
"Kaizam, Leo! Apa-apaan ini,kenapa banyak sekali karangan bunga kematian di halaman rumah kita!". Dwi, terkejut melihat dari atas balkon kamarnya. Pemandangan begitu mengerikan, banyak orang-orang tercengang ke halaman rumahnya.
Dwi, bergegas keluar kamar dan menuju pintu luar. "Kaizam, Leo, apa-apaan ini?". Jarinya menunjuk ke arah karangan bunga itu.
"Tidak tau mom,ada seseorang mengirim karangan bunga tidak tau dari siapa. Pengirim tadi tidak ingin memberitahunya,bikin kesal saja". Kaizam, berdecik kecil masih menatap ke arah karangan bunga.
"Aku yakin sekali, pasti Camelia pelakunya ini. Mana mungkin orang asing buang-buang uang saja,kalau Camelia wajar banyak uang". Leo,menaruh rasa curiga kepada Camelia.
"Jangan gegabah dalam Leo, kita tidak memiliki bukti apapun. Berurusan dengan Camelia, semakin banyak masalah nanti". Dwi, mencoba menasehati anaknya itu.
"Sialan, lagi-lagi kita kalah dengan Camelia". Sahut Kaizam, menggaruk-garuk kepalanya.
"Gak mau tau,kalian harus membereskan semua ini. Mommy,malu di lihat orang-orang sekitar.Cepat! Bereskan semua ini,mommy gak mau tau". Dwi,kesal karena anaknya membiarkan karangan bunga masih di halaman rumah.
Kaizam dan Leo, mengangguk pelan dan menghela nafas beratnya. Mereka harus menyingkirkan semua karangan bunga kematian ini, benar-benar menguras tenaga.
"Kaizam, besok siap-siap akad nikah di rumah Riri. Semoga saja, Riri dan keluarganya tidak membuat kita malu". Ucap Dwi, sebelum meninggalkan kedua anaknya.
"Aku kira Riri, tidak mau menikah dengan ku setelah jadian ini. Nyatanya masih berharap menyebalkan sekali, untung dia gak hamil kaya Kiki". Kata Kaizam, mendekati karangan bunga dan menghancurkannya.
"Heran saja, rencana kita menyakiti Camelia tidak berjalan dengan lancar. Nyatanya kita mendapatkan kesialan terus-terusan,apa ada hubungannya dengan Camelia? Sejauh ini,kita tidak mendapatkan bukti apapun jika menyalahkan Camelia". Leo, menendang-nendang karangan bunga itu.
"Sudahlah,jangan memikirkan macam-macam lagi. Kita bereskan semua ini, menambah pekerjaan saja". Kata Kaizam, menelpon teman-temannya agar membantu juga.
********************
Camelia dan JJ Abrams, sudah sampai di hotel Morgan. Tapi, Camelia pergi ada sesuatu yang harus di kerjakannya. Membiarkan sang kekasih menemui Rose dan lainnya di casino.
__ADS_1
Camelia, mendapatkan izin masuk dari anak buahnya Morgan. Siang hari ini, Morgan tengah di dalam kamar dan baru selesai mandi.
"Morganara....Dimana kamu? Malaikat pencabut nyawa sudah datang, Morganara...". Camelia,masuk kedalam kamar dan mencari-cari keberadaan Morgan.
Morgan, bergegas keluar dari kamar mandi dan panik mendengar suara Camelia masuk kedalam kamarnya. "Sialan, penyihir itu masuk kedalam kamar ku. Aku segera bersembunyi, semoga dia tidak menemukan ku".
Morgan, melihat sekililing mencari tempat persembunyian dan masuk kedalam lemari. Masih menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya,rambut masih basah.
"Morganara....Aku di sini, malaikat pencabut nyawa akan menjemput mu. Aku tahu,kau tengah bersembunyi dan menghindari ku". Kata Camelia, mencari-cari sampai dapat sang mangsanya.
"Dulu,aku senang sekali seorang wanita cantik seperti bidadari masuk kedalam kamar ku. Tapi,kalau Camelia yang masuk bagaikan nyawaku di ujung tanduk. Oh, lindungilah aku Tuhan jangan sampai nona Camelia menemukan ku". Morgan,tak berani mengintip di celah pintu lemari takut akan ketahuan.
"Apakah kamu di ruang ganti? Oh, tidak ada rupanya. Ahh...Aku masuk kedalam kamar mandi, pasti kamu sembunyi di sini. Hasilnya tetap sama,apa di kloset kau bersembunyi? Masih sama,aku tidak menemukan mu Morganara....". Kekehnya Camelia, keluar dari kamar mandi dan menghela nafas panjang.
