
"Pasien mengalami keguguran,". Ucap seorang dokter,yang keluar dari ruangan tersebut.
Riri, terduduk lemas mendengar ucapan sang dokter. Dimana anak semata wayangnya, mengalami keguguran dan masih tak sadarkan diri.
"Ini semua perbuatan mu mas, lihatlah anak kita sekarang. Apa yang kita miliki sekarang, sudah hancur semuanya mas. Wajahku sangat malu, sudah pasti perusahaan akan bangkrut tidak ada yang bekerjasama dengan kita". Riri, mendorong tubuh suaminya itu. "Baguslah, kalau dia keguguran karena anak itu anak pembawa sial. Bikin susah di kemudian hari, tidak tau anak siapa?".
"Bukan kesalahan ku sendiri,Ri! Bukankah kalian menikmati hasilnya,apa yang terjadi. Aku terpaksa melakukan itu,demi kebaikan bersama tanpa mendengar keluhan kalian kekurangan apapun". Gito, mengusap wajahnya dengan kasar.
"Sekarang apa mas,hidup kita hancur dan kehidupan kiki juga". Riri, menangis kesegukan meratapi nasib anaknya itu.
"SIALAN! Siapa yang berani melakukan ini, aku yakin sekali pasti ada yang sengaja merekam adegan mereka dan menyebarkan untuk menghancurkan ku". Decak Gito, menampar dinding rumah sakit.
Orangtuanya Kiki, boleh masuk kedalam menemui pasien.
Kiki, berbaring lemah di ranjang pasien dan menangis kesegukan meratapi nasibnya sendiri.
"Nak, bagaimana keadaan mu?". Tanya Riri, mengelus pucuk kepala anaknya.
"Hidup ku hancur mah, tidak ada gunanya untuk hidup lagi. Mau taruh dimana wajahku,mah? Seluruh dunia mengetahui siapa aku, sifatku, mereka akan menatapku jijik". Kata Kiki, air matanya mengalir deras.
"Maafkan mamah,nak. Tidak tau bagaimana ini, benar-benar terjadi dan menghancurkan segalanya". Riri, berusaha menenangkan anaknya itu.
"Aku sudah kehilangan segalanya mah, kehilangan suamiku Leo. Dia adalah pria yang aku cintai, semuanya gara-gara papah yang memaksakan kehendaknya. Coba saja,aku berhenti melakukan hal itu. Pasti tidak seperti ini, papah egois cuman mementingkan diri sendiri". Teriak Kiki, mengusap wajahnya berkali-kali.
"Jangan salahkan papah,kalian juga yang banyak menuntut ingin ini dan itu. Cuman itu, satu-satunya memperlancar bisnis kita dan kamu keenakan melakukan itu. Buktinya mau melakukan berkali-kali,tanpa membantah apapun". Gito,tak ingin di salahkan istri dan anaknya.
"Brengseeekk...Kau benar-benar brengsek,mas. Coba kamu turuti kemauan Kiki, tidak melakukan tindakan mu itu. Kemungkinan besar,kita masih aman tanpa ada masalah seperti ini". Riri, langsung membalikkan badannya ke arah sang suami.
Ceklekk...
Kiki dan Kedua orangtuanya terkejut melihat kedatangan beberapa polisi dan seorang wanita tak muda lagi.
"Loh, apa-apaan ini?". Tanya Gito, langsung menghadapi mereka.
"Kami mendapatkan laporan untuk menangkap kiki,atas tuduhan penipuan dan perzinahan dengan suami bu Lovina". Ucap polisi itu, dengan lantangnya.
__ADS_1
"Apa! Tidak mungkin, anakku tidak bersalah apapun". Riri, berusaha menghalang polisi itu.
"Aku tidak pernah melakukan penipuan,aku tidak bersalah!". Teriak Kiki, wajahnya sangat marah ke arah seorang wanita di samping polisi.
"Tidak bersalah katamu,hemm? Kenalkan aku Lovina, istri dari Amran yang bekerjasama dengan pak Gito. Tentu sebuah penipuan terhadapku, iming-iming dengan tubuh anak pak Gito dan melakukan perzinahan. Sama saja, sebuah pengkhianat dan selingkuh". Tegas Lovina, dengan raut wajah marah.
"Apa-apaan ini,jangan salah kami semata. Itu adalah suami anda nyonya,mau mengikuti perkataanku tanpa ba-bi-bu lagi". Gito, berusaha membela dirinya.
"Pak polisi tangkap bapak dan anaknya juga,aku memiliki bukti kuat untuk bisa menyeret kalian masuk kedalam penjara". Perintah Lovina, menyunggingkan senyumnya. "Tidak cuman kalian saja, suamiku sudah masuk ke dalam penjara karena perbuatannya ini".
