
"Aduhh...Mana sih,pelayan di mansion ini?" Ucap seorang wanita yang tidak muda lagi,sambil menarik kopernya lumayan besar.
"Iya,masa gak ada pelayan satupun. Duh...Mana laper lagi, akhirnya bisa tinggal di sini" Sahut seorang wanita yang seumuran dengan, Camelia.
Katrina, tersenyum kecil melihat kedatangan mereka dari keluarga ibu kandungnya Camelia.
"Bu Maryam,ada tamu spesial nih!" Camelia, memanggil mereka untuk menyambut kedatangan tamu spesial."Alias kelompok benalu yang ke-dua, cocok untuk kalian saling bertengkar satu sama lain". Gumamnya pelan, melangkah kakinya dan sedikit mendekat.
"Camelia,kamu itu keponakan bibi dan sudah sewajibnya kami di izinkan tinggal di sini. Panggil pelayan untuk membawa koper-koper ini, tunjukkan dimana kamar kami?" Perintah wanita itu, matanya berbinar-binar melihat sekeliling mansion.
"Sekalian deh, suruh pelayan mansion memasak makanan enak-enak. Kami laper tau, pengen makanan yang enak dan pizza juga" Sahut yang lainnya,duduk santai di sofa.
"Asalkan kalian tau, di mansion tidak ada pelayan" Ucap Camelia, dengan nada tegasnya. "Silahkan,bibi Marni dan lainnya ke kamar bersebelahan dengan bu Maryam"
Awalnya mereka tak percaya dengan ucapan Camelia,namun akhirnya terduduk lemas dan menepuk-nepuk kening masing-masing.
Perut juga keroncongan sudah, Maryam dan anaknya tiba di dapur. Begitu juga dengan Marni,dan kedua anaknya sudah kelaparan sekali.
Camelia, menghampiri mereka ingin memberitahu sesuatu. "Maaf yah, kalian harus masak sendiri karena tidak ada koki. Satu lagi, bahan makanan di kulkas kosong melompong. Cuman ada botol kecil yang berisi air putih, tidak ada minuman apapun. Kalau tidak mau belanja bahan dapur, silahkan mesan makanan diluar sana. Maaf yah,aku tidak mau membayar pesanan kalian". Ucap Camelia, melambaikan tangannya dan pergi.
Mereka semua terduduk lemas di kursi, ingin bersantai menikmati kehidupan di mansion. Nyatanya berubah menjadi kesengsaraan, lebih parah di rumah masing-masing.
"Aarrrghh... Keterlaluan sekali, Camelia. Masa iya, kita berusaha sendiri dan melakukan sendiri" Gerutu Maryam, mengebrak meja makan.
"Bu,kalau seperti ini yah. Mendingan pulang kerumah bapak,enak ada art yang masak dan beres-beres lainnya. Percuma di sini,gak ada apa-apa" Decak Mutia,anak kandungnya Marni.
"Benar sekali,bu. Gak betah berlama-lama di sini, menyebalkan sekali keponakan ibu" Sambung Yuli,anak kedua Marni.
"Hussssttttt...Diam,kita bisa mesan makanan diluar. Jangan jadi orang miskin deh, menyebalkan sekali punya keponakan sinting" Marni, bergegas mengambil ponsel untuk memesan makanan mereka.
__ADS_1
"Marni, lebih baik kamu dan anak mu pergi dari sini. Sok dekat sekali dengan Camelia,bilang mau menumpang hidup enak" Maryam, terbilang tidak akur dengan keluarga Camelia.
"Eee... Jangan asal nyolot yah,kami berhak tinggi di sini. Gak kamu aja,ingat itu!" Marni, langsung membentak Maryam dan berdiri di depannya.
"Bu,jangan membuat keributan deh. Pesankan makanan untuk kita,aku lapar sekali" Rengeknya Shima, memasang wajah cemberutnya.
Laras, segera mendekati Camelia yang duduk santai menguasai televisi di ruang tamu. "Camelia,kamu sengaja mengerjai kami"
"Clara, kalau iya kenapa? Aku juga yang menggaji pelayan ku,kalian tidak berhak sama sekali. Kalau tidak betah berlama-lama di sini, silahkan pergi dan jangan kembali lagi" Camelia, mengibas-ngibas tangannya.
