
Camelia, diam-diam menumpahkan pembersih lantai agar licin. Ketika Ryan, melewatinya untuk mengantar pesanan Anya dan teman-temannya.
Bruuukk...!
Prang!
"Aaaakkhh..!". Pekik Anya dan teman-temannya.
Ryan, terpeleset dan nampan berisi minuman beberapa gelas tumpah. Mengenai Anya dan teman-temannya,baju mereka basah.
"Ryannnn....!". Teriak Anya, melotot sempurna matanya tertuju kepada Ryan.
Para pengunjung kafe terkejut-kejut mendengar teriakkan,Anya. Mereka semua jadi pusat perhatian orang-orang sekitar,malu itulah yang di rasakan Ryan.
"Kurang ajar sekali,basah baju kami!". Bentak temannya Anya, mereka semua beranjak berdiri karena terkejut.
"Iiihhh....Mana lengket lagi, menyebalkan tau!". Sungut lainnya,juga.
"Niat gak sih? Kami ini kerja, basah baju kami yang mahal ini,dasar kere". Bentak lainnya, dengan tatapan sinis.
Ryan,merasa sakit di bagian kakinya. Berusaha untuk berdiri menahan rasa sakit, menundukkan kepalanya. "Maafkan aku,Anya dan lainnya Aku kepeleset, tidak sengaja menumpahkan minuman ini. Lihatlah, lantainya licin sekali baru di pel mungkin". Ryan,membela dirinya. Kenapa aku bisa terpeleset sih? Jangan sampai kehilangan pekerjaan ini, bagaimana nasibku nanti.
"Alahhhh....Jangan banyak bacot! Kamunya aja,kerja gak becus. Lihatlah, baju-baju mahal kami basah. Mana sanggup kamu, ganti baju kami dasar kere!". Bentak Indri, dengan tatapan tajam.
"Ck, menyebalkan sekali kamu. Untungnya kamu baru kerja di sini,kalau tidak! Aku bisa meminta Leo, memecat mu". Ancam Anya, menyeringai tajam.
Glekkkk....
Ryan, sudah gelabakan mendengar ancamnya Anya. Dia secepatnya menggeleng kepala,belum bersuara meminta maaf. Tiba-tiba Leo,datang mendengar keributan di kafenya.
__ADS_1
"Ada apa ini, ribut-ribut segala?". Leo, tergesa-gesa menghampiri mereka.
"Ini,dia tidak hati-hati membawa minumannya. Baju kami basah karena minumannya tumpah, alasannya licin tuh lantai". Jawab yang lain, terlihat kesal.
"Leo,baju kami basah nih". Cicitnya Anya, dengan wajah cemberutnya.
"Maaf,Anya dan lainnya aku merasa tidak nyaman dengan kalian. Aku bisa mengganti baju baru untuk kalian semua, tunggu sebentar". kata Leo, segera menghubungi seseorang. Setelahnya mematikan telponnya, matanya tertuju ke bawah.
Leo, membungkuk badannya dan menyentuh lantai. Dia mencium tangannya,memang benar bau pembersih lantai. Padahal karyawannya sudah lama ngepel lantai ini, sebelum buka kafe. Terus mengamati cairan lantai tersebut, sampai ke meja Camelia yang asik dengan ponselnya.
"Anya dan lainnya, maafkan karyawan ku ini. Lantainya memang licin sekali, Ryan tolong bersihkan lantai ini. Satu lagi,pinta yang lainya menggantikan minuman mereka secara gratis". Perintah Leo, langsung di angguki Ryan.
"Terimakasih, Leo. Aku benar-benar minta maaf kepada mu dan lainnya. Tidak bermaksud apa-apa kok,maaf". Ryan, membungkuk badannya.
"Sudahlah,lain kali hati-hati. Jangan ceroboh kaya tadi, makasih atas ganti ruginya Leo. Kami tetap bayar kok,gak enak sama kamu". Kekehnya Anya, tak mau di nilai buruk oleh Leo.
"Iya,aku paham kok. Makasih banyak, Leo. Aku pamit dulu, permisi". Ryan, mengundurkan diri untuk melaksanakan tugas dari Leo.
Sedangkan Leo, mendekati Camelia dengan tatapan sulit di artikan. Siapa dia? Aku merasa dia pelakunya, sangat mencurigakan perempuan jelek ini.Batin Leo, menghela nafas panjang.
Camelia, tersenyum kecil ke arah Leo. Tak lupa membenarkan kacamatanya, memperlihatkan gigi tonggos. Kenapa, menatapku seperti itu? Oh,kamu pasti tidak mengenali ku Leo. Ayolah,kau ingin menuduhku macam-macam kan. pastilah itu, tetapi kamu tidak ada bukti. Kebetulan sekali, kafe ini belum ada cctv.Batinnya, berekspresi biasa saja.