"Tidak, lepaskan suamiku dan anakku! Nyonya, mohon ampuni kami jangan bawa mereka!". Riri, bermohon-mohon untuk mengabulkan tuntutan Lovina terhadap suami dan anaknya.
"Lepaskan! lepaskan aku, Riri tolong aku! Lepas,jangan tangkap aku! Lepaskan aku!". Gito, berusaha meronta-ronta tak mau di seret ke kantor polisi.
Namun apalah daya,dia tidak bisa melawan anggota polisi jauh lebih kuat menaklukkan dirinya.
Kiki, masih keadaan memprihatinkan karena keguguran. Dia harus di paksa keluar dari rumah sakit ke kantor polisi, tidak memperdulikan bagaimana keadaannya.
Riri, meraung-raung meminta para polisi melepaskan suami dan anaknya. Dia mengejar sampai ke luar rumah sakit,sambil berteriak-teriak memanggil suami dan anaknya itu.
Plak!
"Kau pantas mendapatkan tamparan ku, sangat berisik sekali. Beruntung sekali,aku tidak mencobloskan dirimu masuk kedalam penjara juga". Ucap Lovina, langsung melenggang pergi ke arah mobilnya.
Dengan hati yang memanas, Riri langsung menarik rambut Lovina ketika mau masuk ke dalam mobil.
"Aaaaa...Aaaukk....Wanita gila, lepaskan rambutku! lepaskan!". Teriaknya Lovina, menahan rasa sakit di bagian kepalanya.
"Rasakan itu, kau sudah mencobloskan suami dan anakku ke dalam penjara. Aku sebagai istri sekaligus seorang ibu, tidak akan membiarkan begitu saja. Rasakan ini, rasakan!". Riri, semakin menjadi-jadi menarik rambut Lovina.
Plak!
Plak!
Riri, membalas tamparan keras di kedua pipi Lovina. Tangannya mencekram kuat di bagian rambut Lovina, mengarahkan kepalanya ke mobil.
__ADS_1
Bughhh...
Kepala Lovina, langsung di bentur ke mobilnya tanpa ampun.
Orang-orang sekitar ramai melihat, bergegas ada yang memisahkan mereka berdua.
Parkiran rumah sakit penuh karena orang-orang sekitar berdatangan, tidak tertinggal apa yang terjadi.
"Aku akan melaporkan dirimu atas kesalahan mu, baguslah satu keluarga masuk kedalam penjara!". Teriak Lovina, dahinya memar kebiruan karena Riri.
"Sialan,kau wanita licik! Jahanam,kau!". Teriak Riri, meronta-ronta kedua tangannya di tahan oleh orang lain.
Lovina, memerintahkan suruhan untuk membawa ke kantor polisi tak akan membiarkan begitu saja. Apa yang sudah di lakukan Riri, kepadanya tadi.
*****************
Bruaakkkkkkk
Leo, menendang kuris di depannya itu. Mengusap rambutnya ke belakang, tidak percaya apa yang terjadi. Dia merasa jijik dengan Kiki, tubuhnya seringkali di gilir pria tua.
"Leo, Kiki dan kedua orangtuanya masuk kedalam penjara. Ada seseorang wanita melaporkan mereka,atas tuduhan penipuan dan perzinahan". Kata Kaizam,masuk kedalam kamar adiknya itu.
"Baguslah, mereka sudah menipu kita kak. Sudah sepatutnya mendapatkan karma,aku akan mengurus perceraian kami. Tidak sudi memiliki seorang istri pelacur, ck. Bisa-bisanya kita di permalukan seperti ini,mau di taruh dimana wajah kita". Leo, senang mendengar kabar bahwa istri dan keluarganya di cobloskan ke dalam penjara .
"Bisa-bisanya kita tertipu oleh mereka, kenapa Kiki mau melakukan hal menjijikkan itu? Aaarghhh....Sial,sial,aku tertipu oleh Kiki". Leo, terus-terusan menyalahkan diri sendiri begitu mudah mempercayai ucapan Kiki dulu.
"Sudahlah,jangan membahas tentang itu lagi. Yang penting kita fokus dengan kehidupan kita, terutama mommy syok berat dengan kenyataan ini. Beruntung kejiwaan mommy, tidak terganggu seperti dulu". Kaizam, menepuk pundak adiknya kasian karena di bohongi sang pujaan hati.
Leo, berusaha tersenyum kecilnya ke arah kakaknya itu. Dia berusaha menerima apa yang di alaminya.
Suara bel pintu berbunyi, Leo dan Kaizam bergegas ke depan rumah. Mereka nampak keheranan melihat seseorang membawa karangan bunga kematian, apakah dia salah alamat.
"50 karangan bunga kematian, hadiah pernikahan untuk Leo dan kiki". Ucap pria itu, tersenyum sumringah ke arah mereka.
"Apa!". Teriak Kaizam dan Leo bersamaan, karangan bunga kematian memenuhi halaman rumah.
__ADS_1