"Sejak kapan ada orang bersembunyi di kloset? Lalu,dia memanggil ku Morganara? Yang benar saja,aku tidak seperti pria jadi-jadian yang di pikirannya. Siang jadi Morgan,kalau malam jadi Morganara menggoda pria hidung belang. Hiiii... Menggelikan sekali". Morgan, bergidik geli membayangkan dirinya berubah menjadi seorang wanita.
"Tik...Tok...Tik...Tok... Morganara....Dimana kamu? Aku di sini,mencari mu karena ada sesuatu yang penting". Camelia, tersenyum sumringah ke arah lemari.
Morgan,susah payah meneguk salivanya tangannya gemeteran sudah. Jangan di buka,plis...Jangan di buka, tamatlah riwayat ku.Batinnya,berlahan pintu lemari terbuka.
Ceklekk...
"Aaaaaaaaaaa...!". Morgan,berteriak keras ketika Camelia membukakan pintu lemari. Segera Morgan, menutup mulutnya dan berhenti berteriak.
"Dasar Morganara, ngapain kamu ngumpet segala ha? Aku tidak akan membunuhmu Morganara,cepat berpakaian lah sebelum aku memotong milikmu itu!". Ancam Camelia, melenggang pergi dan duduk di sofa. "Kau kira aku setan, berteriak keras". Gerutu Camelia, matanya calingukan.
Morgan, bergegas mengambil pakaiannya dalam tergesa-gesa mengenakannya. Tidak memperdulikan kancing baju asal-asalan,tak lupa menarik resleting celananya.
__ADS_1
"Ayo,kita pergi nona Camelia". Morgan, harus cepat membawa Camelia keluar dari kamarnya. Jangan sampai JJ Abrams, menggantung dirinya di halaman hotel.
Camelia, memijit pelipisnya dan menggeleng kepala. "Kau ingin membuat ku malu,ha? Penampilan seperti gembel,kau ingin di tertawakan anak buahmu".
Morgan, menatap dirinya ke cermin sangat benar sekali. Dirinya seperti gembel,kancing baju asal-asalan,rambut berantakan sekali,ikat pinggang tak karuan.
"Astaga! Seperti bukan diriku saja,keluar dari kamar ku ini. Nona,jangan menyulitkan diriku gara-gara kamu. Aku tidak mau mendapatkan masalah besar dari kekasihmu itu,aku mohon". Morgan, memohon-mohon kepada Camelia yang duduk santai.
"Oke, aku tunggu di luar. Awas lamban kaya siput,aku seret paksa dirimu tanpa mengenakan pakaian cuman celana pendek saja". Ancam Camelia, menyunggingkan senyumnya.
Morgan, mengangguk pelan dan mengusap wajahnya. "Dia jauh lebih bahaya dari pada Tuan JJ Abrams,Ya Tuhan. Kenapa aku bertemu dengan wanita seperti itu, mengerikan sekali ucapannya".
"Morganaraaaaa...! Cepetan dong,jangan lamban kaya siput!". Teriak Camelia, menghirup nafas dalam-dalam dan hembuskan lagi.
"Iy-iya,ini lagi otw siap-siap!". Teriak Morgan, segera merapikan penampilannya.
Beberapa menit kemudian, Morgan sudah rapi dan segera Camelia membawanya ke arah casino.
orang-orang ramai di casino bermain judi, meletakkan uang taruhan sangat fantastis sekali.
Mereka bersenang-senang bermain judi di casino ini, menghamburkan uang segala. Sayang sekali,aku tidak tergiur dengan judi dan sayang uang, uang, uang.Batin Camelia, tersenyum melihat JJ Abrams dan lainnya duduk santai.
Camelia,berlari kecil ke arah kekasihnya dan memeluk dari belakang. "Sayang,maaf menunggu mu lama karena ada siput yang lambat sekali berisap-siap".
"Tidak apa, lagipula aku tengah sibuk". Kata JJ Abrams, tangannya menyentuh pipi Camelia. "Duduklah di samping ku".
Cup...
__ADS_1
sempat-sempatnya Camelia, mencium pipi kanan JJ Abrams. Sontak Helen, terkejut matanya melotot sempurna.
Morgan, ikutan duduk dan tersenyum ke arah Helen dan Trisna. Dia mengenali siapa dua wanita itu, sama-sama berkarir di dunia hiburan.