padahal cukup untuk membeli sayur,ikan,dan lainnya". Ucap Ryan, cukup keras.
"Anak durhaka kamu, Ryan. Masih untung ada nasi sama telor,kalau habis tinggal masak. Kamu kasih uang untuk mamah, wajarlah kamu anakku". Bentak sang ibu,membuang muka ke arah lain.
"Kalau kamu perhitungan dengan kami, silahkan angkat kaki dari sini. Biarkan saja,dia jadi gembel mah. Baru bekerja di kafe, sudah sok belagu". Sungutnya Clara, tersenyum smrik.
__ADS_1
"Aku perhitungan terhadap mamah dan kakak. Buktinya apa, katakan jika aku perhitungan. Selama ini,aku diam dan diam. Kalian makan enak, memesan online secara diam-diam. Sedangkan aku,nasi sama telor ceplok. Itupun,jarang sekali ada nasi. Oke,aku pergi dari apartemen ini. Jangan harap kalian bisa meminta uang kepada ku lagi,buat mamah. Minta sana,sama kak Clara anak kesayangan mamah yang ongkang-ongkang kaki doang". Ryan,tak sanggup lagi tinggal di apartemen kakaknya. Cepat-cepat memasukkan semua baju, perlengkapan sekolah. Mereka tidak tau,jika Ryan akan tinggal di belakang kafe yang sudah di sediakan tempat tinggal untuk karyawan Leo.
Linda dan Clara, mencibik bibirnya melihat Ryan keluar dari kamar dan membawa tas dan koper.
"Ck, sok-sokan mau minggat. Pasti bakalan balik lagi,mau kost mana sanggup". Ledek Clara, langsung. "Aku harap kamu jangan balik ke sini lagi,punya adek gak tau di untungnya".
"Dasar anak durhaka,suka sekali melawan orangtua. Sifatnya memang seperti ayahnya,masih bagus sana pergi. Wajahmu itu,sama saja mengingat kembali tentang pria yang berkhianat itu". Kata Linda,ketika Ryan melongos melewati ibunya.
"Aku harap kalian jangan pernah menemui ku, apa lagi merengek-rengek meminta bantuan. Kalau mamah, meminta uang untuk berfoya-foya. Meminta lah kepada kak Clara,anak kesayangan mamah". Ucap Ryan, menutup pintu apartment.
"Clara,kamu ada uang gak? Kita shoping yuk, sumpek tiap hari di sini mulu". Linda, membujuk anaknya dan mendekati.
"Gak ada,mah. Uangku semakin menipis,mana enak makan cuman nasi sama telor ceplok. Kita berhemat dulu,". Clara,menolak ajakan ibunya. Enak saja, mau menggunakan uang ku. Meskipun mamah,ibu kandung sendiri.
"Makanya mah,jadi wanita jangan bodoh-bodoh amat. Kenapa dulu,gak di peras papah dan uangnya di simpan. Ini malah berfoya-foya dengan teman sosialita,mamah. Sekarang apa,mah? Kita sengsara,jatuh miskin seperti dulu. Masa kalah sama Lena, mendapatkan uang banyak dari papah". Gerutu Clara, meninggalkan ibunya di sofa.
**************
"E'ehmmm...Mau kemana, nunggu bus dan bawa koper?". Tanya Camelia, menghentikan mobilnya di hadapan Ryan.
"Aku mau ke kafe Flower,tinggal di sana". Jawab Ryan, sekuat tenaga menahan malu.
__ADS_1
"Oh,ayo aku antar. Kebetulan sekali, aku ingin bersantai di kafe Leo". Kata Camelia, memberikan kode kepada Ryan agar masuk kedalam mobilnya.
Ryan, menghela nafas panjang dan mengangguk pelan. "Terimakasih, atas tumpangan Camelia".
"Hahahaha... Tidak masalah,kita teman 1 sekolahan. Anggap saja, kebetulan sekali kita bertemu dan saling bantu". Kata Camelia, tersenyum smrik. Bagaimana jadinya,jika dia mengetahui siapa pembunuh ayahnya.
Rekaman video kejadian pembunuhan terhadap, Katrina. Masih belum di sebarkan,karena ingin memberikan pelajaran kepada sisa pelaku.
Ryan, tidak melakukan apapun terhadap ku atas kejadian itu. Dia malah diam,tak berbuat apa-apa. Tetapi,dia harus menanggung beban keluarga.Batin Katrina, menyunggingkan senyumnya.
"Aku sangat malu dengan mu, Camelia. Dulu,aku menyombongkan diri sendiri. Sekarang aku tidak memiliki apapun, bahkan keluarga mengusir dari tempat tinggal". Ryan,nampak menundukkan kepalanya.
"Sudahlah,jangan memikirkan masa lalu. Aku sangat prihatin dengan kematian ayahmu, semoga beliau tenang di alam sana". Kata Camelia, tersenyum kecil. "Apakah kamu sudah memberitahu Leo, bakalan tinggal di belakang kafe?".
"sudah, Camelia. Leo, orangnya baik dan memahami keadaan ku ini". Jawab Ryan, tersenyum kecil dan di angguki Camelia.
Tenang di alam sana,lalu di susul satu persatu oleh keluargamu. Mungkin saja, aku membiarkan kamu hidup tenang. Tetapi,beban yang kamu pikul apakah sanggup?. Batin Katrina, mencekram kuat setir mobilnya.
Mobil Camelia, berhenti di parkiran kafe Flower. Ryan, beberapa kali mengucapkan kata terimakasih kepadanya.
"Silahkan masuk, sebagai ucapan terimakasih ku. Hari ini,aku traktir minuman saja. Maaf,cuman minuman hehehe...!". Kekehnya Ryan, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Baiklah, aku senang menerimanya". Camelia, langsung menyetujuinya. Dia dan Ryan,masuk kedalam kafe.
Tiba-tiba Leo, langsung memandang ke arah mereka berdua tengah berbincang hangat. Ada perasaan aneh, tiba-tiba tidak menyukai mereka berdua dekat.