"Jangan sebut nama itu,aku sangat membenci nama itu. Jangan ungkit-ungkit lagi masa lalu ku, begitu menyedihkan sekali karena pamanmu". Laras, sudah mengubur masa lalunya sedalam mungkin.
"Terserah aku saja,mau memanggil siapa. Apa lagi, lidahku tak bisa berbohong dengan nama aslimu. Kok bisa,kami menikah dengan Jordi? Biar aku tebak kebenarannya,apa kamu iming-iming dengan membantu balas dendam kepada mu? Oh,sayang sekali perkiraan mu lepas". Camelia, meneguk minuman kaleng dingin di tangannya.
"Camelia,mana pelayan mansion ini? Kembalikan mereka semuanya karena kamu membutuhkan pelayan" perintah Laras, dengan tatapan tajam.
"Ck,sok berkata kamu Mel. Mentang-mentang kamu mempunyai segalanya, seenaknya sendiri menginjak kami" Laras, melirik Camelia yang menikmati cemilannya. Semakin keroncongan perutnya, melihat burger king di tangan Camelia.
"Camelia,mana kunci ruangan gym? Aku mau olahraga sepuasnya di sini, cepat mana?" Bentak Jordi,baru datang dan ingin mencekal lengan Camelia.
Secepat mungkin, bodyguard Camelia menendang Jordi sampai terpental ke lantai.
"Jordi!" Pekik Laras, mendekati suaminya yang meringis kesakitan.
"Aaaarrgghh... Sialan, aku adalah majikan kalian! Kenapa aku di tendang,ha? Camelia, pecat dia sudah bersikap kasar kepada ku!" Teriak Jordi,mulai bangkit berdiri dan menahan perutnya terasa sakit.
"Aku memujimu atas kinerja sangat bagus, aku suka sekali" kedip mata Camelia,ke arah bodyguardnya yang mengangguk pelan.
Jordi dan Laras, terperangah melihat Camelia malah membela bodyguard nya.
__ADS_1
"Keterlaluan kamu,camel! Ayo,kita ke kamar dan beristirahat mas" kata Laras, membantu suaminya ke kamar.
Camelia,malah cekikikan menahan tawanya dan senang melihat Jordi kesakitan di bagian perutnya.
Sedangkan Mutia dan Yuli, menghentak-hentakkan kakinya karena kesal dan menghampiri sang ibunya.
"Ada apa lagi kalian,ha? Pizza sudah datang, katanya mau menyantap pizza sambil berenang di kolam" Marni, kebingungan melihat raut wajah anak-anaknya.
"Menyebalkan sekali,bu. Masa iya,kolam renangnya kering tidak ada air sedikitpun. Gimana mau berenang sih, menyebalkan sekali Camelia" kata Mutia, mencibir bibirnya ke depan.
"Keterlaluan sekali,kita isi dengan air kolamnya" Marni, bergegas menuju kolam renang bersama anak-anaknya.
Matanya terbalalak melihat sebenarnya,kolam renang kering sekali. Ketika menghidupkan kran untuk mengisi air kolam, sayangnya air tidak keluar-keluar.
Mereka langsung menemui Camelia, tengah bersantai di ruang tamu.Raut wajah Marni, sudah marah padam.
"Camelia,kami adalah keluarga mu! Kenapa kamu memperlakukan kami seperti ini,kau benar-benar jahat!" Bentak Marni, suaranya terdengar keras.
Maryam dan anaknya ikut-ikutan melihat keributan tersebut, siapa tau ada informasi penting.
"Aku sudah memperlakukan kalian sebagai keluarga, maksudnya aku berbeda memperlakukan benalu" Ucap Camelia, begitu santainya.
"Maksudnya apa, Camelia?Kamu begitu kurang ajar kepada kami, tidak menghormati orang tua dan seenaknya saja!" Marni, sudah tidak tahan apa yang terjadi. Khayalan mereka di rumah, tidak sesuai dengan kenyataannya.
"Bibi Marni,aku mengizinkan kalian tinggal di sini. Lalu, dimana letak kesalahannya? Tapi,aku tidak menjamin memberikan kalian fasilitas kemewahan di mansion ini. Kalau tidak sanggup, silahkan keluar dari sini" Tangan Camelia, menunjukkan ke arah pintu luar.
Marni, mengepalkan kedua tangannya dan nyalinya langsung ciut. Ketika bodyguard Camelia, berdehem kecil dan menatap tajam.
Mereka meninggalkan Camelia, yang masih tertawa kecil karena mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1