"Apa kamu pelakunya, lihatlah lantai ini ada cairan pembersih lantai? Kau tau, berurusan dengan siapa?". Bentak Leo,masih nada pelan. Astaga,aku kenapa kecoplosan menuduh macam-macam. Jangan sampai kafe ini, tercemar atas perbuatanku.
Camelia, memasang wajah polos. "Maksudnya apa yah?saya tidak paham dengan ucapan anda,pelaku apa yah?". Kekehnya Camelia, mengerjapkan bola matanya.
"Lupakanlah, perempuan aneh". Gumam Leo, mengundurkan langkahnya dan bergidik geli melihat wajah Camelia.
Hahahaha.... Ingin menuduhku macam-macam, tidak akan bisa.Batin Camelia, menghirup jus jeruk dan tersenyum kecil. "Tunggu! Kamu menuduhku mendorong karyawan mu tadi? Astaga,jangan memancing reaksi yah. Mentang-mentang penampilanku seperti ini, sesuka hati menuduh!".
__ADS_1
Leo,merasa tidak nyaman dengan tatapan orang-orang sekitar. "Tidak!Aku tidak bermaksud apa-apa,permisi. Nikmatilah minuman dan makanan kami,". Kekehnya Leo, mencari aman.
"Leo, ngapain sih kamu? Jangan ngomong aneh-aneh sama dia, perempuan gak jelas". Bisik Anya, menarik lengan Leo.
"Tidak apa,aku mencurigai kalau dia pelakunya. Ada sesuatu yang tidak beres". Jawab Leo,masih menatap punggung Camelia yang membelakanginya.
Anya,membawa Leo duduk bersama yang lainya. Tak berselang lama, teman-temannya Leo berdatangan dan nampak rame di kafe.
Camelia,membayar pesanannya dan keluar dari kafe tersebut. Tidak memperdulikan bisik-bisik mereka, baginya bodo amat.
Entah kenapa, Leo masih diam-diam memperhatikan gerak-geriknya. Dia penasaran sekali, siapa perempuan itu.
*********************
Camelia, membolak-balik badannya di atas ranjang. Dia masih kepikiran untuk mengungkapkan jati dirinya sendiri,kepada Jhonny. Dia kebingungan bagaimana,awal memberitahu semuanya.
"Aduhhh...Gimana cara ngomongnya yah? Baru berhadapan dengan Jhonny, mulutku tertutup rapat seperti di lem. Bagaimana dengan kirim pesan,aku leluasa menceritakan semuanya. Tanpa gugup, gelisah,atau apalah. Iiissshhh.... Menyebalkan sekali,aku tidak bisa mengungkapkan semuanya. Aaaarrgghh....!". Gerutu Camelia, seketika mengambil ponselnya.
Dia mulai mengetik panjang lebar, lagi-lagi di hapusnya. Berulang-ulang kali,masih di hapus. Tangannya sudah gemeteran,ketika Jhonny online tertera di WhatsApp nya.
Sedangkan Jhonny, mengerutkan keningnya karena penasaran apa yang di ketik Camelia. Sudah hampir 30 menit, Camelia masih mengetik tidak ada mengirim pesan apapun.
Jam dinding terus berjalan, Jhonny masih setia melihat WhatsApp siapa tau ada pesan yang di kirim oleh keponakannya. Lagi-lagi Camelia, masih mengetik. Konsentrasinya terganggu, tidak terlalu fokus meeting dengan rekan kerjanya. Sesekali memandang ponselnya,masih mengetik juga.
"Aisss....Kenapa Jhonny,masih online sih? Pasti dia sedang main ponselnya,terus ngirim pesan dengan siapa? Masa iya,berbalas pesan dengan rekan kerjanya. Duuhhh...Aku gugup sekali, mengirim pesan panjang lebar begini. Apa aku hapus lagi, sudah 1 jam berlalu. Aku masih mengetik,hapus, mengetik, hapus. Aaarghhh....!". Gerutu Camelia, tangannya tak sengaja menyentuh layar dan terkirim langsung pesannya.
Camelia, membulatkan matanya dengan sempurna. pesannya sudah di baca Jhonny, langsung centang biru. "Tidaaaakkkk...!". Camelia, berteriak keras tak bisa menarik pesannya lagi. Dia mengamuk-ngamuk di atas ranjang, habislah sudah karena membongkar jati dirinya. Apakah Jhonny, percaya dengan pesan Camelia.
Camelia, menyimpan Ponselnya di bawah bantal. Mengigit jarinya,apa kira-kira balasan dari Jhonny.
__ADS_1